Showing posts with label biologi. Show all posts
Showing posts with label biologi. Show all posts

Dasar Biologis dari Perkembangan

Resume Psikologi Umum
Dasar Biologis dari Perkembangan


 



Oleh :
Binti Iliya Faridah


PRODI S1 PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2012-2013

Dasar Biologis dari Perkembangan
Komponen Sistem Saraf
 Sistem saraf adalah suatu sel khusus yang dinamakan neuron. Penting untuk mengenali karena mereka tidak diragukan menyimpan rahasia bagaimana otak bekerja.
 Neuron dan Saraf
 Meskipun neuron memiliki perbedaan yang sangat jelas dalam ukuran dan penampilannya, tetapi juga memiliki karakteristik tertentu. Menonjol dari badan sel adalah sejumlah cabang-cabang pendek yang dinamakan dendrit. Dendrit dan badan sel menerima impuls saraf dari neuron di dekatnya. Lalu ditransmisikan ke neuron lain oleh tonjolan lain yang dinamakan akson.
Neuron memiliki ukuran dan bentuk yang bevariasi. Neuron juga terdapat tiga jenis, diantaranya neuron sensorik dan neuron motorik. Neuron sensorik mengirimkan impuls yang diterima oleh reseptor ke sistem saraf pusat. Reseptor adalah sel khusus di organ indra, kulit, dan sendi yang mendeteksi perubahan fisik atau kimiawi dan mentranslasikan peristiwa itu menjadi impuls yang berjalan sepanjang neuron sensorik. Neuron motorik membawa sinyal yang keluar dari otak atau medula spinalis ke organ efektor, yaiitu otot dan kelenjar. Interneuron menerima sinyal dari neuron sensorik dan mengirimkan impuls ke internneuron lain atau neuron motorik.
 Saraf adalah kumpulan akson yang keluar dari ratusan atau ribuan neuron. Sistem saraf juga memiliki sejumlah besar sel nonneuronal yang dinamakan sel glial dan menyebar. Fungsi utamanya yaitu mempertahankan neuron di tempatnya. Namun tidak hanya dikhususkan untuk menerima atau mengirimkan sinyal, tetapi juga memberikan dukungan struktural dan berperan dalam cara lain untuk memastikan bahwa neuron dapat melakukan fungsinya.
Potensial Aksi
Potensial aksi adalah unik untuk neuron dan disebabkan karena banyaknya saluran ion yang berada di  membran sel. Saluran ion adalah molekul protein berbentuk donat yang membentuk pori-pori melintasi membran. Setiap saluran ion bersifat selektif, yaitu memungkinkan hanya satu jenis ion berjalan melaluinya saat saluran terbuka. Struktur protein lain yang dinamakan pompa ion, membantu mempertahankan distribusi berbagai ion yang tidak merata melintasi membran sel dengar. Memompa ion masuk atau keluar sel. Efek keseluruhan saluran dan pompa ion tersebut adalah membuat membran sel sangat terpolasasi dengan muatan positif diluar dan muatan negatif di dalam.
Transmisi Sinaptik
Persambungan sinaptik antara neuron memiliki kepentingan yang sangat besar karena tempat inilah terjadi transfer sinyal sel saraf. Kekuatan impuls neuron adalah konstan dan tidak dapat dipicu oleh suatu stimulus kecuali mencapai nilai ambang, nilai ini dinamakan prinsip all-or-none.
Neutransmiter bertanggung jawab untuk transmisi sinyal di sebagian besar kasur. Jika implus saraf berjalan sepanjang akson sel saraf dan sampai di terminal sinaptik, ia menstimulasi vesikel sinaptik di terminal tersebut. Jika terkunci dalam reseptornya sebagian neurotransmiter memiliki efek eksitatorik dan meningkatkan permeabilitas ke arah depolarisasi, neutron lain adalah inhibitorik dan menurunkan permeabilitas.
Neutransmiter dan Neuroreseptor
Acetylcholine (A Ch) adalah neutransmiter yang ditemukan pada banyak sinaps di seluruh tubuh. A Ch banyak ditemukan terutama di daerah otak yang dinamakan hipokampus, dimana ia memiliki peranan penting dalam pembentukan memori baru. Jika produksi A Ch otak menurun maka semakin sedikit A Ch yang dihasilkan oleh otak, semakin serius ganguan daya ingat yang disebabkannya.
Norepinephrine (NE) adalah suatu neurotransmiter yang dihasilakan terutama oleh neuron di batang otak.
Neutransmiter utama lainnya adalah gamma-aminobutyric acid (GABA). Subtansi ini adalah salah satu transmiter inhibitorik utama disistem saraf.
Organisasi Sistem Saraf
Sistem saraf pusat mencakup semua neuron diotak dan medula spinalis (sumsum tulang belakang). Sistem saraf tepi (perifer) terdiri dari saraf yang menghubungkan otak dan medula spinalis dengan bagian tubuh lainnya. Sistem saraf tepi lalu dibagi menjadi sistem somatik dan sistem otonomik. Saraf sensorik dari sistem somatik mengirimkan informasi tentang stimuli eksternal dari kulit, otot dan sendi kesistem saraf pusat, mereka membuat kita nyeri, tekanan, dan variasi temperatur. Saraf dari sitem otonomik berjalan dari organ internal sambil meregulasi proses tertentudan sistem saraf ini memiliki peran penting dalam emosi.
Struktur Otak
Central Core
Central core mencakup sebagian besar batang otak (brain stem). Bagian pertama modula spinalis yang sedikit membesar saat ia memasuki tengkorak.
Serebum,(otak kecil) terletak dibelakang batang otak, sedikit diatas modula, dan merupakan struktur dengan permukaan yang lengkuk-lengkuk (convoluted). Kerusakan pada serebum menyebabkan gerakan yang menyentak dan tidak terkoordinasi.
Talamus dan Hipotalamus, terletak tepat diatas batang otak di dalam hemisfer serebal terdapat dua kelompok nukleus sel saraf yang berbentuk telur yang menyusun talamus. Hipotalamus adalah struktur yang jauh lebih kecil, terletak tepat dibawah talamus, pusat-pusat di hipotalamus mengatur makan, minum, dan perilaku seksual.
Sistem Retikular adalah suatu jaringan (network) sirkuit neural yang membentang dari bagian bawah batang otak ke talamus yang melewati beberapa struktur central core lain. Sistem ini memiliki peranan penting dalam mengendalikan tingkat kesadaran.
Sistem Limbik
Disekitar central core otak terdapat sejumlah struktur yang secara keseluruhan dinamakan Sistem Limbik. Sistem ini saling berhubungan erat dengan hipotalamus dan tampaknya memberikan pengendalian tambahan terhadap beberapa perilaku instinktif yang diregulasi oleh hipotalamus dan batang otak.
Salah satu bagian sistem Limbilk, hipokampus memiliki peranan penting dalam memori. Pengangkatan hipokampus secara bedah atau kerusakan akibat kecelakaan pada struktur itu menunjukkan peranan pentingnya untuk penyimpanan peristiwa terakhir sebagai memori yang bertahan lama, tetapi struktur tidak diperlukan untuk mengambil memori ynag lama.
Hemisfer Serebral
Serebrum jauh lebih berkembang pada manusia dibandingkan organisme lain, lapisan luarnya dinamakan korteks serebral.
Struktur Serebrum
Berikut adalah area-area di hemisfer serebral. Hemisfer pada dasarnya simetris dengan pemisahan dalam di antanya yang berjalan dari depan ke belakang, sehingga klasifikasi pertama adalah pemisalahan menjadi hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Tiap hemisfer dibagilagi menjadi empat lobus : frontalis, parietalis, oksipitalis, dan temporalis. Lobus frontalis dipisahkan dari lobus parietalis oleh fisura sentralis, pemisahan antara lobus parietalis dan oksipitalis kurang jelas, akan tetapi lobus parietalis terletak di puncak otak di belakang fisura sentralis dan lobus oksipitalis terletak di bagian belakang otak.lobus temporlis dibatasi oleh fisura dalam pada bagian samping otak, fisura lateralis.
Area Kortikal dan Fungsinya
Area Motorik, mengendalikan pergerakan tubuh yang volunter (disadari). Area terletak tepat di depan fisura ser tralis. Stimulasi listrik pada tempat tertentu di korteks motorikmenghasilakan pergerakan bagian tubuh spesifik, jika titik yang sama di korteks motorik mengalami kerusakan, gerakan yang bersangkutan menjadi terganggu.
Area Somatosensorik. Panas, dingin, sentuh, nyeri, dan sensasi pergerakan tubuh semuanya direpresentasikan di Area Somatosensorik.
Area Visual. Area Visual berada di bagian belakang tiap lobus oksipital terdapat area korteks. Kerusakan pada area visual salah satu hemisfer akan menyebabkan kebutaan di lapangan untuk lapangan pandang.
Area Auditorik. Ditemukan di permukaan lobus temporalis pada sisi masing-masing hemisfer, area ini mengurusi pola temporal suara, kedua telinga direpresentasikan di area auditorik pada kedua sisi kortekstetapi koneksi di sisi kontralateral adalah lebih kuat.
Area Asosiasi. Area asosiasi adalah area besar di korteks serebral yang tidak mengurusi secara langsung proses sensorik atau motorik. Area asosiasi frontal (bagian lobus frontalis di depan area motorik) tampaknya memiliki peranan penting dalam proses berfikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Area asosiasi Pasterior terletak dekat berbagai area sensorik primer dan tampaknya terdiri dari subarea-subarea, yang masing-masing mengurusi sensasi tertentu.
Asimetri di Otak
Pada pemeriksaan sekilas, kedua paruh otak manusia terlihat seperti bayangan cermin satu sama lain. Tetapi pemeriksaan lebih cermat menunjukkan adanya simetri. Jika otak diukur selama otopsi, hemisfer kiri hampir selalu lebih besar dari pada hemisfer kanan. Hemisfer kanan mengandung lebih banyak serabut neural panjang yang menghubungkan banyak daerah terpisah di otak, sedangkan hemisfer kiri mengandung banyak serabut lebih pendek yang memberikan interkoneksi di dalam daerah yang terbatas (Geschwind&Galaburda, 1987)
Subjek dengan Otak Terbelah
Jika subjek dengan otak terbelah dapat menggerakkan matanya secara bebas, informasi masuk ke kedua hemisfer serebral inilah alasan mengapa defisiensi yang disebabkan oleh pemotongan korpus kalosum tidak segera terlihat pada aktivitas subjek sehari-hari. Eksperimen lebih lanjut menunjukkan bahwa subjek dengan otak terbelah dapat berkomunikasi melalui pembicaraan hanya apa yang terjadi pada hemisfer kiri.
Spesialisasi Hemisferik
Penelitian subjek dengan otak terbelah menyatakan bahwa kedua hemisfer berfungsi secara berbeda. Hemisfer kiri mengatur kemampuan untuk mengekspresikan diri dalam bahasa. Hemisfer kanan dapat memahami bahasa yang sangat sederhana dan ia dapat berespon terhadap kata benda sederhana.
Hemisfer memiliki spesialisasi yang berbeda, tetapi mereka mengintegrasikan aktivitasnya sepanjang waktu. Interaksi inilah yang menghasilkan proses mental yang berbeda dan lebih besar dari kontribusi masing-masing hemisfer. Seperti yang dinyatakan oleh Levy.
Sistem Saraf Otonomik
Sistem saraf somatik mengendalikan otot rangka dan menerima informasi dari kulit, otot, dan berbagai reseptor sensorik. Sistem saraf otonomik mengendalikan kelenjar dan otot polos, yang mencakup otot jantung, otot-otot di pembulu darah, dan otot-otot di bagian lambung dan usus.
Sistem saraf otonom memiliki dua devisi, simpatik dan para simpatik. Devisi simpatik cenderung beraksi sebagai suatu kesatuan, selama eksitasi emosional, ia secara simultan mempercepat jantung, mendilatasi arteri di otot rangka dan jantung, dll. Devisi para simpatik cenderung mempengaruhi satu organ pada suatu waktu. Jika sistem simpatk diduga dominan selama aktivitas tereksitasi, sistem parasimpatik diduga dominan selama periode tanang. Para simpatik berperan dalam pencernaan dan umumnya mempertahankan fungsi yang menghemat dan melindungi sumber daya tubuh.
Sistem Endokrin
Sistem endokrin memiliki kerja yang lebih lambat dan secara tidak langsung mengendalikan aktivitas kelompok sel diseluruh tubuh melalui zat kimia yang dinamakan hormon. Sebagain kelenjar endokrin diaktivasi oleh sistem saraf, sedangkan kelenjar endokrin lain diaktivasi oleh perubahan kimiawi internal tubuh.
Pengaruh Genetika pada Perilaku
Genetika perilaku mengkombinasikan metode Genetika dan psikologi untuk mempelajari karateristik perilaku turunan (Plomin, 1991)
Kromosom dan Gen
Sebagian besar sel tubuh mengandung 46 kromosom. Saat konsepsi, manusia menerima 23 kromosom dari sperma ayah dan 23 kromosom dari sel telur ibu. Ke-46 kromosom itu membentuk 23 pasang, yang mengalami duplikasi tiap kali sel membelah diri. Tiap kromosom terdiri dari banyak unit herediter individual yang dinamakan gen.
Jumlah total gen pada tiap kromosom manusia sekitar 1000-mungkin lebih banyak. Karena jumlah gen itu sangat tinggi, sangat kecil kemungkinannya bahwa dua manusia memiliki hereditas yang sama, walaupun mereka kembar. Kekecualian satu-satunya adalah kembar identik karena berkembang dari sel telur terbuahu yang sama, memiliki gen yang persis sama.
Gen Dominan dan Resesif. Kedua gen pada suatu pasangan gen dapat menjadi gen dominan atau gen resesif. Jika kedua anggota gen yang berpasangan adalah dominan, individu menunjukkan bentuk trait yang di tentukan oleh gen dominan tersebut. Jika satu gen dominan dan yang lain resesif, gen dominan sekali lagi menentukan bentuk trait. Hanya jika gen yang diberikan oleh kedua orangtua adalah resesif maka bentuk resesif yang di ekspresikan, seperti gen yang menentukan warna mata.
Beberapa karakteristik yang di bawa oleh gen resesif adalah kebotakan,hemofilia, dan kerentanan terhadap poison ivy. Walaupun sebagian besar karateristik manusia tidak ditentukan oleh aksi pasangan gen tunggal, terdapat beberapa kekecualian yang jelas. Yang menarik dari sudut pandang psikologis adalah penyakit seperti Fenilketonuria (PKU) dan penyakit Huntington (HD), yang keduanya melibatkan pemburukan sistem syarat dan masalah perilaku dan kongnitif yang berkaitan.
PKU terjadi akibat aksi Gen Resesif yang diturunkan dari kedua orang tua. Bayi tidak dapat mendigesti asam amino esensial (Fenilalanin) yang kemudian menumpuk di tubuh, menyebabkan keracunan pada sistem syaraf pusat dan menyebabkan kerusakan syaraf otak yang ireversibel.
HD disebabkan oleh gen dominan tunggal, titik perjalanan jangkah panjang penyakit ini melibatkan degenerasi area tertentu di otak dan akhirnya menyebabkan kematian. Penyakit ini biasanya menyerang jika penderita berusia 30-40 tahun. Setelah HD menyerang korban biasanya hidup selama 10-15 tahun.
Gen Terpaut Kelamin. Kromosom pria dan wanita tampaknya sama di bawah microskop, kecuali pasangan ke-23, yang menentukan jenis kelamin individu dan membawa gen untuk trait tertentu yang terpaut kelamin (sex-linked). Jadi pasangan kromosom 23 Wanita normal dinyatakan oleh simbol XX dan pasangan kromosom 23 Pria normal dinyatakan oleh simbol XY.
Jadi kontribusi kromosom ayah yang menentukan jenis kelamin anak. Kromosom X dapat membawa gen resesif atau dominan; kromosom Y membawa sedikit  gen dominan untuk karateristik sensual pria tetapi yang lain nya adalah gen resesif. Jadi, sebagian besar karateristik yang di bawa oleh kromosom X pria (didapat dari ibu) dieksperikan karena tidak dihalangi oleh gen dominan. Seperti buta warna adalah karateristik resesif terpaut kelamin.
Penelitian Genetik Perilaku
Beberapa trait (sifat) ditentukan oleh gen tunggal, tetapi sebagian besar karateristik manusia di tentukan oleh banyak gen,mereka adalah poligenik. Trait seperti intelegensia, tinggi badan, dan emosional tidak masuk ke kategori tersendiri, tetapi menunjukan variasi yang terus menerus.
Persilangan selektif. Salah satu cara untuk meneliti heritabilitas trait pada hewan adalah perkawinan (persilangan) selektif. Contohnya, seperti saat penelitian kemampuan belajar tikus dan penelitian pada tinggal emosional anjing.
Penelitian Anak Kembar. Kembar Identik berkembang dari satu sel telur yang di buahi dan dengan demikian memiliki hereditas yang sama, mereka dinamakan Monozigotik. Kembar Fraternal berkembang dari sel telur yang berbeda dan tidak lebih mirip secara genetik dibandingkan saudara kandung biasa, mereka dinamakan Dizigotik atau dua telur. Kembar separuh identik tejadi jika prakursor ovum membelah menjadi  separuh bagian yang identik dan di buahi oleh dua sperma yang berbeda.
 Pengaruh Lingkungan pada Aksi Gen
Potensi bawaan dengan mana individu memasuki dunia sangat dipengaruhi  oleh lingkungan yang dialaminya. Contohnya sebaDiabetes adalah penyakit dimana pankreas tidak menghasilkan cukup insulin untuk membakar karbohidrat sebagai sumber energi tubuh. Jika salah seorang dari kembar  identik menderita diabetes, kembar satunya akan mengalami gangguan pada separuh kasus. Tidak semua faktor lingkungan yang berperan dalam diabetes diketahui, tetapi salah satu variabel yang tampaknya cukup pasti adalah obesitas. Dengan demikian, seorang individu yang membawa gen untuk diabetes lebih besar kemungkinannya untuk mengalami gangguan jika berat badannya berlebihan. Gen mungkin merupakan predisposisi, tetapi lingkungan membentuk hasil akhirnya.


Read More

Basis data GenBank

Pada situs publik National Center for Biotechnology Information (NCBI) terdapat
fasilitas basis data yang memuat kumpulan informasi urutan DNA dari seluruh
spesies di dunia sejak tahun 1992, yang disebut sebagai basis data GenBank.
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Genbank/index.html). Salah satu data informasi
genetik yang terdapat pada basis data ini adalah informasi urutan lengkap
nukleotida mtDNA manusia. Setiap data mtDNA manusia pada basis data
GenBank menyimpan informasi mengenai kode akses sampel, panjang pasang
basa, nama penulis serta judul publikasi sampel mtDNA tersebut, serta urutan
lengkap 16,5 kb basa nukleotida mtDNA tiap sampel tersebut,


Informasi urutan lengkap mtDNA ini yang digunakan sebagai sumber data
penelitian untuk kemudian ditentukan variasi nukleotidanya terhadap urutan
standar mtDNA manusia, CRS. Data mentah urutan nukleotida mtDNA manusia
pada basis data GenBank ini dapat diolah untuk keperluan penyusunan basis data
variasi nukleotida.



9
Read More

DNA Mitokondria (mtDNA)

Mitokondria adalah organel subseluler yang ditemukan pada sitoplasma sel
eukariot dan bertugas untuk memproduksi energi bagi sel melalui pembentukan
senyawa adenosin triposfat (ATP). Salah satu keistimewaan dari organel ini yaitu
mempunyai sistem genetik sendiri dengan semua materi pendukung untuk
mengekspresikan informasi genetik yang dikandungnya.



Asam deoksiribonukleat mitokondria manusia (mtDNA) adalah molekul
penyimpan informasi genetik berbentuk sirkular dengan panjang 16.569 pasang
basa yang mengkode 37 buah gen: dua asam ribonukleat ribosom (rRNA),
komponen spesifik ribosom mitokondria, 22 RNA transfer (tRNA), berfungsi
untuk menerjemahkan kode genetik mitokondria, dan 13 polipeptida yang
merupakan subunit dari komplek protein pada sistem fosforilasi oksidatif, yaitu
tahap terakhir jalur pembentukan ATP. Peta informasi genetik mtDNA manusia
tersebut ditunjukkan pada Gambar II.1.



Jumlah kopi mtDNA pada setiap sel bervariasi, dari hanya berjumlah beberapa
ratus pada sel sperma sampai dengan 100.000 kopi mtDNA pada sel oocyte, sel
bakal ovum. Perbedaan jumlah kopi mtDNA yang demikian besar yang menjadi
penyebab mengapa mtDNA diturunkan kepada anak hanya dari pihak ibu,
meskipun sel sperma pada akhirnya bergabung dengan sel oocyte pada proses
reproduksi. Sebagian besar sel mitokondria berada pada bagian ekor sel sperma,
dan bagian ekor ini akan hilang pada proses fertilisasi, sedangkan mitokondria
yang berhasil menembus ovum akan dieliminasi pada tahap awal embriogenesis
(Manfredi et al., 1997).

Berbeda dengan DNA inti dimana terjadi proses rekombinasi antara gen yang
berasal dari ayah dan ibu, proses rekombinasi mtDNA berlangsung antar kopi
dirinya sendiri pada mitokondria yang sama. Fakta bahwa mtDNA diturunkan
hanya dari pihak ibu inilah yang mendasari peran mtDNA sebagai sumber
identifikasi forensik dan penyusuran garis keturunan.



Studi menunjukkan bahwa mtDNA mengalami mutasi spontan 10 kali lebih tinggi
dibandingkan yang terjadi pada DNA inti. Mutasi dengan kecepatan tinggi ini
kemungkinan disebabkan karena interaksi dengan senyawa-senyawa radikal bebas
yang terus menerus diproduksi pada mitokondria sebagai konsekuensi tahap akhir
oksidasi senyawa karbon pada proses fosforilasi oksidatif. Tingginya kadar
senyawa radikal bebas tersebut dapat merusak untai DNA mitokondria yang tidak
dilindungi oleh protein histon. Berdasarkan fakta ini, tidaklah mengherankan jika
variasi nukleotida pada mtDNA antar individu pada spesies yang sama ternyata
sangat tinggi (Wallace, 1992).



6



Apabila di dalam satu sel mitokondria terdapat dua jenis populasi mtDNA, yaitu
normal dan mutan (heteroplasmi), maka setelah berlangsung pembelahan sel dapat
dihasilkan tiga macam genotifik yaitu mtDNA normal (homoplasmi), mtDNA
mutan (homoplasmi), atau terdapat mtDNA normal dan mtDNA mutan
(heteroplasmi). Oleh karena itu, fenotifik sel akan bergantung persentase jumlah
mtDNA mutan yang dikandung. Apabila jumlah molekul DNA relatif rendah
maka akan terjadi komplementasi dengan DNA normal, sehingga cacat genetik
dapat dihindari. Sebaliknya apabila DNA mutan kadarnya jauh lebih banyak,
maka jenis mtDNA mutan ini yang akan terus diproduksi di dalam mitokondria
selama hidup. Apabila mutasi ini menimbulkan cacat pada protein yang dikode
oleh mtDNA, maka dapat menyebabkan ATP yang diproduksi menjadi di bawah
kadar minimum yang diperlukan oleh tubuh sehingga memicu munculnya
penyakit. Mitokondria yang mewarisi heteroplasmi mtDNA mutan dapat berakibat
sangat mematikan, bahkan sebelum individu baru sempat dilahirkan.



Walaupun tingkat mutasi pada mtDNA sangat tinggi dan posisi mutasi spesifik
sangat banyak ditemukan, tetapi pada umumnya mutasi-mutasi tersebut bersifat
silent mutations, atau mutasi yang tidak menimbulkan perubahan fungsi fisiologis
pada tubuh. Meskipun demikian, ditemukan sejumlah posisi mutasi pada gen
pengkode tRNA, rRNA, dan protein yang diduga kuat memiliki peranan dalam
timbulnya penyakit pada manusia.



Sejak pertama kali ditemukannya penyakit yang disebabkan oleh kerusakan
mtDNA (Holt et.al, 1988), telah dilaporkan lebih dari 150 posisi mutasi yang
berhubungan dengan penyakit pada manusia. Diantaranya adalah penyakit
MERFF yang disebabkan sebuah mutasi pada tRNALys (Noer et al., 1991), mutasi
mtDNA yang berhubungan dengan tumor (Fliss et al., 2000), serta mutasi pada
gen 12S rRNA mtDNA yang mempengaruhi struktur sekunder RNA dan
menyebabkan gangguan pendengaran (Ballana et al., 2006). Posisi-posisi mutasi
ini ditemukan berdasarkan keseragaman jenis dan posisi mutasi pada pasien
penderita penyakit tertentu terhadap urutan standar nukleotida mtDNA manusia,
Cambridge Reference Sequence (CRS). CRS adalah data mtDNA manusia



7



pertama yang berhasil ditentukan urutan lengkap basa nukleotidanya (Anderson et
al., 1981), dan sejak saat itu CRS digunakan sebagai standar urutan nukleotida
mtDNA manusia. Sepuluh tahun setelah ditemukannya CRS, dilakukan penelitian
untuk membangun suatu basis data referensi mtDNA manusia menggunakan 13
buah sampel (Marzuki, et al., 1991). Pada penelitian ini berhasil ditemukan 128
variasi nukleotida terhadap CRS pada urutan nukleotida daerah pengkode mtDNA
dan lima posisi basa nukleotida diantaranya ternyata CRS tergolong mutan
dibandingkan sampel mtDNA lainnya, ditunjukkan pada Tabel II.1. Dengan kata
lain pada lima posisi tersebut variasi nukleotida pada CRS merupakan bentuk
perubahan yang minor dibandingkan mtDNA manusia lainnya. Fenomena ini
merupakan informasi baru mengenai urutan konsensus mtDNA manusia. Urutan
konsensus ini disusun berdasarkan urutan nukleotida yang paling umum
ditemukan pada genom mitokondria manusia. Urutan konsensus ini kemudian
diusulkan sebagai referensi standar mtDNA manusia.
Read More

Hubungan Komponen Kimia Kayu dengan Sifat Pulp

Casey (1960) dalam Simatupang (1999) menyatakan bahwa komponen kimia

kayu berpengaruh terhadap pulp yang dihasilkan. Komponen kimia yang paling penting

adalah senyawa organiknya yaitu selulosa, hemiselulosa, lignin dan ekstraktif. Kadar



14






komponen kimia tersebut sangat beragam karena adanya pengaruh faktor genetika dan

lingkungan (Brown Panshin and Forsaith, 1952 dalam Simatupang, 1999). Keragaman

komponen kimia tersebut mempengaruhi jumlah larutan pemasak yang dibutuhkan,

kondisi pemasakan, rendemen pulp, mutu pulp dan kebutuhan bahan pemutih (Casey,

1952 dalam Simatupang, 1999).

Dalam pembuatan pulp secara kimia baik dalam laboratorium maupun di dalam

pabrik prinsipnya selalu sama, yaitu mereaksikan bahan baku dengan zat-zat yang

diharapkan akan melarutkan zat-zat non selulosa dengan sedikit mungkin merubah

selulosa. Pada umumnya tidaklah mungkin memisahkan selulosa tersebut dari senyawa

lainnya tanpa mempengaruhi selnya (Casey, 1960). Selulosa merupakan senyawa yang

paling diharapkan tinggal pada akhir pembuatan pulp karena menentukan rendemen

pulp dan berpengaruh pada ikatan antar serat serta kualitas kertasnya (Panshin dan de

Zeeuw, 1970 dalam Formanita 2007). Panjang rantai molukul solulosa berpengaruh

terhadap sifat fisik serabut selulosa. Semakin panjang rantai molukul solulosa maka

serabut selulosa semakin kuat dan tahan terhadap pengaruh degradasi oleh panas, kimia

dan serangan biologis.

Casey (1960) menyatakan pula bahwa hemiselulosa berpengaruh positif terhadap

kekuatan kertas. Kadar hemiselulosa yang tinggi mengakibatkan pulp mudah digiling

dan berkekuatan tinggi pada pembentukan kertas, demikian pula sebaliknya. Kandungan

hemiselulosa terbukti berhubungan dengan hidrasi pulp yang cepat dan menghasilkan

kertas yang jernih. Lebih khusus lagi, Hemiselulosa sangat hidropolik (water-loving)

dan memegang peranan penting pada kemampuan serat untuk mengabsorbsi air selama



15






penggilingan dan penghalusan. Akibatnya hemiselulosa ini mempromosikan lubrikasi

internal dari seratnya yang mengkibatkan perbaikan fleksibilitas, perbaikan penghalusan

mesin dan meningkatkan kerapatan kertas. Hemiselulosa juga meningkatkan kerapatan

kertas. Hemiselulosa juga bereaksi sebagai suatu agen ikatan antar atau perekat yanjg

memperkuat kertas (Parham,1980 dalam Ayu, 2008).

Proses pemasakan pulp secara kimia bertujuan untuk menghilangkan zat-zat non

selulosa diantaranya lignin, karena lignin menyebabkan kertas yang dihasilkan bersifat

kaku dan mudah berubah warnanya (Haygreen dan Bowyer, 1989). Lignin menyebabkan

ikatan antar serat lebih lemah, mengurangi fleksibilitas serat, mengurangi penyerapan air

dan mengurangi pembengkakan serat (Mcdonneii and May, 1959 dalam Ayu, 2008).

Semakin kecil kadar lignin, semakin besar kekuatan ikatan antar serat, hal ini

ditunjukkan oleh besarnya kekuatan tarik dan kekuatan jebol yang semakin tinggi, tetapi

rendemen pulp akan semakin rendah (Soenardi, 1976). Kayu dengan kadar lignin tinggi

akan menghasilkan pulp dengan bilangan permanganat tinggi, yang akan menurunkan

rendemen pulp yang dihasilkan (Alaudin dan Triyanto, 1979).

Dadswell dkk., 1959 menyatakan bahwa kehadiran bahan ekstraktif pada kayu

akan berpengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan dan mengkomsumsi banyak bahan

kimia dalam pemasakannya, sehingga kehadirannya tidak diharapkan dalam pembuatan

pulp kertas. Dalam pembuatan pulp secara kimia baik dalam laboratorium maupun di

dalam pabrik, prinsipnya selalu sama, yaitu mereaksikan bahan baku dengan zat-zat

yang diharapkan akan melarutkan zat-zat non selulosa dengan sesedikit mungkin



16






merubah selulosa. Pada umumnya tidaklah mungkin memisahkan selulosa tersebut dari

senyawa lainnya tanpa mempengaruhi selnya (Casey, 1960 dalam Silaen ,1995)

Lignin adalah salah satu komponen penyusun dinding sel tanaman. Tanaman

terbentuk dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Komposisi bahan penyusun dan jumlah

kandungan lignin sangat bervariasi dan bergantung pada jenis tanaman (Fengel dan

Wegener, 1995).

Pada batang tanaman, lignin berfungsi sebagai bahan pengikat komponen

penyusun lainnya, sehingga suatu pohon bisa berdiri tegak. Menurut Prayitno (1992)

fungsi lignin adalah sebagai bahan penguat, pengeras atau penegak rangkaian benang

selulosa sehingga mencapai tingkat kekuatan yang tinggi. Lignin terbentuk dari gugus

aromatik yang saling dihubungkan dengan rantai alifatik, yang terdiri dari 2-3 karbon.

Pada proses hidrolisa lignin, dihasilkan senyawa kimia aromatis berupa fenol, terutama

kresol. Erdtman (1930) dalam Achmadi (1990), menyimpulkan bahwa lignin dibentuk

dari jenis koniferil alkohol melalui dehidrogenasi enzimatik.

Lignin terdapat pada dinding sel dan daerah lamela tengah. Daerah lamela tengah

mengandung 70-80% lignin. Walaupun daerah lamela tengah berkadar lignin tinggi,

tetapi dinding sel yang volumenya besar juga mengandung lignin. Penyiapan sampel

untuk analisis kimia biasanya menghendaki penyingkiran ekstraktif, jika ekstraktif tidak

dihilangkan maka akan mengganggu analisis berikutnya. Proses penghilangan zat

ekstratif berguna dalam analisis lignin. Sebelum isolasi lignin, zat ekstraktif harus

dihilangkan terlebih dahulu untuk mencegah pembentukan hasil-hasil kondensasi



17






dengan lignin selama proses isolasi (Fengel dan Wegener, 1995). Menurut Achmadi

(1990), lignin dibagi kedalam 2 kelompok berdasarkan unsur strukturalnya :

1. Lignin guaiasil yang terdapat pada kayu jarum (26-32%)

2. Lignin guaiasil-siringil yang menjadi ciri-ciri kayu daun lebar (20-28%)

Lignin merupakan komponen makromolekul kayu ketiga. Kandungan lignin

berbeda pada kayu keras dan kayu lunak. Dalam kayu lunak kandungan lignin lebih

banyak dibandingkan dengan kayu keras dan juga terdapat perbedaan struktur lignin

dalam kayu lunak dan dalam kayu keras (Fengel dan Wegener, 1995).

Kadar lignin yang tinggi tidak diinginkan dalam pengolahan pulp dan kertas.

Kayu dengan kadar lignin rendah sampai sedang baik untuk dijadikan sebagai bahan

baku pulp dan kertas. Sebaliknya untuk kayu dengan kadar lignin yang tinggi kurang

baik untuk dijadikan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Hadjib et all., (2005)

mengatakan bahwa kayu dengan kandungan lignin yang tinggi dengan kondisi

pengolahan yang standar akan menghasilkan kematangan pulp yang rendah, kebutuhan

pemutih tinggi dan sifat keteguhan yang rendah serta warna pulp yang gelap. Menurut

Pari dan Saepuloh (2000), jika kadar lignin kurang dari 25% maka akan menghasilkan

pulp yang berwarna putih kuning, sedangkan jika kadar lignin lebih dari 25% maka pulp

yang dihasilkan akan berwarna coklat hitam.

Penghilangan lignin pada kayu harus dilakukan tanpa merusak serat selulosa,

sehingga kondisi pemasakan harus maksimum (Gusmailina dan Setiawan, 1996).

Soenardi (1976) menjelaskan bahwa kandungan lignin akan menghasilkan selulosa lebih



18






rendah per satuan berat atau per satuan volume digester. Selain itu akan mempengaruhi

kebutuhan zat kimia dalam proses pemasakan.

Dalam pengolahan pulp, lignin sangat berpengaruh terhadap warna pulp,

menyukarkan penggilingan dan menghasilkan lembaran yang berkekuatan rendah

(Siagian dkk., 2003). Selain itu, kertas yang dihasilkan dengan kadar lignin yang tinggi

akan memiliki kekuatan dan kualitas permukaan yang rendah (Haygreen dan Bowyer,

1996).
Read More

Mangium (Acacia mangium Willd.)

Mangium (Acacia mangium Willd.) merupakan tanaman yang dijadikan sebagai

salah satu jenis unggulan dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri, karena memilki

beberapa kelebihan antara lain cepat tumbuh serta dapat tumbuh pada lahan-lahan yang

kurang subur (Tham, 1976 dalam Supriadi, 2002).

Klasifikasi mangium selengkapnya diuraikan sebagai berikut :


Divisio

Kelas

Subkelas

Ordo

Family

Genus

Jenis


: Angiospermae

: Dicotyledonae

: Dialypetalae

: Rosales

: Leguminosae

: Acacia

: Acacia mangium Willd. (Silaen, 1995).


Pertumbuhan kayu mangium sangat cepat serta memerlukan persyaratan tumbuh

yang ringan. Di daerah Seram Barat, kayu mangium tumbuh rata-rata dengan ketinggian

30 m dpl sampai ketinggian 6 - 8 m dpl. Tinggi pohon mangium rata-rata 20 m dengan

keliling batang yang bervariasi antara 30 - 120 cm. Kayu mangium mulai ditanam di

Sumatera Selatan pada tahun 1979/1980. Bentuk batangnya lurus, berkulit tebal dengan

mata kayu yang besar serta warna kayunya kecoklatan. Pada tempat tumbuh yang baik



8






volumenya bisa mencapai 415 m3/ha/tahun. Adapun riap rata-rata pertahunnya mencapai

20 - 50 m3 /ha (Kliwon, 2002 dalam Formanita, 2007).

Daur kayu mangium yang diterapkan pada Hutan Tanaman Industri (HTI) di

Indonesia adalah 8 – 9 tahun dengan volume berkisar 150 – 175 m3/hektar untuk

diameter diatas 10 cm. Daurnya dapat diperpendek apabila program pemuliaan pada

Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk bahan pulp dan kertas diarahkan untuk

mendapatkan volume tinggi (riap besar) dengan memperhatikan faktor berat jenis kayu.

Merupakan hal yang mendatangkan profit besar bagi perusahaan apabila daur bisa

diperpendek dari 8 – 9 tahun menjadi 6 tahun dengan volume per hektar yang tetap atau

justru lebih tinggi (Khomsatun, 2000 dalam Formanita, 2007).

Pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan baku pulp dan kertas berdasarkan

pada kelas diameter, yaitu kelas diameter 8 - 22 cm. Selama ini penambahan rata-rata

per tahun yang dimiliki kayu akasia pada tegakan untuk bahan baku pulp dengan jarak

tanam 3 x 3 meter, yaitu sebesar 25 cm3 sehingga untuk satu daurnya akan dihasilkan

volume sebesar 200 m3 per hektar dan pertambahan riap pertahunnya 50 m3 (Supriyadi,

2005).

Fetriana (2005) menyatakan bahwa batang kayu mangium mempunyai

kandungan lignin yang cukup tinggi yakni sebesar 25.99% selulosa 48.53% dan zat

ekstraktif 9.06%. Rendemen total yang dihasilkan dalam proses pembuatan pulp sebesar

50 – 53.1%. Kayu mangium memiliki kayu gubal berwarna krem muda dan kayu teras

berwarna coklat tua. Kayunya cukup keras, rapat dan berserat lurus dengan kerapatan



9






berkisar antara 420 - 483 kg/m3. Kekuatan kayu mangium termasuk kelas ringan sampai

sedang dan rendemen kayu gergajiannya berkisar antara 37 - 40% (Hardiayanto, 1999).

Kayu mangium dapat diperbanyak dengan melakukan penyemaian biji atau

secara vegetatif dengan sifat pertumbuhan tajuk yang cepat menyentuh tanah. Kayunya

yang keras dan berwarna coklat cerah merupakan partikel yang baik untuk dijadikan

kayu industri seperti kayu papan, meubel, rangka pintu, papan hias dinding, jendela dan

alat rumah tangga. Untuk industri kertas yang dimanfaatkan adalah kayu gubal yang

tipis dan keras dan ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar dengan energi yang

dapat dihasilkan sebesar 4500 - 4900 kalori/kg (Rahayu et all., 1991).




2.2. Batang Kayu Mangium sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas

Pada umumnya pulp merupakan produk utama kayu mangium yang digunakan

untuk pembuatan kertas dan papan kertas. Selain itu pulp juga dapat diproses menjadi

berbagai turunan-turunan selulosa dan menghasilkan beberapa produk lanjutan lainnya

seperti rayon, plastik serta produk sintesis yang diperoleh dari hasil pemisahan serat

yang ada pada kayu, baik secara mekanis, kimia maupun campuran dari kedua cara

tersebut (Sjostrom, 1995).

Penggunaan kayu sebagai bahan baku pulp juga telah memudahkan dan

memungkinkan pembuatan kertas secara massal pada mesin kertas moderen

berkecepatan tinggi. Industri pulp dan kertas generasi pertama yang ada di Indonesia

semula juga menggunakan sumber serat non-kayu seperti merang dan bambu, namun

pada perubahan zaman baik perkembangan tuntutan maupun teknologi juga telah



10






memaksa industri pulp untuk menggunakan kayu sebagai sumber seratnya (Marsoem,

2004).

Panjang serat merupakan faktor yang penting dalam menentukan struktur

lembaran, kekuatan mekanik dan sifat-sifat optik dari kertas. Panjang dan kekasaran

serat kayu mangium seperti dilaporkan oleh Palokangas (1996) dalam Marsoem (2004),

setara dengan panjang dan kekasaran serat Eucalyptus. Serat dengan sifat seperti ini

diharapkan akan menghasilkan pulp dengan mutu yang baik, karena serat mudah

memipih sehingga memberikan permukaan yang luas bagi terjadinya ikatan antar serat.

Uji coba pembuatan pulp dan kertas batang mangium telah banyak dilakukan.

Berdasarkan sifat morfologi serat, fisik dan kimianya, kayu tersebut cocok untuk pulp

dan kertas. Pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan baku pulp dan kertas didasarkan

atas kelas diameter, yaitu kelas diameter 8-22 cm. Pembuatan pulp kertas dari kayu

mangium lebih mudah bila dibandingkan dengan penggunaan kayu Eucalyptus yang

sudah lebih dulu diproduksi secara komersial. Pulp dari mangium dengan mudah

dikelantang (bleached) pada level kecerahan (brightness) yang tinggi dan sifat-sifat pulp

yang dikelantang (bleached pulp) sangat sesuai untuk berbagai produk akhir seperti

kertas tulis dan cetak (Logan, 1986 dalam Marsoem, 2004).




2.3. Cabang Kayu Mangium sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas

2.3.1. Anatomi dan Kandungan Kimia Cabang Kayu Mangium

Worster dan Vintje (1976) dalam Ayu (2008) mengemukakan bahwa panjang

serat rata-rata dan kekasaran pulp kraf tanpa dicuci pada bagian pucuk dan cabang yaitu



11






masing-masing 2,4 mm dan 1,7 mm. Tsoumis (1976) dalam Aprianto (2004)

menyatakan bahwa kayu teras dan kayu gubal dari cabang dibentuk oleh cincin-cincin

yang meruncing. Sel-sel longitudinal umumnya ditemukan berukuran pendek dengan

diameter yang kecil jika dibandingkan dengan batang utama.

Sejumlah kayu keras menunjukkan bahwa panjang serat dalam cabang kayu

ditemukan rata-rata 25 - 35% lebih sedikit jika dibandingkan dengan cabang utama. Dan

juga perbedaan yang paling signifikan diantara bahan baku cabang dan batang adalah

proporsi kulit cabang yang lebih tinggi (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), cabang adalah suatu bahan baku yang

bisa digunakan walaupun hanya untuk beberapa bagian dan lebih sedikit jika

dibandingkan dengan batang pokok. Selanjutnya Hakilla (1972) dalam Ayu (2008),

melaporkan bahwa cabang dari pucuk pohon yang tidak dipakai merupakan sumber

bahan baku yang potensial dari pada tunggul dan akar-akar pohon.

Komposisi kimia cabang mangium memiliki kadar lignin berkisar antara

19,30%-23,72%, selulosa berkisar antara 33,43%-46,36% dan zat ekstraktif berkisar

antara 8,15%-6,11%. Berdasarkan analisa komponen kimianya, cabang kayu mangium

berdiameter 2,5 cm-12,5 cm diduga akan menghasilkan kertas dengan kualitas yang

menyamai batang (Fetriana, 2005).

Beberapa industri pulp dan kertas yang ada belum memanfaatkan cabang dan

kulit Akasia secara utuh, salah satu contohnya terjadi pada PT. Tanjung Enim Lestari

yang hanya memanfaatkan batangnya saja.



12






2.3.2. Pemanfaatan Cabang Kayu Mangium

Cabang adalah suatu bahan baku yang bisa digunakan walaupun hanya untuk

beberapa bagian dan lebih sedikit jika dibandingkan dengan batang pokok (Haygreen

dan Bowyer, 1996).

Pada saat eksploitasi tegakan di hutan diketahui bahwa masih banyak sisa-sisa

kayu yang tidak digunakan sebagai bahan baku industri pengelolaan kayu. Cabang dari

pucuk pohon yang tidak dipakai merupakan sumber bahan baku yang potensial daripada

tunggul dan akar-akar pohon. Selanjutnya Yahya (2001), telah melakukan studi untuk

menghasilkan bubur kayu dan kertas dari cabang P. falcataria tanpa kulit kayu dan

membandingkan hasil serta mutunya dengan batangnya. Hasil analisa statistik

menunjukkan bahwa sifat fisik dan optis handsheet tidak dipengaruhi oleh porsi pohon.

Cabang yang digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas diselimuti oleh kulit

merupakan jaringan pada pohon yang paling penting. Dari keseluruhan bagian pohon,

cabang memiliki kulit yang paling tinggi dengan nilai 20 - 35%, kulit pada bagian

tunggul dan akar juga lebih tinggi dari batang (Young, 1871 dalam Fengel, D dan G.

Wegener, 1995). Batang yang telah dikuliti biasanya memberikan pengaruh yang jelek

terhadap kualitas pulp. Hasil limbah kulit biasanya dibakar untuk memperoleh panas,

hanya sebagian kecil saja yang menggunakan kulit sebagai bahan dasar untuk

menghasilkan bahan-bahan kimia (Sjostrom, 1995).

Industri PT. Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper (PT. TEL) bahan bakunya

dipasok dari PT. Musi Hutan Persada (MHP) yang hanya menerima kayu berdiameter

besar dari 8 cm. Karena setiap harinya PT. MHP mengirim kayu ke PT. TEL sebesar



13






8000 m3 (Ryan, 2000), dan jika kayu yang berdiameter 4-8 cm tertinggal di lokasi

tebangan PT. MHP adalah sebesar 10,43 % (Supriadi, 2002) maka volume kayu yang

tidak digunakan mencapai 30.456,26 m3 per tahun.

Mangium (Acacia mangium Willd.) adalah jenis tanaman yang dipilih dan

dikembangkan di HTI PT. MHP sebagai bahan baku pulp. Natawijaya (2002)

mengutarakan bahwa luas hutan tanaman Akasia di Indonesia adalah 800.000 ha dan

akan mencapai satu juta ha pada tahun 2010. Dengan asumsi bahwa pada rotasi 8 tahun

akan dihasilkan kayu 25 m3 per ha (Supriadi dan Wahyono, 2002), maka setiap tahun

akan diperoleh tambahan kayu dari cabang atau batang yang berdiameter 4-8 cm sebesar

2.206.700 m3 atau dapat meningkatkan 37,84 % jatah tebang tahunan yang ditetapkan

oleh Departemen Kehutanan (Menteri Kehutanan, 2003).

Uraian diatas menggambarkan bahwa dari segi potensi volume, cabang mangium

sangat prospektif sebagai tambahan bahan baku industri pulp dan kertas. Dari segi bahan

baku, Yahya., et all (2003) melaporkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata pada

kerapatan kayu, kandungan holoselulosa, dan selulosa antara batang dan cabang kayu A.

mangium, bahkan lebih menguntungkan kerena kadar lignin dan ekstraktifnya lebih

rendah dari pada batang.
Read More

Proses Mikrobiologi

Pada dekomposisi anaerob atas limbah, beberapa organisme anaerobik bekerja bersama untuk mengkonversi bahan organik dalam limbah dan menjadikannya hasil akhir yang stabil. Kelompok mikroorganisme pertama sangat peka pada polimer hidrolyzing organic dan lipid untuk blok bangunan dasar yang terstruktur seperti asam lemak, monosakarida, asam amino dan senyawa-senyawa lain yang terkait.
Bakteri anaerobik kelompok kedua memfermentasikan produk yang teruraikan oleh kelompok mikroorganisme pertama menjadi asam organik yang lebih sederhana, yang paling sering adalah asam asetat. Kelompok mikroorganisme kedua ini dikenal sebagai mikroorganisme non metanogenik, terdiri atas bakteri anaerobik fakultatif dan obligat yang sering diidentifikasikan di beberapa literatur sebagai acidogen atau pembentuk asam.
Kelompok mikroorganisme ketiga mengubah hidrogen dan asam asetat yang dibentuk oleh acidogen menjadi gas metan dan karbondioksida. Kelompok bakteri ini yang memerlukan kondisi anaerob maksimal disebut bakteri metanogenik dan teridentifikasi di beberapa literatur sebagai metanogen atau pembentuk metan (Koottatep, dkk., tanpa tahun).
Sistem untuk menghasilkan metana dengan cara yang paling efisien dan kompleks dalam alam terdapat pada saluran cerna hewan pemamah biak. Sistem yang anaerob ini tidak pernah berhasil direproduksi sepenuhnya di luar tubuh sapi dan dikenal sebagai suatu interaksi yang kompleks antara bakteri, protozoa dan jamur dalam jumlah yang besar. Semua program bioreaktor yang dipelajari secara intensif dan bertujuan untuk menciptakan metanogenesis di bawah kondisi yang terkendali memperlihatkan bahwa keluaran gas yang tinggi memerlukan pemantauan laboratorium yang cermat dan pengendalian variabel lingkungan yang sangat akurat seperti suhu, pH, kadar kelembaban, guncangan dan keseimbangan serta masukan bahan mentah. Sampai saat ini, beberapa aplikasi metanogenesis yang paling praktis telah dilakukan dengan tingkatan teknologi yang sangat rendah (Smith, 1995).
Pada lambung hewan ruminansia dapat ditemui beberapa jenis bakteri metanogenik, di antaranya adalah methanobacterium ruminantium dan methanobacterium mobilis. Bakteri ini merubah H2 menjadi metana (Arora, 1989).
2.2 Proses Konversi
Pada hakikatnya energi yang terkandung pada bahan/limbah organik adalah energi matahari yang diikat oleh tanaman melalui proses fotosintesis. Pada proses ini energi matahari dikonversi menjadi energi kimia yang didapatkan dalam bentuk karbohidrat (C6H12O6)n. Pemanfaatan kembali menjadi energi, baik secara langsung maupun tidak langsung pada dasarnya adalah mengambil kembali energi radiasi matahari yang terikat pada biomassa (limbah pertanian dan peternakan). Bila proses pemanfaatan limbah sebagai energi melalui teknologi bio gas maka prosesnya adalah sebagai berikut:
C6H12O6 + mikroorganisme CH4 + CO2
Apabila energi ini dimanfaatkan, maka proses yang terjadi adalah:
CH4 + 2O2 CO2 + H2O + energi
(Judoamidjojo, dkk., 1992).
2.3 Bio Gas
Bio gas adalah hasil fermentasi secara anaerobik. Fermentasi anaerobik merupakan proses perombakan suatu bahan menjadi bahan lain dengan bantuan mikroorganisme tertentu dalam keadaan tidak berhubungan langsung dengan udara bebas (anaerob) (Judoamidjojo, dkk., 1992).
Menurut Koottatep, dkk. (tanpa tahun), bio gas mengandung CH4 (50-70%), CO2 (30-50%) dan beberapa jenis gas lain seperti H2, O2, H2S dan N2. Untuk menjamin produksi bio gas yang optimal, ketiga kelompok mikroorganisme harus bekerja bersama. Apabila terlalu banyak bio massa, kelompok organisme pertama dan kedua akan memproduksi asam organik dalam jumlah besar pula, hal ini akan menurunkan pH di dalam reaktor dan berpengaruh buruk bagi kelompok mikroorganisme ketiga yang mengakibatkan hanya sedikit gas bahkan tidak ada gas yang dihasilkan. Sebaliknya apabila terlalu sedikit bio massa yang ada, maka tingkat penguraian oleh mikroorganisme sangat rendah dan produksi bio gas akan menurun sangat signifikan.
Bio gas mempunyai sifat mudah terbakar, panas pembakarannya berkisar antara 19,7 sampai 23 MJ/m3, energi yang dapat dihasilkan rata-rata setaraf dengan 21,5 MJ atau 563 Btu/ft3, kerapatan relatifnya 80 persen kerapatan udara dan 120 persen kerapatan metan. Titik kritis bio gas ini Agak sulit ditentukan, namun sebagai pendekatan digunakan titik kritis metan yaitu 82oC dan tekanan 45,8 atm. Pada temperatur dan tekanan tersebut metan akan mencair dengan terjadinya penyusutan volume sampai 1/600 kali. Beberapa sifat fisik dan kimia gas metan dapat dilihat pada Tabel 2.2 (Prescot dan Dunn, 1959).
2.4 Faktor Lingkungan
Proses fermentasi anaerob dapat berlangsung dengan optimal apabila populasi ketiga kelompok bakteri dalam keadaan seimbang. Bakteri-bakteri ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Temperatur adalah salah satu faktor lingkungan yang utama, telah diketahui bahwa temperatur lingkungan ideal untuk fermentasi anaerobik berkisar pada 35oC. Apabila temperatur berada jauh di bawah 35oC, maka aktivitas bakteri akan menurun demikian pula produksi bio gas. Sebaliknya bila temperatur lingkungan berada jauh di atas 35oC maka beberapa jenis bakteri akan mati sehingga produksi bio gas juga akan menurun.


Pengisolasian, pendauran panas, injeksi uap, pemanasan menggunakan elemen dsb. dilakukan dengan tujuan mengontrol temperatur di dalam digester. Pengaturan temperatur penting untuk diperhatikan pada saat merancang sebuah digester. Fermentasi anaerobik dapat juga terjadi pada temperatur ruang, namun segala metode yang telah dilakukan untuk menjaga temperatur digester pada kisaran 35oC terbukti dapat meningkatkan produksi bio gas (Gracelon dan Clark, tanpa tahun).
Proses fermentasi anaerob dapat ditemui pada rumen (lambung) seekor sapi sebagai reaktor bio gas alami. Seekor sapi dengan berat badan 400 Kg memiliki berat rumen sekitar 70 Kg, keadaan di dalam rumen adalah anaerob, memiliki temperatur 39oC dan pH 6 - 7 dapat menghasilkan 2 Kg gas metan per jam (Tillman, 1976).
Saat paling kritis terjadi ketika digester mulai bekerja. Saat digester diisi sludge, bakteri pembentuk asam segera menghasilkan asam. Populasi bakteri metanogenik mungkin tidak cukup untuk mengubah asam yang dihasilkan bakteri kelompok pertama dan kedua dan menetralkan pH. Apabila pH berada jauh di bawah 6,5, populasi bakteri metanogenik akan mati dan populasi ketiga kelompok bakteri menjadi tidak seimbang, kondisi di dalam digester menjadi asam dan tidak memproduksi bio gas.
Dalam rangka menumbuhkan bakteri metanogenik pada sludge, dapat dilakukan penambahan alkali untuk memberikan efek buffer. Sebagai contoh, pH dapat ditingkatkan pada kisaran 7,5 dengan menambahkan baking soda (sodium bikarbonat) (Gracelon dan Clark, tanpa tahun).
2.5 Reaktor Bio Gas
Bagian utama reaktor bio gas adalah sebuah ruang tertutup, terisolasi dari udara bebas yang dikenal sebagai digester, kondisi di dalam digester adalah anaerob. Ada dua jenis digester. Jenis pertama adalah sistem batch. Pada jenis ini digester diisi campuran biomassa dan air yang dikenal sebagai sludge kemudian digester akan memproduksi bio gas sampai makanan bagi bakteri metanogen habis. Jenis ini banyak digunakan pada digester pada skala laboratorium untuk menyelidiki produksi bio gas dengan berbagai perlakuan.
Digester jenis kedua menggunakan sistem continuous. Pada jenis ini digester diisi sludge secara teratur. Bio gas dihasilkan terkumpul di permukaan sludge dan menekan sludge sehingga keluar melalui lubang pengeluaran sejumlah volume bio gas yang terkumpul. Selanjutnya digester diisi sludge kembali sebesar volume sludge yang keluar, sehingga volume sludge di dalam digester konstan. Digester jenis ini biasa digunakan untuk skala industri untuk hasil yang berkelanjutan (Gracelon dan Clark, tanpa tahun).
Bio gas yang dihasilkan selama dekomposisi anaerobik dikumpulkan dalam sebuah penampung gas, selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, penerangan, proses pendinginan maupun pemanasan dan untuk kepentingan pertanian lainnya seperti sumber energi untuk mesin pertanian.
Digester dengan suhu tinggi (30-35OC) akan memproduksi lebih banyak gas dibandingkan suhu yang lebih rendah, namun kebutuhan bahan baku harian semakin besar. Di samping itu siklus fermentasi akan lebih singkat.


Metana sebagai suatu sumber energi mungkin mempunyai nilai ekonomi bila diproduksi dalam skala kecil, sedangkan masa depan produksi metana melalui proses komersial yang berskala besar sangat diragukan. Beberapa argumentasi ekonomi yang menentang produksi metana berskala besar melalui proses mikrobal adalah sebagai berikut.
1. Metana terdapat dengan jumlah yang berlimpah dalam alam, khususnya di daerah-daerah ladang minyak dan gas alam.
2. Produksi metana dengan gasifikasi batubara secara komersial lebih menarik.
3. Produksi metana dengan menggunakan mikroba lebih mahal biayanya dibandingkan produksi gas alam.
4. Biaya penyimpanan, pengangkutan dan distribusi bahan bakar gas masih belum memberikan keuntungan ekonomi.
5. Metana tidak dapat digunakan untuk kendaraan bermotor dan perubahan metana dari bentuk gas menjadi bentuk cair merupakan proses yang sukar dilakukan serta mahal biayanya.
Read More

maut


Ketika Allah menciptakan maut dan menyerahkannya pada malaikat maut, malaikat maut berkata "wahai Tuhanku, apakah maut itu?" maka Allah memerintahkan hijab untuk mambuka sehingga malaikat maut melihatnya, Allah berfirman kepada para malaikat "berhentilah dan lihatlah maut ini!" maka para malaikat berhenti semua, Allah berfirman "terbanglah maut kepada para malaikat dan bentanglah semua sayapmu dan bukalah semua matamu!" ketika maut terbang dan para malaikat melihatnya maka para malaikat jatuh pingsan selama 1000 tahun, ketika sadar mereka berkata "Tuhanku, apakah yang lebih agung dari pada makhluk ini? Allah berfirman "Akulah yang telah menciptakannya dan Aku lebih agung darinya dan sungguh setiap makhluk akan merasakan maut" kemudian Allah berfirman "ya Izroil, ambillah maut itu, sungguh Aku menyerahkannya padamu" maka malaikat maut berkata "wahai Tuhanku, bagaimana saya kuat mengambilnya sedang dia lebih agung dariku" maka Allah memberikan kekuatan kepadanya dan kemudian ia mengambilnya, maka maut menjadi tenang ditangan Izroil. Kemudian maut berkata " wahai Tuhanku, berilah saya izin sehingga saya mengundang sekali dalam beberapa langit" maka Allah memberikannya izin. Maut kemudian berkata dengan suara yang sangat keras "saya maut yang memisahkan antara setiap kekasih, saya maut yang memisahkan suami dan istri, saya maut yang memisahkan anak-anak dan ibu-ibu, saya maut yang memisahkan saudara laki-laki dan saudara perempuan, saya maut yang merusak rumah-rumah dan gedung-gedung, saya maut yang meramaikan kubur-kubur, saya maut yang mencari kalian dan menghampiri kalian walaupun dalam benteng dan tidak suatu makhlukpun kecuali merasakan aku" (daqoiqul akhbar)

Ketika Allah menciptakan langit dan bumi maka Allah menciptakan sangkakala yang memiliki 11 lubang dan diberikan kepada Isrofil yang diletakkan di mulutnya sedang ia melihat ke arsy menunggu datangnya perintah. Abu Huroiroh bertanya "apakah sangkakala itu" nabi menjawab "terompet besar dari cahaya, yang demi Dzat yang mengutusku jadi nabi, besar setiap lubangnya seperti luasnya langit dan bumi dan ditiup 3x, tiupan pertama untuk mengejutkan, tiupan kedua untuk membinasakan, tiupan ketiga untuk membangkitkan. Ketika Allah memerintahkan Isrofil untuk meniup yang pertama maka terkejutlah semua yang ada di langit dan di bumi karena takut sehingga ibu yang menyusuipun akan lupa terhadap susuannya, ketika Allah memerintahkan meniup yang kedua maka semua yang ada dilangit dan dibumi binasa kecuali Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, dan malaikat pembawa arsy, kemudian Allah memerintahkan Izroil untuk mencabut nyawa mereka, maka dicabutlah, kemudian Allah berfirman "ya malaikat maut siapakah yang masih hidup diantara makhlukKu?" Izroil menjawab "wahai Tuhanku, yang tersisa hanyalah hambamu yang lemah yaitu malaikat maut" Allah berfirman "ya malaikat maut, apakah kau tidak mendengar firmanku "bahwa setiap yang hidup akan merasakan mati" maka cabutlah nyawamu!" maka malaikat maut pergi ketempat antara surga dan neraka dan mencabutnyawanya, maka ia berteriak sangat keras yang apabila setiap makhluk hidup yang mendengarnya maka ia akan mati karena suara tersebut, ia berkata "apabila saya mengetahui sakitnya mati maka saya tidak akan mencabut nyawa orang beriman kecuali dengan perlahan" kemudian Izroil mati. Maka tidak ada satupun makhluk yang tersisa dan tetaplah seperti itu selama 40 tahun. Allah berfirman " wahai dunia yang hina, dimanakah para raja, dimanakah para anak raja, dimanakah para penguasa, dimanakah orang-orang yang memakan rizqiKu kemudian menyembah selain Aku?" tidak satupu yang dapat menjawab, maka Allah berfirman "bagi Allah yang tunggal dan kuat", kemudian Allah mengutus angin kencang yang diutus kepada kaum Ad, yang keluar dari lubang jarum, maka bumi menjadi rata sehingga tidak ditemukan gundukan atau lubang. Kemudian Allah memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka langit menurunkan huja seperti air mani lelaki selama 40 hari sehingga airnya setinggi 12 diro', maka para makhluk tumbuh seperti tumbuhnya tanaman sehingga sempurna jasadnya seperti sebelumnya, kemudian Allah menghidupkan malaikat pembawa arsy, kemudian menghidupkan malakiat Isrofil, Mikail, Izroil, Jibril, maka mereka hidup dengan izin Allah. Kemudian Allah memerintahkan Ridwan memberikan buroq, mahkota, perhiasan kemuliaan, selendang kemuliaan dan bendera" mereka berdiri diantara langit dan bumi dan Jibril berkata "wahai bumi dimana kuburan Muhammad saw?" bumi menjawab "demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, Allah telah mengutus angin kencang dan menjadikanku hancur, saya tidak mengetahui dimana kuburan beliau" kemudian dari kubur nabi keluar tiang dari cahaya sampai kelangit, maka Jibril tahu bahwa itu adalah kubur Muhammad saw, maka mereka berangkat kesana dan berdiri. kemudian Jibril menangis, Isrofil, Izroil dan Mikail bertanya "mengapa kamu menangis?" Jibril menjawab "bagaimana saya tidak menangis, akan berdiri Muhammad saw dan akan bertanya kepadaku tentang umatnya dan saya tidak mengetahui dimana umatnya" kemudian bumi terbelah dan nabi Muhammad saw berdiri dan membersihkan kepala beliau dari debu, beliau melihat kekanan dan kekiri maka beliau tidak melihat seorangpun dan beliau melihat Jibril,Mikail, Isrofil, Izroil. Nabi bersabda "wahai Jibril hari apakah ini?" Jibril menjawab "ini hari susah dan sesal, ini hari kiamat dan hari syafaatmu" nabi bersabda "dimanakah umatku?" Jibril menjawab "saya berlindung kepada Allah, demi Dzat yang mengutusmu dengan haq menjadi nabi, tidak ada suatu makhluk yang bangkit sebelummu" kemudian Jibril memakaikan mahkota dikepalanya dan menghiasinya dengan perhiasaan dan menaikkannya ke buroq. Nabi berkata "wahai saudaraku Jibril, dimanakah sahabatku Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali? seketika itu mereka bangkit dengan izin Allah, malaikat memakaikan perhiasan dan menaikkannya ke buroq kemudian berdiri di sisi nabi. Maka nabi bersujud sambil menangis dan berkata "umatku, umatku" kemudian Allah memerintahkan Isrofil meniup sangkakala, dan ia meniupnya maka ruh-ruh keluar seperti lebah sehingga penuhlah antara langit dan bumi, dan ruh-ruh tersebut masuk ke jasad masing-masing. Kemudian para makhluk bangkit dan digiing ke makhsar dari golongan jin dan manusia kecuali para malaikat (durrotunnashihin).

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Jibril ke surga maka Dia berfirman "lihatlah surga dan apa yang telah aku sediakan bagi penghuninya didalamnya!" maka Jibril datang kesurga, melihatnya dan melihat apa yang telah disediakan Allah untuk penghuninya, kemudian Jibril kembali kepadaNya. Jibril berkata "demi kemulyaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar surga kecuali ia ingin mamasukinya" lalu Dia memerintahkannya, lalu surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kemudian Dia berfirman "kembalilah kamu kesurga dan lihatlah apa yang saya sediakan untuk penghuninya didalamnya!" lalu Jibril kembali ke surga, tiba-tiba surga telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu Jibril kembali kepadaNya "demi kemulyaanMu, sungguh aku takut, tidak ada seorangpun yang memasukinya". Dia berfirman "pergilah kamu ke neraka dan lihatlah apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya!" maka tiba-tiba neraka itu tersusun sebagian atas sebagian yang lain. Lau Jibril kembali kepadaNya dan berkata "demi kemulyaanMu, tidak seorangpun yang mendengar neraka lalu ingin memasukinya" lalu Allah memerintahkannya, kemudian neraka dikelilingi hal-hal yang menyenangkan. Dia berfirman "kembalilah kepadanya!" maka Jibril kembali ke neraka, lalu ia berkata "sungguh saya khawatir seseorang tidak akan selamat darinya, kecuali memasukinya"(40 hadits qudsi)
Read More

Perilaku Orangutan

Perilaku satwa adalah tindak tanduk yang terlihat dan saling berkaitan baik

secara individu maupun bersama-sama (Tanudimadja, 1978 dalam Kartikasari, 1986).


23




Perilaku satwa dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor dari dalam tubuh (endogenous) dan

faktor dari luar tubuh (exogenous) (Kartikasari, 1986).

Menurut Meijaard dkk., (2001) pembentukan kelompok pada Orangutan terlihat

pada remaja dan pradewasa yang bergerak dalam jarak dekat satu sama lain. Orangutan

dewasa menjaga jarak dengan individu lainnya, kecuali jika seekor jantan dan betina

siap kawin. Umumnya keadaan ini berlangsung selama 2-3 minggu sebelum diakhiri

kopulasi. Masa hamil kurang lebih sembilan bulan dan jarak kelahiran antara anak yang

satu dengan yang lain sekitar 96 bulan (Supriatna dan Hendras, 2000).

Orangutan merupakan satwa arboreal yaitu satwa yang menghabiskan sebagian

besar waktu hidupnya di atas pohon (Anonim, 2007c). Orangutan dapat membuat dua

sampai tiga sarang setiap harinya. Menurut van Schaik dan Idrusman (1996) dalam

Anonim (2007c) klasifikasi posisi sarang adalah sebagai berikut :


Posisi I


: Posisi sarang terletak di dekat batang utama


Posisi II : Sarang berada di pertengahan atau di pinggir percabangan satu pohon

tanpa menggunakan pohon atau percabangan pohon lainnya

Posisi III : Sarang terletak di puncak pohon

Posisi IV: Sarang terletak di antara dua cabang atau lebih, dari tepi pohon

yang berlainan.

MacKinnon (1974) dalam Sariningsih (2003) menerangkan tahapan Orangutan

dalam pembuatan sarang sebagai berikut :

1. Rimming. Dahan dilekukkan secara horizontal untuk membentuk lingkaran sarang

dan ditahan dengan cara melekukkan dahan lain.


24




2. Hanging. Dahan dilekukkan ke arah dalam sarang untuk membentuk mangkuk

sarang.

3. Pillaring. Dahan dilekukkan ke bawah sarang untuk menopang lingkaran sarang dan

memberikan kekuatan ekstra.

4. Loose. Beberapa dahan dipatahkan dari pohon dan diletakkan ke dalam dasar sarang

sebagai alas atau sebagai atap. Dahan-dahan tersebut didapatkan dari beberapa

bagian pohon atau bahkan dari pohon lain yang bisa mencapai ± 15 meter dari pohon

tempat sarang berada.

Umumnya primata berjalan di atas dahan-dahan pohon. Mereka menyeberangi

ruang-ruang kosong di tengah puncak-puncak pepohonan dengan melompat,

menggunakan kaki belakangnya yang kuat dan menggunakan ekornya untuk

mempertahankan keseimbangan selagi mereka melayang di tengah udara (van Schaik,

2006).

Orangutan mempunyai tubuh yang besar, sehingga mereka tidak bisa berjalan

seperti primata pada umumnya untuk melewati dahan-dahan pepohonan. Sebaliknya,

Orangutan bergerak maju dengan menggunakan tangan dan kakinya. Lengan Orangutan

40% lebih panjang dari kakinya. Tangan dan kakinya sangat panjang dengan jari-jari

yang melengkung, yang digunakan untuk memegang dahan dan ranting dengan cara

mengait. Lengan-lengan mereka dapat memeluk batang pohon pada waktu naik-turun

memanjat pohon (van Schaik, 2006).


25




Pergerakan untuk primata lainnya, Fleagle (1978) dalam Kartikasari (1986)


menyebutkan bahwa


pergerakan lutung dibedakan menjadi 4 berdasarkan cara


penggunaan tungkainya yaitu :

1. Quadrupedal yaitu gerakan berjalan dan berlari secara kontinyu, biasanya

bergerak horizontal menggunakan keempat tungkainya.

2. Leaping yaitu gerakan melompat secara terputus-putus dan berlangsung secara

cepat, gerakan ini menggunakan 2 tungkai belakang.

3. Climbing yaitu gerakan secara kontinyu, biasanya berupa gerakan vertikal

menggunakan kombinasi keempat tungkainya. Kedua tangannya digunakan

untuk menarik tubuhnya ke atas, sedangkan kedua kakinya digunakan untuk

mendorong.

4. Arm swinging yaitu gerakan menggantung dan mengayun dari satu pohon ke

pohon lainnya.

Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada

cabang-cabang pohon. Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya tetapi jarang

dilakukan (Anonim, 2007c).

Musim kawin biasanya ditandai dengan perkelahian antar pejantan dalam

memperebutkan betina. Setelah diketahui pemenangnya, keesokan harinya si betina akan

menghampiri pejantan untuk kawin di sarang yang telah dipersiapkannya. Pejantan ini

termasuk tipe yang kurang setia. Kesetiaannya pada pasangan hanya bertahan selama

kawin hingga betina mengandung. Segera setelah itu ia siap mengawini betina lainnya.


26




Bayi Orangutan yang lahir mencapai berat sekitar 1,6 Kg dan akan disusui serta diasuh

induknya hingga umur 3 tahun (Anonim, 2007d).

Menurut Santoso (1993) dalam Hidayat (2001) perilaku mencari kutu

(grooming) sering dilakukan pada saat istirahat. Perilaku ini tidak hanya untuk

membersihkan badan, tetapi juga sarana untuk menjalin hubungan sosial antara individu

dalam satu kelompok, meredakan tegangan, dan bertujuan lain.

Menurut Rijksen (1978) pola aktifitas harian Orangutan Sumatera dibedakan atas

aktifitas pagi hari dan sore hari. Aktifitas pagi hari yaitu aktifitas yang dilakukan dua

sampai tiga jam setelah Orangutan meninggalkan sarang tempat tidurnya. Aktifitas sore

hari yaitu sekitar pukul 3 sore. Aktifitas makan lebih banyak dilakukan di pagi hari.

Sedangkan aktifitas berjalan lebih banyak dilakukan pada sore hari, dan terakhir aktifitas

beristirahat dilakukan pada siang tengah hari.

2.3. Sumber Pakan Orangutan

Menurut Meijaard dkk., (2001) dalam Sariningsih (2003) produksi masal suatu

jenis tumbuhan yang umumnya menghasilkan biji, bunga dan buah akan terjadi sesuai

dengan kondisi musim dan lingkungannya. Pada kondisi ini jenis tumbuhan akan

berbuah pada saat yang bersamaan. Kelimpahan makanan yang bersamaan ini hanya

dapat dinikmati selama musim tertentu saja, dan musim berikutnya bahaya kelaparan

akan dihadapi oleh pemakan buah. Untuk itu, pemakan buah harus terus berpindah.

Makanan pokok Orangutan adalah buah. Di habitat yang berkualitas baik, 57%

(jantan) dan 80% (betina) waktu makannya dihabiskan untuk memakan buah-buahan.

Orangutan juga lebih menyukai pohon-pohon yang berbuah lebat. Sumber pakan lainnya


27




adalah daun, termasuk tunas muda dalam jumlah yang sangat banyak. Rata-rata 25%

waktu makan digunakan untuk memakan daun. Di habitat yang berkualitas baik, selama

musim buah Orangutan menggunakan 11-20% waktu makannya setiap hari untuk

memakan dedaunan. Selain buah-buahan dan dedaunan, sekitar 6% waktu makannya

digunakan untuk menangkap serangga (semut, rayap, belalang, jangkrik, kutu, dll).

Ketika buah menjadi jarang, Orangutan menggunakan sampai 18% dari waktu

makannya untuk memakan lapisan di bawah kulit pohon tertentu terutama pohon Ficus

dan jenis lainnya dari suku Moraceae (Meijaard dkk., 2001).

Menurut van Schaik (2006) buah-buahan yang matang dalam jumlah banyak

merupakan menu utama makanan Orangutan. Buah-buahan merupakan sumber energi

yang baik, akan tetapi bukan merupaka sumber protein. Untuk menambah protein,

primata menambah dedaunan muda dan serangga yang kaya akan protein.

Orangutan yang akan diliarkan kembali adalah satwa peliharaan hasil sitaan yang

akan dikembalikan ke hutan, namun harus menjalani karantina terlebih dahulu sebelum

diperkenalkan kembali ke alam. Pisang merupakan salah satu makanan yang secara

teratur diberikan pada Orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Bahorok. Pisang yang

sudah dikunyah hingga lumat dipertahankan didalam mulut untuk waktu yang lama, dan

kemudian dimuntahkan diatas permukaan yang rata lalu dimakan kembali, sehingga

permukaan itu tampak basah tetapi bersih sekali. Beberapa dari Orangutan itu, bila

setelah menelan bubur pisang akan mengambil kembali kulit pisang yang sebelumnnya


dibuang lalu mengulang proses sebelumnya. Bermain-main dengan makanan


akan


28




menghasilkan cara-cara yang inovatif mengenai pengolahan makanan (van Schaik,

2006).

2.4. Home Range dan Teritorial

Hubungan antara individu baik dalam jenis yang sama (intraspesific) maupun

jenis yang berbeda (interspesific) dapat membentuk suatu pola tingkah laku. Hubungan

ini akan menentukan home range dan teritorial. Home range adalah tempat tinggal suatu

binatang yang tidak dipertahankan oleh binatang tersebut dari masuknya binatang lain.

Apabila daerah tersebut sudah dipertahankan dari masuknya jenis lain maka daerah


tersebut


menjadi


daerah


teritorial


(Suratmo


dalam


Mukhtar,


1982


dalam


Mansyur,2001).

Menurut Alikodra (1980) dalam Damanik (2001), wilayah jelajah merupakan

ukuran area dimana suatu kelompok binatang terorganisasi menggunakan tempat untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehingga pada wilayah jelajah terdapat tempat makan,

minum, tidur, bermain, berkembang biak dan berlindung. Sementara adanya territorial

pada suatu binatang umumnya berkaitan erat dengan kepentingan berkembang biak.

Luas wilayah jelajah bervariasi tergantung pada jenis satwa, jenis aktifitas, penyebaran

makanan, dan kondisi habitat. Besarnya teritori jenis-jenis monyet dipengaruhi oleh

jenis makannya. Jenis monyet dan kera pemakan daun mempunyai teritori lebih kecil

daripada monyet dan kera pemakan buah. Hal ini disebabkan oleh persediaan daun lebih

banyak daripada buah.

Daerah jelajah Orangutan meliputi radius berkisar 3 – 4 Km dari pusat

“permukimannya”. Pada musim penghujan, biasanya mereka masuk ke dalam hutan dan


29




bersarang di kelebatan pohon hutan tropis, namun pada musim kemarau yang sulit air,

mereka pindah ke belukar dekat rawa atau sungai. Pada saat inilah sering mereka

bersinggungan dengan manusia yang seringkali mengancam kelangsungan hidup

mereka. Orangutan umumnya bertahan hidup hingga umur sekitar 30 – 35 tahun apabila

hidup di alam bebas, namun bila dipelihara bisa mencapai umur 50 tahun. Di habitat

aslinya, setelah memasuki umur tua Orangutan akan menyendiri, bergerak lamban di

pohon-pohon yang rendah seiring dengan berkurangnya tenaga, dan memilih lebih

dekat ke sumber air (Anonim, 2007d).

Menurut Ian Singleton dalam Ibrahim (2007), keberadaaan Orangutan dapat

menunjukkan tingkat kerusakan hutan. Orangutan akan ditemukan bila hutan mulai

rusak dan lokasi perambahan berada tidak jauh dari habitatnya. Orangutan juga diakui

memiliki peran penting untuk proses rehabilitasi hutan. Kebiasaan Orangutan membawa

makanan dalam perjalanan hidupnya, menjadikan biji makanannya tersebar hingga jauh

ke dalam hutan.

2.5. Proses Rehabilitasi

Menurut Borner dan Stonehouse (1979) dalam Sariningsih (2003) sebelum

dilepaskan ke alam, Orangutan yang berada dalam Stasiun Rehabilitasi Orangutan

Bahorok akan mengalami beberapa proses rehabilitasi.

Proses tersebut antara lain:

a. Proses karantina

Kegiatan dalam proses rehabilitasi Orangutan ini meliputi pemeriksaan

kesehatan, fisik dan mental. Orangutan dimasukkan dalam satu kandang yang berukuran


30




4m x 5m dengan tinggi 2-4 m dan dihuni sekitar 2-3 ekor. Makanan berupa pisang dan

susu diberikan 2 kali sehari. Orangutan di dalam kandang dilatih untuk memahami

lingkungan sekitarnya atau dilatih mengenal Orangutan yang ada di tempat pemberian

makan. Apabila Orangutan sudah mampu beradaptasi maka Orangutan tersebut sudah

siap untuk masuk ke tahap pembelajaran.

b. Proses Pembelajaran

Pemberian makan dalam proses pembelajaran masih dilakukan walaupun

Orangutan sudah dilepaskan pada suatu habitat alam. Pemberian makan dilakukan diatas

panggung pemberian makan (feeding platform) di kawasan Tempat Pemberian Makan

(TPM) Orangutan.

Pemberian pisang setengah sampai satu sisir sehari dan susu sekitar 2-3 gelas

bertujuan untuk memberikan kejenuhan, sehingga Orangutan tersebut berusaha mencari

makanannya sendiri di hutan alam. Apabila Orangutan tersebut masih kembali ke TPM

maka akan ditangkap untuk diliarkan kembali ke hutan.

c. Proses Peliaran

Orangutan yang sudah dianggap mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan

diliarkan. Proses peliaran dilakukan dengan menangkap Orangutan dan dibawa masuk

jauh ke dalam hutan. Ada tiga cara peliaran yang Orangutan di Bukit lawang, antara

lain: menggunakan helikopter (1977-1980), digendong (1983-1990) serta dimasukkan ke

dalam peti kayu kemudian dipikul (1991-2000) (Sariningsih, 2003).
Read More

2.3 Resusitasi

Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).
Sedangkan menurut Rilantono, dkk (1999) resusitasi mengandung arti harfiah “menghidupkan kembali”, yaitu dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi jantung paru terdiri atas dua komponen utama yakni: bantuan hidup dasar (BHD) dan bantuan hidup lanjut (BHL). Selanjutnya adalah perawatan pasca resusitasi.
Bantuan hidup dasar adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas (Airway) tetap terbuka, menunjang pernafasan dan sirkulasi darah. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan henti jantung atau henti nafas dan segera memberikan bantuan ventilasi dan sirkulasi. Usaha BHD ini bertujuan dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan (bantuan hidup lanjut).
Resusitasi dilakukan pada keadaan henti nafas, misalnya pada korban tenggelam, stroke, obstruksi benda asing di jalan nafas, inhalasi gas, keracunan obat, tersedak, tersengat listrik, koma dan lain-lain. Sedangkan henti jantung terjadi karena fibrilasi ventrikel, takhikardi ventrikel, asistol dan disosiasi elektromekanikal.

2.3.2 Tujuan
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Tindakan resusitasi ini dimulai dengan penilaian secara tepat keadaan dan kesadaran penderita kemudian dilanjutkan dengan pemberian bantuan hidup dasar (basic life support) yang bertujuan untuk oksigenasi darurat. (AHA, 2003).
Tujuan tahap II (advance life support) adalah untuk memulai kembali sirkulasi yang spontan, sedangkan tujuan tahap III (prolonged life support) adalah pengelolaan intensif pasca resusitasi. Hasil akhir dari tindakan resusitasi akan sangat tergantung pada kecepatan dan ketepatan penolong pada tahap I dalam memberikan bantuan hidup dasar.
Tujuan utama resusitasi kardiopulmoner yaitu melindungi otak secara manual dari kekurangan oksigen, lebih baik terjadi sirkulasi walaupun dengan darah hitam daripada tidak sama sekali. Sirkulasi untuk menjamin oksigenasi yang adekwat sangat diperlukan dengan segera karena sel-sel otak menjadi lumpuh apabila oksigen ke otak terhenti selama 8 – 20 detik dan akan mati apabila oksigen terhenti selama 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998). Kerusakan sel-sel otak akan menimbulkan dampak negatif berupa kecacatan atau bahkan kematian.

2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Resusitasi
Hipoksia yang disebabkan kegawatan pernafasan akan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu dan Monintja, 1997). Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.
Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja, 1997).
Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson (1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.
Resusitasi akan berhasil apabila dilakukan segera setelah kejadian henti jantung atau henti nafas pada saat kerusakan otak yang menetap (irreversible) belum terjadi. Kerusakan otak yang menetap akan terjadi apabila kekurangan O2 dalam darah tidak segera dikoreksi atau apabila sirkulasi terhenti lebih dari 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998)
Keberhasilan resusitasi tergantung kepada :
1) Keadaan miokardium
2) Penyebab terjadinya henti jantung
3) Kecepatan dan ketepatan tindakan
4) Mempertahankan penderita di perjalanan ke rumah sakit
5) Perawatan khusus di rumah sakit
6) Umur (tetapi tidak terlalu menentukan)
Read More

Habitat

Habitat adalah tempat dimana organisme itu hidup atau tempat dimana

organisme itu dapat ditemukan (Hidayat, 2001). Komponen habitat terpenting untuk

kehidupan margasatwa terdiri atas makanan, air, dan tempat berlindung. Makanan dan

air merupakan faktor pembatas bagi hidupnya margasatwa. Kegunaan tempat berlindung

bagi margasatwa yaitu tempat hidup, berkembangbiak dan tempat berlindung dari

serangan pemangsa (Alikodra, 1979 dalam Hidayat, 2001).

Habitat asli Orangutan adalah dataran rendah dan rawa-rawa hutan hujan tropis

di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Hal ini sangat berkaitan dengan ketersediaan

sumber makanan dan kesesuaian perilaku mereka. Makanan alami Orangutan adalah

buah-buahan hutan, pucuk daun, kulit kayu, umbut (bagian batang yang lunak) dari jenis

palem, serta semut dan rayap. Jenis tumbuhan yang biasa dimakan antara lain dari

kelompok Ficus (beringin), Pandan, Palem, Rotan, polong-polongan, Durian, Nyatoh,

Meranti, dan lain-lain (Anonim, 2007d).
Read More

MANFAAT GERAKAN SHOLAT BAGI KESEHATAN



Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas  tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing  gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai  jenis penyakit!
Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah  ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk  menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun  menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya?

*TAKBIRATUL IHRAM*
*Postur:* berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu  melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.
*Manfaat**:* Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan  kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah  mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua  tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini  menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian  atas.

*RUKUK*
*Postur:* Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga  bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.
*Manfaat:* Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang  belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi  jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian  tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot  bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah  gangguan prostat.

*I'TIDAL*

*Postur:* Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua  tangan setinggi telinga.

*Manfaat:* Ftidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak  berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ  organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara  bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

*SUJUD*
*Postur:* Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan  dahi pada lantai.
*Manfaat:* Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi  kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus  bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi  kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

*DUDUK*

*Postur:* Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
*Manfaat:* Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung  dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal  paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk  sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra),  kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan.  dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki  pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang  dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga.  kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

*SALAM*
*Gerakan:* Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
*Manfaat:* Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran  darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan  kulit wajah.

  BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi  mempercantik diri wanita luar‑dalam.

*PACU KECERDASAN*
Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia  menundukkan diri serendah‑rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya  sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai  kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh,  gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi‑tingginya. Mengapa?  Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih  untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada  di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu  artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja  sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat  memacu kecerdasan.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan  seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam‑diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

*PERINDAH POSTUR*
Gerakan‑gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan *(stretching). *Intinya  untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat  dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih  banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada.* *Saat  sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan.
Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi  juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

*MUDAHKAN PERSALINAN*
Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul  dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot‑otot perut *(rectus  abdominis * dan *obliquus abdominis externuus) *berkontraksi penuh. Kondisi  ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini  menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik  dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang  menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis.
Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan  organ‑organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

*PERBAIKI KESUBURAN*
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk,  yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir).
Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot‑otot daerah perineum. Bagi  wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu  liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.
Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum.  Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki  kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan  memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki  organ reproduksi di daerah perineum.

*AWET MUDA*
Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika  tubuh lentur, kerusakan* *sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika  dilakukan secara rutin, maka sel‑sel yang rusak dapat segera tergantikan.  Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh  besar pada keÂkencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi  wajah dan leher. Yang tak kalah penÂtingnya, gerakan ini menghinÂdarkan  wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.
Read More