Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

Soal-soal sosiologi

Soal-soal sosiologi
1.Siapa yang mengajarkan Wulang Reh pada saat Perang Dunia ke II?
   a.Ki Hajar Dewantoro
   b.Thomas More
   c.Sri Paduka Mangkunegara IV
   d.Sri Sultan Agung
Jawaban:c
2.Pada tahun berapa Lesterward menerbitkan Dynamic Sociology?
   a.1882
   b.1883
   c.1884
   d.1885
Jawaban:b
3.Siapakah Bapak Sosiologi yang pertama memahami dan merumuskan Sosiologi?
   a.Aguste Comte
   b.Plato
   c.Aristoteles
   d.Thomas More
Jawaban:a
4.Suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala disekelilingnya secara teologis     dengan kekuatan yang dikendalikan roh, tahapan apakah itu?
   a.Metafisika
   b.Terakhir perkembangan manusia
   c.Ilmu pengetahuan positif
   d.Teologis atau Fiktif
Jawaban:d
5.Peguruan tinggi apakah yang satu-satunya ada ketika perang dunia II?
   a.Rechts Hogeschool
   b.Universitas Gajah Mada
   c.Universitas Islam
   d.Universitas Al-azhar
Jawaban:a
6.Pada abad berapakah sosiologi menunjukan adanya perubahan?
   a.16-17
   b.17-18
   c.18-19
   d.19-20
Jawaban:d



7.Nama Sosiologi diberikan oleh…?
   a.Plato
   b.Aristoteles
   c.Aguste Comte
   d.Canpanella
Jawaban:c
8.Pada masa apakah sosiologi di Indonesia diperkenalkan?
   a.Hindu-Budha
   b.Jerman
   c.Penjajahan Belanda
   d.Cina
Jawaban:c
9.Emile Durkheim pada tahun 1895 menulis tentang?
   a.Dhinamic Sociology
   b.Rule Of Sociological Method
   c.Max Weber
   d.Research Minded
Jawaban:b
10.Seorang yang paling berpengaruh didalam proses perubahan sosiologi adalah?
   a.W.I. Thomas
   b.Herbert Spencer
   c.Lester Ward
   d.Emile Durkheim
Jawaban:d

Read More

Al Qur'an dan


Nabi Muhammad saw bersabda "barangsiapa mengharapkan bertemu dengan Allah maka muliakanlah ahli Allah" " wahai rosulullah apakah Allah memiliki ahli?""benar""siapakah mereka wahai rosulullah?""Ahli Allah adalah orang-orang yang didunia membaca Al Qur'an, ingatlah barangsiapa memuliakannya maka sesungguhnya ia telah memuliakan Allah dan Allah akan memberikan kepadanya surga, barangsiapa menghina mereka maka sungguh hinaan Allah bagi mereka dan Allah akan memasukkan kedalam neraka, wahai abu huroiroh, siapakah seorang yang lebih mulia daripada orang yang hafal Al Qur'an, ingatlah sesungguhnya orang yang hafal Al Qur'an di sisi Allah lebih mulia daripada setiap orang kecuali para nabi"

Nabi bersabda "maukah saya akan memberitahu kalian utama-utamanya umatku di hari kiamat?" "baik, wahai rosulullah" "orang-orang yang membaca Al Qur'an, ketika hari kiamat Allah berfirman " wahai Jibril undanglah di makhsar orang-orang yang membaca Al Qur'an maka berdiri mereka berdiri, maka Jibril mengundang kembali kedua dan ketiga kalinya, maka mereka berdiri dengan berbaris di sisi Allah dan tidak berbicara seorangpun diantara mereka sehingga berdiri nabi Daud,Allah berfirman " bacalah kalian semua dan keraskanlah suara kalian" maka setiap mereka membaca Allah memberikan ilham dari kalamNya kepada mereka, maka setiap orang yang membaca diangkat derajatnya beberapa derajat bergantung bagus suaranya, lagunya, khusuknya, memikirkannya, dan memahaminya, kemudian Allah berfirman "wahai ahliKu, apakah kalian tahu siapa yang berbuat baik kepada kalian di desa dunia?" mereka menjawab "benar Tuhan kami "Allah berfirman "pergilah ke makhsar maka setiap orang yang kalian kenal akan masuk ke surga bersama kalian"

Nabi bersabda "saya mendengar di malam aku di isro'kan Allah, Allah berfirman "wahai Muhammad perintahlah umatmu untuk memuliakan 3 golongan yaitu orang tua, ulama, orang yang hafal Al Qur'an" nabi juga bersabda " sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya"

Nabi bersabda " Allah berfirman "barangsiapa lupa berzikir dan memohon kepadaKu karena Al Qur'an maka Aku akan memberikan kepadanya yang lebih mulia dari pada kepada orang-orang yang memohon, dan keutamaan kalam Allah diatas semua kalam seperti keutamaan Allah atas makhluknya" (durrotunnashihin)

Allah berfirman "dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah (baik-baik) dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat" Allah juga berfirman "sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila di sebut (nama) Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal"

Nabi bersabda "sesungguhnya seseorang yang berpagi-pagi pergi mempelajari ayat-ayat dalam kitabullah lebih baik yang seperti itu daripada mengerjakan sembahyang sunnah seratus rokaat" beliau juga bersabda "siapa-siapa yang mempelajari kitabullah, kemudian diamalkannya isi yang terkandung di dalamnya, Allah akan menunjukinya dari kesesatan dan akan dipeliharanya pada hari kiamat dari siksa yang berat"

Nabi bersabda "Orang yang membaca Al Qur'an, lagi pula ia mahir, kelak mendapat tempat dalam surga bersama-sama dengan rosul-rosul yang mulia lagi baik. Dan orang yang membaca Al Qur'an, tetapi tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), ia akan mendapat dua pahala" (Al Qur'an dan Terjemahannya)

nabi bersabda "Al Qur'an ialah sebuah kitabullah tabaraka wata'ala yang didalamnya terdapat berita-berita orang-orang sebelum kamu dan sesudah kamu, dan menghukumi apa yang terjadi diantara kamu, dia adalah yang membentangkan mana yang benar dan mana yang salah, bukan suatu permainan. Barangsiapa meninggalkannya karena sombong, maka Allah akan membinasakan dia, barangsiapa mencari pemimpin selain AlQur'an akan disesatkan oleh Allah, dia adalah tali Allah yang kokoh dan cahayaNya yang menerangi serta peringatan yang sangat bijaksana, dia adalah jalan yang lurus. Dengan berpedoman pada dia seluruh keinginan manusia tidak akan salah lidah tidak akan bercampur, pendapat tidak akan bercenang perenang. Dan dengan sumber dari dia para ulama tidak akan merasa kenyang, dan orang-orang yang taqwa tidak akan bosan, dia tidak akan larut karena banyaknya yang menentang, dan keindahan-keindahannya tidak akan habis. Dialah yang jin apabila mendengarnya tidak habis-habisnya mengatakan "sungguh kami telah mendengar suatu bacaan yang sangat mengagumkan sekali", barangsiapa mengetahu ilmunya pasti akan unggul, dan barangsiapa berkata dengan dia pasti benar, dan barangsiapa berhukum dengan dia pasti adil, dan barangsiapa beramal dengan dia pasti diberi pahala, serta barangsiapa mengajak orang kepadanya pasti akan terpimpin ke jalan yang lurus"

Iyas bin Mu'awiyah pun pernah berkata "perumpamaan orang yang membaca Al Qur'an dengan tidak mengetahui tafsirnya, bagaikan satu kaum yang menerima surat dari rajanya pada waktu malam, sedang mereka tidak memiliki lampu, kemudian mereka diliputi oleh suasana takut tetapi tidak mengetahui apa yang tersurat. Dan perumpamaan orang yang mengetahui tafsir, bagaikan orang yang membawa lampu, kemudian dapat membvaca apa yang tersurat dalam surat tersebut."

Ibnu 'Athiyah berkata "kebanyakan ulama salaf yang baik-baik seperti Sa'id bin Musayyib, 'amir Asysya'bi dll, mengagungkan tafsir Al Qur'an dan mereka berhenti sejenak, karena menjaga diri dan berhati-hati padahal mereka sebenarnya telah mengetahui dan sudah maju"

Abu Bakar Al Anbari berkata "kebanyakan ulama salah dahulu itu sangat berhati-hati dalam menafsiri ayat-ayat yang musykil, sehingga sementara berpendapat, bahwa orang yang menafsiri Al Qur'an tidak sesuai dengan kehendak Allah SWT harus dilarang berbicara, sedang yang lain menghawatirkan kalau-kalau tafsir itu akan dijadikan sebagai pedoman untuk membina madzhabnya dan memilih alirannya"

Abu Bakar Siddiq pernah ditanya tentang menafsiri satu huruf dari Quran, kemudian ia mengatakan "he! langit mana yang akan menaungi aku, bumi mana yang akanmenelan aku, ke mana aku hendak pergi dan apa yang hendak kuperbuat jika aku mengatakan tentang satu huruf dari kitabullah yang tidak sesuai dengan maksud Allah yang maha mulia dan maha tinggi"

Nabi bersabda "barangsiapa berkata tentang Al Qur'an dengan ra'yunya, kemudian dia benar, maka tetap dinilai bersalah" (Kunci memahami Al Qur'an)
Read More

Teori-Teori Belajar

Teori-Teori Belajar

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme;
(B) teori belajar kognitif menurut Piaget;
(C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan
(D) teori belajar gestalt.

Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya:
1. 1.Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respons.
2. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
3. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :
1. 1.Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.


3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
3. Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud denganoperant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh Reinforcer.Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

TEORI BELAJAR SOSIAL (Albert Bandura)
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnyaconditioning. Melalui pemberianreward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti :
Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang
disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

TEORI BELAJAR KOGNITIF
1. Teori Belajar Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3)concrete operational dan (4) formal operational.
Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik- baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

2. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne
bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga
menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”.
Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitufigure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. 1.Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang
2. peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
3. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
4. 3Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
5. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
6. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Read More

Apakah bimbingan belajar itu?

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Setiap murid khususnya di sekolah dasar memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya, disampng persamaannya. Perbedaan tersebut menyangkut kapasitas intelektual, ketrampilan, motivasi, persepsi, sikap, kemampuan, minat, latar belakang kehidupan dalam keluarga, dan lain-lain. Perbedaan ini cenderung akan mengakibatkan adanya perbedaan pula dalam belajar setiap murid baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan yang dicapai oleh siswa.
Mereka mengaharapkan pendidikan dapat memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang sempurna. Namun pada kenyataannya, untuk mencapai hal tersebut ada beberapa masalah yang mereka hadapi, seperti ketidak mampuan mengerjakan tugas, keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya tetapi tidak mampu, persaingan denganteman, kemampuan intelektual yang kurang, motivasi belajar yang lemah, dan lain-lain.
Masalah-masalah tersebut tidak selalu dapat diselesaikan dalam situasi belajar-mengajar di sekolah, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh guru di luar situasi proses pembelajaran. Disinilah peran, fungsi, dan tanggung jawab guru diuji. Dalam mengajar, guru perlu memperhatikan kergaman karakteristik periaku murid sebagai dasar penentuan jenis bantuan dan layanan bimbingan belajar.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan belajar?
2. Apakah bimbingan belajar itu?
3. Apa saja jenis-jenis masalah belajar dan faktor penyebabnya?
4. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk membantu murid mengatasi masalah kesulitan belajar?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi belajar.
2. Untuk mengetahui definisi bimbingan belajar.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis masalah belajar dan faktor penyebabnya.
4. Untuk mengetahu upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu murid mengatasi masalah kesulitan belajar.

D. Manfaat Penulisan
1. Mengetahui dan memahami definisi belajar.
2. Mengetahui definisi bimbingan belajar.
3. Mengetahui jenis-jenis masalah belajar dan faktor penyebabnya.
4. Mengetahu upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu murid mengatasi masalah kesulitan belajar.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Belajar
Banyak definisi belajar yang dapat di ungkapkan oleh para ahli, antara lain:
1. Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman belajar. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya (Anita E. Wool Folk, 1995: 196).
2. Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik dan latihan (Garry & Kingsley, 1970: 15).
3. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dicapai individu melalui interaksi dengan lingkungannya (Kartadinata, Sunaryo, dkk. 1998. Bimbingan di Sekolah Dasar. Depdikbud).
Dari definisi di atas nampak bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh adanya interaksi antara individu dengan lingkungan. Akan tetapi, ternyata tidak semua perubahan perilaku merupakan hasil belajar, artinya ada perubahan perilaku yang dipandang bukan sebagai hasil belajar, antara lain:
1. Kecenderungan perilaku instinktif
Perilaku instinktif adalah pola respon yang di bawa sejak lahir dan sudah dimiliki individu secara relatif sempurna. Misalnya, gerak mengedipkan mata jika kena cahaya. Pola respon tersebut telah dimiliki sejak lahir tanpa melalui proses belajar.
2. Kematangan
Kematangan dapat diartikan sebagai kesiapan organ fisik dan psikis untuk menjalani fungsi sebagaimana mestinya. Misalnya, balita tidak akan belajar berjalan sebelum kakinya kuat untuk belajar berjalan. Ini artinya, kematangan fisik menentukan kesiapan seseorang untuk melakukan proses belajar, bukan hasil belajar.

3. Perilaku keadaan sementara
Perubahan perilaku yang sifatnya sementara, seperti keletihan atau kekuatan karena obat-obatan bukanlah hasil belajar. Keletihan bukanlah proses belajar karena itu merupakan efek yang pasti dirasakan ketika seseorang melakukan kegiatan secara berulang-ulang.

B. Bimbingan Belajar
1. Pengertian
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu (murid) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar sehingga setelah melalui proses perubahan belajar mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat yang dimilikinya.
Tugas guru adalah membantu murid dalam mengenal, menumbuh dan mengembangkan  diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan ketrampilan, serta dalam rangka menyiapkan kelanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatarbelakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
a. Adanya criterion referenced evaluation yang mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran. Kualifikasi itu, antara lain :
1) Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran.
2) Siswa yang cukup menguasai pelajaran.
3) Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran.
b. Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Klasifikasi siswa tersebut antara lain :
1) Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
2) Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
3) Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
c. Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
1) Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan.
2) Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan.
3) Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Adanya penggunaan norm referenced yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
1) Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
2) Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya.
3) Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya.

3. Tujuan Bimbingan Belajar
Tujuan bimbingan belajar di SD , antara lain:
a. Pengembangan sikap dan kebiasaan yang baik, terutama dalam mengerjakan tugas dalam ketrampilan serta dalam bersikap terhadap guru.
b. Menumbuhkan disiplin belajar dan terlatih, baik secara mandiri atau kelompok.
c. Mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di lingkungan sekolah atau alam sekitar untuk pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan pengembangan pribadi.

C. Jenis-jenis Masalah Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Kesulitan Belajar atau "Learning Disabilities, LD" adalah hambatan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.
Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.
Dari pengertian masalah belajar di atas maka jenis-jenis masalah belajar di sekolah dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami:
1. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
2. Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
3. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
4. Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
5. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya tau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.
6. Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.
7. Kekurangan persepsi visual. Kekurangan pada bagian ini dapat dikenali karena anak nampak bermasalah untuk mempelajari abjad dan sering terbalik melihat huruf-huruf tertentu seperti b/d, p/q, m/w maupun angka seperti 2, 3, 4, 5, 7, 9. Konsep membaca, mengeja, dikte dan menghitung mereka nampak lebih lambat dibading anak lain. Ketika diajar membaca mereka cepat bosan, sering menguap dan mengatakan matanya perih untuk melihat huruf.
8. Kekurangan persepsi visual motor. Lambatnya anak menyalin tulisan dari papan tulis ke bukunya merupakan ciri khas kekurangan pada persepsi visual motor. Akhirnya anak sering ketinggalan dalam mengerjakan tugas dibanding temannya dan prestasi sekolahnya nampak memburuk. Buruknya kualitas tulisan, cenderung tidak rapi dan keluar dari garis, sukar mengikuti garis ketika menggunting merupakan ciri lainnya pada kekurangan bagian ini.
9. Kekurangan persepsi auditor. Sukar untuk membedakan beberapa huruf yang hampir memiliki kesamaan bunyi seperti b/p, d/t, v/f, lambat dalam menangkap pembiacaraan dalam kecepatan yang normal meskipun dapat memahaminya bila diberikan pengulangan dengan kecepatan yang lebih lambat atau sukar mengenali suara yang umum atau bahkan seringkali didengarnya merupakan ciri pada kurangnya persepsi auditori ini.
10. Rendahnya kemampuan mengingat. Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk mempertahankan apa yang dilihat dan didengarnya dalam waktu yang cukup lama, rendah ingatan jangka panjangnya, yang seringkali bertahan hanyalah ingatan jangka pendeknya, itu pun sering terlupakan ketika ditanyakan kembali di lain hari. Pada akhirnya pengetahuan yang mereka miliki pada umumnya menjadi sangat terbatas.
11. Lambatnya pemahaman konsep. Gambaran tampak pada bagian ini adalah anak tidak mampu ''membaca'' situasi sosial, tidak memahami bahasa tubuh maupun humor. Berhubungan dengan konsep waktu mereka juga biasanya sukar membedakan arti kemarin, tadi, besok, sebelum/sesudah maupun konsep "cepat".
12. Kekurangan hubungan spasial dan kesadaran tubuh. Gerakan anak yang nampak canggung, mudah terantuk dan jatuh, sukar memahami konsep kiri-kanan, atas-bawah, pertama-terakhir, depan-belakang merupakan ciri yang paling khas pada aspek ini. Mereka juga sering tersesat dan kebingungan dalam lingkungan yang justru mereka kenal seperti rumah atau sekolah. Sangat ceroboh sehingga sering kehilangan barang seperti pensil, buku, dll. serta sangat berantakan dan tidak tertata rapi merupakan ciri lain yang bisa diama



D. Identifikasi Murid yang Mengalami Kesulitan Belajar
Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
Ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar yang dapat dengan mudah untuk diidentifikasi adalah :
1. Gangguan Internal
Anak mengalami gangguan pemusatan perhatian sehingga kemampuan perseptualnya terhambat antara lain hambatan perseptual untuk objek yang dilihat, didengar atau diraba
2. Kesenjangan antara potensi dan prestasi
Anak berkesulitan belajar memiliki potensi kecerdasan normal atau di atas rata-rata tetapi memiliki prestasi di bawah potensi yang dimilikinya. Kesenjangan terjadi biasanya karena ada kesulitan belajar akademik yang bersifat spesifik, misalnya pada kemampuan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau berhitung (diskalkulia).
3. Tidak adanya gangguan fisik dan atau mental
Anak yang berkesulitan merupakan anak yang tidak memiliki gangguan fisik dan/atau mental
Murid yang mengalami kesulitan perlu mendapat perhatian lebih dari guru dan dilakukan upaya untuk membantunya mengatasi kesulitan belajar tersebut. Perlu dilakukan identifikasi terhadap anak yang mengalami klesulitan belajar. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi anak yang mengalami kesulitan belajar, antara lain dengan:
1. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar adalah alat untuk mengukur ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, serta untuk mengetahui sampai dimana murid menguasai materi (kefahaman) yang diajarkan. Murid dianggap menguasai materi ajar apabila murid menguasai sebagian besar materi ajar yang telah ditetapkan. Ketentuan ini merupakan penerapan dari belajar tuntas (mastery learning) berdasarkan asumsi bahwa setiap murid dapat mencapai hasil sesuai yang diharapkan jika diberi waktu yang cukup dan bimbingan belajar yang memadai untuk mempelajari bahan yang disajikan. Apabila ada murid yang kurang memenuhi kualifikasi tersebut, murid seperti inilah yang disebut dengan murid yang mengalami kesulitan berlajar.
Jenis-jenis tes hasil belajar :
a. Tes formatif
Tes formatif sesungguhnya merupakan ceriterion referenced test  yang tujuannya untuk menentukan tingkat kemampuan anak dan. Tes  formatif diberikan ketika proses belajar mengajar berlangsung dimaksudkan untuk memantau kemajuan siswa selama proses belajar berlangsung, memberikan feed beck atau balikan bagi penyempurnaan program belajar mengajar, serta untuk mengetahui kelemahan - kelemahan yang memerlukan perbaikan sehingga hasil belajar mengajar menjadi lebih baik.
b. Tes Sumatif
Tes sumatif diberikan saat suatu pengalaman belajar telah selesai dengan cakupan materi yang lebih luas. Tes sumatif diberikan dengan maksud untuk menetapkan apakah seorang siswa berhasil mencapai tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan atau tidak. Tujuan tes sumatif adalah untuk menentukan angka berdasarkan tingkat hasil belajar  siswa yang selanjutnya dipakai sebagai angka rapor. Ulangan akhir semester  termasuk kepada tes sumatif. Tes sumatif juga dapat dimanfaatkan sebagai  perbaikan proses pembelajaran.


c. Tes penempatan
Pada umumnya tes penempatan dibuat sebagai prates. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program belajar dan sampai dimana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) sebagimana yang tercantum dalam  RPP mereka. Hubungan dengan tujuan pertama berkaitan dengan kesiapan siswa menghadapi program yang baru, sedangkan untuk yang kedua berkaitan dengan kesesuaian program pembelajaran dengan siswa.
d. Tes diagnostik
Tes diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami peserta didik berdasarkan hasil berdasarkan tes formatif sebelumnya. Tes diagnostik memerlukan sejumlah soal bervariasi dan difokuskan pada kesulitan untuk satu bidang yang diperkirakan merupakan kesulitan peserta didik. Tes diagniostik biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran dimulai. Tes diagnostik dapat diadakan untuk menjaajaki pengetahuan dan keterampilan peserta didik  yang dikuasainya.
2. Tes kemapuan dasar
Semua murid mempunyai kemampuan dasar. Kemampuan dasar setiap orang akan berbeda dengan yang lainnya. Untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar harus diukur dengan tes kecerdasan yang sudah baku, seperti tes intelegensi atau tes IQ. Murid yang mempunyai hasil tes kemampuan belajar tinggi cenderung memiliki hasil belajar yang tinggi sedangkan murid yang mempunyai tes hasil belajar rendah cenderung mempunyai hasil belajar yang rendah.
3. Skala sikap dan kebiasaan belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk melakukan identifikasi anak berkesulitan belajar. Sebagian besar hasil belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan dalam belajar. Kebiasaan belajar menunjuk pada bentuk  dan pola yang terus menerus dilakukan murid dalam belajar.
Sikap dan kebiasaan belajar murid dapat dilihat melalui pengamatan yang terus menerus secara kontinyu. Pengamatan ini bisa dilakukan di dalam kelas, dalam kegiatan belajar mengajar. Misalnya dalam pengerjaan tugas, mencatat, membaca buku, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan belajar murid. Pengamatan hanya bisa mengidentifikasi sesuatu  yang hanya bisa diindera. Untuk mengembangkan pengamatan secara luas dibuat “skala sikap dan kebiasaan belajar” alat ini dapat mengungkapkan bagaimana cara murid mengerjakan tugas-tugas sekolah, sikap terhadap guru,sikap dalam menerima pelajaran, dan kebiasaan dalam melaksanakan kebiasaan belajar.
Dengan mengetahui sikap dan cara belajar murid maka akan sangat mudah mengidentifikasi murid yang mengalami kesulitan belajar. Karena pengamatan itu dilakukan selama proses belajar, sehingga akan sangat nampak jika dalam proses belajar tersebut mengalami kesulitan belajar. Dari proses ini pula bisa dikorelasikan dengan hasil belajar. Apakah dari proses dan hasil belajar terjadi ketimpangan atau tidak. Berikut ini adalah contoh pengamatan dengan cara menggunakan table inventori atau daftar ceklis berikut :
No Perilaku yang teramati Ceklis
1 Perhatian mudah teralih
2 Lambat dalam melakukan intruksi atau melakukan tugas
3 Tidak kenal lelah atau aktivitas berlebih
1. Sering kehilangan barang-barang atau mudah lupa
5 Sering kehilangan barang-barang atau mudah lupa
6 Cenderung ceroboh
7 Kesulitan mengikuti ritme atau ketukan
8 Kesulitan bekerja sama dengan teman
9 Kesulitan meniru gerakan yang dicontohkan
10 Kesulitan melempar dan menangkap bola
11 Kesuliatan membedakan arah kiri-kanan, atas-bawah, depan belakang.
12 Kesulitan dalam mengenal huruf
13 Kesulitan untuk membedakan hurup ‘b-d,p-q,w-m,n-u”
14 Kualitas tulisan sangat buruk tidakj terbaca
15 Kehilangan huruf saat menulis
16 Kurang dapat memahami isi bacaan
17 Menghilangkan kata saat membaca
18 Kosakata terbatas
19 Kesulitan untuk mengemukakan pendapat
20 Kesulitan mengemukakan pendapat


E. Faktor –Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar Murid di Sekolah Dasar
Secara kompleks penyebab terjadinya masalah belajar pada muri  SD ada 3 hal yaitu:
1. Masalah belajar dapat timbul olaeh berbagai sebab berlainan. Sesuatu masalah belajar yang sama dialami oleh dua orang murid atau lebih, belum tentu disebabkan dari faktor yang sama.
2. Dari sebab yang sama dapat timbul masalah yang berlainan. Seringkali suatu kondisi yang sama dimiliki oleh bebrap orang murid, nemun menimbulkan masalah-masalah yang berlainan dari masing-masing individu.
3. Sebab masalah belajar dapat saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Kadang-kadang masalah belajar yang dihadapi oleh seorang murid tidak dari satu sebab saja, melainkan dapat timbul dariberbagai sebab yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Pada garis besarnya faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
1. Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain:
a. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
b. Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
c. Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
d. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, sperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dansering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
2. Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari:
a. Sekolah, antara lain:
1) Sifat kurikulu yang kurang fleksibel
2) Terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru)
3) Metode mengajar yang kurang memadai
4) Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
b. Keluarga (rumah), antara lain:
1) Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
2) Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
3) Keadaan ekonomi.



F. Upaya Membantu Murid dalam Mengatasi Masalah Belajar
Murid yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan murid. Beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan dapat dilakukan kepada seseorang atau sekelompok murid yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus, karena bahan, metode, dan pelaksanaannya dissesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang masalah yang dihadapi murid.
2. Kegiatan Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentu layanan yang diberikan kepada seorang atau beberaa orang atau muri yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah atau memperluas pengetahuan dan ketrampilan mereka. Jika mereka (anak-anak yang memiliki kecepatan belajar yang tinggi) dihargai dan diperhatikan maka itu akan berdampak positif, begiti juga sebaliknya.
3. Peningkatan Motivasi Belajar
Prosedur yang dapat dilakukan guru dan staf sekolah lainnya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain dengan:
a. Memperjelas tujuan-tujuan belajar.
b. Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan, dan minat siswa.
c. Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan.
d. Memberikan hadiah dan hukuman yang bersifat mendidik/membimbing.
e. Menciptakan hubungan belajar yang hangat.
f. Menghindari suasana-suasana/tekanan yang menakutkan.
g. Melengkapi sumber dan peralatan belajar.
h. Mempelajari hasil belajar yang diperoleh.
4. Peningkatan Ketrampilan belajar
Prosedur yang dapat dilakukan diantaranya dengan:
a. Membuat catatan waktu guru mengajar
b. Membuat ringkasan dari bahan yang dibaca
c. Mengerjakan latihan-latihan soal
5. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, antara lain:
a. Membantu murid menyusun rencana yang baik. Rencana ini memuat pokok dan subpokok bahasan yang akan dipelajari, tujuan yang ingin dicapai dan cara mempelajari bahan yang bersangkutan.
b. Membantu murid mengikuti kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Murid perlu mengetahui apa yang harus dilakukan sebelun memulai KBM, cara memahami materi pelajaran, dan apa yang harus dilakukan ketika sudah di rumah.
c. Melatih murid membaca cepat. Hal ini membantu murid dalam memperoleh banyaknya informasi.
d. Melatih murid untuk dapat mempelajari buku pelajaran secara efisien dan efektif.
e. Membiasakan murid mengerjakan tugas secara teratur, rapi, dan bersih.
f. Membantu murid menyusun jadwal belajar dan mematuhi jadwal yang telah disusunnya.
g. Membantu murid agar dapat berkembang secara wajar dan sehat.
h. Membantu murid mempersiapkan diri mengikuti ujian, meliputi kesiapan mental, penguasaan, cara menjawab, dan segi administratif penyelenggaraan.


G. Teknik Membantu Anak Tuna Cakap Belajar
Cartwright (1984), mengemukakan secara rinci tentang cara mengajar murid yang mengalami tuna cakap belajar adalah sebagai berikut:
1. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran dan penglihatan
a. Guru duduk seperti murid di depan kelas
b. Membeikan tugas kelompok dengan dibantu oleh temannya untuk memberikan penjelasan tentang petunjuk bagi semua tugas yang diberikan
c. Guru memberikan petunjuk secara tertulis dan lisan untuk semua tugas yang diberikan
2. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran
a. Menggunakan alat-alat visual, seperti: peta, slide, gambar-gambar, dan garfik pada saat proses pembelajaran
b. Merangkum materi pokok dari setiap mata pelajaran di akhir proses pembelajaran.
c. Memberikan rancangan tertulis bagi setiap pokok bahasan pelajaran.
d. Membantu murid untuk mengingat pelajaran dengan teknik mnemonic (teknik untuk memperkuat daya ingat terhadap pelajaran yang telah diberikan).
e. Menggunakan tape recorder pada saat guru sedang mengajar (menjelaskan).
3. Bagi murid yang mengalami masalah visual (penglihatan) dan motorik (gerak)
a. Menggunakan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat kelas murid.
b. Memberikan kesempatan kepada murid untuk merekam penjelasan guru, diskusi, dan petunjuk, dari pada harus mencatatnya.
c. Memberikan tugas-tugas secara tertullis yang sederhanan
d. Mencoba meberikan tes lisan
e. Memberikan tes tulisan yang beragam, seperti menjodohkan, pilihan ganda, salah benar, dan isian singkat.
f. Memberikan tugas-tugas yang bervariasi dengan melalui model, diagram, tape recorder, slide dan penyajian secara terurut.
g. Mamberikan rancangan tertulis tentang tugas membaca secara singkat

H. Cara Menilai (Megevaluasi) Murid Tuna Cakap Belajar
Cartwrint (1984) mengemukakan pula secara rinci tentang cara menilai murid tuna cakap belajar sebagai berikut:
1. Menyusun ilustrasi dari setiap pokok basasan yang diteskan
2. Mempersiapkan glosari atau kata-kata khusus dan definisi dari setiap konsep yang diajarkan
3. Membuat kartun atau gambar yang menjelaskan tentang gagasan dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan
4. Membuat rangkaian gambar yang berhubungan dengan gagasan yang beragam dalam setiap sub pokok bahasan
5. Membuat majalah dinding
6. Menulis atau merekam berita mengenai suatu hal yang berkaitan dengan pelajaran
7. Mewawancarai seseorang yang memahami topic-topik pelajaran
8. Mampelajari informasi baru dari jurnal, yang sesuai dengan materi pelajaran
9. Mempersiapkan proposal penelitian
10. Mempersiapkan slide, filmstrip, atau penyajian bideotape bagi kelompok
 Ada dua dasar layanan bimbingan yang dapat dikembangakan secara terpadu dengan proses pembelajaran dalam upaya membantu tuna cakap belajar Jerome Rosner (1993) menggolongkan pola tersebut dalam layanan Remediasi, Kompensasai dan Prevensi.
1. Layanan remediasi terfokus kepada upaya menyembuhkan, mengurangi atau jika mungkin menghilangkan kesulitan. Layanan ini dipersiapkan untuk mengatasi kekurangan dalam keterampilan perseptual dan berbahasa sehingga remediasi ini mengubah dan memperbaiki keterampilan murid sehingga dia dapat belajar dan kondisi normal dan tidak perlu menyiapkan kondisi sekolah khusus.
2. Layanan konpensasi yaitu mangaembangkan komisi pembelajaran khusus luar kondisi yang normal atau baku yang memungkinkan murid memperoleh kemajuan yang memuaskan dalam keadaan kekurang terampilan perceptual dan bahasa. Layanan yang bersifat kompensasi ini hendaknya memperhatikan patokan atau rambu-rambu berikut:
a. Pahami dan pastikan bahwa murid memiliki pengetahuan faktual yang diperlukan dalam mempelajari bahan ajaran
b. Batasi jumlah informasi baru kepada hal-hal yang tercantum pada bahan atau unit ajaran dan sampaikan sedikit demi sedikit
c. Sajikan informasi secara jelas tenteng apa yang harus murid pelajari
d. Nyatakan secara eksplisit bahwa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki murid
e. jika murid sudah mampu menguasai unit-unit kecil perkenalkan dia kepada unit-unit yang lebih besar
f. Siapkan pengalaman ulang untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan murid
 Selanjutnya Jerome Rosner (1993), mengemukakakn petunjuk pengambilan keputusan dalam melakukan treatment sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi kasus utama tentang ketunacakapan belajar yang secara signifikan mengganggu perkembangan kemempuan pokok belajara murid. Yang termasuk dalam kemampuan pokok belajar murid yaitu:
1) Keterampilan-keterampilan perseptual, yang dapat diidentifikasi melalui system “coding” bentuk bacaan, tulisan, ejaan, dan hitungan
2) Bahasa, yang berkaitan dengan upaya murid dalam memperoleh informasi.
b. Mengidentifikasi dan menilai kemampuan pokok belajar murid baik dalam hal keterampilan perceptual maupun bahasa
c. Memberikan remedisi terhadap kelemahan-kelemahan melalui proses pembelajaran.
 Tiga faktor yang perlu diperhatikan dalalm mengambil keputusan (faktor-faktor prognosik) untuk melakukan treatment, yaitu :
a. Kasus yang mungkin terjadi baik menyangkut aspek kelemahan bahasa atau keterampilan perseptual
b. Usia murid dan kelemahan dalamprestasi belajarnya di sekolah
c. Tersedianya sumber-sumber emosi, fisik, waktu, dan energi yang diperlukan dalam program remedial.
3. Prevensi
Langkah pertama dalam prevensi adalah mengidentifikasi murid sebelum dia mengalami kesulitan atau ketunacakapan belajar di sekolah.
Langkah ini dilaksanakan melalui tes atau pemeriksaan terhadap aspek-aspek pribadi murid yaitu sebagai berikut :
a. Kesehatan
Mengetahui kesehatan murid perlu keterangan dari dokter ahli anak (pediatrician) yang menjelaskan tentang kondisi kesehatan murid.
b. Perkembangan
Perkembangan murid perlu dipahami itu menyengkut aspek-aspek sosial, bahasa, motor dan tingkah laku adaptif.
c. Penglihatan dan Pendengaran
Untuk mengetahui kondisi penglihatan dan pendengaran murid dapat diperoleh keterangan dari dokter ahli telinga (THT)
d. Keterampilan dan Perseptual
Untuk mengetahui keterampilan perseptual ini dapat melalui pemeriksaan di samping dari ahli mata juga melalui tes psikologis tentang keterampilan perceptual, penglihatan, dan pendengaran.
e. Usia Pra Sekolah
Banyak anak yang masuk sekolah sebelum usia lima tahun, mereka perlu dipilih secara hati-hati apakah akan mengalami resiko atau tidak.
f. Usia Masuk TK
Menurut aturan anak-anak tidak boleh masuk TK sebelum usia lima tahun. Nyatanya ditemukan anak yang belum berusia lima tahun sudah menampilkan perkembangan yang baik dalam perilaku sosial, bahasa, dan penyesuaian dirinya. Namun anak seperti itu relative masih sangat sedikit.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh adanya interaksi antara individu dengan lingkungan. Sedangkan bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu (murid) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar sehingga setelah melalui proses perubahan belajar mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat yang dimilikinya.
Namun, dalam menjalani semua proses itu terkadang kita akan menemukan kesulitan-kesulitan atau yang disebut dengann masalah belajar. Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas. Jenis-jenis masalah belajar di sekolah dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami: keterlambatan akademik, kecepatan dalam belajar, sangat lambat dalam belajar, kurang motivasi belajar, bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, sering tidak sekolah, kekurangan persepsi visual, kekurangan persepsi visual motor, kekurangan persepsi auditor, rendahnya kemampuan mengingat, lambatnya pemahaman konsep, kekurangan hubungan spasial dan kesadaran tubuh.
Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh.
Pada garis besarnya faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu faktor internal dan eksternal. Murid yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan murid. Beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain: pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar.


B. Saran
Pendidikan sampai saat ini masih berjalan sebatas penyampaian pengetahuan oleh para pendidik, tanpa adanya upaya perbaikan untuk mengembangkan pendidikan melalui siswanya secara optimal. Bahkan tidak jarang, pendidik justru mengabaikan siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar karena dianggap tidak pintar atau bodoh. Diharapkan semua pihak yang terlibat, mulai dari mahasiswa, orang tua, pejabat pendidikan/pemerintah, sampai masyarakat umum ikut memperhatikan, turut berpartisipasi, dan bekerja sama dalam upaya-upaya penyelesaian masalah belajar yang dilakukan oleh pihak manapun sehingga pendidikan tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan, namun benar-benar berjalan sebagai proses belajar yang seharusnya.



DAFTAR PUSTAKA

NN. 2006. “Kesulitan Belajar”, (Online), (http://kesulitanbelajar.blogspot.com/2006/01/kesulitan-belajar.html, di akses pada 20 Maret 2011)
NN. 2010. “Jenis-jenis Tes Hasil Belajar” (Online), (http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/04/jenis-jenis-tes-hasil-belajar.html, di akses pada 17 Maret 2011)
SD Islam Al Huda. 2009. “Konsep Dasar Bimbingan Belajar di SD Islam Al-Huda”, (Online), (http://sdislamalhuda.wordpress.com/2009/11/05/konsep-dasar-bimbingan-belajar-di-sd-islam-al-huda/, diakses pada 15 Maret 2011)
SMP N 9 Cimahi. 2010. “Identifikasi Siswa Brkesulitan Belajar”, (Online), (http://litbang-smpn9cimahi.blogspot.com/2010/07/identifikasi-siswa-kesulitan-belajar.html, di akses pada 17 Maret 2011)
Kartadinata, Sunaryo, dkk. 1998. Bimbingan di Sekolah Dasar. Depdikbud
Winkel, W.S. 1991. Bimbingan Dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Read More

Para Ulama Besar Fiqih dan Tassawuf

Para Ulama Besar Fiqih dan Tassawuf (Sufi di Zaman Ini)
Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, Khalifah Tarekat
Naqsbandi Haqqani & Presiden As-Sunna Foundation of America
607 A West Dana Mountain View, CA 94041


”Di masa Rasulullah saw Tasawwuf adalah sebuah realitas tanpa nama, sekarang Tasawwuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitas nya”. Ummat Islam sekarang membutuhkan ulama-ulama yang baik yang melaksana kan ajaran Islam dengan benar (alimun aamil), mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengembalikan apa yang telah rusak dalam agama Islam selama bertahun-tahun ke belakang dan mereka yang mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, yang percaya kepada yang haqq dan melawan kebatilan, serta tidak menakut-nakuti siapa pun yang berada di jalan Allah.

ULAMA YANG MENGIKUTI SUFI / TASAWWUF DI SAAT INI

Sebagai informasi bagi saudara-saudari, Kami sampaikan beberapa nama dari sekian nama ulama modern yang
mengikuti aliran Sufi dan keempat madzhab, yang mewakili mayoritas Muslim di seluruh dunia. Mereka adalah: Mufti Mesir, Hassanain Muhammad al-Mukhloof, anggota Liga Muslim Dunia, Muhammad at-Tayib an-Najjar, Presiden Sunnah dan Syariah Internasional dan Rektor Universitas al-Azhar, Syaikh Abdallah Qanun al-Hassani, ketua Majelis Ulama Maroko dan Deputi Liga Muslim Dunia, Dr. Hussaini Hashim, Deputi Universitas al-Azhar Mesir dan Sekjen Institut Penelitian Makkah, as-Sayyid Hashim al-Rafai, mantan Mentri Agama Kuwait, as-Syaikh Sayyid Ahmad al-Awad, Mufti Sudan,asy-Syaikh Malik al-Kandhalawi.

Presiden Liga Muslim Pakistan dan Rektor Universitas Asyrafiya,Ustaz Abdul Ghafoor al-Attar, Presiden Komunitas Penulis Sudi Arabia, Qadi Yusuf bin Ahmad as-Siddiqui, Jaksa Pengadilan Tinggi Bahrain,Muhmammad Khazraji, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zabara ,Mufti Yaman,asy-Syaikh Muhammad asy-Syadili an-Nivar, Rektor Universitas Syariah Tunisia, asy-Syaikh Khal al-Banani, Presiden Liga Muslim Mauritania,Syaikh Muhammad Abdul Wahid Ahmad, Mentri Agama Mesir,Syaikh Muhammad bin Ali Habasyi, Ketua Liga Muslim Indonesia, Syaikh Ahmad Koftaro, Mufti Syria, Syaikh Abu Saleh Mohammad al-Fattih al-Maliki, Ondurman, Sudan,Syaikh Muhammad Rasyid Kabbani, Mufti Libanon,asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hassani, Professor Syariah dan guru di dua Masjid Suci, Makkah dan Madinah,dan masih banyak lagi yang berada di sekitar Arab dan negri-negri Muslim lainnya.

Ummat Muslim sekarang tidak mempunyai orang yang bias memberi nasihat atau membimbing mereka dalam mempelajari agama dan perilaku atau kebiasaan yang terpuji yang diajarkan dalam Islam. Sebaliknya, kita hanya melihat para ulama yang pura-pura mengetahui sesuatu, lalu berusaha menerapkan ide-ide dan aqidah Islam yang telah mereka kotori kepada setiap orang. Pada setiap kesempatan konperensi misalnya, mereka memberikan ceramah mengenai Islam dari perspektif yang sangat sempit dan terbatas, tidak berdasarkan bimbingan para sahabat Rasulullah saw atau para Imam besar Islam dan tidak pula berdasarkan consensus sebagian besar para ulama Islam.

Jika para ulama itu mau mendengar nuraninya lebih dalam dan kembali kepada loyalitas dan kejujuran dalam Islam tanpa campur tangan pemerintah atau kekuatan lain yang mengontrol negara-negara Muslim dengan uang mereka, mengabdikan dirinya hanya untuk berdakwah dan irsyad (memberi petunjuk ke jalan yang lurus) dan berdzikir kepada Allah dan Rasulullah saw, barulah situasi dalam dunia Islam akan berubah dan kehidupan Muslim akan meningkat dengan pesat.

Harapan kita pada tahun ini, Muslim di Amerika dan di seluruh dunia akan bersatu kembali, saling berhubungan
dalam satu tali, yaitu Tali Allah untuk memantapkan sunnah dan syariah Rasulullah Jika orang-orang ingin meninjau sejarah lebih dalam lagi, mereka akan menemukan bahwa setelah perjuangan para sahabat yang gagah berani, Islam tersebar ke seluruh penjuru Timur dan Barat serta Timur Jauh melalui dakwah dan irsyad para ulama dan para pengikut Tasawwuf (Sufisme). Mereka mengikuti jejak yang benar dari para Kalifah Rasulullah , radiAllahuanhum

Mereka adalah para ulama Sufi yang sejati, yang menopang pengajaran al-Quran dan Sunnah dan tidak pernah menyimpang dari keduanya. Sifat zuhud dalam Islam (asceticism) berkembang pada abad pertama Hijriah dan dikembangkan dalam sekolah-sekolah yang mempunyai pondasi yang kuat dan menjadikan al-Quran dan syariah sebagai dasar pengajarannya, dan dijalankan oleh para ulama zahid yang dikenal sebagai Sufi.

Mereka di antaranya adalah keempat Imam pertama, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifa, Imam Syafii, dan Imam
Ahmad bin Hanbal, begitu pula al-Imam Abi Abdallah Muhammad AL-BUKHARI, Abul Husain MUSLIM bin al-Hajjaj,
Abu Isa TIRMIDZI. Yang lainnya di antaranya Hasan al-Basri, al-Junaid, Imam Awzai termasuk at-Tabarani, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Hajar al-Haythami, al-Jardani, Ibnu Qayyim al-Jawzi, Imam Muhyiddin bin Syaraf bin Mari bin Hassan bin Husain bin Hazam bin NAWAWI, Imam Abu Hamid GHAZALI, Sayyid Ahmad al-Farouqi as- Sirhindi. Dunia Muslim telah mengenal Islam melalui usaha para ulama zahid ini yang dikenal sebagai Sufi karena loyalitas mereka, ketulusan dan kemurnian hatinya.

Kita tidak menyembunyikan fakta bahwa pada saat itu, beberapa musuh Islam datang dan mengadakan pendekatan
yang ekstrim, menggunakan nama Sufisme dan berpura-pura menjadi seorang Sufi pada saat menyebarkan ide-ide anehnya dengan tujuan untuk memusnahkan ajaran Sufi yang sejati dan meracuni pikiran Muslim mengenai Tasawwuf yang telah dianut mayoritas Muslim. Tasawwuf sejati berlandaskan zuhud dan ihsan (kemurnian hati). Imam-Imam besar ummat Muslim yang ajarannya diikuti di semua negri Muslim, dikenal mempunyai guru-guru Sufi. Imam Malik, Imam Abu Hanifa (berguru kepada Jafar as-Sadiq as), Imam Syafii (yang mengikuti Syayban ar-Rai) dan Imam Ibnu Hanbal (gurunya adalah Bisyr al-Hafi ) yang semuanya menganut Tasawwuf.

Semua pengadilan dan universitas di negri-negri Muslim menerapkan ajaran dari keempat Imam tersebut hingga
sekarang. Misalnya: Mesir, Libanon, Yordania, Yaman, Djibouti, dan beberapa negara lain mengikuti madzhab Syafii. Sudan, Maroko, Tunisia, Aljazair,Mauritania, Libya dan Somalia mengikuti madzhab Maliki. Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman dan beberapa negara lain mengikuti madzhab Hanbali. Turki, Pakistan, India, Myanmar dan beberapa republic di Rusia mengikuti madzhab Hanafi. Negri-negri Muslim di Timur Jauh mengikuti madzhab Syafii. Sebagian besar pengadilan di negara-negara Muslim bergantung kepada fatwa-fatwa dari keempat madzhab ini dan keempatnya diterima. Imam Malik dalam ucapannya yang terkenal mengatakan, “man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”. Yang artinya, “Barang siapa yang mempelajari Tasawwuf tanpa Fiqih, dia adalah seorang kafir zindik (heretic), dan barang siapa yang mempelajari Fiqih tanpa Tasawwuf, dia adalah seorang yang fasik (korup), dan barang siapa yang mempelajari Tasawwuf dan Fiqih, dia akan menemukan Kebenaran dan Realitas dalam Islam.

Ketika sarana transportasi masih sulit, Islam dapat tersebar dengan cepat melalui usaha yang tulus dari para musafir Sufi yang telah terdidik dengan baik sekali dalam disiplin zuhud yang tinggi (zuhud ad-dunya) yang memang diperlukan oleh mereka yang telah dipilih Allah untuk melaksanakan tugas suci itu. Hidup mereka adalah dakwah dan mereka bertahan hidup hanya dengan roti dan air. Dengan cara hidup seperti itu mereka mampu mencapai Barat dan Timur Jauh dengan keberkahan Islam. Di abad 6 dan 7 Hijriah, Tasawwuf berkembang dengan pesat karena diiringi kemajuan dan usaha yang keras dari para guru Sufi. Setiap kelompok dinamai menurut nama gurunya, untuk membedakan dengan kelompok yang lain. Sama halnya dengan sekarang,
setiap orang memegang gelar dari universitas di mana dia menjadi lulusannya. Walau demikian tentu saja Islam tetap sama, tidak pernah berubah dari satu guru Sufi ke guru Sufi yang lain, seperti halnya Islam tidak pernah berubah dari satu universitas ke universitas yang lain. Namun demikian di masa lalu murid sangat dipengaruhi oleh perilaku dan moral yang baik dari guru-guru mereka. Oleh sebab itu mereka mempunyai sifat tulus dan loyal. Tetapi sekarang para ulama kita kering dan Islam diajarkan kepada mereka di universitas non-Muslim oleh para professor non-Muslim (Jika kalian pandai, kalian bisa mengerti).

Guru-guru Sufi meminta muridnya untuk menerima Allah sebagai Pencipta mereka dan Rasulullah sebagai hamba
dan utusan-Nya, menyembah Allah pada saat sendirian, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, bertaubat
kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah , memurnikan hati mereka, membersihkan ego mereka dari kesalahan dan untuk memperbaiki aqidah mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga mengajarinya untuk bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam segala hal yang mereka lakukan, bersabar dan takut kepada Allah, mencintai sesama, bergantung kepada Allah, dan segala sifat atau perilaku terpuji lainnya yang dianjurkan dalam Islam.

Untuk mencapai seluruh tingkatan yang tulus dan murni, mereka memberi murid-muridnya doa yang berbeda-beda
seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw, para sahabat, dan para Tabi¡¦iin. Mereka mengajarkan Dzikir-Allah, mengingat Allah dengan membaca al-Quran, doa-doa dan tasbiih dari Hadits serta dengan membaca Nama-Nama Allah dan sifat-sifatnya yang terdapat dalam tahlil, tahmiid, takbiir, tamjiid, tasbiih menurut ayat-ayat dan Hadits Rasulullah mengenai dzikir (ini dapat ditemukan pada semua buku Hadits termasuk Bukhari, Muslim, Tabarani, Ibnu Majah,Abu Dawud dan lain-lain di bagian dzikir dalam Islam di mana setiap orang dapat merujuk ke sana).

Guru Sufi ini (ulama sejati) menolak ketenaran, jabatan tinggi, uang, dan kehidupan yang materialistik, tidak seperti ulama sekarang yang mengejar ketenaran dan uang. Mereka bersifat zahid dan hanya bergantung kepada Allah, tunduk kepada firman-Nya, “khalaqtul Jinni wal Insi illa li ya buduun”. “Kami tidak menciptakan Jinn dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Sebagai hasil dari perilakunya yang baik dan sifat zuhudnya itu, mereka mampu meyakinkan orang-orang kaya untuk membangun masjid dan panti (khaniqah, zawiyyah) untuk seluruh ummat Islam, juga membagikan makanan gratis dan penginapan gratis. Dengan demikian Islam dapat tersebar dengan cepat dari suatu negara ke negara yang lain melalui khaniqah dan masjid tersebut. Tempat seperti itu, di mana setiap orang miskin dapat makan dan menginap serta para tuna wisma dapat berteduh merupakan tempat pembersihan hati bagi orang miskin dan merupakan tempat terjalinnya hubungan antara yang kaya dengan yang miskin antara yang hitam dengan yang kuning, merah, putih, Arab dan non-Arab.

Rasulullah bersabda dalam suatu hadits, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal kebajikan”.Tempat ini membuat orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul bersama. Sufi memegang teguh Sunnah dan Syariah. Sejarah mereka penuh dengan keberanian dan perjuangan di jalan Allah, jihad fisabiilillah, meninggalkan negeri mereka untuk menyebarkan Islam dengan satu metode, yaitu cinta. Mereka mengajarkan manusia untuk mencintai sesamanya tanpa perbedaan ras, usia dan gender. Mereka memandang setiap orang berhak untuk dihormati terutama wanita, orang yang teraniaya, dan fakir miskin. Sufi bagaikan bintang yang terang yang menyinari seluruh dunia, memberi semangat kepada semua orang untuk berjihad fi sabiil-illah, berjuang di jalan Allah, menyebarkan Islam, menolong fakir miskin, tuna wisma, dan mereka yang membutuhkan pertolongan baik jauh maupun dekat. Dengan Imannya, mereka bisa mencapai Asia Tengah sampai India, Pakistan, Tashkent, Bukhara, Daghestan, dan daerah-daerah lain seperti Cina, Malaysia, Indonesia dan lain-lain. Orang-orang Sufi sejati tidak pernah menyimpang dari Syariah dan Sunnah Rasulullah saw serta al-Quran.

Dua sumber utama Tasawwuf adalah al-Quran dan Sunnah Rasulullah, sebagaimana yang disampaikan lewat pemahaman Islam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali yang dianggap sebagai dua guru utama seluruh aliran
Sufi. Sayyidina Abu Bakar mewakili satu aliran Tasawwuf. Rasulullah bersabda mengenai beliau, Apa yang Allah tuangkan ke dalam hatiku, Aku tuangkan pula ke dalam hati Abu Bakar. “Ma sab-Allahu fee sadrii syayan illa wa sabatuhu fii sadrii Abi Bakrin “.(Hadiqa Nadiah, diterbitkan di Kairo, 1313 H. hal.9). Allah swt berfirman dalam al-Qur’an (9:40),Sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Makkah), dia
tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang teman dan keduanya berada dalam gua.¨ Rasulullah bersabda dalam
hadits lain, ¡Matahari tidak pernah bersinar lebih cerah pada orang-orang selain Abu Bakar, kecuali pada para Nabi. (lihat Suyuti, Sejarah para Kalifah, Kairo, 1952. Hal. 46).

Banyak hadits lain yang menerangkan posisi Abu Bakar as-Siddiq. Aliran lain dalam Tasawwuf berasal dari Sayyidina Ali, mengenai beliau banyak sekali hadits yang bila dipaparkan akan memakan banyak halaman. Sunnah Rasulullah dan Syariah yang melambangkan kewajiban, serta Ihsan yang melambangkan perilaku baik, semuanya melekat menjadi karakter para ulama Sufi, mulai dari Sayyidina Abu Bakar yang menjadi kalifah Rasulullah pertama, sampai sekarang. Pada abad ke-13 Hijriah (19 M) sebuah madzhab yang dipengaruhi oleh ajaran dua ulama Islam dari abad ke-7 Hijriah (14 M) muncul. Madzhab ini adalah madzhab baru dalam Islam, yang walaupun mempunyai dasar madzhab Hanbali tetapi ternyata terdapat perbedaan aqidah. Walaupun madzhab ini juga menerima tasawwuf tetapi dia lebih banyak mempunyai batasan dan mempunyai interpretasi yang sempit tentang apa yang dibolehkan dalam Islam dibandingkan dengan keempat madzhab yang pertama.

Akhir-akhir ini para pengikut madzhab ini melakukan penyimpangan terhadap ajaran asli dari sang pendiri madzhab dan sering membesar-besarkan secara ekstrim dan membuat tuduhan kepada ummat Muslim berdasarkan fatwa dari ulama-ulama modern yang hanya memiliki pemahaman Islam secara harfiah dengan sudut pandang yang terbatas, namun menjadi penentang bagi kelompok mayoritas Muslim. Keyakinan baru ini sekarang berkembang dengan pesat dengan dukungan minoritas Muslim yang mempunyai keyakinan sendiri dan interpretasi sendiri terhadap al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Orang-orang ini sekarang menentang Sufisme dan mencoba untuk meremehkan semangat dan usaha keras para Sufi sejati dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia selama kurun waktu 1300 tahun kebelakang.

Sebagai ummat Muslim, Kami menghormati semua madzhab dalam Islam tanpa diskriminasi. Tetapi sebaliknya Kami tidak menerima orang yang memaksa kan ide-idenya kepada Kami, karena Kami mengikuti keyakinan yang
telah diterima oleh mayoritas Muslim, yang menerima Tasawwuf. Di Amerika, Kami terkejut melihat sejarah dan kebudayaan Islam selama 1400 tahun disangkal dan ditolak oleh sebagian kecil ulama dengan cara pandang mereka sendiri, seolah-olah selama 1400 tahun para ulama pengikut Sufi dan keempat madzhab tidak ada dan tidak pernah ada.

Wahai saudara-saudariku yang tercinta, juga ayah, ibu, dan anak-anak sekalian, Islam bersifat toleran (hilm), Islam adalah cinta, Islam adalah Kedamaian, Islam adalah rendah hati, Islam adalah kesempurnaan, Islam adalah zuhud, Islam adalah Ihsan. Islam berarti hubungan antar sesama, Islam berarti keluarga, Islam adalah persaudaraan, Islam berarti persamaan, Islam adalah satu tubuh, Islam adalah ilmu pengetahuan,
Islam adalah spirituali tas. Islam mempunyai pengetahuan eksternal dan internal yang sama baiknya. ISLAM ADALAH SUFISME, SUFISME ADALAH ISLAM.

Terakhir, Islam adalah Cahaya yang diturunkan Allah melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad, yang merupakan simbol kebenaran Allah. Tanpa keraguan, beliau adalah perantara bagi semua orang, dan ini telah disebutkan dalam semua buku fiqih. Semoga Allah mengampuni Kami atas kesalahan dan kekurangan dalam presentasi ini.


Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh
Read More