Showing posts with label olga. Show all posts
Showing posts with label olga. Show all posts

PERMAINAN DAN OLAHRAGA TOLAK PELURU



.Tolak Peluru (Shot Put)
Teknik-teknik yang perlu dipelajari dalam tolak peluru antara lain:
1. Teknik Memegang Peluru
Cara memegang peluru, yaitu:
1. Peluru diletakkan pada telapak tangan bagian atas
2. Jari-jari tangan direnggangkan atau dibuka, jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk dipergunakan untuk menekan dan memegang peluru bagian belakang. Sedangkan jari kelingking dan ibu jari dipergunakan untuk memegang atau menahan peluru bagian samping agar tidak jatuh atau tergelincir.
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
3. Setelah peluru tersebut dipegang dengan baik, kemudian letakkan pada bahu dan menmpel (melekat) di leher. Siku diangkat ke samping, sedikit serong ke depan.
4. Pada waktu memegang dan meletakkan peluru pada bahu, usahakan agar seluruh badan dan tangan dalam keadaan lemas (rileks). Tangan dari lengan yang lain membantu menjaga keseimbangan.
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
2. Teknik Sikap Badan pada Waktu akan Menolak
Terdapat 2 teknik sikap badan pada waktu akan menolak, yaitu:
a. Gaya ortodok (menyamping)
Berdiri tegak menyamping kea rah tolakan, kedua kaki dibuka lebar (kangkang), kaki kiri lurus ke depan, kaki kanan dibengkokkan ke depan, sedikit serong ke samping kanan, berat badan berada pada kaki kanan, dan badan agak condong ke samping kanan. Tangan kanan memegang peluru pada bahu (pundak), tangan kiri dibengkokkan, berada di depan sedikit agak serong ke atas lemas. Tangan kiri berfungsi untuk membantu dan menjaga keseimbangan. Pandangan diarahkan kea rah sasaran (tolakan).
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
b. Gaya O’Brien (membelakangi)
Hal yang membedakan antara gaya ortodoks dan gaya O’Brien adalah sikap awal. Pada gaya ortodoks sikap badan menyamping, sedangkan pada gaya O’Brien membelakangi arah tolakan.
3. Cara Mengambil Awalan (Ancang-Ancang)
a. Cara menyamping (ortodoks)
Bila menggunakan gaya ortodoks, sikap badan menyamping arah tolakan mulai dari sikap permulaan sampai dengan bergerak ke depan untuk menolakkan peluru.
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
b. Cara membelakangi lawan (O’Brien)
Bila menggunakan gaya O’Brien, sikap badan membelakangi arah tolakan mulai dari sikap permulaan sampai dengan bergerak ke depan untuk menolakkan peluru.
Gaya tolak peluru denagn membelakangi itu disebut juga gaya O’Brien, karena orang yang pertama kali mempergunakan dan sekaligus memperkenalkan gaya tersebut bernama Parry O’Brien. Gaya tersebut dipergunakan pada saat penyelenggaraan Olimpiade Helsinky pada tahun 1952.
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
4. Teknik Setelah Gerakan Akhir Menolak
Teknik setelah gerakan akhir menolak, yaitu:
a. Setelah peluru lepas dari tangan, secepatnya kaki belakang diturunkan atau mendarat menempati tempat kaki depan/kaki tumpu dengan lutut agak dibengkokkan.
b. Selanjutnya kaki tumpu diangkat ke belakang lururs dan lemas untuk membantu menjaga keseimbangan.
c. Badan condong ke samping kiri depan, dagu diangkat, pandangan ke arah jatuhnya peluru.
d. Tangan kanan dibengkokkan berada di depan sedikit agak ke bawah badan, tangan atau lengan kiri lemas lurus ke belakang untuk membantu menjaga keseimbangan.
Perhatikan gambar peragaan di bawah ini!
5. Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Tolak Peluru Awalan Membelakangi
Hal-hal yang harus dihindari sebagai berikut:
a. Sikap posisi awal tidak seimbang, kaki kanan melakukan gerakan lompatan.
b. Tidak menarik kaki kanan cukup jauh ke bawah badan.
c. Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke belakang.
d. Gerakan kaki terlalu ke samping kiri.
e. Terlalu cepat menggerakkan badan.
6. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Tolak Peluru Awalan Membelakangi
Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a. Pelihara kaki selalu rendah dan bertahan kuat-kuat.
b. Lakukan gerakan kaki kiri mendorong ke belakang
c. Usahakan pinggang kiri dan bahu menghadap ke belakang jauh.
d. Putarlah kaki kanan ke dalam selama meluncur.
e. Usahakan lengan kiri dalam posisi tertutup.
7. Gambar atau Bentuk Lapangan Tolak Peluru

Read More

Porter’s

Porter’s Five Forces
Menurut Porter (1988), struktur suatu industri menentukan tingkat profitabilitas yang
dapat diperoleh perusahaan. Struktur industri dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
a. Kekuatan pemasok
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kekuatan pemasok adalah konsentrasi pemasok,
signifikansi volume bagi pemasok, switching cost, subsitusi pasokan, ancaman forward
integration, dan diferensiasi pasokan.
b. Barriers to entry
Hal-hal yang dapat mempengaruhi barriers to entry adalah akses terhadap pasokan,
regulasi pemerintah, skala ekonomi, kebutuhan modal, switching cost, identitas merek,
dan akses distribusi.
c. Kompetisi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kompetisi adalah exit barriers, konsentrasi industri,
pertumbuhan industri, diferensiasi produk, identitas merek, biaya tetap, dan switching
cost.
d. Kekuatan pembeli
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kekuatan pembeli adalah informasi pembeli,
identitas merek, sensitivitas harga, diferensiasi produk, insentif pembeli, ancaman
backward integration, konsentrasi pembeli, switching cost, dan ketersediaan produk
substitusi.
e. Produk subtitusi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi produk substitusi adalah switching cost dan price-
performance trade off dari produk subtitusi.
f. Regulasi
Regulasi akan menentukan struktur dan tingkat profitabilitas industri, misalnya regulasi
mengenai harga terendah untuk tarif penerbangan akan mempengaruhi pola persaingan
antara maskapai dan tingkat profitabilitas.



Porter’s Competitive Strategy
Menurut Porter (1988), perusahaan dapat memiliki keunggulan dibandingkan
pesaingnya dengan melakukan pilihan dari dua hal berikut :
1. Keunggulan biaya: produk suatu perusahaan memiliki keunggulan dari segi biaya
yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Prinsip perusahaan adalah menjual
pada volume banyak.
2. Keunggulan diferensiasi: produk suatu perusahaan memiliki keunggulan dari segi
keunikan atau performansi yang lebih tinggi dibandingkan pesaingnya. Prinsip
perusahaan adalah menjual pada profit tinggi.


model Porter’s Value Chain adalah :
1. Inbound Logistics: penerimaan, penyimpanan, sistem inventori, dan penjadwalan
transportasi.
2. Operations: transformasi input menjadi produk jadi.
3. Outbound Logistics: penyimpanan, manajemen distribusi, transportasi, dan order
fulfillment.
4. Marketing and Sales: pemilihan saluran distribusi, iklan, promosi, pernjualan,
penetapan harga, manajemen ritel, dll.
5. Service: jasa perbaikan, customer support, pelatihan, instalasi, upgrading, dll.
6. Procurement: pengadaan bahan baku, mesin, komponen, bangunan, dll.
7. Technology Development: R&D, proses otomasi, dan desain.
8. Human Resource Management: rekrutmen, pelatihan, dan kompensasi
9. Firm Infrastructure: manajemen umum, manajemen perencanaan, keuangan,
akunting, manajemen kualitas, dll.
Read More

DIABETES MELLITUS


2.1 TINJAUAN TENTANG DIABETES MELLITUS
            2.1.1 Definisi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus
            Diabetes mellitus (DM) adalah suatu sindroma klinik yang ditandai oleh poliuri, polidipsi, polifagi, disertai peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (glukosa puasa ≥ 126 mg/dL atau postprandial ≥ 200 mg/dL atau glukosa sewaktu ≥ 200 mg/dL). Bila DM tidak segera di atasi akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan protein, dan resiko timbulnya gangguan mikrovaskular atau makrovaskular meningkat. Peningkatan kadar glukosa darah yang berkaitan dengan diabetes mellitus terjadi akibat sekresi insulin yang tidak adekuat atau tidak ada, dengan atau tanpa gangguan kerja insulin.
            Penyakit yang mendasari diagnosis diabetes mellitus kini diklasifikasikan menjadi empat kategori:
1.      DM tipe 1 (insulin dependent diabetes mellitus)
Adanya gangguan produksi insulin akibat penyakit autoimun atau idiopatik. Tipe ini sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM karena pasien mutlak membutuhkan insulin. Diabetes tipe 1 ditandai oleh destruksi sel β secara selektif dan defisiensi insulin absolute atau berat. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".



2.      DM tipe 2 (non insulin dependent diabetes mellitus)
Diabetes tipe 2 ditandai oleh resistensi jaringan terhadap kerja insulin disertai defisiensi relative pada sekresi insulin. Individu yang terkena dapat lebih resisten atau mengalami defisiensi sel β yang parah, dan kelainannya dapat ringan atau parah. Meskipun insulin diproduksi oleh sel β pada pasien ini, namun hal tersebut tidak cukup untuk mengatasi resistensi, dan kadar glukosa darah meningkat. Individu dengan diabetes tipe 2 mungkin tidak memerlukan insulin untuk bertahan hidup, namun 30% pasien atau lebih akan memperoleh keuntungan dari terapi insulin untuk mengontrol glukosa darah. Sekitar 10-20% individu yang awalnya didiagnosis menderita diabetes tipe 2 mungkin sebenarnya mengalami diabetes kombinasi tipe 1 dan tipe 2 atau tipe 1 yang progresif, dan akhirnya akan memerlukan penggantian insulin sepenuhnya.

3.      DM tipe 3
Sebutan tipe 3 merujuk pada berbagai penyebab spesifik lain untuk peningkatan kadar glukosa darah: penyakit yang tidak melibatkan pancreas, terapi obat, dll.

4.      DM tipe 4 (diabetes mellitus gestasional)
Diabetes mellitus gestasional (GDM) didefinisikan berupa setiap kelainan kadar glukosa yang ditemukan pertama kali pada saat kehamilan. Selama kehamilan, plasenta dan hormon plasenta menimbulkan resistensi insulin yang paling mencolok pada trimester ketiga. Penilaian resiko timbulnya diabetes dianjurkan dimulai pada kunjungan prenatal pertama.

            2.1.2 Epidemiologi & Etiologi Pharyngitis
            Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya terus meningkat dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka ini akan bertambah menjadi 366 juta atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun lebih sering (terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens terbesar terjadi di Asia dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup, seperti pola makan “Western-style” yang tidak sehat.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%. Beberapa hal yang dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral), hipertensi, kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.
Etiologi
Penyebab diabetes yang utama adalah kurangnya produksi insulin (DM tipe I) atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (DM tipe II). Namun jika dirunut lebih lanjut, ada beberapa faktor yang menyebabkan DM sebagai berikut :
1. Genetik atau faktor keturunan
DM sering diturunkan atau diwariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya (Maulana, Mirza:2008).
2. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
Menyebabkan peningkatan produksi androgen di ovarium dan resistensi insulin serta merupakan salah satu kelainan endokrin tersering pada wanita, dan kira-kira mengenai 6 persen dari semua wanita, selama masa reproduksinya (Guyton and Hall, 2007).
3. Virus dan bakteri
Virus penyebab DM adalah rubella, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta. Virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi autoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Sedangkan bakteri masih belum bisa dideteksi, tapi menurut ahli mengatakan bahwa bakteri juga berperan penting menjadi penyebab timbulnya DM (Maulana, Mirza, 2008).
4. Bahan toksik atau beracun
Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrineuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur) (Maulana, Mirza:2008).
1. Nutrisi
2. Kadar Kortikosteroid yang tinggi
3. Kehamilan diabetes gestational
4. Obat-obtan yang dapat merusak pankreas
5. Racun yang memengaruhi pembentukan atau efek dari insulin (Maulana, Mirza:2008).

            2.1.3 Patofisiologi Diabetes Melitus
            2.1.4 Manifestasi Klinis dan Diagnosis Diabetes Melitus
            Diagnosis Diabetes Mellitus
Banyak pasien dengan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang asimptomatik dan baru diketahui adanya peningkatan kadar gula darah pada pemeriksaan laboratorium rutin. Para ahli masih berbeda pendapat mengenai criteria diagnosis DM pada lanjut usia. Kemunduran intoleransi glukosa bertambah sesuai dengan pertambahan usia, jadi batas glukosa pada DM lanjut usia lebih tinggi dari pada orang dewasa yang menderita penyakit DM.
Kriteria diagnostik diabetes mellitus dan gangguan toleransi glukosa menurut WHO 1985:
a.       Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200mg/ dl, atau 
b.      Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dl, atau
c.       Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg / dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO
Menurut Kane et al (1989), diagnosis pasti DM pada lanjut usia ditegakkan kalau didapatkan kadar glukosa darah puasa lebih dari 140 mg/dl. Apabila kadar glukosa puasa kurang dari 140 mg/dl dan terdapat gejala atau keluhan diabetes seperti di atas perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Apabila TTGO abnormal pada dua kali pemeriksaan dalam waktu berbeda diagnosis DM dapat ditegakkan. Pada lanjut usia sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah puasa secara rutin sekali setahun, karena pemeriksaan glukosuria tidak dapat dipercaya karena nilai ambang ginjalmeninggi terhadap glukosa. Peningkatan TTGO pada lanjut usia ini disebabkan oleh karena turunnya sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin, baik pada tingkat reseptor (kualitas maupun kuantitas) maupun pascareseptornya. Ini berarti bahwa sel-sel lemak dan otot pada pasien lanjut usia menurun kepekaannya terhadap insulin. 
Cara Pelaksanaan TTGO (WHO, 1994; PERKENI 2002):
a.       tiga hari sebelum pemeriksaan makan seperti biasa ( karbohidrat cukup ).
b.      kegiartan jasmani yang biasa dilakukan.
c.       puasa paling sedikit 8 jam mulai malam hari sebelum pemeriksaan , minum air  putih diperbolehkan.
d.      Diberikan glukosa 75 gram ( orang dewasa ) atau 1,75 gram/ kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menite.Diperiksa kadar glukosa darah dua jam sesudah beban glukosaf.Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.
6-98a0d54ae6
6-98a0d54ae6
Dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus, patokan yang dijadikan acuan tentu saja adalah pemeriksaan glukosa darah. Dalam hal ini dikenal adanya istilah pemeriksaan penyaring dan uji diagnostik diabetes mellitus.
·         Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan penyaring ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok yang tidak menunjukkan gejala diabetes mellitus tetapi memiliki resiko diabetes mellitus, yaitu: 1) Umur > 45 tahun, 2) Berat badan lebih (dengan kriteria: BBR > 110% BB idaman atau IMT >23 kg/m2), 3) Hipertensi (≥ 140/90 mmHg), 4) Terdapat riwayat diabetes mellitus dalam garis keturunan, 5) terdapat riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram, 6) Kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl.

Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan memeriksa kadar gula darah sewaktu (GDS) atau gula darah puasa (GDP), yang selanjutnya dapat dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar. Dari pemeriksaan GDS, disebut diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDS ≥ 200 mg/dl dari sampel plasma vena ataupun darah kapiler. Sedangkan pada pemeriksaan GDP, dikatakan sebagai diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDP ≥ 126 mg/dl dari sampel plasma vena atau ≥ 110 mg/dl dari sampel darah kapiler.
·         Uji Diagnostik
Uji diagnostik dikerjakan pada kelompok yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes mellitus. Bagi yang mengalami gejala khas diabetes mellitus, kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan pada pasien yang tidak memperlihatkan gejala khas diabetes mellitus, apabila ditemukan kadar GDS atau GDP yang abnormal maka harus dilakukan pemeriksaan ulang GDS/GDP atau bila perlu dikonfirmasi pula dengan TTGO untuk mendapatkan sekali lagi angka abnormal yang merupakan kriteria diagnosis diabetes mellitus (GDP ≥ 126 mg/dl, GDS ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau TTGO ≥ 200 mg/dl).


Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Keluhan klasik dari diabetes mellitus meliputi empat hal, yaitu: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal, kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun pruritus vulva pada wanita.
Keluhan umum pada pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM lanjut usia pada umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien ialah keluhan akibatkomplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lanjut usia, terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menjadi tua sehingga gambaran klinisnya bervariasi darikasus tanpa gejala sampai dengan komplikasi yang lebih lanjut. Hal yang sering menyebabkan pasien datang berobat ke dokter ialah adanya keluhan yang mengenai beberapa organ tubuh,antara lain :
         Gangguan penglihatan: katarak 
         Kelainan kulit: gatal dan bisul-bisul
         Kesemutan, rasa baal
         Kelemahan tubuh
         Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
         Infeksi saluran kemihKelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah genital ataupun daerah lipatan kulitlain, seperti di ketiak dan di bawah payudara, biasanya akibat tumbuhnya jamur. Sering puladikeluhkan timbulnya bisul-bisul atau luka lama yang tidak mau sembuh. Luka ini dapat timbulakibat hal sepele seperti luka lecet karena sepatu, tertusuk peniti dan sebagainya. Rasa baal dankesemutan akibat sudah terjadinya neuropati juga merupakan keluhan pasien, disamping keluhanlemah dan mudah merasa lelah. Keluhan lain yang mungkin menyebabkan pasien datang berobatke dokter ialah keluhan mata kabur yang disebabkan oleh katarak ataupun gangguan-gangguanrefraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa akibat hiperglikemia.

Tanda-tanda dan gejala klinik diabetes melitus pada lanjut usia:
1. Penurunan berat badan yang drastis dan katarak yang sering terjadi pada gejala awal.
2. Infeksi bakteri dan jamur pada kulit (pruritus vulva untuk wanita) dan infeksi traktus urinariussulit untuk disembuhkan.
3. Disfungsi neurologi, termasuk parestesi, hipestesi, kelemahan otot dan rasa sakit,mononeuropati, disfungsi otomatis dari traktus gastrointestinal (diare), sistem kardiovaskuler (hipotensi ortostatik), sistem reproduksi (impoten), dan inkontinensia stress.
4.  Makroangiopati yang meliputi sistem kardiovaskuler (iskemi, angina, dan infark miokard), perdarahan intra serebral (TIA dan stroke), atau perdarahan darah tepi (tungkai diabetes dangangren).
5. Mikroangiopati meliputi mata (penyakit makula, hemoragik, eksudat), ginjal (proteinuria,glomerulopati, uremia)

2.2 TINJAUAN TENTANG OBAT ANTIADIABETIK
·         TERAPI INSULIN
Insulin masih merupakan obat utama untuk DM tipe 1 dan beberapa jenis DM tipe 2. Insulin subkutan terutama diberikan pada DM tipe 1, DM tipe 2 yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan atau antidiabetik oral, pasien DM pascapankreatektomi atau DM dengan kehamilan, DM dengan ketoasidosis, koma nonketosis, atau komplikasi lain, sebelum tindakan operasi  (DM tipe 1 dan 2). Tujuan pemberian insulin pada semua keadaan tersebut bukan saja untuk menormalkan glukosa darah tetapi juga memperbaiki semua aspek metabolisme, dan yang terakhir inilah umumnya yang sukar dicapai.
Pada berbagai populasi DM tipe 1, rata-rata dosis insulin yang dibutuhkan berkisar antara 0,6-0,7 U/kg berat badan per hari, sedangkan pasien obesitas membutuhkan dosis lebih tinggi(2 U/kg berat badan per hari) karena adanya resistensi jaringan perifer terhadap insulin.
·         OBAT ANTIDIABETIK ORAL
Ada 5 golongan antidiabetik oral (ADO) yang dapat digunakan untuk DM yakni golongan: sulfonilurea, meglitinid, biguanid, penghambat enzim α-glikosidase, dan tiazolidinedion. Kelima golongan ini dapat diberikan pada DM tipe 2 yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan latihan fisik saja.
1.      Golongan Sulfonilurea
Dikenal 2 generasi sulfonilurea, generasi 1 terdiri dari tolbutamid, tolazamid , asetoheksimid dan klorpropamid. Generasi II yang potensi hipoglikemik lebih besar antara lain gliburid (glibenklamid), glipizid, gliklazid dan glimepirid.
Mekanisme kerja : merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel β Langerhans pankreas. Rangsangannya melalui interaksinya dengan ATP-sensitive K channel pada membran sel-sel β yang menimbulkan depolarisasi membran dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. Dengan terbukanya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel-β, merangsang granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang ekuivalen dengan peptida-C. Kecuali itu sulfonilurea dapat mengurangi klirens insulin di hepar.
Pada penggunaan jangka panjang atau dosis yang besar dapat menyebabkan hipoglikemia.
Farmakokinetik : berbagai sulfonilurea mempunyai sifat kinetik berbeda, tetapi absorpsi melalui saluran cerna cukup efektif. Makanan dan keadaan hiperglikemia dapat mengurangi absorpsi. Untuk mencapai kadar optimal di plasma, sulfonilurea dengan masa paruh pendek akan lebih efektif bila diminum 30 menit sebelum makan. Dalam plasma sekitar 90%-99% terikat protein plasma terutama albumin ; ikatan ini paling kecil untuk klorpropamid dan paling besar untuk gliburid.
Masa paruh dan metabolisme sulfonilurea generasi I sangat bervariasi. Masa paruh asetoheksamid pendek tetapi metabolit aktifnya, 1-hidroksi-heksamid masa paruhnya lebih panjang, sekitar 4-5 jam, sama dengan tolbutamid dan tolazamid. Sebaiknya sediaan ini diberikan dengan dosis terbagi. Sekitar 10% dari metabolitnya diekskresi melalui empedu dan keluar bersama tinja.
Klorpropamid dalam darah terikat albumin, masa paruhnya panjang, 24-48 jam, efeknya masih terlihat beberapa hari setelah obat dihentikan. Metabolismenya di hepar tidak lengkap, 20% diekskresi utuh di urin.
Mula kerja Tolbutamid cepat, masa paruhnya sekitar 4-7 jam. Dalam darah 91-96% tolbutamid terikat protein plasma, dan di hepar diubah menjadi karboksitolbutamid. Ekskresi melalui ginjal.
Tolazamid, absorpsi lebih lambat dari yang lain; efeknya pada glukosa darah belum nyata untuk beberapa jam setelah obat diberikan. Masa paruh sekitar 7 jam, di hepar diubah menjadi p-karboksitolazamid, 4-hidroksimetiltolazamid dan senyawa lain, yang di antaranya memiliki sifat hipoglikemik cukup kuat.
Sulfonilurea generasi II, umumnya potensi hipoglikemiknya hampir 100x lebih besar dari generasi I. Meski masa paruh pendek yakni hanya sekitar 3-5 jam, efek hipoglikemiknya berlangsung 12-24 jam, sering cukup diberikan 1x sehari.
Glipizid, absorpsinya lengkap, masa paruhnya 3-4 jam. Dalam darah 98% terikat protein plasma, potensinya 100x lebih kuat dari tolbutamid, tetapi efek hipoglikemik maksimalnya mirip dengan sulfonilurea lain. Metabolismenya di hepar menjadi metabolit yang tidak aktif, sekitar 10% diekskresi melalui ginjal dalam keadaan utuh.
Gliburid (glibenklamid), potensinya 200 x lebih kuat dari tolbutamid, masa paruhnya sekitar 4 jam. Metabolismenya di hepar, pada pemberian dosis tunggal hanya 25 % metabolitnya diekskresi melalui uri, sisanya melalui empedu.
Karena semua sulfonilurea dimetabolisme di hepar dan diekskresi melalui ginjal, sediaan ini tak boleh diberikan pada pasien gangguan fungsi hepar atau ginjal yang berat.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa Sulfonilurea tak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada pasien DM juvenil, pasien yang kebutuhan insulinnya tidak stabil, DM berat, DM dengan kehamilan dan keadaan gawat. Obat-obat tersebut harus digunakan dengan sangat berhati-hati pada DM dengan gangguan fungsi hepar dan ginjal, insufisiensi endokrin (adrenal, hipofisis dll), keadaan gizi buruk dan pada pasien yang mendapat obat golongan lain (lihat interaksi). Juga penggunaan harus berhati-hati pada alkoholisme akut serta pasien yang  mendapat diuretik tiazid.
2.      Meglitinid
Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda. Golongan ADO ini merangsang insulin dengan menutup kanal K yang ATP-independent di sel β pankreas.
Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan beberapa kali sehari, sebelum makan. Metabolisme utamanya di hepar dan metabolitnya tidak aktif. Sekitar 10% dimetabolisme di ginjal. Pada pasien dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal harus diberikan secara berhati-hati. Efek samping utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah dilaporkan.
3.      Biguanid
Dikenal 3 jenis ADO dari golongan biguanid yakni fenformin, buformin dan metformin, tetapi yang pertama telah ditarik dari peredaran karena sering menyebabkan asidosis laktat. Sekarang yang banyak digunakan adalah metformin.
Mekanisme kerja : biguanid sebenarnya bukan obat hipoglikemik tetapi suatu antihiperglikemik, tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan  hipoglikemia. Metformin menurunkan produksi glukosa dihepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin. Preparat ini tak mempunyai efek yang berarti pada sekresi glukagon, kortisol, hormone pertumbuhan, dan somatostatin.
Biguanid tidak merangsang maupun menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Pada pasien diabetes yang gemuk, biguanid dapat menurunkan berat badan dengan mekanisme yang masih belum jelas; pada orang nondiabetik yang gemuk tidak timbul penurunan berat badan dan kadar glukosa darah.
Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah tidak terikat protein plasma, ekskresinya melalui urine dalam keadaan utuh. Masa paruhnya sekitar 2 jam.
Dosis awal 2 x 500 mg, umumnya dosis pemeliharaan 3 x 500 mg , dosis maksimal 2,5 gram. Obat diminum pada waktu makan. Pasien DM yang tidak memberikan respon dengan sulfonilurea dapat diatasi dengan metformin, atau dapat pula diberikan sebagai terapi kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea.
Efek samping :  hampir 20% pasien dengan metformin mengalami mual, muntah, diare serta kecap logam(metalic taste). Pada beberapa pasien yang mutlak bergantung pada insulin eksogen, kadang-kadang biguanida menimbulkan ketosis yang tak disertai dengan hiperglikemia. Hal ini harus dibedakan dengan ketosis karena defisiensi insulin.
4.      Golongan Tiazolidinedion
Tiazolidinedion merupakan agonist yang poten dan selektif  PPARγ, mengaktifkan PPARγ membentuk kompleks PPARγ-RXR dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adiposa PPARγ mengurangi keluarnya asam lemak menuju ke otot, dan karenanya dapat mengurangi resistensi insulin.
Selain itu glitazon juga menurunkan produksi glukosa hepar, menurunkan asam lemak bebas di plasma dan remodelling jaringan adipose. Glitazon digunakan untuk DM tipe 2 yang tidak memberi respons dengan diet dan latihan fisik, sebagai monoterapi atau ditambahkan pada mereka yang tidak memberi respons pada obat hipoglikemik lain (sulfonilurea, metformin) atau insulin.
5.      Penghambat Enzim α-glikosidase
Obat golongan penghambat enzim α-glikosidase ini dapat memperlambat absorpsi polisakarida (starch), dekstrin, dan disakarida di intestin. Dengan menghambat kerja enzim α-glikosidase di brush border intestin, dapat mencegah peningkatan glukosa plasma pada orang normal dan pasien DM.
Karena kerjanya tak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak akan menyebabkan efek samping hipoglikemia. Akarbose dapat digunakan sebagai monoterapi pada DM usia lanjut atau DM yang glukosa postprandialnya  sangat tinggi. Di klinik sering digunakan bersama antidiabetik oral lain dan / atau insulin.
Obat golongan ini diberikan pada waktu mulai makan, dan absorpsi buruk.
Efek samping yang bersifat dose-dependent, antara lain malabsorpsi, flatulen, diare, dan abdominal bloating. Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya dosis dititrasi, mulai dosis awal 25 mg pada saat mulai makan untuk selama 4-8 minggu, kemudian secara bertahap ditingkatkan setiap 4-8 minggu sampai dosis maksimal 75 mg setiap tepat sebelum makan. Dosis yang lebih kecil dapat diberikan dengan makanan kecil(snack).
Akarbose paling efektif bila diberikan bersama makanan yang berserat, mengandung polisakarida, dengan sedikit kandungan glukosa dan sukrosa. Bila akarbose diberikan bersama insulin, atau dengan golongan sulfonilurea, dan menimbulkan hipoglikemia, pemberian glukosa akan lebih baik daripada pemberian sukrose, polisakarida, atau maltosa.
Read More

asma


ASMA
Asma adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara. Secara klinis, asma ditandai oleh adanya episode batuk rekuren, napas pendek, rasa sesak di dada, dan mengi (wheezing). Secara fisiologis, ditandai oleh adanya  penyempitan saluran napas bronkus yang reversible dan meluas, dan adanya peningkatan nyata responsivitas bronkus terhadap stimulant yang terhirup. Dan secara patologis, ditandai oleh remodeling mukosa bronkus, disertai penumpukan kolagen di bawah lamina retikularis epitel bronkus dan hiperplasia sel seluruh struktur paru-pembuluh darah, otot polos, serta kelenjar sekretorik dan goblet.
Pada asma ringan, gejala hanya timbul pada saat-saat tertentu, seperti pada saat terpajan allergen atau polutan tertentu, melakukan aktivitas fisik, atau setelah infeksi virus pada saluran pernapasan atas. Berbagai bentuk asma yang lebih berat ditandai dengan seringnya serangan dispneu disertai mengi, terutama pada malam hari, dan dapat juga ditandai oleh adanya penyempitan saluran napas kronik, menyebabkan gangguan pernapasan kronik. Konsekuensi asma ini sebagian besar dapat dicegah, karena terapi efektif untuk meredakan bronkokonstriksi akut (“pereda jangka-pendek”) dan untuk menurunkan gejala serta mencegah serangan (“kontroler jangka-panjang”) sudah tersedia (tapi jarang digunakan secara optimal).
Penyebab terjadinya penyempitan saluran napas pada serangan asma akut meliputi kontraksi otot polos saluran napas, pengentalan sumbat mukus yang viskosa dan tebal pada lumen saluran napas, dan penebalan mukosa bronkus akibat edema, infiltrasi sel, dan hiperplasia sel otot polos, vascular, sekretorik. Dari berbagai penyebab obstruksi saluran napas ini, kontraksi otot polos adalah yang paling mudah ditangani dengan menggunakan terapi terkini; penanganan edema dan infiltrasi sel membutuhkan terapi berkepanjangan menggunalkan agen anti-inflamasi.
Dengan demikian, gejala asma jangka-pendek paling efektif diredakan oleh agen-agen pelemas otot polos saluran napas. Perangsang adrenoseptor-β merupakan agen yang paling efektif dan paling banyak digunakan. Teofilin, suatu obat metilxantin, dan obat antimuskarinik juga digunakan untuk memulihkan konstriksi saluran napas. Kontrol asma jangka-panjang paling efektif dicapai menggunakan agen-agen anti inflamasi, seperti kortikosteroid inhalasi.
·               PATOGENESIS ASMA
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi berperan, terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, netrofil dan sel epitel. Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan sebagai penyebab atau pencetus inflamasi saluran napas pada pasien asma. Inflamasi terdapat pada berbagai derajat asma baik pada asma intermiten maupun asma persisten. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif (hipereaktifitas) jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama pada malam dan/atau dini hari. Episodik tersebut berkaitan dengan sumbatan saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT ASMA - DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN - DEPARTEMEN KESEHATAN RI  - 2007
Gambar Mekanisme Asma

Model imunologi klasik yang menampilkan asma sebagai penyakit yang diperantarai oleh immunoglobulin reaginik (IgE). Bahan-bahan asing yang memicu produksi IgE dideskripsikan sebagai “allergen”.  Kecenderungan untuk memproduksi IgE ditentukan secara genetik. Setelah diproduksi, antibodi IgE berikatan dengan sel mast dalam mukosa saluran napas. Pada pemajanan ulang terhadap allergen spesifik, interaksi antigen-antibodi pada permukaan sel mast memicu pelepasan mediator lainnya.
Ketika dilepaskan, histamine, triptase, leukotrien C4 dan D4, serta prostaglandin D2 berdifusi melewati mukosa saluran napas, memicu kontraksi otot dan kebocoran vascular yang bertanggung jawab terhadap terjadinya bronkokonstriksi akut pada “respon asma cepat”. Dalam 4-6 jam, respon ni sering diikuti oleh fase bronkokonstriksi kedua yang bertahan lebih lama, yakni “respon asma lambat”, yang disertai dengan adanya influx sel inflamasi ke dalam mukosa bronkus dan peningkatan responsivitas bronkus yang dapat bertahan untuk beberapa minggu setelah inhalasi allergen tunggal. Diperkirakan, mediator yang bertanggung jawab atas respon lambat ini adalah sitokin, yang khas diproduksi oleh limfosit TH2, terutama interleukin 5,9, dan 13. Sitokin tersebut tampaknya menarik dan mengaktifkan eosinofil, merangsang produksi IgE oleh limfosit B, dan secara langsung merangsang produksi mukus oleh sel epitel bronkus.
Kebanyakan serangan asma tidak dipicu oleh inhalasi allergen, tapi dipicu oleh infeksi virus pada pernapasan. Bronkospasme dapat dipicu oleh rangsangan non alergenik, seperti olahraga, udara dingin, dan gerakan pernapasan yang cepat. Kecenderungan munculnya bronkospasme setelah pemajanan stimuli yang tidak mempengaruhi saluran napas orang sehat merupakan cirri khas pada asma, dan terkadang disebut “hiper-reaktivitas bronkus non-spesifik” untuk membedakannya dengan responsivitas bronkus terhadap antigen spesifik. Mekanisme yang mendasari hiper-reaktivitas bronkus tampaknya terkait dengan inflamasi mukosa saluran napas. Agen-agen yang meningkatkan reaktivitas bronkus, seperti pemajanan ozon, inhalasi allergen, dan infeksi virus pernapasan, juga menyebabkan inflamasi saluran napas. Peningkatan reaktivitas akibat inhalasi allergen ditandai oleh adanya peningkatan eosinofil dan leukosit polimorfonuklear pada cairan bilas bronkus. Peningkatan reaktivitas yang terkait dengan respon asma lambat akibat inhalasi allergen ini sifatnya bertahan lama dan, karena peningkatan reaktivitas ini dicegah oleh kortikosteroid inhalasi, diperkirakan disebabkan oleh inflamasi saluran napas. (katzung edisi 10)

Terbutalin

Tablet




Injeksi

Dewasa dan Anak lebih dari 15 tahun

Anak-anak 12 – 15 tahun


5 mg, dengan interval pemberian 6 jam, 3 kali sehari
2,5 mg, 3 kali sehari

0,25 mg secara subkutan

Aminophilline
Dewasa muda perokok: 19 mg / kg / hari dalam dosis terbagi. 
Pasien dengan cor pulmonale atau gagal jantung kongestif: 6,25 mg / kg / hari dalam dosis terbagi. Jangan melebihi 500 mg / hari.(
http://www.drugs.com/dosage/aminophylline.html)
Read More

h hipertensi


2.1 Hipertensi
2.1.1 Pengertian hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah arteri sistemik yang terjadi secara terus-menerus. Meskipun konsep ini jelas, tekanan darah tepat yang menyebabkan hipertensi ditentukan secara acak berdasarkan tekanan yang berkaitan dengan risiko statistik berkembangnya penyakit yang terkait hipertensi. Pada orang dewasa, derajat hipertensi dibagi menjadi 4 oleh WHO, yaitu:
v  Mild HT          : 140-159/90-104
v  Moderate HT  : 160-179/105-119
v  Severe HT       : >180/120
v  Malignan HT   : >180/120 + retinopati, haemorrhage, dan pepil edema

2.2 Klasifikasi hipertensi
2.2.1 Hipertensi essensial
Hipertensi esensial atau hipertensi primer atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar patologi yang jelas. Patogenesis hipertensi esensial tidak pasti. Tidak ada perubahan konstan kadar renin, aldosteron, atau katekolamin plasma atau pada aktivitas sistem saraf simpatik atau baroreseptor yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi esensial. Penyebabnya multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain.
Teori yang saat ini lebih disukai adalah bahwa hipertensi esensial disebabkan oleh tingginya asupan natrium diet pada individu yang memiliki predisposisi genetik. Mungkin terdapat kegagalan ekskresi oleh ginjal akibat beban natrium yang tinggi dalam jangka lama. Retensi natrium mengakibatkan peningkatan faktor natriuretik di dalam sirkulasi. Salah satu faktor natriuretik ini menghambat Na+_K+ ATPase pada membran, dengan demikian menyebabkan akumulasi Ca2+ intraseluler. Ca2+ sitosol meningkat pada hipertensi esensial; pada otot polos vaskular, peningkatan Ca2+ sitosol mendorong reaktivitas dan cenderung menyebabkan vasokonstriksi. Efek Ca2+ ini dihambat oleh obat-obatan penghambat saluran kalsium, yang merupakan obat antihipertensi yang efektif.

2.2.2 Hipertensi sekunder
Meliputi 5-10% kasus hipertensi. Hipertensi sekunder disebabkan oleh proses penyakit sebelumnya. Termasuk dalam kelompok ini antara lain hipertensi akbat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obatan dan lain-lain.
Hipertensi renal dapat berupa hipertensi renovaskuler, misalnya pada stenosis arteri renalis, vaskulitis intrarenal; dan hipertensi akibat lesi parenkim ginjal seperti pada glomerulonefritis, pielonefritis, penyakit ginjal polikistik, nefropati diabetik dan lain-lain.
Hipertensi endokrin antara lain akibat kelainan korteks adrenal (hiperaldosteronisme primer, sindrom Cushing), tumor medulla adrenal (pheokromositoma), hipertiroidisme, dan lain-lain. Beberapa obat seperti kontrasepsi hormonal, kortikosteroid, simpatomimetik amin (efridin, fenilpropanolamin, fenilefrin, amfetamin), kokain, siklosporin dan eripoetin, juga dapat menyebabkan hipertensi.

2.3 Patofisiologi hipertensi
Perjalan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi mungkin tak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan yang bermakna. Bila terdapat gejala maka biasanya bersifat non-spesifik, misalnya sakit kepala atau pusing. Apabila hipertensi tetap tidak diketahui dan tidak dirawat, mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke, atau gagal ginjal. Namun, deteksi dini dan perawatan hipertensi yang efektif dapat menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas. Dengan demikian, pemeriksaan tekanan darah secara teratur mempunyai arti penting dalam perawatan hipertensi.
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, Bare, 2002).

2.4 Komplikasi hipertensi dan faktor risiko kardiovaskular
Hipertensi lama dan atau berat dapat menimbulkan komplikasi berupa kerusakan organ (target organ damage) pada jantung, otak, ginjal, mata dan pembuluh darah perifer.
Pada jantung dapat terjadi hipertrofi ventrikel kiri sampai gagal jantung, pada otak dapat terjadi strok karena pecahnya pembuluh darah serebral dan pada ginjal dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal. Pada mata dapat terjadi retinopati hipertensif berupa bercak-bercak perdarahan pada retina dan edema papil nervus optikus. Selain itu hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya ateroslerosis dengan akibat penyakit jantung koroner (angina pektoris sampai infark miokard) dan strok iskemik. Hipertensi yang sangat berat juga dapat menimbulkan aneurisma aorta dan robeknya lapisan intima aorta (dissecting aneurisma).
Pengendalian berbagai faktor risiko pada hipertensi sangat penting untuk mencegah komplikasi kardiovaskular. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain tekanan darah, kelainan metabolik (diabetes mellitus, lipid darah, asam urat, dan obesitas), merokok, alkohol dan inaktivitas, sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin dan faktor genetik.   

2.5 Obat anti hipertensi
2.5.1 Diuretik
Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya terjadi penurunan CO (cardiac output) dan tekanan darah. Beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifer sehingga menambah efek hipotensinya.

2.5.1.1 Golongan thiazide
Obat golongan ini bekerja dengan menghambat transport bersama Na/ Cl di tubulus ginjal, sehingga ekskresi Na+ dan Cl- meningkat. Umumnya kurang efektif pada gangguan ginjal, dapat memperburuk fungsi ginjal, dan pemakaian lama menyebabkan hiperlipidemia (peningkatan kolesterol, LDL, dan trigliserida). Efek hipotensif baru terlihat setelah 2-3 hari dan mencapai maksimum setelah 2-4 minggu.
Efek samping
Dalam dosis tinggi thiazide dapat menyebabkan hipokalemia yang berbahaya bagi pasien yang mendapat digitalis. Efek samping ini dapat dihindari bila thiazide diberikan dalam dosis rendah atau dikombinasi dengan obat lain seperti diuretik hemat kalium, atau penghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Sedangkan suplemen kalium tidak lebih efektif. Thiazide juga dapat menyebabkan hiponatremia, hipomagnesia, dan hipokalsemia. Selain itu thiazide dapat menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan pada pasien hiperurisemia dapat mencetuskan serangan gout akut. Thiazide dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pada penderita DM (diabetes mellitus), thiazide dapat menyebabkan hiperglikemia karena mengurangi sekresi insulin. Pada pasien pria, kadang-kadang dapat timbul gangguan fungsi seksual.

2.5.1.2 Hydrochlorothiazide
Dalam dosis ekuipoten berbagai golongan thiazide memiliki efek dan efek samping yang kurang lebih sama. Perbedaan utama terletak pada masa kerjanya. Hydrochlorothiazide memiliki waktu paruh 10-12 jam.

2.5.1.3 Indapamid
Kelebihannya adalah masih efektif pada pasien gangguan fungsi ginjal, bersifat netral pada metabolisme lemak dan efektif meregresi hipertrofi ventrikel.

2.5.2 Diuretik kuat
Diuretik kuat bekerja di ansa Henle ascendens bagian epitel tebal dengan cara menghambat ko-transpor Na, K, Cl dan menghambat resorpsi air dan elektrolit. Onsetnya lebih cepat dan efek diuretiknya lebih kuat daripada golongan thiazide. Waktu paruh diuretik kuat umumnya pendek sehingga diperlukan pemberian 2 atau 3 kali sehari.
Efek samping hampir sama dengan thiazide, kecuali bahwa diuretik kuat menimbulkan hiperkalsiuria dan menurunkan kalsium darah, sedangkan thiazide menimbulkan hipokalsiuria dan meningkatkan kadar kalsium darah. Contoh obatnya adalah asam etakrinat, furosemid,  dan bumetanid.

2.5.3 Diuretik hemat kalium
2.5.3.1 Amilorid
Amilorid bekerja pada ujung tubuli distal dengan menghambat penukaran ion-ion N dengan ion K dan H. Ekskresi Na (juga Cl dan HCO3-), sedangkan pengeluaran kalium berkurang. Efek maksimalnya tercapai setelah 6 jam dan bertahan 24 jam. Resorpsinya dari usus 50%, yang dikurangi makanan, PPnya 40%, plasma T½nya 6-9 jam, mungkin juga lebih lama. Ekskresinya lewat kemih terutama secara utuh.
Efek sampingnya umum, fotosensibilisasi sering dilaporkan (di Australia), ada kalanya juga impotensi. Berlainan dengan diuretika lain, obat ini tidak menekan sekresi urat, melainkan menstimulasinya. Semua penghemat kalium tidak dapat saling dikombinasikan atau diberikan bersama suplemen kalium berhubung bahaya hiperkalemia.

2.5.3.2 Triamteren
Derivat pteridin ini (1962) berkhasiat diuretik lemah, mulai kerjanya lebih cepat, setelah 2-4 jam, tetapi hanya bertahan ca 8 jam. Mekanisme kerjanya mirip amilorida.
Resorpsinya dari usus antara 30% dan 70%, PPnya lebih kurang 60%, dan T½nya ca 2jam. Ekskresinya berlangsung lewat kemih, sebagian besar metabolit aktif. Kemih dapat berwarna biru dan pembentukan batu ginjal (calculi) dilaporkan pada 1:1500 pasien.

2.5.3.3 Spironolakton
Penghambat aldosteron ini memiliki rumus steroida, mirip struktur hormon alamiah. Mulai kerjanya setelah 2-3 hari dan bertahan sampai beberapa hari pula setelah pengobatan dihentikan. Daya diuretisnya agak lemah, maka khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika umum lainnya. Efek kombinasi demikian adalah adisi disamping mencegah kehilangan kalium. Akhir- akhir ini ditemukan bahwa spironolakton pada gagal jantung berat berdaya mengurangi risiko kematian sampai 30%.
Resorpsinya dari usus tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. PPnya 98%. Dalam hati zat ini dirombak menjadi metabolit aktif, antara lain kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja. Plasma T½nya sampai 2 jam, kanrenon 20 jam.
Efek sampingnya berupa umum; pada penggunaan lama dan dosis tinggi efeknya antiandrogen dengan ginekomasti, gangguan potensi, dan libido pada pria, sedangkan pada wanita nyeri buah dada dan gangguan haid. Pada tikus ternyata berefek karsinogenik, maka hendaknya digunakan dalam waktu singkat.

2.5.4 Penghambat adrenergik
2.5.4.1 β-blocker
Mekanisme antihipertensi
Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian β-blocker dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor β1, antara lain: (1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung; (2) hambatan sekresi renin sel-sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan produksi angiostenin II; (3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer, dan peningkatan biosintatis prostasiklin.
Penurunan TD (tekanan darah) oleh β-blocker yang diberikan per oral berlangsung lambat, efek ini mulai terlihat dalam 24 jam sampai satu minggu setelah terapi dimulai, dan tidak diperoleh penurunan TD lebih lanjut setelah 2 minggu lebih cepat. Obat ini tidak menimbulkan hipotensi ortostatik dan tidak menimbulkan retensi air dan garam.
β-blocker merupakan merupakan obat yang baik.

2.5.4.2 α-bloker
Hanya α-bloker yang selektif menghambat reseptor α1 yang digunakan sebagai antihipertensi. α-bloker non selektif kurang efektif sebagai anti hipertensi karena hambatan reseptor α2 di ujung saraf adrenergik akan meningkatkan pelepasan norepinefrin dan meningkatkan aktivitas simpatis.
Mekanisme antihipertensi. Hambatan reseptor α1 menyebabkan vasodilatasi di arteriol dan venula sehingga menurunkan resistensi perifer. Di samping itu, venodilatasi menyebabkan aliran balik vena berkurang yang selanjutnya menurunkan curah jantung. Venodilatasi ini dapat menyebabkan hpotensi ortostatik terutama pada pemberian dosis awal (fenomena dosis pertama), menyebabkan refleks takikardia dan peningkatan aktivitas renin plasma. Pada pemakaian jangka panjang reflleks kompensasi ini akan hilang, sedangkan efek antihipertensi tetap bertahan.
α-bloker memiliki beberapa keunggulan antara lain efek positif terhadap lipid darah (menurunkan LDL, dan trigliserida, dan meningkatkan HDL) dan mengurangi resistensi insulin, sehingga cocok untuk pasien hipertensi dengan dislipidemia dan/atau DM. α-bloker juga sangat baik untuk pasien hipertensi dengan hipertrofi prostat, karena hambatan reseptor α1 akan merelaksasi otot polos prostat dan sfingter uretra sehingga mengurangi resistensi urin. Obat ini juga memperbaiki insufisiensi vaskular perifer, tidak diekskresi melalumengganggu fungsi jantung, tidak menganggu aliran darah ginjal dan tidak berinteraksi dengan AINS.

2.5.4.3 Adrenolitik Sentral
2.5.4.3.1 Metildopa
Mekanisme kerja
Merupakan pro-drug yang dalam SSP (sistem saraf pusat) menggantikan kedudukan DOPA dalam sintesis katekolamin dengan hasil akhir alphamethylnorepinephrine. Diduga lebih disebabkan oleh stimulus reseptor alpha 2 sentral sehingga mengruangi sinyal simpatis ke perifer. Methyldopa menurunkan resistensi vaskuler tanpa banyak mengruangi CO. Tetapi pada usia lanjut dilatasi vena, penurunan beban hulu dan penurunan frekuensi jantung dapat menyebabkan curah jantung menurun.tidak mempengaruhi alrina darah ginjal dan fungsi ginjal. Pada jangka panjang, sering terjadi retensi air sehingga efek anti hipertensinya makin berkurang yang dapat diatasi dengan pemberian diuretik.
Kinetik
Absorpsi melalui saluran cerna bervariasi dan tidak lengkap. Bioavailabilitas oral rata-rata 20-50%. Sekitar 50-70% diekskresi melalui urin dalam bentuk konjugasi dengan sulfat dan 25% dalam bentuk utuh. Waktu paruh obat sekitar 2 jam tapi efek puncak tercapai setelah 6-8 jam p.o. atau i.v. Efektifitas berlangsung sampai 24 jam. Kelambatan efek dikarenakan proses transpor ke SSP, konversinya menjadi metabolit aktif dan eliminasi yang lambat dari jaringan otak.
Efek samping
Sedasi, hipotensi postural, mulut kering, sakit kepala, depresi, gangguan tidur, impotensi kecemasan, penglihatan kabur, hidung tersumbat, kadang anemia hemolitik autoimun, trombositopenia, leukopenia, demam obat, dan sindrom seperti lupus dengan pembentukan antibodi antinukleus.

2.5.4.3.2 Klonidin
Terutama bekerja pada reseptor alpha 2, di susunan saraf pusat dengan efek penurunan sympathetic outflow. Efek hipotensi terjadi karena penurunan resistensi perifer, pnurunan tonus simpatis menyebabkan penurunan kontraktilitas dan frekuensi denyut jantung. Pada pengobatan jangka panjang CO kembali normal. Ada tendensi terjadinya hipotensi ortostatik. Secara klinis umumnya bersifat asimtomatik. Berkurangnya reflek simpatis juga mempermudah terjadinya hipotensi ortostatik.
Kinetik
Absorpsi oral langsung dan lengkap dengan bioavailabilitas mencapai 95%. Dapat diberikan secara transdermal dengan kadar plasma setara dengan pemberian p.o.. Waktu paruh 6-13 jam. Kira-kira 50% dieliminasi dalam bentuk utuh melalui urin. Kadar plasma meningkat pada usia lanjut dan gangguan fungsi ginjal.
Efek samping
Mulut kering, sedasi, pusing, mual, impotensi. Gejala ortostatik terjadi terutama karena depresi bila ada deplesi cairan. Efek sentral berupa mimpi buruk, cemas, dan depresi. Retensi cairan dan toleransi semu terjadi bila klonidin dipakai sebagai obat tunggal.

2.5.5 Penghambat saraf adrenergik
2.5.5.1 Reserpin
Terikat kuat pada vesikel di ujung saraf sentral dan perifer dan menghambat proses penyimpanan katekolamin ke dalam vesika. Selanjutnya MAO memecah katekolamin. Pemberian ini menurunkan CO dan resistensi perifer. Frekuensi denyut jantung dan sekresi renin menurun. Pemakaian jangka panjang sering terjadi retensi air dan menyebabkan pseudotoleransi, terutama bila tidak disertai pemberian diuretik.
Efek samping
Pada dosis yang dianjurkan (sampai 0,25 mg/hari) tidak banyak menimbulkan efek samping.
SSP: bersifat sentral seperti letargi, mimpi buruk, depresi mental di mana depresi mental dapat terjadi sewaktu-waktu. Tapi dapat juga terjadi pada dosis yang lebih rendah. Gejala depresi dapat bertahan lama setelah penghentian obat.
Reserpin menurunkan ambang kejang sehingga harus digunakan dengan hati-hati pada pasien epilepsi.

2.5.5.2 Guanetidin dan Guanadrel
2.5.5.2.1 Guanetidin
Bekerja pada neuron adrenergik perifer dan ditranspor aktif ke dalam vesikel saraf dan menggeser norepinefrin ke luar vesikel. Dalam dosis besar i.v. guanetidin menggeser NE ke dalam vesikel dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Pemberian p.o. menggeser NE perlahan-lahan dan terjadi degradasi oleh MAO sebelum mencapai sel-sel saraf sehingga tidak terjadi peningkatan tekanan darah. Menurunkan tekanan darah dengan menurnkan CO dan resistensi perifer. Retensi cairan terjadi sehingga efek antihipertensinya berkurang pada pemakaian jangka panjang. Untuk mengatasi, perlu dikombinasi dengan diuretik. Guanetidin digunakan pada hipertensi berat yang tidak responsif degnan obat lain.

2.5.5.2.2 Guanadrel
Mekanisme kerja, farmakodinamik, dan efek samping mirip guanitidin tetapi jarang menimbulkan diare.

2.5.6 Penghambat ganglion
2.5.6.1 Trimetafan
Kerjanya cepat dan singkat. Dan digunakan untuk menurunkan tekanan darah dengan segera seperti pada: (1) hipertensi darurat terutama aneurisme aorta disekan akut; (2) menghasilkan hipotensi yang terkendali seperti operasi besar.

2.5.7 Vasodilator
2.5.7.1 Hidralazin
Merelaksasi otot polos arteriol. Sedangkan otot polos vena hampir tidak dipengaruhi. Vasodilatasi yang terjadi menimbulkan reflek kompensasi yang kuat berupa peningkatan kekuatan dan frekuensi denyut jantung, peningkatan renin, dan NE plasma. Hidralazin menurunkan tekanan darah berbaring dan berdiri karena lebih selektif bekerja pada arteriol maka hidralazin sangat jarang menimbulkan hipotensi ortostatik.
Kinetik
Diabsorpsi denngan baik pada saluran cerna, tapi biovailabilitasnya relatif rendah (16% pada asetilator cepat dan 32% pada asetilator lambat) karena adanya metabolisme lintas pertama yang besar. Pada asetilator lambat dicapai kadar plasma yang tinggi, dengan efek samping yang lebih sering.
Efek samping
Sakit kepala, mual, flushing, hipotensi, takikardia, palpitasi, angina pektoris. Retensi air dan natrium disertai edema dapat dicegah dengan pemberian bersama diuretik. Efek samping lain adalah neuritis perifer, diskrasia darah, hepatotoksisitas dan kolangitis akut. Neuropati perifer dapat dikoreksi dengan pemberian piridoksin. Obat ini dikontraindikasikan pada hipertensi dengan PJK dan tidak dianjurkan pada pasien usia di atas 40 tahun.

2.5.7.2 Minoksidil
Obat ini bekerja dengan pemberian kanal kalium sensitif ATP dengan akibat terjadinya effluks kalium dan hiperpolarisasi membran yang dikuti oleh relami penaksasi otot polospembuluh darah dan vasodilatasi. Efeknya lebih kuat pada arteriol daripada vena. Obat ini menurunkan tekanan sistol dan diastol yang sebanding dengan tingginya tekanan darah awal. Efek hipotensifnya dikuti oleh reflek takikardia dan peningkatan curah jantung yang dapat meningkat 3-4 kali lipat.
Farmakokinetik
Minoksidil diserap dengan baik pada pemberian per oral. Bioavabilitas mencapai 90% dan kadar puncak plasma tercapai dalam 1 jam. Obat ini merupakan prodrug yang harus mengalami penambahan gugus sulfat sebelum aktif sebagai vasodilatator.
Efek samping
Retensi cairan dan garam, efek samping kardiovaskular karena reflek simpatis dan hipertrikosis adalah efek samping yang utama. Selain itu dapat terjadi gangguan toleransi glukosa dengan tendensi hiperglikemia; sakit kepala, mual, erupsi obat, rasa lelah, dan nyeri tekan dada. Retensi cairan dapat diatasi dengan ppemberian diuretik.

 2.5.7.3 Diazoksid
Obat ini merupakan derivat benzotiadiazid dengan struktur mirip tiazid, tapi tidak memiliki efek diuresis. Mekanisme kerja, farmakodinamik, dan efek samping mirip dengan minoksidil.
Efek samping
Retensi cairan dan hiperglikemi merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Efek samping hiperglikemi terjadi karen hambatan sekresi insulindari sel-sel β pankreas akibat stimulasi kanal kalium sensitif ATP. Respon tubuh terhadap pemberin insulin tidak dipengaruhi. Obat ini menyebabkan relaksasi uterus sehingga menggangu proses kelahiran bila digunakan pada eklampsia. Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi hipertrikosis.

2.5.7.4 Natrium Nitroprusid
Mekanisme kerja. Natrium nitroprusid merupakan donor NO yang bekerja dengan mengaktifkan guanilat siklase dan meningkatkan konversi GTP menjadi GMP siklik pada otot polos pembuluh darah. Selanjutnya terjadi penurunan kalsium intrasel dengan efek akhir vasodilatasi arteriol dan venola. Denyut jantung meningkat karena refleks simpatik, namun curah jantung tidak banyak berubah karena efek venodilatasi menurunkan beban hulu.

2.5.8 ACE inhibitor
2.5.8.1 Captopril
Efek peniadaan pembentukan AT II adalah vasodilatasi dan berkurangnya retensi garam dan air. Zat ini tidak menimbulkan edema atau refleks takikardi. Captopril digunakan untuk hipertensi ringan sampai berat dan pada dekompensasi jantung. Diuretik memperkuat efeknya, kombinasinya dengan beta blocker hanya menghasilkan adisi.
Kinetik
Resorpsi dari usus cepat untuk ca 75% efeknya sudah maksimal setelah 1,5 jam.dan bertahan 12-24 jam tergantung pada dosis. PP-nya 25-30%, plasma t1/2 2-3 jam. Ekskresi lewat kemih, setengahnya sebagai metabolit inaktif dan setengahnya utuh.
Efek samping
Hilangnya rasa, batuk kering, exanthema. Indometasin dan NSAID lainnya dapat menghilangkan efek obat ini.

2.5.8.2 Enalapril
Merupakan derivat prolin tetapi tanpa gugusan C-S. Khasiat dan penggunaannya sama dengan captopril. Resorpsi prodrug ini dari usus cepat sampai ca 60%. Dalam hepar, dihidrolisis menjadi enalaprilat aktif dengan PP ca 55% dan T½nya ca 11 jam. Efek maksimal setelah 4-6 jam dan bertahan lebih kurang 24 jam. Ekskresi melalui kemih dan sebagian dalam bentuk utuh.
Efek samping
Tidak menimbulkan hilangnya rasa (tanpa -CS) efeknya tidak dipengaruhi oleh NSAID.

2.5.9 Ca antagonis
2.5.9.1 Diltiazem
Derivat 1,5 benzothiazepine ini dibandingkan dengan dengan rumus tranquilizer sama penggunaannya dengan verapamil. Ada kalanya juga menggunakan pada angina instabil dan merupakan obat primer dan obat pilihan kedua untuk angina stabil. Juga digunakan sebagai obat antiaritmia kelas IV. Permulaan dan penghentian pengobatan harus berangsur dengan menghindarkan efek sampingnya. Resorpsinya dari usus lebih dari 90% tetapi BA-nya hanyaa ca 40% karena FPE tinggi. PPnya ca 80%, plasma T½nya 4-8 jam. Ekskresinya berlangsung lewat tinja (65%) sebagai metabolit (termasuk desazetil diltiazem aktif) dan secara utuh lewat kemih. Efek sampingnya mirip verapamil.

2.5.9.2 Nifedipin
Khasiat utama adalah vasodilatasi, maka terutama digunakan pada hipertensi esensial (ringan atau sedang) juga pada angina varian berdasarkan efek terhadap jantung yang relatif ringan: tak berkhasiat inotropik negatif. Pada angina stabil, hanya digunakan bila beta blocker dikontraindikasi atau kurang efektif. Resorpsinya dari usus baik (90%) tetapi BA-nya hanya rata-rata 60% karena FPE tinggi. Mulai kerja kapsul dalam 20 menit dan bertahan 1-2 jam. Efek samping: edema pergelangan kaki (10%),  dosis awal yang terlampau tinggi dapat memprovokasi angina akibat hipotensi kuat mendadak, sporadis, malah ischemia dan infark akibat refleks takikardi terutama pada lansia.

2.5.9.3 Verapamil
Senyawa amin alifatis ini dengan kelompok nitril digunakan pada angina varian dan stabil. Juga pada aritmia. Verapamil juga efektif pada hipertensi ringan sampai sedang dan mencegah reinfark setelah serangan jantung jika ada kontraindikasi bagi beta blocker. Kombinasinya dengan obat-obat lain yang bekerja kardiosupresif atau menghambat pembentukan atau penyaluran rangsangan harus dielakkan. Resorpsi dari usus ca 90% dengan BA lebih kurang 43%, berhubung FPE besar, PP-nya lebih kurang 90%. Plasma T ½ nya 4,5-12 jam. Di dalam hepar, zat ini dirombak lebih kurang 12 metabolit yang diekskresikan lewat kemih dan tinja. Efek samping hipotensi, bradikardi, insufisiensi jantung, obstipasi. Jarang AV blokade, nyeri kepala, edema, dan efek umum lainnya.

2.5.10 Antagonis Aldosteron
Pada hipertensi, peranan aldosteron adalah meningkatkan reabsorpsi natrium dan kalium pada ginjal. Antagonis aldosteron merupakan diuretik hemat kalium dan bisa digunakan sebagai terapi hipertensi, mekanisme kerjanya adalah penghambatan kompetitif aldosteron. Sehingga dengan dihambatnya aldosteron, reabsorpsi natrium dan kalium di hilir tubuli distal dan duktus koligentes dikurangi, dengan demikian ekskresi kalium juga dapat dikurangi. Contoh preparat antagonis aldosteron adalah spironolactone.

Spironolactone
Farmakokinetik : Spironolactone adalah steroid sintetis yang bekerja sebagai kompetitif inhibitor pada aldosteron. Onset of action dan duration of action dari target ini sangat tergantung dari kinetika aldosteron di target jaringan. Sedangkan inaktivasi dari Spironolactone terjadi di liver. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Spironolactone memiliki onset of action yang lama. 70% Spironolactone peroral diabsorpsi saluran cerna mengalami siklus enterohepatik dan metabolisme lintas pertama.
Indikasi pemakaian :
a.         Pada pasien dengan hiperurisemia, hipokalemia dan intoleransi glukosa.
b.         Gagal jantung kongestif.
c.         Cirrhosis hati.
d.         Hipertensi.
Efek samping :
a.         Hiperkalemia. (Biasanya di kombinasi dengan tiazid untuk meminimalkan hipokalemia)
b.         Perdarahan perut dan duodenum.
c.         Ginekomastia.
d.         Ataksia, disfungsi ereksi, kulit kemerahan.
e.         Karsinogenic (Dalam tahap percobaan pada tikus).

2.6 Diabetes mellitus
Diabetes mellitus adalah suatu sindroma klinik yang ditandai oleh poliuri, polidipsi, disertai peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (glukosa puasa ≥126 mg/dL atau postprandial ≥200 mg/dL atau glukosa sewaktu ≥200mg). Bila DM tidak segera diatasi akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan protein, dan resiko timbulnya gangguan mikrovaskular meningkat, seperti hipertensi.
Hiperglisemi pada DM dapat timbul akibat berkurangnya insulin sehingga glukosa darah tidak dapat masuk ke sel-sel otot, jaringan adiposa atau hepar dan metabolismenya juga terganggu. Sebenarnya hiperglikemia sendiri relatif tidak berbahaya, kecuali bila hebat sekali hingga darah menjadi hiperosmotik terhadap cairan intrasel. Yang berbahaya ialah glikosuria yang timbul, karena glukosa bersifat diuretik osmotik, sehingga diuresis sangat meningkat disertai hilangnya elektrolit. Hal ini yang menyebabkan dehidrasi dan timbul gejala hipertensi.
Pada DM defisiensi insulin menyebabkan hambatan transpor amino ke dalam sel, glukoneogenesis bertambah, lipolisis bertambah dan terjadilah imbangan nitrogen negatif. Hal ini menambah lagi turunnya berat badan pasien DM. Badan kehilangan 4 kalori untuk setiap gram glukosa yang disekresi.

Read More