Showing posts with label paud. Show all posts
Showing posts with label paud. Show all posts

PENGETAHUAN

Notoatmodjo ( 2003 ) mendefinisikan pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan perabaan. Dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Hanya sedikit yang diperoleh melalui penciuman, perasaan, dan perabaan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam bentuk tindakan seseorang (overt behavior).

Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif terdapat 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu (Know)
Tahu dapat diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kehamilan.

2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan sejak dini.

3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real ( sebenarnya ). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.


5. Sintetis (Synthetis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya (Notoatmodjo, 2003).



SIKAP


Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2003).

Sikap juga merupakan evaluasi atau reaksi perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu (Azwar, 2003).

Komponen Pokok Sikap (Notoatmodjo, 2003)
Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga componen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam Penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

Berbagai Tingkatan Sikap yakni : (Notoatmodjo, 2003)

1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya : sikap ibu hamil terhadap pemeriksaan kehamilan dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap penyuluhan tentang pentingya memeriksakan kehamilan sejak dini.

2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan meyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya : seorang ibu hamil yang mengajak ibu hamil yang lain ( tetangganya, saudaranya, dan sebagainya ) untuk pergi memeriksakan kehamilan ke puskesmas adalah bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap pemeriksaan kehamilan.

4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya, seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.
Read More

Struktur Pengendalian Intern

Struktur pengendalian intern sebagai suatu tipe pengawasan diperlukan karena adanya keharusan untuk mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab dalam suatu organisasi. Seorang manajer/pemilik perusahaan yang merasa tidak memiliki cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola sendiri semua kegiatan perusahaannya, akan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya kepada orang lain. Tetapi bersamaan dengan atau segera setelah pemilik perusahaan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya, pada saat itu pula dirasakan suatu kebutuhan untuk senantiasa mengawasi pelaksanaan kegiatan dan hasil-hasil yang dicapai oleh para fungsionaris tersebut.
Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (2001:319.2) pengendalian intern sebagai suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan berikut ini : (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Menurut Alvin A.Arens, Radal J.Elder, Mark S.Beasly dalam buku berjudul Auditing dan Pelayanan Verifikasi (2004:396) bahwa suatu sistem pengendalian internal terdiri dari kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk
memberikan manajemen jaminan yang wajar bahwa perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya. Kebijakan dan prosedur ini sering disebut pengendalian, dan secara kolektif mereka meringkas pengendalian internal entitas itu.
Mulyadi dalam bukunya :sistem Akuntansi” (1997:165) memberikan definisi mengenai sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Read More

rumah sehat ada dalam tiga aspek penting


Rumah yang baik tidak harus kokoh dan kuat tapi juga harus memenuhi kriteria kesehatan. Rumah mewah nan indah pun kurang bisa memberikan manfaat jika aspek-aspek kesehatan tidak diperhatikan. Bukannya menjadi nyaman, rumah justru menjadi tempat berkembangnya jamur dan bakteri yang membahayakan kesehatan keluarga. Lalu seperti apa rumah sehat itu???
Sebenarnya rumah sehat ada dalam tiga aspek penting. Dan jika tiga aspek tersebut terpenuhi, rumah sudah bisa dikatakan sehat.
Tiga aspek sebagai tips bangun rumah sehat yaitu:
1.    Sirkulasi udara
Sirkulasi udara sangat menentukan sehat tidaknya rumah. Hal ini harus dipikirkan baik-baik saat mendesain rumah. Jangan sampai rumah menjadi pengap dan lembab yang akan memicu jamur tumbuh lebih cepat selain itu penyakit saluran pernafasan juga akan mengintai keluarga
2.    Pencahayaan
Rumah dengan pencahayaan yang kurang akan terlihat redup. Sama halnya  dengan kurangnya sirkulasi udara, tidak ada pencahayaan juga memicu tumbuhnya jamur juga kelelahan mata.
Beberapa alternatif untuk memastikan kualitas pencahayaan dalam rumah adalah melalui jendela yang lebar, penggunaan genteng kaca, atau aplikasi konsep bukaan atap
3.    Penggunaan air
Penggunaan air merupakan tips bangun rumah sehat. Air yang kotor akan memicu tumbuhnya penyakit. Jadi harus dipastikan kualitas dan kelancaran saluran.

Nah..dengan menerapkan tips tersebut rumah sudah bisa dikatakan sehat. Tetapi tidak lepas juga dari perilaku penghuninya.
Read More

Model atau metode transportasi

Model atau metode transportasi merupakan pengembangan dari linear
programming. Model transportasi ini pertama kali diperkenalkan oleh
Hitchcock pada tahun 1941 dan secara terpisah Koopmans juga
memperkenalkannya pada tahun 1947 (Stougie, 2002).

Model ini digunakan untuk mengatur distribusi barang atau produk atau
beban dari titik-titik sumber (origin) ke beberapa tempat titik tujuan
(destination) sedemikian rupa sehingga permintaan atau kebutuhan atau daya
tampung barang (beban) beberapa tempat tujuan tadi dapat dipenuhi dari

beberapa titik asal (sumber).

Alokasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan biaya angkut (transportation cost) tiap unit barang atau
beban dari titik asal ke titik tujuan yang besarnya bervariasi karena faktor
jarak dan kondisi antarlokasi yang berlainan.



Sebelum menggunakan model transportasi maka harus diketahui hal-hal
berikut :
1. titik asal dan kapasitas pasokan (supply) barang (beban) pada setiap
periode
2. titik tujuan dan kapasitas permintaan (demand) atau daya tampung beban
(barang) setiap periode
3. biaya pengangkutan satu unit barang (beban) dari setiap titik asal ke setiap
titik tujuan.

Langkah pertama dalam proses pemodelan adalah membuat matriks
transportasi yang berbentuk tabel yang menunjukkan sisi penawaran (titik
asal) dan sisi permintaan (titik tujuan), kapasitas penawaran (pasokan) dan
jumlah permintaan (daya tampung), serta biaya transportasi dari masing-
masing sumber ke masing-masing tujuan
Dalam bentuk matematika, permasalahan transportasi itu dapat dirumuskan
sebagai berikut (Eddy Herjanto, 2004; Taylor III, 2005) :




10




Fungsi tujuan




: Min. Z = Σ Σ cij.Xij …………………..(II.1)


dengan pembatasan : Σ Xij ≤ si

Σ Xij ≤ dj

(i = 1,2,3,….,m dan j = 1,2,3,…,n)


dimana


Z :
Xij :


cij :


si :
dj :


m :


total biaya transportasi
jumlah barang (beban) yang didistribusikan dari
titik asal i ke titik tujuan j
biaya angkut per unit barang (beban) dari titik asal i
ke titik tujuan j
kapasitas pasokan dari titik asal i
banyaknya kebutuhan (daya tampung) barang
(beban) di tempat tujuan j
jumlah titik asal

n

:

jumlah titik tujuan




c. Metode-metode alokasi untuk menentukan solusi distribusi

Setelah data disusun dalam bentuk tabel, suatu solusi awal yang layak bagi
permasalahan tersebut harus ditetapkan. Sejumlah metode yang berbeda telah
dikembangkan untuk langkah ini, antara lain (Eddy Herjanto, 2004; Heizer &
Render, 2005; Nagi, 2001; Sri Mulyono, 1991):

1. Northwest-Corner Rule (NWCR)

2. Intuitive Method atau The Least Cost Method

3. The Stepping Stone Method

4. Vogel’s Approximation Method (VAM)

5. Modified Distribution Method (MODI)
Read More

Logam Zn

Seng adalah logam yang berwarna putih kebiruan, dan disimbolkan dengan Zn.
Logam ini termasuk ke dalam kelompok logam-logam golongan II-B dalam tabel
periodik unsur kimia, mempunyai nomor atom 30 dan berat atom 65,38.

Mineral yang umum adalah ZnS. Mineral lainnya adalah kompleks produk –oksi dan
garam-garam serta silikat (walaupun jumlahnya lebih sedikit). Mineral-mineral
dalam tanah liat juga dapat menyerap Zn (Allen, 1989).


11
Sebagi kofaktor, Zn dapat mengakibatkan keaktifan enzim lainnya. Kekurangan zat
mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan terjadi gejala
gizi besi. Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi setiap anak diatas 11
tahun (Winarno, 1988).
Sebagi kofaktor, Zn dapat mengakibatkan keaktifan enzim lainnya. Kekurangan zat
mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan terjadi gejala
gizi besi. Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi setiap anak diatas 11
tahun (Winarno, 1988).

Dalam tubuh manusia terkandung 1,4 – 2,5 gram seng, terutama terdapat pada
rambut, tulang dan mata. Seng merupakan komponen penting dari berbagai enzim
dan mineral mikro yang menyebar ke dalam jaringan manusia atau hewan dan terlibat
dalam fungsi berbagai enzim pada proses metabolisme. Paling sedikit 15—20
metallo-enzim yang mengandung seng telah diisolasi dan dimurnikan. Salah satunya
adalah karbonat anhidrase yang terdapat dalam sel darah merah.

Disamping itu seng juga terdapat dalam karboksi peptidase dan dehidrogenase dalam
hati. Sebagai kofaktor, seng dapat meningkatkan keaktifan enzim lainnya.
Kekurangan zat mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan
terjadi gejala anemia gizi besi. Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi
setiap anak diatas usia 11 tahun (Winarno, 1988).

2.3 Akumulasi logam berat pada tanaman
Logam berat yang masuk kedalam tanah akan menyebar, terutama ke fase larutan dan
fase padatan tanah. Bila sejumlah logam berat masuk kedalam tanah, sebagian akan
larut dalam air tanah dan sebagian lagi akan mengendap atau teradsorpsi. Sebagian
logam berat didalam tanah merupakan unsur hara mikro, yaitu unsur hara yang
dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro dalam kelompok logam


berat berperan penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman (Salam, 1997).

Tanaman mapu menyerap dan mengakumulasikan logam-logam yang ada baik dari
tanah melalui sistem perakarannya maupun dari udara melalui daun-daunnya.
Akumulasi yang berlebihan dari logam berat menyebabkan penurunan produktifitas
tanaman. Tanaman menyerap mineral nutrisi dari dalam tanah melalui akar untuk
kelangsungan prose metabolisme, bersamaan dengan itu apabila terdapat logam berat
dalam tanah akan terserap juga oleh akar dan masuk ke dalam jaringan.

Penyerapan logam berat sangat dipengaruhi oleh konsentrasi logam berat dalam
larutan tanah dan penyebaran logam berat dalam jaringan tumbuhan. Akar tanaman
secara langsung dapat menyerap logam berat larut, khususnya kation logam berat
bebas. Fraksi logam berat lainnya, seperti ion kompleks dan padatan mineral dapat
terserap akar tanaman secara tidak langsung setelah terlebih dahulu dibebaskan
sebagai kation bebas. Dengan demikian, seluruh logam berat di dalam tanah pada
dasarnya akan dapat diserap oleh akar tanaman (Salam AK, 1997).

Konsentrasi logam berat di dalam jaringan tanaman pada umumnya rendah. Dalam
jangka panjang akumulasi logam berat yang berasal dari tumbuhan, di dalam jaringan
tubuh manusia dapat mengakibatkan pengaruh negatif bagi kesehatan.

Seringkali beberapa unsur dapat mencapai konsentrasi toksik (yang dapat menimbulkan
racun) di dalam tanah seperti Cu dan Zn. Bijih dari logam ini terdapat di alam,
kadang-kadang di celah batuan, dan konsentrasinya bisa tinggi sekali (A.H. Filter R.K.M. Hay, 1991).
Read More

3. Perluasan Kosakata

Setiap orang perlu memperluas kosakatanya, perlu mengetahui sebanyak-banyaknya peerbendaharaan kata dalam setiap bahasanya. Menurut Keraf (2000: 65), perluasan kosakata ada 3 macam tingkatan usia, yaitu :

a. Masa kanak-kanak (Usia 0-6 thn)
Perluasan kosakata pada anak-anak lebih ditekankan pada kesanggupan untuk nomina untuk menyebutkan kata-kata secara lepas. Semakin dewasa keinginan untuk mengetahui nama barang-barang yang ada disekitarnya semakin benar. Ia ingin mengetahui kata-kata bagi kebutuhan pokoknya : makan, minum, nama-nam bagian tubuh, menyebutkan anggota keluarga. Ia ingin mengetahui bagaimana menyebutkan bagian-bagian rumah, dan semua yang ada di sekitarnya atau pernah dilihatnya.

b. Masa Remaja (usia 12-16 thn)
Pada waktu anak menginjak bangku sekolah, proses kemampuan membaca permulaanberjalan terus, ditambah dengan proses yang sengaja diadakan untuk menguasai bahasanya dan memperluas kosakatanya. Proses yang sengaja diadakan ini, disudut proses belajar, baik melalui pelajaran bahasa maupun melalui mata pelajaran lainnya. Dalam mata pelajaran non bahasa diberikan juga bermacam-macam pengertian dan istilah walaupun lambat tetapi pasti tetap melangkah maju. Proses ini berlangsung mulai dari sekolah dasar terus ke sekolah lanjutan. Sebaliknya, proses yang lama seperti yang berlangsung pada masa kanak- Bila tadinya hanya berkenalan dengan lingkungan keluarga terdekat, maka sekarang ia sudah melangkah lebih jauh mengenal orang-orang sekitarnya, orang-orang sedesa atau sekampung, orang-orang sekota, sehimpunan dan sebagainya. Semua proses ini akan disertai proses perluasan kosakata tentang berbagai hal yang baru dialaminya.

c. Masa Dewasa (usia 17 thn keatas)
Pada seseorang yang meningkat dewasa, proses perluasan kosakata berjalan lebih insentif karena sebagai seorang yang dianggap matang dalam masyarakat, ia harus mengetahui berbagai hal, macam-macam keahlian dan ketrampilan, dan harus pula berkomunikasi dengan anggota masyarakatnya mengenai semua hal. Di dunia modern, proses perluasan kosakata melalui belajar dilanjutkan dengan pendidikan di dunia perguruan tinggi, yang mengintensifikasikan pengetahuan seseorang dalam bidang tertentu, khususnya tentang masalah-masalah yang lebih abstrak. Pada sekolah lanjutan proses abstraksi juga sudah dimulai, namun belum seberapa. Di perguruan tinggi , dapat dikatakan seseorang betul-betul ditempa menjadi manusia yang matang untuk masyarakat. Pengetahuan teroritis di bangku sekolah kemudian dimatangkan lagi melalui pengalaman-pengalaman dengan bertukar pikiran dan berkomunikasi dengan anggota masyarakat lainnya.
Read More