Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

ORANG BERIMAN


>alif laam miim* Kitab (al qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi yang bertaqwa* (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat, dan yang menafkakan sebagian rizqi yang Kami anugrahkan kepada mereka* dan mereka yang beriman kepada kitab (al qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin adanya (kehidupan) akhirat* mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung

>Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar an sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar*dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya* dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berkanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar* (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan "innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji'uun* mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

>Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman . Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizqi kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas

>Rosul telah beriman kepada Al qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rosul-rosulNya, dan mereka mengatakan " Kami dengar dan kami ta'at" (mereka berdoa) "ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali"* Allah tidak membebani seseorang melaikan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatannya) yang dikerjakannya. (mereka berdoa) " ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebenkan kepada kami beban yang berat sebagaiman Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (al baqoroh)

>Allah menyatakan bahwasana tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melaikan Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana* sesungguhnya agama (yang diridloi) disisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya* kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah "aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku" dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi al kitab dan kepada orang-orang yang ummi "apakah kamu (mau) masuk islam" Jika mereka masuk islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah maha melihat akan hamba-hambaNya

>katakanlah "jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" Allah maha pengampun lagi maha penyayang* katakanlah "taatilah Allah dan rosulNya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"

>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melaiknkan dalam keadan beragama isalam,* dan berpegang teguhlah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kum dahulu (masa jahiliyah) bermusuhmusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk

>Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah sekiranya ahlikitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik* mereka sekali-kali tidak akan apat membuat mudhorot kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapat pertolongan

>dan taatilah Allah dan rosul, supaya kamu diberi rahmat*. dan bersegerahlah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa* (yaitu) orang-orang yang menafkakan (hartanya), baik diwaktu lapang atau sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan* dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau aniyaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui* mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahal;a orang-orang yang beramal* sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnha-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rosul-rosul)* Al qur'an ini adalah penerang bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa* janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (ali imron)

>hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil, janaganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karen adil itu lebih dekat dengan taqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.* Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.* Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.* Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni'mat Allah (yang diberikanNya) kepadamu, di waktu suatu kaum hendak menggerakkkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka ari kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu'min itu harus bertawakkal. (al maidah)

>ailf laam miim shood* Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengankitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman* ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya, amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)

>Jadilah engkau pemah dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpaling daripada orang-orang yang bodoh* dan jika ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, senungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui* Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya* dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalammenyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (meneyesatkan). (al a'raaf)

>Sesungguhnya orang-orang yangberiman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, adan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenya) dan kepada Tuhannya lah mereka bertawakkal,* (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkakan sebagian dari rizqi yang Kami berikan keada mereka* itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinbggian disisi TuhanNya dan ampunan serta rizqi (ni'mat) yang mulia

>hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)* Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya

>dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Dialah yang maha mendengar lagi maha menegetahui* dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka cukuplah Allah (menjadi penolongmu) Dialah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para mu'min

>Hai nabi, kobarkanlah semangat paramu'min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan duaratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (al anfaal)

>Dan orang-orang ang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (menegerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zaka, dan mereka taat kepada Allah dan rosulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana. (at taubah)

>serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dab dialahyang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk* dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan si8ksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar. (an nahl)

>dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya ata kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia* dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah "wahai Tuhanku, kasihinilah mereka duanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil"* Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, mmaka sesungguhnya Dia maha pengampun bagi kamu orang-orang yang bertaubat* dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros* sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya* dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucaan yang pantas* dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menguurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal* sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizqi kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha melihat akan hamba-hambaNya* dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar* dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk* dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (alasan) yang benar dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh, sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan* dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa'at) sampai ia dewasa dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya* dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar, itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya* dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya* dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguh ya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (al israa')

>maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang* dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal* dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjkannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu, Kamilah yang memberi rizqi kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (thaahaa)

>Sesungguhnya Allah membela kamu orang-orang yang telah beriman, sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni'mat* telah diizinkan (berperang) bagi kamu orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiyaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar maha kuasa menolong mereka itu* (yaitu) kamu orang-orang yang telah diusir dari kampug halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata "Tuhan kami hanyalah Allah" dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah oarang yahudi dan masjid-masjid yang didalanya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya, sesungguhnya Allah benar-benar maha kuat lagi maha perkasa.* (yaitu) kamu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allahlah kembali segala urusan. (al hajj)

>Sesungguhnya beruntunglah kamu orang-orang yang beriman* (yaitu) kamu orang-orang yang khusuk dalam shalatnya* dan kamu orang-orang yang menjauhkan diri (dari perbuata dan perkataan) yang tiada berguna* dan kamu orang-orang yang menunaikan zakat* dan orang-orang yang menjaga kemaluannya* kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka maka dalam hal ini tiada tercela* barang siapa yang mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas* dan kamu orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya* dan kamu orang-orang yang memelihara sholatnya* mereka itulah kamu orang-orang yang akan mewarisi* (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya. (al mu'minuun)

>bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimulyakan dan disebut namaNya didalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang* laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tiak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang* (mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizqi kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas. (an nuur)

>dan hamba-hamba Tuhan yang maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalandiatas bumi dengan rendah hatidan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik* dan orang y6ang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka* dan orang-orang yang berkata "ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal"* sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman* dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian* dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang bena, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)* (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina* kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan, dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang* dan oarang bertaubat dan mengerjakan amal sholeh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya* dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu denagn (orang-orang ) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya* dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta* dan orang-orang yang berkata "ya Tuhan kami, anuhgerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa* mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya. (al furqon)

> Thaa Siin, (surat) ini adalah ayat-ayat Al qur'an dan (ayat-ayat) kitab yang menjelaskan* untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk oarang-orang yang beriman* (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat* sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan)* mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia)azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang merugi. (an naml)

>dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia, dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata "kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka"* denikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami* maka bersabarlah kamu sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah Vyang tidak menyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (ar ruum)

>dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Lukman, yaitu "bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah maha kaya lagi maha terpuji"* dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya "hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"* dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kedua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu*dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian kepadaKulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan* (Luqman berkata) "hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji saw, dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mambalasinya) sesungguhnya Allah maha halus lagi maha menegetaui* hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)* dan janganlah kamu memaqlingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri* dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman)

>Hai nabi, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keringinan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, sesungguhnya Allah adalah maha menegtahui lagi maha bijaksana* dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu, sesungguhnya Allah adalah maha menegetahui apa yang kamu kerjakan* dan bertaqwalah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai pemelihara

>sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah meneyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar* dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'mn dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan rosulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rosulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (al ahzab)

>dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizqi dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. (az zumar)

>Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizinNya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya dan mudah-mudahan kamu bersyuur* dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir* katakanlah pada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang mereka kerjakan* barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (al jaatsiyah)

>hai orang-orang yangbberiman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad)

>hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkn kamu menyesal atasperbuatanmu itu.

>hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolokkkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-ngolokkkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (mengolok-ngolokkkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangnlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim* hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang. (al hujuraat)

>tidakkah kamu perhaikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka, dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui* Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan* mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah, karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan* harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. (al mujadilah)

hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuyk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan* dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik* tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung* kalau sekiranya Kami menurunkan Al qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. dan pereumpamaan-perumpamaan itu Kami buat manusia supaya mereka berfikir. (al hasyr)

>sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar* dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia maha mengetahui segala isi hati* apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) dan Dia maha Halus lagi maha mengetahui?* Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah dari sebagian dari rizqiNya dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.(al mulk)

>maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah),* maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)* dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina*, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah* yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa* yang kaku kasar, selai dari itu, yang terkenal kejahatannya,* karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak* apabila dibacakankepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata "(ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala"* kelak akan Kami beri tanda dia dibelalai(nya). (al qalam)

>apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?(al qiyamah)

>sesungguhnya Al qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)* yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah yang mempunyai Asry* yang ditaati disana (di alam malaikat)lagi dipercaya* dan temanmu (Muhammad) itu bukan sekali-kali orang gila* dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril diufuk yang terang* dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk meneranglan yang ghoib* dan Al qur'an itu bukan perkataan syaitan yang terkutuk* maka kemanakah kamu pergi?* (at takwiir)

>sesungguhnya Al qur'an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang bathil* dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau* sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenarnya* dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya* (ath thaariq)

>bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan* Dia menciptakan manusia dari segumpal darah* bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah* yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam* Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (al 'alaq)

>Demi masa* sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian* kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (al ashr)

>tahukahkamu (orang) yang mendustakan agama?* itulah orang yang menghardik anak yatim* dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin* maka celakalah orang-orang yang shalat* (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya* orang-orang yang berbuat riya'* dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (al maa'uun)

>sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak* maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah* sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (al kautsar)

>katakanlah "hai orang-orang yang kafir* aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah* dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah* dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah* dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah* untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. (al kaafiruun)

>katakanlah "Dialah Allah, yang maha esa* Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu* Dia tiada beranak dan tiadapula diperanakkan* dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (al ikhlash)(Al qur'an dan terjemahannya)
Read More

Penulisan Kata

5. Penulisan Kata

5.1. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
- Adik sedang makan nasi
- Buku itu sangat tebal

5.2. Kata Turunan
a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasrnya.
- diperpanjang
- mempermainkan

b. Kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran,  kata-kata itu ditulis serangkai.
- diberitahukan
- mempertanggungjawabkan

c. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
- Purnawirawan - dasawarsa
- Tunanetra - pramuniaga


Catatan :
Jika bentuk terikat tersebut diikuti kata yang huruf awalnya huruf besar, di antara kedua unsure itu ditulis tanda hubung ( - ).
- non-Indonesia
- pan-Amerika




d. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
- bertanggung jawab
- dilipat dua

5.3. Kata Ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung ( - )
- anak-anak - ramah-tamah
- laba-laba - mondar-mandir

5.4. Gabungan Kata
(1) Gabungan kata atau kata majemuk, termasuk istilah khusus unsure-unsurnya ditulis terpisah.
- duta besar - kambing hitam
- mata pelajaran - rumah sakit umum
(2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah pengertian, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsure yang bersangkutan.
- alat pandang-dengar
- mesin-hitung
- bapak-ibu
(3) Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata, ditulis serangkai.
- apabila - barangkali
- bumiputera - kacamata



5.5. Kata Depan
Kata depan (di, ke, dari) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
- Murid duduk di bangku.
- Ia ikut terjun ke tengah lapangan.
- Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.

5.6. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
- Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
- Si Kumbang adalah harimau yang lincah.

5.7. Kata Ganti ku, kau, mu dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
- Apa yang kumiliki boleh kauambil.
- Bajuku, bajumu, dan bajunya tersimpan di almari.

5.8. Partikel
(1) Partikel lah, tah, dan kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
- Bacalah buku itu baik-baik.
- Siapakah gerangan dia ?
(2) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
- Apa pun yang dimakannya, dia tetap kurus.
- Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
5.9. Singkatan dan Akronim
Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
(1) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
- A.S. Kramawijaya
- Muh. Yamin
- M.B.A.
- M.Sc.
- Sdr.
(2) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata, ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titi.
- DPR
- PGRi
- GBHN
- KTP
(3) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih, diikuti satu tanda titik.
- dll.
- dsb.
- dst.
- hlm.
(4) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
- TNT = trinitrotoluene Rp = rupiah
- cm = sentimeter Cu = kuprum
- kg = kilogram l = liter

Akronim ialah singkatan  yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

(1) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
- ABRI = Angkatan Bersenjara Republik Indo.
- LAN = Lembaga Administrasi Negara
- IKIP = Institut Keguruan & Ilmu Penddidikan

(2) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis  dengan huruf awal huruf kapital.
- Akabri = Akademi Angkatan Bersenjata
                    Republik Indonesia
- Bappenas = Badan Perencanaan Pemba-
                        ngunan Nasional
- Iwapi = Ikatan Wanita Pengusaha Indo.

(3) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, seluruhnya ditulis  dengan huruf kecil.
- pemilu = pemilihan umum
- rapim = rapat pimpinan
- tilang = bukti pelanggaran
- rudal = peluru kendali

Read More

bahasa Arab

Istilah “bahasa” dalam bahasa Indonesia sama “lughatul” (لغة ) dalam bahasa Arab, dalam bahasa Inggris disebut “language” dalam bahasa Jerman “Sprach”, dalam bahasa Jerman“space”, dalam bahasa Prancis “Langul”, dalam bahasa Belanda “teal”, dalam bahasa Jepang “Kakogo”, dan dalam bahasa Sansakerta disebut “Bhasa” (Asadullah, 1995:4).
Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan arti bahasa yaitu antara lain:
a. Sistem buyi berartukulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang bersifat sewenag-wenang dan konfersional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
b. Perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku/ bangsa/bangsa, negara dan daerah).
c. Percakapan (perkataan) yang baik sopan santun, tingkah laku yang baik budinya (Poerwadarminta, 1998:66).

Jika kita teliti dalam buku bahasa Arab beberapa definisi yang diperoleh, misalnya bahasa adalah suara yang digunakan oleh setiap bangsa untuk menggunakan (mengekpresikan) maksud tujuan mereka.
Dengan demikian, maka bahasalah yang mengenal individu-individu dalam masyarakat manusia, bahasalah yang menyatakan cita-cita dan tujuan mereka dalam hidup, kemudian bahasa itu merupakan faktor efektif dalam perkembangan dan kemajuan suatu masyarakat karena bahasa itu dadalah cermin yang bersih yang mana menentukan gambar sebenarnya mengenai kehidupan manusia. Dengan kata lain bahwa bahasa atau melalui bahasa kita dapat mengetahui tingkat alam, pikiran suatu umat atau bahasa, dnegn bangsa kita dapat mengetahui tingkat kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa.


2. Bahasa Arab
a. Pengertian Bahasa Arab
Al-Ghalayaini memberi definisi bahasa Arab sebagai berikut:
اللغة العربية هي الكلمات التي يعبر بها العرب عن اعرا ضهم.
Artinya : Bahasa Arab adalah ungkapan yang telah dipergunakan oleh bangsa Arab untuk menyatakan maksud dan tujuan mereka (Mustafa Al-Ghalani, 1978:7).
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab yang dipergunakan oleh orang Arab yang terpelajar, pembicaraan resmi, dalam diskusi tulisan-tulisan buku dan bahasa hubungan internasional.
Berkaitan dengan pengertian di atas, Depag Binbaga Islam (1994:1), menyatakan bahwa:
Pengajaran bahasa Arab adalah suatu proses belajar mengajar (pengajaran) yang berfungsi membimbing anak didik untuk menuju kepada aaspek kehidupan yang lebih yang dihadapi seseorang sehingga dalam pengungkapan, perasaan dan keinginan yang tertentu dengan bahasa Arab Fusha baik secara aktif maupun pasif.
Dari definisi pengajaran Bahasa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa pengajaran bahasa Arab adalah suatu proses pendidikan yang diarahkan untuk mendorong membimbing mengembangkan dan membina kemampuan berbahasa Arab, baik aktif maupun pasif serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab dalam hal ini dalam bahasa Arab Fusha.
Kemampuan bahasa arab aktif yaitu kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, seperti membuat karangan. Sedangkan kemampuan bahasa arab pasif adalah kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan kemampuan memahami bacaan. Kemampuan berbahasa arab secara positif terhadap Bahasa Arab tersebut sangat penting, karena dapat membantu memahami sumber ajaran agama Islam yaitu Al-Qur’an dan al-Hadits, kitab-kitab Bahasa Arab yang berkenaan dengan ajaran agama Islam.

b. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Secara etomologi istilah metodologi berasal dari bahasa yunani, yakni dari kata metodos yang berarti cara atau jalan, dan logos artinya ilmu. Sedangkan secara sistematik, metodologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien. Metodologi searti dengan kata metodik (methodentic) yaitu suatu penyelidikan yang sistematis dan formulasi metode yang akan digunakan dalam penelitian. Dengan kata lain metodologi adalah: ilmu tentang metode-metode yang mengkaji/membahas mengenai bermacam-macam metode mengajar, tentang keunggulannnya, kelemahannya, lebih tepat/serasi untuk penyajian pelajaran apa, bagaimana penerapannya dan sebagainya (Yusuf dan Anwar, 1992:1-2)

Adapun ruang lingkup metodologi itu meliputi hal-hal sebagai berikut:
1). Telaah mengenai keterampilan-keterampilan berbahasa (membaca, menulis, menyimak) dan prosesdur mengajarkan.
2). Telaah mengenai persiapan mengenai rencana-rencana pengajaran, bahan-bahan, dan buku-buku teks, bagi keterampilan berhasa.
3). Evaluasi dan konparasi berbagai metode pengajaran bahasa untuk menyampaikan materi pengajaran hendaklah memiliki cara penyampaian (Tarigan , 1995: 150).
Read More

Pelat Baja St 37

Pelat baja merupakan lembaran baja dengan ketebalan yang relatif kecil dibandingkan ukuran panjang dan lebar lembarnya. Lembaran baja setelah dirol mumpunyai sifat-sifat yang mudah dilas dan dibentuk. Dalam konstuksi baja, plat baja banyak digunakan untuk konstruksi jembatan.
Pelat baja St 37 merupakan bahan bangunan yang sangat kuat dan liat dengan struktur butir yang halus, dan dapat dilakukan pengerjaan dalam keadaan panas maupun pengerjaan dingin. Arti dari St itu sendiri adalah singkatan dari Steel (baja) sedangkan angka 37 berarti menunjukkan batas minimum untuk kekuatan tarik 37 km/mm2.
Read More

Hakikat pribadi manusia

Hakikat pribadi manusia : Manusia adalah makhluk tuhan yang otonom , berdiri sebagai pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonis jiwa-raga dan eksis sebagai individu yang memasyarkat. 1. Manusia sebagai makhluk tuhan yang otonom Manusia adalah makhluk yang lemah, yang keberadaannya sangat tergantung kepada penciptanya. Akan tetapi tergantung terhadap sang pencipta tersebut bukanlah semata-mata melainkan ketergantungan (dependence) yang berkeleluasaan 2. Sebagai makhluk yang berjiwa-raga 3. Sebagai makhluk individu yang memasyarakat
Read More

Allah menghapus dosa-dosa hambanya

Read More

bahasa

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan dan menurut medium pembicaraan (Kridalaksana, 2001:184).
Ragam bahasa yang terjadi tergantung pemakaian topik yang dibicarakan, misalnya ada yang resmi tidak resmi, santun tidak santun, bijak tidak bijak dan lain-lain. Ragam bahasa yang terjadi di lingkungan terminal ini akan ditelaah antara resmi tidak resmi, santun tidak santun, dan bijak tidak bijak.
Suwito (1983: 29), mengemukakan bahwa variasi adalah sejenis ragam bahasa yang pemakaiannya disesuaikan dengan fungsi dan situasinya, tanpa mengabaikan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan.
Ragam bahasa adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjuk salah satu dari sekian variasi yang terdapat dalam pemakaian bahasa. Sedangkan ragam itu timbul karena kebutuhan penutur akan adanya alat komunikasi yang sesuai dengan konteks sosialnya. Adanya berbagai ragam menunjukkan bahwa pemakaian bahasa (tutur) itu bersifat aneka ragam (heterogen).
Pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik tetapi juga oleh faktor-faktor nonlinguistik. Sedangkan faktor-faktor nonlinguistik yang berpengaruh terhadap pemakaian bahasa antara lain ialah faktor sosial dan faktor situasional. Adanya kedua faktor itu dalam pemakaian bahasa menimbulkan ragam bahasa yaitu “bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola menyerupai pola umum bahasa induknya” (Poedjosoedarmo dalam Suwito, 1983 : 23). Adapun ujud ragam atau ragam bahasa itu dapat berupa :
1. idiolek, sifat khas tuturan seseorang yang berbeda dengan tuturan orang lain. Sifat-sifat khas itu bisa disebabkan oleh faktor fisik atau faktor psikis;
2. dialek, dialek dibagi menjadi dua macam yaitu, a) dialek geografis dan b) dialek sosial atau sosiolek;
a. Dialek geografis adalah ragam yang timbul karena perbedaan asal daerah penuturnya.
b. Dialek sosial atau sosiolek adalah ragam yang disebabkan oleh perbedaan kelas sosial penuturnya.
3. register yaitu ragam bahasa yang disebabkan karena sifat-sifat khas kebutuhan pemakaiannya;
4. undak-usuk yaitu ragam bahasa yang pemakaiannya didasarkan pada tingkat-tingkat kelas atau status sosial interlekutornya (Suwito, 1983: 22-23).

2. 3. Tindak Tutur
Tindak tutur terbagi menjadi 2 jenis, yaitu 1) tindak tutur langsung dan 2) tindak tutur tidak langsung.
Bentuk tindak tutur langsung seperti itu banyak digunakan dalam bahasa inggris (Leech, 1983:14). Bentuk ini merupakan penggabungan dua ciri. Salah satunya adalah penggabungan dengan ciri-ciri pertanyaan.
Dalam pragmatik kata tuturan ini dapat digunakan sebagai produk suatu tindak verbal (Leech, 1983:14). Definisi ini berjalan dengan salah satu definisi tuturan menurut Kridalaksana (1993:222) yang mengatakan tuturan sebagai kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan. Maksudnya tuturan adalah pemakaian satuan bahasa seperti kalimat, sebuah kata oleh seorang penutur tertentu pada situasi tertentu.
Tindak tutur dapat dikatakan sebagai suatu yang sebenarnya kita lakukan ketika kita berbicara. Ketika kita terlibat dalam suatu percakapan kita melakukan beberapa tindakan seperti melaporkan, menjanjikan, mengusulkan, menyarankan, dan lain-lain. Suatu tindak tutur dapat didefinisikan sebagai unit terkecil aktivitas berbicara yang dapat dikatakan memiliki fungsi. Dalam kajian tindak tutur ini ‘tuturan’ sebagai kalimat atau wacana yang terkait konteks, pengistilahannya berbeda-beda. Hudson dalam sosiolinguistik Suryatin (1998:87) memberikan istilah ‘tuturan’ dengan ‘ujaran’. John L. Austin dalam Wijana menggunakan istilah tuturan. Tuturan atau ujaran sebagai rangkaian unsur bahasa yang pendek atau panjang yang digunakan dalam berbagai kesempatan yang berbeda untuk tujuan-tujuan berbeda. Istilah tuturan atau ujaran ini mencakup wacana lisan dan wacana tertulis.

2. 4. Kesantunan (Politenes)
Prinsip kesantunan menurut Leech (1993) menyangkut hubungan antara peserta komunikasi, yaitu penutur dan pendengar. Oleh sebab itulah mereka menggunakan strategi dalam mengajarkan suatu tuturan dengan tujuan agar kalimat yang dituturkan santun tanpa menyinggung pendengar.
Prinsip kesantunan adalah peraturan dalam percakapan yang mengatur penutur (penyapa) dan petutur (pesapa) untuk memperhatikan sopan santun dalam percakapan.
Setiap kali berbicara dengan orang lain, dia akan membuat keputusan-keputusan menyangkut apa yang ingin dikatakannya dan bagaimana menyatakannya. Hal ini tidak hanya menyangkut tipe kalimat atau ujaran apa dan bagaimana, tetapi juga menyangkut variasi atau tingkat bahasa sehingga kode yang digunakan berkaitan tidak saja dengan apa yang dikatakan, tetapi juga motif sosial tertentu yang ingin menghormati lawan bicara atau ingin mengidentifikasikan dirinya sebagai anggota golongan tertentu.
Secara umum, santun merupakan suatu yang lazim dapat diterima oleh umum. Santun tidak santun bukan makna absolut sebuah bentuk bahasa. Karena itu tidak ada kalimat yang secara inheren santun atau tidak santun, yang menentukan kesantunan bentuk bahasa ditambah konteks ujaran hubungan antara penutur dan petutur. Oleh karena itu, situasi varibel penting dalam kesantunan.
Kesantunan merupakan sebuah fenomena dalam kajian pragmatik. Setidaknya ada empat ancangan kesantunan dari para ahli yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu:
1) Kesantunan dilihat dari pandangan kaidah sosial tokohnya adalah Lakoff (1973);
2) Kesantunan dilihat dari pandangan kontak percakapan tokohnya adalah Fraser (1990);
3) Kesantunan dilihat dari pandangan maksim percakapan tokohnya adalah Leech (1993);
4) Kesantunan dilihat dari pandangan penjagaan muka tokohnya adalah Brown dan Levinson (1987).

2. 4. 1. Prinsip Kesantunan Leech
Leech (1993) membahas teori kesantunan dengan menitikberatkan atas dasar nosi, (1) biaya/cost dan keuntungan/benefit, (2) kesetujuan/agreement, (3) pujian/approbation, (4) simpati/antipati. Leech (1993) sendiri mendefinisikan prinsip kesantunan yaitu dengan cara meminimalkan ungkapan yang kita yakini tidak santun.
Ada enam maksim menurut Leech (1993) yakni:
1) Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)
a. Kurangi kerugian orang lain.
b. Tambahi keuntungan orang lain.
2) Maksim Penerimaan/ Penghargan (Approbation Maxim)
a. Kurangi keuntungan diri sendiri.
b. Tambahi kerugian diri sendiri.
3) Maksim Kemurahan (Generosity Maxim)
a. Kurangi cacian pada orang lain.
b. Tambahi pujian orang lain.
4) Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
a. Kurangi pujian pada diri sendiri.
b. Tambahi cacian pada diri sendiri.
5) Maksim Kesepakatan/Kecocokan (Agreement Maxim)
a. Kurangi ketidakcocokan antara diri sendiri dengan orang lain.
b. Tingkatkan kecocokan antara diri sendiri dengan orang lain.
6) Maksim Simpati (Sympath Maxim)
a. Kurangi antipati antara diri sendiri dengan orang lain.
b. Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain. (Tarigan, 1990: 82-83 dalam Rahardi 2005: 5)
Maksim yang berskala dua kutub karena berhubungan dengan keuntungan/kerugian diri sendiri dan orang lain (Wijana, 1996: 55-60).
1. Maksim yang berpusat pada orang lain.
a. Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)
b. Maksim Kemurahan (Generosity Maxim)
2. Maksim yang berpusat pada diri sendiri.
a. Maksim Penerimaan/Penghargaan (Approbation Maxim)
b. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim).
Maksim yang berskala satu kutub karena berhubungan dengan penilaian buruk bagi penutur terhadap dirinya sendiri/orang lain.
1. Maksim Penerimaan (Approbation Maxim)
2. Maksim Kesimpatian (Sympath Maxim)
Read More

Multiple Intelegence

Howard Gardner, dalam bukunya yang berjudul “Multiple Intelegence” menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gambaran mengenai spectrum kecerdasan yang luas telah membuka mata para orang tua, maupun guru tentang adanya wilayah-wilayah yang secara spontan akan diminati oleh anak-anak dengan semangat yang tinggi. Wilayah-wilayah tersebut adalah:
1) Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan ini umumnya ditandai dengan ini kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca.
2) Kecerdasan Musikal
Adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama.
3) Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan ini memuat kemampuan seseorang untuk mendiami secara mendalam hubungan antara objek dan ruang.
4) Kecerdasan Kinestik
Kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah.
5) Kecerdasan Interpersonal
Menunujukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekelilingnya.
6) Kecerdasan Intra-personal
Menunujukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaannya sendiri. Anak-anak semacam ini selalu melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencooba untuk memperbaiki diri, sehingga anak ini cenderung menyukai kesendirian dan kesunyaian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri.
7) Kecerdasan Naturalis
Yaitu kemampuan seseoarng untuk peka terhadap lingkungan, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti pantai.
Read More

written,,.. language

In written language, the writer must have a good knowledge of writing with all of its aspects whereas the reader must have a good knowledge of understanding the reading As a matter of fact, in teaching a language, if they, the teachers, want their students have good mastery of a language, in spoken one, their ability to understand needs to be considerably more extensive than their ability to speak. It means that they, before drilling them self to speak, must drill them self to listen or to understand the dialogues. On the other wise, the learn¬ing models of dialogues( conversation ) which have been skillfully contrived to accelerate oral production, do not always contain a sufficiently a large number of those features of natural speech, that is the great deal of information which is redundant. In this case, for example, utterance to be more structured and complete, and the level of redundancy will be generally low.
In addition, in order to be able to cope with real life language situations, they need regular and frequent training through a programme of listening comprehension with suitable varied models of natural speech from the earliest stages, for instance, in a language course. Shortly, they have actually to learn to listen, just as they have to learn to speak. It just the same way if they want to learn e. language, in written one, they need to be able to read more easily than they can write.
Furthermore, there is an interdependence of oral skills in communication. For the oral communication is a two-way process between the listener and speaker Thus, between the speaker and listener cannot be separated each other. In this case the speaker does not always ini¬tiate : he also responds to what ho has heard ( as for example when he answers questions or makes a comment ), while the listener does not always remain silent : he is normally expected to make some sort of responses ( which may not always be verbal, as for example, when he carries out an instruction ).
Talking about the goal of teaching oral production, ( speaking in conversation or dialogue ) Donn Byrne says that the main goal in teaching the productive skill of speaking will be oral fluency : the ability to express oneself intelligibly, reasonably, accurately, and with¬out undue hesitation ( otherwise, communication may break down because the listener loses interest or gets impatients ). By the explanation above, means that in learning dialogue the students must be drilled to express their own ideas freely and precisely. The role of the teachers are as the conductor. They must make stimuli for the students to express their own ideas about the topics they have been being discussed. And when the students get difficulties they must guide them, as well make correction when students do mistakes. To attain a good result of teaching-learning dialogue process the teacher have to make corrections immediately when the students do mistakes.
The other factor that can influence the students in learning a foreign language is motivation. As teacher, we, sometime find students who do not pay attention to the lessons beeing tought them, they get tired of learning the language ( foreign language ) because they fell that they get nothing of learning the language, they can not speak in the language they have been learn. According to Donn Byrne, the ability to speak ( oral production ) is a good motivation for the students. In this case he, further more, says that the development of oral production is a good source of motivation for most learners, who are normally much concerned to be able to speak and to understand a foreign language. To point how the importance of motivation in learning a foreign language, he give us more explanation : satisfaction at being able to say a small number of sentences after a few lessons must be sustained by demonstrating to the students that they can say progressively more and more through the language as the course continues.
To support the good achievement in learning a foreign language, especially conversation, the teachers have also to think about the students' intelligibility of the language that they have been being learnt. Intelligibility is usually defined in phonological terms ( e.g. being able to make the difference between essentials sounds such as /i/ and /i/ as they occur in the two words leave and live ). It is not only importance for the level of basic understanding or elementary but also for the purpose of oral fluency. Clearly, in order to make the students to be able to speak or communicate effectively, the teachers must teach the students an adequate mastery of grammar and vocabulary as well as phonology. It is better to remember that over-learning in any of these areas will serve no purpose if it exces¬sively slows down progress in the others. It demands the teachers to be able to devide the available time in teaching them to the students, which one is must presented first, etc. It will be necessary to concentrate on the essential features such as the differences between key sounds, weak forms, basic stress and intonation patterns, and more importance will need to be attached to receiption of these features than production, as the consequence the amount of the time available for system¬atic speech training is bound to be limited.
After seeing the existence of the dialogue and all of its aspects in learning the dialogue, the main duty of the teachers is to choose the best method that mist be done to get the effective teaching-learning process Talking about methods, in teaching dialogues or conversation, they had been discussed for along time. There are many methods, namely :
1) Direct method
2) Audio lingual method
3) Silent Way method
4) Community Language Learning ( CLL ) method
5) Total Physical Respond ( TPR ) method.
In the direct method, the material is presented in the foreign language ( bahasa tujuan ) The students are forced to speak and think in the foreign language. The experts of this method had assumption that learning a foreign langu¬age just the same as learning the native language. The Audio lingual method teaches students to speak using the drill technique ( with all of its varities ) and mim-mem. In this method the mistaken of speaking is avoided because it does not support the development of speaking. In the Silent Way method the students are forced to keep silent and to listen carefully because they must re¬peat the teacher's samples after being given once though. Teaching conversation using Community Language Learning method means the students are given the time to express their own ideas to the teacher. The function of the teach¬ers are as the facilitator, the counselor, the Bain source, and also as the translator. In this method the mistakes are regarded as the development of the students' langu¬age. The newest method in teaching conversation or teaching a foreign language is the Total Physical Respond ( TPR ) method. In this method, the students must postpone their ability to speak, they must develop their ability to listen first. This method, in Indonesian schools, is used for teaching the students of the Junior High school level.
As we have already known, some methods in teaching dialogue to the students, there have not been a methods which most effective to teach students conversation. Dr. Sri Utari Subyakto N. said that :
Jadi, hingga saat inikita belum pasti mengenai metode mana yang paling efektif dalam mengajar berbicara BT ( bahasa tujuan ) kepada pelajar. Kita semua mengenal gejala "pelajar yang mengetahui dan hafal pola-pola kalimat bahasa tujuan, tetapi yang belum mampu berkomunikasi secara wajar". Gejala ini disinyalir oleh para guru bahasa sebagai gejala yang kurang memuaskan dan yang menyebabkan perkembangan-perkembangan yang mutakhir dalam pengajaran bahasa. Ada dua hal lagi atau kekurangan yang belum terpenuhi, yakni (a) makna dari bentuk / struktur bahasa yang dipakai, dan (b) kemampuan untuk mengetahui apa yang harus dikatakan pada waktu atau saat yang tepat.

From the statement above it is clear that the condition of teaching foreign language in Indonesian schools have not been on the target of teaching.
Now, the writer wants to present two kinds of ties in teaching conversation using Communicative approach. Two communicative activities are :
(1) Pra-communicative activities, and
(2) Communicative activities.
(1) Pra-communicative Activities.
Pra-communicative is the communication which hasn't been able to be called true communicative communication, because there hasn't an element that is needed in order that the communication is able to be called an appropri¬ate and natural communication, that is there is not an information gap.
The activities are the presentations in :
(a) Technique of Dialogue.
That is to memorize sentences in the dialogue form, and to dramatize sentences fluently before drilling with structural-drill and vocabulary. The use of this method is to improve the fluency of pronouncing words or sentences, and to avoid the afraidness in pronouncing.
(b) Dialogue with picture ( for the SLTP levels ).
The teacher brings pictures shown to the students by asking the name of the pictures one by one.
e.g. : Teacher : “ What is this ? “
Students : “That's a book “. Etc
(c) Guided dialogue.
The teacher drills students in the question and an¬swer forms in the purpose language ( FL ).
e.g. : Teacher : "Are you going to………this morning?"
Ss : " Yes, I am ". or " No, I am not "
(d) Dramatitation of an activity.
For example the teacher is running, smilling, etc., then asks the students : “What am I doing ?” students answer : " You're running " etc.
(e) Picture in profession.
For example : A doctor in his uniform ( white etc )
A teacher in front of black board, etc.
Then the teacher asks : “What is he / she ?”
Students answer : " He / she is a doctor " etc.
(f) Dialogue with picture.
For example, the picture in point (e). The teacher shows the picture detailly, then asks the students.
e.g. : Teacher : " What is the doctor wearing ? ".
Ss. : " A white coat "," A pair of glasses".
(g) Question-answer technique.
The teacher chooses the basic material of the lessons includes structure and vocabulary. For example the teacher has taught the ‘Past tense’ form of English and vocabulary, the make a dialogue :
Teacher : " What did you do this morning at 07.00 ? "
Students : " I went by bus to school "
(h) Completing sentences, paragraph or short story. The teacher presents uncomplete sentences, then the students are asked to complete them.
e.g. : My sister likes going to the movies, but my brother…………………….. ( does not like it, or likes playing soccer )
During this activities is done, the teacher has to master the condition in conducting it.
The main goals which will be gainned of this stage are :
(a) Students are involved in every drill orally, and
(b) Students begin to have braveness to open their mouth to speak though they haven't express their own ideas,
(2) Communicative Activities.
On this stage, the teacher begins to enless his role in speaking in front of the class, while students begin to play role in class to speak. The activities of this stage are : (a) Community Language Learning ( CLL ) method.
The teacher divides the students into groups, each , group has a leader. Students exchange to speak something and then continue in the group, so that the communication will become a complete story. The conversation is recorded on a tape recorder, and replays then. After all, the teacher discusse about the conversation with the students. In this case the teacher's role is to controle the activities :
giving answers, suggestions, or even translations when the students get difficulties.
(b) Giving assignment to the students.
The teacher can give students a role to be played. For example; If the student becomes a teacher, and the other student as his student. Then, they are asked to play those roles, teacher and student.
This role play can be varied fit to the level of the students.
(c) Social formulas and dialogues.
What is meant by the Social formulas is the presentation of social formulas which are needed in communi¬cation ( social communication ), for example ; greet¬ing, leaving, introducing someone, Excusing, expressing emotion of angrying, sad, disappointed, happy, satisfy, and so on.
(d) Community-oriented assignment.
The students are asked to make communication with the native speakers. This activity is could be conducted in places where many native speakers stay in. For example: in a state embassy ( foreign embassy ), state
offices, and so on. If those places are impossible to
get, the teacher can ask students to become tourist
guide, translators, etc.
(e) Problem solving activities.
The students are asked to solve problems that are made by the teacher. To support this activities, the teacher can play a role in it. For instance, the teacher make a topics of "Climbing a mountain". The teacher divides the students into groups, each group should discusses about the mountain climbing, what are needed to overcome this problem, what should be prepared to climb a mount. The teacher can also give suggestion, answer, and so on, when they need.

To complete the explanation above, it is better for the writer to makes conclusions related to the activities in teaching students conversation ( speaking ). Accord¬ing to Finacchiaro and Brumfit says that the activities that can be conducted in teaching students speaking, as follows :
(1) Making question-answer or dialogue in classroom.
(2) Giving guides are used in classroom.
(3) Using "Gouin series". Asking students to play role in complete sentences of the realistics context.
(4) Asking students to prepare the original sentences based on communicative terms, structures, or notions which have been discussed.
(5) Answering questions based on the experiences in class
room or in the community.
(6) Composing appropriate questions to the teacher or
the other students based on a reading text they have
read together.
(7) Identifying names of objects on the flanegraph
(8) Retelling a story they have read, their experiences
in their own sentences. In addition, the teacher can
give some key words ( essential words ).
(9) Composing a report of a topic that has been prepared
and answer the questions of the topic.
(10) Setting conversation. For instance, talking about a bank, a library, etc.
(11) Playing language games.
(12) Making conversation of discussion, panel forms, etc. In this case the students are demanded to be able to express their own ideas, for instance, agreement, disagreement, doubt, and so on, being relevant to the topic is being discussed.
(13) Making phone communication.
(14) Playing role in a modern drama.

By the explanation above, it is clear that the ability in mastering the dialogue has a great role in learn¬ing the language. It shows also how the importance of the ability in mastering dialogue of a language, if they want to make use a language they have learnt for their life.
For there are many methods in teaching dialogues of a language, while the experts haven't found yet the best method in teaching productive skill of speaking or conversation. So that the teachers must be able to choose , the best, method ( one of them ) fit to the condition of the students, classes, and levels.
It is undoubtedly, that by mastering productive skill the students will of course get advantages to develop their ability to use English as a means of communication When students learning English only memorize vocabularies and the structural rules without practising to use English, they will never master English as a means of communication. In this case, the teacher should allow the stu¬dents to do what they want to learn. And also the choice of methods and techniques will determine the achievement of learning of English as a means of communication.
Read More

Istima’ (menyimak)

Menurut Rajiman (Tarigan 1986 :1), ada empat macam keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seseorang sebelum menguasai bahasa asing yang ingin dipelajarinya, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan menulis, keterampilan berbicara, dan keterampilan membaca.

menyimak dalam proses berbahasa merupakan keterampilan pemula yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang mempelajari suatu bahasa. Keterampilan ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Hal ini dipertegas oleh Dawson sebagaimana yang dikutip oleh Tarigan bahwa melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berfikir”. (Tarigan, 1986:1)
Kalau kita melihat kata Istima’ secara sepintas, maka kata tersebut sama dengan kata “samaa’” yang berarti mendengar. Sebagian orang berpendapat bahwa “istima’” dan “samaa’” memiliki pengertian yang serupa, padahal keduanya memiliki pengertian yang berbeda-beda. “samaa’” adalh kegiatan yang dilakukan indera pendengar secara tidak sengaja. Pada kegiatan ini telinga mendengarkan suara-suara yang sering di dengar oleh seseorang yang mana suara-suara tersebut tidak memiliki makna, karena di tidak menaruh perhatian kepada apa yang didengarnya dan tidak juga mencoba untuk memahami apa yang didengarnya itu. Sedangkan “Istima’” adalah kegiatan yang dilakukan indera pendengaran secara disengaja. Pada kegiatan ini, seseorang menyimak dengan sungguh-sungguh dan dia merekam apa yang didengarnya dalam otak dan berusaha untuk memahaminya. Pada kegiatan ini biasanya seseorang menyimak kata atau kalimat dari bahasa yang baru baginya (bahasa asing). Berikut ini peneliti mengemukakan beberapa pendapat para ahli mengenai istima’.
Istima’ (menyimak) menurut Tarigan adalah suatu proses memperhatikan lambang-lambang ucapan yang berisikan ungkapan dan penjelasan untuk memperoleh berbagai informasi dan untuk memahami makna yang disampaikan oleh pembicara dengan cara mengucapkannya atau bahasa lisan (Tarigan, 1986: 27).
Pendapat lain dikemukakan oleh Anderson, kalau membaca merupakan proses besar melihat, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang tulis, maka menyimak dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan” (Tarigan, 1986: 9).
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1988: 40), yang dimaksud dengan menyimak adalah mendengarkan, memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
Dari teori-teori di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa menyimak adalah kemampuan memahami makna dengan mendengar bahasa yang dibicarakan, dan menyimak pada umumnya memiliki persamaan dengan membaca. Jika kemampuan kosakata dan kemampuan menganalisis struktur kalimat kurang, baik menyimak ataupun membaca tidak akan berjalan dengan baik.
2. Proses Menyimak
Keterampilan menyimak merupakan proses menyusun kata sebagaimana yang terdapat pada keterampilan bahasa lainnya. Hal ini dikarenakan keterampilan ini tidak bersifat menerima apa yang didengarnya secara sepintas, tetapi dia juga meliputi memilihnya, mengevaluasinya serta meresponnya.
Tarigan membagi proses menyimak kepada lima tahapan sebagai berikut:
2.1. Tahap mendengarkan (hearing). Dalam tingkatan ini pendengar mengetahui tekanan suara yang tidak memiliki arti.
2.2. Tahap Pemahaman (understanding). Pada tingkat ini pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara.
2.3. Tahap menafsirkan (interpreting). Pada tahap ini pendengar tidak hanya mampu mendegar dan memahami apa yang didengarnya saja, melainkan dia sudah bisa menafsirkan makna-makna yang didengarnya.
2.4. Tahap penilaian (evaluating). Pada tahap ini penyimak mulai menilai atau mengevaluasi apa yang disampaikan pembicara. Dan dia menilainya pada dua aspek, yaitu kekurangan dan kelebihannya.
2.5. Tahap merespon (responding). Pada tahap pendengar mulai merespon semua yang disampaikan oleh pembicara.
3. Materi Menyimak
Untuk situasi di Indonesia, materi yang dapat digunakan untuk mengajar menyimak secara bertahap adalah:
3.1. Fase pengenalan
Fonologi (fonem-fonem), kata-kata, frase-frase, dan kalimat-kalimat.

3.2. Fase pemahaman permulaan
Melakukan respons non-linguistik
3.3. Fase pemahaman
Menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai isi bacaan pendek, percakapan para penutur asli, percakapan melalui telepon dan sebagainya.
3.4. Fase pemahaman “lanjut”
Bertanya jawab tentang isi berita radio, TV, penyajian bahan otentik, dan sebagainya. (Subyakto, 1993: 157-158)
Lebih lanjut Sri Utari Subyakto menjelaskan bahwa memang lebih baik pelajar dianjurkan untuk mendengarkan materi yang otentik sebanyak mungkin, tetapi itupun memberi problem pula kepada pelajar yang sudah tinggi tingkatan kemampuannya, karena mereka sedikit banyak akan bingung mengikuti wacana yang demikian banyak “kesalahan-kesalahannya”. Untuk menghindari rasa kebingungan pada pihak para pelajar, mungkin lebih baik apabila guru menggunakan “wacana otentik yang disimulasi”, yang berarti bahwa guru merekam suara pembicara yang diberi pengarahan terlebih dahulu, tanpa mengorbankan keotentikan bahasanya (Subyakto, 1993: 164).
4. Media menyimak dan kegunaannya
Dalam menyimak pun seseorang membutuhkan alat atau media yang dapat membantu mereka, diantaranya adalah alat atau media yang didengarkan dan dilihat (audio-visual). Yang termasuk kedalam kategori ini ialah radio, tape-recorder, laboratorium bahasa, film, dan video.
Adapun kegunaan-kegunaan penggunaan alat atau media ini antara lain ialah:
1. Memberi kesempatan kepada pelajar untuk berlatih secara mandiri di dalam maupun di luar ruang kelas;
2. Meringankan/membantu/melengkapi peran guru;
3. Memberi model yang tetap kepada pelajar, khususnya kalau rekaman berisi ulangan-ulangan yang banyak dan intonasi-intonasi yang tertentu;
4. Mendengarkan suara beberapa orang penutur asli di kelas sehingga pelajar dapat membedakan suara orang wanita, pria, anak, pemuda dengan segala ragamnya.
5. Merekam suara pelajar agar dapat digunakan oleh guru dalam mengevaluasi penguasaan bahasa target dan oleh pelajar untuk mengevaluasi hasil produksi diri sendiri (Subyakto, 1993: 207).
Laboratorium bahasa pada suatu waktu dianggap memberi “status simbol” pada kursus-kursus bahasa, sekolah-sekolah, atau institut-institut. Sekarang hal ini tidak demikian kuatnya lagi, walaupun tidak dapat disangkal bahwa laboratorium bahasa ini banyak kegunaannya, antara lain melatih menyimak (Listening kompherension), melatih pelafalan (pronunciation), melatih imlak (dictation), dan melatih berbicara (speaking).
Read More

Parikan

Wedang bubuk gula jawa, yen kepetuk ati lega, kembang jagung dipethik cina, barang wiskadung dikapakno
Read More

Jenis teater daerah

Teater daerah termasuk juga teater rakyat dengan sifat improvisasi, sederhana, spontan, dan menyatu dengan kehidupan rakyat
Beberapa contoh teater daerah di Indonesia
1. ketoprak
2. ludruk
3. tarling
4. lenong
5. barong
6. makyong dan mendu
7. randai
8. mamanda
9. cekepung
10. demuluk
11. sinlirik
Read More

how to edit

When you sit down to write copy, don't try to get it perfect the first time. It won't happen. And if you go down this road, you'll find it's a sure way to "copywriters block" - a blank page and a blank mind!
Start with a short list of points that you want to get over - and then just start writing. Only write enough to cover all the points you need - then stop.
Now it's time to start editing - polishing and refining, until you are 95% satisfied with it (you'll never be 100% satisfied).
When you are editing, bear these points in mind, particularly if you are writing for the web:
79% of users scan the page instead of reading word-for-word. So use bullet points, and highlight key words. Highlight only key information-carrying words.
Reading from computer screens is 25% slower than from paper
Web content should have 50% of the word count of its paper equivalent
How To Cut The Length Of Copy
The chances are that whatever you write initially will be far too long. Here's a way to drastically cut copy length. It sounds a ridiculous way - until you have tried it.
Print out your copy (if it's on a word processor) and then, without thinking about the meaning, cross out every third word.
Clearly, you will have crossed out words which are vital to the sense of your copy, and you will need to reinstate them. But what this technique does is to draw your attention to words which may not be important.
You will find that, although your copy may not be cut by as much as a third, you'll probably achieve a 25% reduction.
Improving Readability
Lists:
You can include a greater number of lists on a web page than on a printed paper page.
Use numbered lists when the order of entries is important.
Use unnumbered lists whenever the sequence of the entries is not important.
Limit the number of items in a single list to no more than nine.
Generally, limit lists to no more than two levels: primary and secondary.
Captions:
Make sure that the caption uniquely identifies the illustration or table. For example, do not give the same name to the caption as you have given to a head on the same page or another page.
Caption illustrations except when the context is so clear that captions would be redundant.
Don't number illustrations sequentially by chapter, section, or the like. If a screen capture has more than one illustration to which you must refer, use a simple numbering scheme (Figure 1, Figure 2). If you follow the "one topic per screen" guideline, however, figure numbers usually won't be necessary.
Don't include figure captions unless you need them or have a lot of conceptual or reference material.
Hyperlinks:
Don't use a hypertext link if the information can be succinctly presented on the current page.
Don't mention that you are providing links at all.
Use a description of the information to be found in the link, or perhaps the link address.
Use hyperlinks to provide supplemental information like definitions of terms and abbreviations, reference information, and background reading.
When you are satisfied with what you have written, it's time to see if others agree with you. It's time to start testing your copy..

This report is© 2007 Traynor Kitching & Associates ("TKA"), York, UK. You are granted a licence to distribute this report however you wish, provided that none of the material is changed. TKA accepts no responsibility for how you use this material, which is for educational purposes only. No guarantees are intended or implied.
Read More