Showing posts with label kalimat. Show all posts
Showing posts with label kalimat. Show all posts

contoh PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
                           Nama                        : 
                           NIM                         : 
                           Program Studi         
                           Jurusan                     : 
                           Fakultas                    : 
Menyatakan dengan sebenarnya dan sungguh-sungguh bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
            Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripisi ini hasil jiplakan atau ada pihak yang mengajukan gugatan, maka saya bersedia menerima seluruh sanksi atas perbuatan tersebut, termasuk pembatalan ijazah yang saya peroleh dari Universitas Negeri Surabaya.

                                                                        Surabaya, Februari 2010
                                                                        Yang membuat pernyataan,


Read More

Peristiwa yang akan Terjadi pada Masa Imam al-Mahdi (a) S

MSN.24 DEC.2011.FINAL.BAH
Peristiwa yang akan Terjadi pada Masa Imam al-Mahdi (a)
Sultan al-Awliya
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani
24 Desember 2011     Lefke, Cyprus
(Diterjemahkan dari bahasa Arab (kemudian Inggris))
Armaggedon dan penaklukan Konstantinopel terjadi dalam enam bulan dan pada bulan ketujuh al-Dajjal akan muncul.  Armageddon akan mempunyai dua kelompok.  Konstantinopel akan dibuka dengan takbir.  Sayyidina `Isa (a) akan memerintah selama 40 tahun, kemudian dunia akan dipimpinnya dengan damai selama 40 tahun, tanpa perang atau masalah.  Sebelum itu, selama Armageddon, akan ada kesulitan yang luar biasa. Allahu Akbar! Amaan yaa Rabbii!
“Banu Asfar” (orang-orang berambut pirang), orang Rusia, akan turun ke Dataran Amouq di utara Suriah dengan 80 resimen dan 80 bendera, dan di bawah masing-masing bendera terdapat 12,000 tentara. Yaa Lathif! Itu artinya satu juta tentara ada di Dataran Amouq!  Untuk itulah, Rusia pergi ke sana.  Selain itu, datang pula tentara Muslim, dari utara, dari Istanbul, dan Mahdi (a) akan datang bersama mereka tetapi tidak nampak.  Ketika perang ini selesai, beliau akan bertakbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” dan kemudian beliau akan muncul dan berjalan menuju Istanbul, ke Asitana (Istana Kesultanan Ottoman) dan mengambil panji Rasulullah (s).  Beliau akan muncul di Suriah dan memerintah di sana.  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, al-Akbar!
Semoga Allah menyelamatkan kita dari korupsi/fasad yang terjadi di akhir zaman. Ya Allah!  Dunia ini akan berakhir, selesai, kita telah sampai pada tahapan akhir.  Nabi Isa (a) akan datang ke Suriah.  Allahu Akbar!  Dajjal akan muncul setelah munculnya Mahdi (a), kemudian Nabi Isa (a) akan turun dan membunuh Dajjal.
Allahu Akbar! Yaa Rabbii!  Kami momohon keselamatan dan perlindungan kepada-Mu dari korupsi/fasad/kehancuran di akhir zaman.  Semoga Allah membuat kita berada di bawah panji Kekasih-Nya di dunia dan di akhirat.  Yaa Rabbii!  Jagalah kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang kami cintai agar mereka selamat.
Yaa Kariim! Yaa Allah! Yaa Rahiim! Yaa Allah! Yaa Jaliil! Yaa Allah! Yaa Waduud! Yaa Allah! Allah Allah.  Ampunilah kami dan sembuhkanlah kami dan semua Muslim demi Sultan kami, Sultan bagi manusia dan jin, Sayyidina al-Mahdi (a)!
Fatihah.
Amiin yaa Rabbii, amiin yaa Rabbii. (Sebagaimana disebutkan di dalam hadiits,) Jika korupsi/fasad muncul, maka keselamatan berada di Suriah, di tanah Syam.
Dipublikasikan oleh Google Drive–Laporkan Penyalahgunaan –Dimutakhirkan secara otomatis setiap 5 menit
Read More

Task Analisis

UJIAN TENGAH SEMESTER
DESAIN TRAINING










OLEH :
RUHAMAU RIZQIYYATUSH S
08640005


PROGRAM STUDI S1 PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2012

Need Assesment
Task Analisis
Jabatan pekerjaan : Kepala Sekolah

Tugas Umum :
Menyusun dan melaksanakan program kerja mengarahkan, membina, memimpin, mengawasi serta mengkoordinasikan pelakasanaan tugas di bidang administrasi dan keuangan sekolah. Ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, pencapaian kurikulum, kerjasama dengan dunia industri/dunia usaha yang relevan serta
memasarkan tamatan SMK.


Tanggung Jawab :
Tercapainya visi dan misi Sekolah
Adanya administrasi sekolah yang baik dan tertib
Kebenaran dan kelengkapan data guru, siswa dan proses KBM
Kebenaran pelaksanaan kurikulum
Terpelihara hubungan kerjasama yang baik dengan dunia usaha/dunia industri
terlaksananya iklim kerja yang sehat dan kompetitif
Kebenaran penggunaan sarana pendidikan
kebenaran laporan-laporan
Terbinanya hubungan kerja dengan majelis sekolah
tersedianya dana operasional sekolah

Uraian Tugas :
Merencanakan RIPS, Program Kerja Tahunan dan RAPBS
Memelihara dan mengembangkan organisasi dan manajemen sekolah
Merencanakan dan membina pengembangan profesi, karier guru dan staf
Memonitor dan mengevaluasi kegiatan program kerja sekolah
Membina penyelenggaraan administrasi sekolah di bidang keuangan, ketenagaan kesiswaaan, perlengkapan dan kurikulum
Membina dan mengawasi pengelolaan penyesuaian dan pelaksanaan kurikulum
Membina kegiatan KBM, Tes formatif, tes sumatif, tes uji kompetensi, Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.
Merencanakan pengembangan sarana/prasarana
Membina dan melaksanakan pemeliharaan perbaikan sarana/prasarana/sekolah
Mengatur dan mengelola penggunaan keuangan sekolah
Merencanakan dan mengawasi pelaksanaan dan penerimaan siswa baru
Membina Kesiswaan
Membina pelaksanaan bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan Karier/ kejuruan
Membina kegiatan penelusuran lulusan/tamatan
Membentuk dan memelihara hubungan baik dengan komite sekolah
Membina kerjasama sekolah dengan dunia usaha/dunia industri
Membina dan mengawasi pelaksanaan unit produksi dan koperasi sekolah

Kompetensi  minimal yang  wajib kepala sekolah miliki menurut Permendiknas Nomor 13  tahun  2007 terhimpun pada dalam lima kompetensi (1)  kepribadian, (2)  manajerial, inovatif,   bekerja keras, dan (3) kewirausahaan, (4) supervisi dalam rangka meningkatkan mutu profesi pendidik, dan memiliki kompetensi (5) sosial.






Performance Analysis
Metode pengumpulan data : wawancara kepala sekolah SD Permata
Untuk mengetahui performance apakah sudah sesuai standart pada task analisys diatas, maka dilakukan wawancara
Aspek Pertanyaan Jawaban
Knowledge Menurut anda tugas utama seorang kepala sekolah adalah ?

Apakah seorang kepala sekolah perlu kemampuan dalam berkomunikasi ?

Keterampilan apa yang diperlukan oleh seorang kepala sekolah ?

Bagaimana cara membina guru dan karyawan dalam mengembangan kompetensi mereka ? Tugas utamanya adalah mengontrol, memonitor semua aktivitas yang terjadi di sekolah
Menurut saya penting



Keterampilan memimpin bawahannya, berkomunikasi dan ketelitian
Member mereka pelatihan
Skill Apa yang anda lakukan jika ada karyawan sekolah yang melanggar peraturan sekolah ?
Bagaimana bentuk komitmen bapak dalam menjalankan visi dan misi sekolah ?
Apa yang bapak lakukan dalam memonitor perkembangan sekolah ?
Apa yang Bapak lakukan jika ada keluhan mengenai fasilitas sekolah ?

Apa  bentuk kerjasama Bapak dalam membangun relasi dengan institusi lain ?
Bisakah Bapak menjelaskan bagaimana cara mengawasi pelaksanaan dan penerimaan siswa baru ?
Strategi apa yang Bapak lakukan dalam mepromosikan sekolah ? Saya biasanya hanya menegur saja

Saya selalu menegaskan visi dan misi sekolah dalam setiap rapat

saya biasanya hanya mengecek dari buku laporan harian
Saya hanya menyampaikan pada bagian yang menangani fasilitas sekolah dan kemudian saya rapatkan dengan yang lainnya
Saya dan tim sekolah melaku studi banding pada sekolah lain

Seperti baisa, saya hanya melihat laporan berita acara dari bawahan

Lewat brosur dan website
Ability Bagaimana bentuk ketelitian  Bapak dalam hal pengontrolan keuangan sekolah ?


Apakah Bapak pernah marah kepada guru/karyawan yang melanggar peraturan ?
Jika dalam rapat terjadi keributan, apakah tindakan Bapak ?
Jika ada tamu dari sekolah lain ,apa yang pertama kali Bapak lakukan ? Saya setiap hari selalu melihat buku laporan keuangan dan menanyakan pada bagian keuangan apakah ada masalah hari ini ?
Tidak pernah, saya hanya menegur

Saya segera mengambil alih rapat
Menyambut dengan sebaik mungkin


Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa :
Permasalahan                        : kurangnya interaksi yang lebih dengan para bawahan, kurangnya kerjasama yang intensif dalam setiap harinya
Akar Masalah                         : rendahnya kemampuan dalam kompetensi sosial
Analisis Kebutuhan Pelatihan : Pelatihan Kompetensi Sosial
Kebutuhan Pelatihan Tugas / Aktifitas
Peningkatan Kompetensi Sosial Kepala Sekolah ketrampilan menempatkan diri dalam kelompok
ketrampilan menciptakan kepuasan pada diri bawahan
sikap terbuka terhadap kelompok kerja
kemampuan untuk berkomunikasi, membangun relasi,
Kemampuan menghargai hak orang lain
bekerjasama dengan orang lain, peduli sosial dan memiliki kepekaan sosial






Desain Training Untuk Pelatihan Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan Instruksional Umum : Melatih Keterampilan Sosial Kepala Sekolah
Tujuan Instruksional Khusus :

Memiliki ketrampilan menempatkan diri dalam kelompok
ketrampilan menciptakan kepuasan pada diri bawahan
Memiliki sikap terbuka terhadap kelompok kerja
kemampuan untuk berkomunikasi, membangun relasi,
Memiliki Kemampuan menghargai hak orang lain
Mampu bekerjasama dengan orang lain, peduli sosial dan memiliki kepekaan sosial
Rancangan Training
Aspek Materi Metode Pembelajaran
Kognitif Pengertian Keterampilan Sosial
Pentingnya mengembangkan dan memiliki kemampuan sosial
Teori-teori komunikasi
Pentingnya menghargai hak orang lain
Bentuk-bentuk kerjasama sosial
Peran kelompok besar dan kecil Reading, metode ceramah dan FGD
Psikomotor Cara berkomunikasi yang baik (melatih vokal)
Berlatih memulai pembicaraan dengan para relasi
Analisa kasus tentang keterampilan sosial
Berlatih mendengarkan pendapat orang lain
Bertukar pemikiran antar peserta untuk melatih membangun relasi Role Playing, studi kasus, dan simulasi
Afektif Melatih kemampuan menerima pendapat orang lain
Melatih bersikap adil
Membangun perasaan saling menghargai Sharing dengan kelompok kecil, role playing

Read More

metode mengajar membaca permulaan

M. Ngalim purwantoro dan Djeniah Alim membagi metode mengajar membaca permulaan itu menjadi lima metode yaitu:
a. Metode Eja (Spell Method)
Metode ejaan adalah metode yang paling terdahulu. Metode ini mengajarkan kepada anak-anak huruf-huruf dalam abjad, dengan namanya bukan dengan bunyinya. Huruf-huruf itu dirangkaikan menjadi suku kata, dari suku kata menjadi kata. Contohnya: de – a = da; el – i – el= lil; jadi dalil.
b. Metode Bunyi (Klank Method)
Dalam mengajar menurut metode ini, bukannya nama huruf yang di ajarkan, melainkan bunyinya. Jalannya sama dengan metode eja. Contohnya: d (de) – a = da, w (ew) – a –t (et) = dawat.


c. Metode Lembaga Kata
Metode ini dapat dikatakan sebagai peralihan antara metode bunyi dengan metode global. Proses pelaksanaannya sebagai berikut:
1) Menyajikan kepada siswa sebuah kata yang tidak asing lagi bagi mereka
2) Menganalisis atau menguraikan kata menjadi suku kata. Suku kata langsung ke bunyi huruf.
3) Mengajarkan huruf dari tiap-tiap bunyi yang telah dipisahkan dari lembaga katanya.
4) Huruf-huruf itu disintesis atau dirangkaikan menjadi suku dan kata.
5) Kata-kata itu dirangkaikan menjadi pola kalimat sederhana.
d. Metode Global
Adalah metode yang melihat segala sesuatu merupakan keseluruhan. Cara pelaksananya sebagai berikut:
1) Berilah sebuah cerita singkat kemudian kalimatnya ditulis dengan huruf-huruf tulis.
2) Kalimat-kalimat itu dihafal sehingga dapat membedakan kata-kata yang sama atau hampir sama.
3) Setelah dapat membedakan kata-kata dalam kalimat-kalimat yang sudah diberikan (hal ini biasanya dengan tidak disadari), maka berangsur-angsur akan dapat membedakan suku-suku kata kemudian mengerti huruf-huruf dengan bunyi sekaligus.
4) Setelah hafal dan mengerti huruf-huruf maka dapat pula merangkaikannya menjadi kata-kata, menjadi kalimat.

e. Metode SAS (Struktur Analisa Sintesa)
Metode ini mirip dengan metode global meskipun tidak sama. Dalam metode global dimulai dari suatu unit pikiran atau suatu cerita. Siswa perlu menghafal beberapa kalimat dan dikenalkan banyak huruf sekaligus, dalam metode SAS membicarakan suatu hal misalnya ibu, bacaannya berupa kalimat pendek seperti ini ibu.
Itulah macam-macam metode membaca permulaan. Sedangkan metode mengajarkan huruf Al-Qur’an menurut Mahmud Yunus itu meliputi:
a. Metode lama dinamai dengan metode abjad atau metode Alif - Ba - Ta
Dasar metode ini adalah dimulai dengan mengajarkan nama-nama huruf kemudian dengan berangsur-angsur ke kata kemudian ke kalimat. Adapun caranya sebagai berikut
1) Mula-mula diajarkan nama-nama huruf yang serupa bentuknya menurut tartib bagdadiyah : ا ب ت ث ج ح خ
2) Kemudian diterangkan titik-titik huruf-huruf itu, dibawah atau diatas, satu, dua atau tiga. Contoh : Ba dibawah satu titik.
3) Setelah itu diajarkan nama–nama baris seperti : Alif di atas a, di bawah I, di depan. Alif dua di atas an, dua di bawah in, dua didepan un.

Adapun kekurangan dari metode abjad adalah:
1) Peserta didik merasa kesulitan untuk mengetahui perbedaan antara huruf-huruf yang sama bentuknya, karena tak ada perbedaan antara huruf-huruf itu melainkan titik kscil saja.
2) Peserta didik tiada mengerti pelajaran yang dibacanya, karena semata-mata dilagukan saja dengan tidak sadar akan maksudnya padahal tujuan membaca adalah mengerti.
3) Memakai waktu yang lama dan sedikit hasilnya.

b. Metode suara.
Dasar metode ini sama dengan metode abjad namun disini yang diajarkan adalah bunyai suaranya bukan abjadnya.
Contohnya : اَ اِ اُ - Ù…َ Ù…ِ Ù…ُ
Adapun cara mengajarkannya adalah: dengan menggunakan papan tulis, tulislah huruf-huruf yang berlainan bentuk dan bunyinya, ambil gambar tumbuh-tumbuhan atau yang lainnya untuk alat peraga, untuk mengajarkan huruf maka berilah contoh dari nama tumbuh-tumbuhan atau yang lainnya yang bunyi awalnya sesuai dengan huruf tersebut, tulis huruf yang akan diajarkan disebelah gambar, gambar itu diperlihatkan dengan menyebutkan bunyi awal dari gambar tersebut, kemudian guru menerangkan bunyi dari huruf yang diajarkan, kemudian peserta didik membacanya, setelah mempelajari beberapa huruf kemudian huruf-huruf tersebut disusun menjadi kata-kata dan ditulis di papan tulis dan peserta didik menulisnya dibuku
Adapun kebaikan dari metode suara adalah:
1) Memberi semangat untuk belajar membaca karena mereka telah mengetahui bunyi suara huruf-hurufnya.
2) Ada perhubungan langsung antara bunyi suara dengan rumus (tanda ) yang tertulis.
3) Metode ini sesuai dengan tabiat bahasa Al Qur’an (bahasa Arab), karena yang terpenting dalam bahasa itu adalah bidang suara.
4) Dalam metode ini ada pendidikan telinga, mata dan tangan sekaligus.
Sedangkan kekurangan metode suara adalah:
1) Metode ini lebih mementingkan bagian-bagian dari pada keseluruhan dan ini menyalahi tabiat yang biasa, mata kita melihat sesuatu terlebih dahulu keseluruhannya kemudian bagian-bagiannhya.
2) Dengan metode ini belajar membaca menjadi sangat lambat karena mereka menghadapkan perhatiannya kepada ejaan dan huruf kata-kata, kemudian bagian-bagian kalimat dan membaca kata-kata satu persatu.
3) Metode ini membutuhkan gambar sangat banyak.

c. Metode kata-kata.
Menurut metode ini murid-murid melihat kata-kata yang di ucapkan guru dengan terang dan jelas, kemudian menirukannya secara berulang-ulang, kemudian guru menguraikan kata-kata itu dan mengejanya sehingga tetap rupanya (gambarnya) dalam otak murid-murid, setelah itu guru memperlihatkan kata-kata yang serupa untuk mengadakan perbandingan.
Adapun kebaikan dari metode kata-kata adalah:
1) Metode ini telah termasuk metode keseluruhan, karena kata-kata adalah keseluruhan yang mempunyai arti.
2) Dapat menambah kekayaan bahasa waktu belajar membaca.
3) Dapat mempergunakan kata-kata untuk membuat kalimat dalam waktu yang pendek.
4) Metode ini mengajarkan rumus (tanda ), lafadz dan artinya sekaligus.
5) Dapat mempercepat membaca karena yang diajarkan adalah kesatuannya kata-kata bukan huruf yang satu.
6) Membiasakan untuk mengerti apa yang dibaca.
Sedangkan kekurangan dari metode kata-kata adalah:
1) Diantara kata-kata ada yang serupa tulisannya tetapi berlainan artinya. Hal ini menyebabkan peserta didik salah mengucapkan kata-kata, sehingga berlainan artinya.
2) Kadang-kadang guru terlambat menguraikan kata-kata kepada huruf-hurufnya, sehingga hilang hal yang sangat penting dalam membac yaitu mengetahui huruf.

d. Metode kalimat
Menurut metode ini, di mulai dengan kalimat, kata-kata, kemudian huruf. Caranya: Guru menyiapkan kalimat-kalimat pendek, kemudian ditulis dan dibaca secara berulang-ulang dan murid menirukannya, kemudian guru menulis kalimat lain dengan kata-kata yang hampir sama setelah itu tiap-tiap kalimat diuraikan menjadi kata-kata dan huruf.
Adapun kebaikan darimetode kalimat adalah:
1) Metode ini sesuai dengan ilmu jiwa, yaitu memeulai dengan kesatuan pengertian.
2) Peserta didik mengetahui arti kata-kata dengan sebenarnya, karena kata-kata itu disusun dalam satu kalimat.
3) Metode ini menarik bagi peserta didik untuk membaca dan membiasakan mereka supanya mengerti apa yang dibacanya.
Sedangkan kekurangan dari metode kalimat adalah:
1) Kadang-kadang guru terus-menerus memberikan kalimat, melatih membaca dan menuliskannya sehingga terlambat menguraikan kalimat kepada kata-kata, menguraikan kata-kata kehuruf.
2) Membaca satu kalimat sekaligus bagi yang baru belajar adalah amat sulit.
3) Metode ini membosankan, sebab mengulang-ngulang suatu kata dalam beberapa kali pelajaran akan mengurangi perhatian mereka terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Bahasa Arab dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, mempelajari bahasa Arab adalah syarat wajib untuk mengetahui isi Al-Qur’an dan mempelajari bahasa Al-Quran adalah berarti mempelajari bahasa Arab, kalau kita melihat dari tujuan mempelajari huruf Al-Quran salah satu tujuannya adalah supaya anak-anak dapat belajar bahasa Arab sehingga pandai membaca kitab-kitab agama yang banyak ditulis dalam bahasa Arab, sedangkan salah satu tujuan mempelajari bahasa Arab adalah agar siswa dapat memahami Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum islam dan ajaran.
Read More

ya Allah mulyakan kami

Read More

lingkungan sekolah dan keluarga

Lingkungan diartikan sebagai kesatuan ruang suatu benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Munib, 2005:76).
Sekolah adalah wahana kegiatan dan proses pendidikan berlangsung. Di sekolah diadakan kegiatan pendidikan, pembelajaran dan latihan (Tu’u, 2004:18). Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu megembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional maupun sosial (Syamsu Yusuf, 2001:54).
Sedangkan lingkungan pendidikan adalah berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pendidikan atau berbagai lingkungan tempat berlangsungan proses pendidikan. Jadi lingkungan sekolah adalah kesatuan ruang dalam lembaga pendidikan formal yang memberikan pengaruh pembentukan sikap dan pengembangan potensi siswa.
2.3.2 Faktor-faktor dalam lingkungan sekolah
Menurut Slameto (2003:64) faktor-faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup :
a. Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui didalam mengajar. Metode mengajar dapat mempengaruhi belajar siswa. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Agar siswa dapat belajar dengan baik,maka metode mengajar harus diusahakan yang setepat, efisien dan efektif mungkin.
b. Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Kurikulum yang kurang baik akan berpengaruh tidak baik pula terhadap belajar.
c. Relasi guru dengan siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses ini dipengaruhi oleh relasi didalam proses tersebut. Relasi guru dengan siswa baik, membuat siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya.Guru yang kurang berinteraksi dengan siswa dengan baik menyebabkan proses belajar-mengajar itu kurang lancar.
d. Relasi siswa dengan siswa
Siswa yang mempunyai sifat kurang menyenangkan, rendah diri atau mengalami tekanan batin akan diasingkan dalam kelompoknya. Jika hal ini semakin parah, akan berakibat terganggunya belajar. Siswa tersebut akan malas untuk sekolah dengan berbagai macam alasan yang tidak-tidak. Jika terjadi demikian, siswa tersebut memerlukan bimbingan dan penyuluhan. Menciptakan relasi yang baik antar siswa akan memberikan pengaruh positif terhadap belajar siswa.
e. Disiplin sekolah
Kedisiplinan sekolah erat kaitannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan belajar.Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar, pegawai sekolah dalam bekerja, kepala sekolah dalam mengelola sekolah, dan BP dalam memberikan layanan.
Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin membuat siswa disiplin pula. Dalam proses belajar, disiplin sangat dibutuhkan untuk mengembangkan motivasi yang kuat. Agar siswa belajar lebih maju, maka harus disiplin di dalam belajar baik di sekolah, di rumah dan lain-lain.
f. Alat pelajaran
Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa karena alat pelajaran tersebut dipakai siswa untuk menerima bahan pelajaran dan dipakai guru waktu mengajar. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan mempercepat penerimaan bahan pelajaran. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, belajar akan lebih giat dan lebih maju. Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap sangat dibutuhkan guna memperlancar kegiatan belajar-mengajar.
g. Waktu sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar disekolah. Waktu sekolah akan mempengaruhi belajar siswa. Memilih waktu sekolah yang tepat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar. Sekolah dipagi hari adalah adalah waktu yang paling tepat dimana pada saat itu pikiran masih segar dan kondisi jasmani masih baik.
Dari uraian di atas, indikator-indikator dalam lingkungan sekolah pada penelitian ini adalah :
a. disiplin sekolah
b. relasi guru dengan siswa
c. relasi siswa dengan siswa
d. fasilitas sekolah

2.4 Kajian Tentang Lingkungan Keluarga
2.4.1 Pengertian tentang lingkungan keluarga
Dalam kehidupan sehari-hari seseorang akan berinteraksi dengan lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah. Lingkungan-lingkungan tersebut akan memberikan pengalaman yang dapat berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku dan prestasi seseorang.
Keluarga adalah kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan, 1996:45). Keluarga adalah kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang mempunyai hubungan relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan, dan atau adopsi (Ahmadi, 1991:167). Dalam arti luas keluarga adalah satu persekutuan hidup yang dijalin kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan yang bermaksud saling menyempurnakan diri (Soelaeman, 1994:12).
Lingkungan menurut Purwanto dalam (Asih, 2007:32) digolongkan menjadi tiga,yaitu:
1. Lingkungan Keluarga, yang disebut juga lingkungan pertama.
2. Lingkungan Sekolah, yang disebut juga lingkungan kedua.
3. Lingkungan Masyarakat, yang disebut juga lingkungan ketiga
Pengaruh pertama dan utama bagi kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan seseorang adalah pengaruh keluarga. Banyak sekali kesempatan dan waktu bagi seorang anak untuk berjumpa dan berinteraksi dengan keluarga. Perjumpaan dan interaksi sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi seseorang. Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat informal. Keluarga bersifat informal dapat diartikan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang tidak mempunyai program resmi seperti yang dimiliki lembaga pendidikan formal.
Apabila hubungan orang tua dengan anak dan hubungan anak dengan anak berjalan dengan harmonis maka kondisi tersebut memberi stimulus dan respons yang bik dari anak sehingga perilaku dan prestasinya menjadi baik.
Jadi yang dimaksud lingkungan keluarga adalah suatu daerah yang tediri dari ayah, ibu dan anak untuk mencapai tujuan bersama.
2.4.2 Faktor-faktor dalam lingkungan keluarga
Menurut Slameto (2003:60) lingkungan keluarga akan memberi pengaruh pada siswa berupa :
a. Cara orang tua mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Orang tua yang tidak atau kurang perhatian misalnya keacuhan orang tua tidak menyediakan peralatan sekolah, akan menyebabkan anak kurang berhasil dalam belajar. Dalam mendidik anak hendaknya orang tua harus memberikan kebebasan pada anak untuk belajar sesuai keinginan dan kemampuannya, tetapi juga harus memberikan arahan dan bimbingan. Orang tua dapat menolong anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dengan bimbingan tersebut.
b. Relasi antar anggota keluarga
Relasi antar anggota keluarga terutama relasi anak dengan orang tua dan relasi dengan anggota keluarga lain sangat penting bagi keberhasilan belajar anak. Demi kelancaran keberhasilan belajar siswa, perlu diusahakan relasi yang baik dalam keluarga tersebut. Hubungan yang baik didalam keluarga akan mensukseskan belajar anak tersebut.
c. Suasana rumah
Suasana rumah yang dimaksudkan adalah kejadian atau situasi yang sering terjadi dikeluarga. Agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram sehingga anak betah dirumah dan dapat belajar dengan baik.
d. Keadaan ekonomi orang tua
Keadaan ekonomi anak erat kaitanya dengan belajar anak. Pada kondisi ekonomi keluarga yang relatif kurang memyebabkan orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan anak, tetapi faktor kesulitan ekonomi dapat menjadi pendorong keberhasilan anak.
Keadaan ekonomi yang berlebih juga dapat menimbulkan masalah dalam belajar. Orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak termasuk fasilitas belajar, sehingga orang tua kurang perhatian pada anak karena merasa segala kebutuhan si anak sudah dicukupi. Akibatnya anak kurang perhatian terhadap belajar.
e. Perhatian orang tua
Anak perlu dorongan dan pengertian dari orang tua dalam belajar. Kadang anak yang mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberikan pengertian dan dorongan untuk menghadapi masalah di sekolah. Bila anak belajar jangan diganggu dengan tigas-tigas rumah agar konsentrasi anak tidak terpecah.
f. Latar belakang kebudayaan
Tingkat pendidikan dan kebiasaan orang tua juga berpengaruh terhadapsikap anak. Maka perlu ditanamkan kebiasaan yang baik agar dapat mendorong anak semangat belajar.
2.4.3 Fungsi keluarga
Menurut Soelaeman (1994:85) fungsi keluarga adalah sebagai berikut :
a. Fungsi edukasi
Fungsi edukasi adalah fungsi keluarga yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan serta pembinaan anggota keluarga pada umumnya. Fungsi edukasi ini tidak sekedar menyangkut pelaksanaan tetapi menyangkut pula penentuan dan pengukuan landasan yang mendasari upaya pendidikan itu, pengarahan dan perumusan tujuan pendidikan, perencanaan dan pengolahannya, penyedian sarana dan prasarana dan pengayaan wawasannya.
b. Fungsi sosialisasi
Tugas keluarga tidak hanya mengembangkan individu menjadi pribadi yang mantap tetapi juga upaya membantunya dan mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam melaksanakan fungsi sosial, keluarga menduduki kedudukan sebagai penghubung anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial. Fungsi sosialisasi dapat membantu anak menemukan tempatnya dalam kehidupan sosial secara mantap yang dapat diterima rekan-rekannya bahkan masyarakat.
c. Fungsi lindungan atau fungsi proteksi
Mendidik hakekatnya bersifat melindunggi yaitu melindungi anak dari tindakan yang tidak baik dan dari hidup yang menyimpang norma. Fungsi ini juga melindungi anak dari ketidak mampuannya bergaul dengan lingkungan bergaulnya, melindungi dari pengaruh yang tidak baik.
d. Fungsi afeksi atau fungsi perasaan
Anak berkomunikasi dengan lingkungannya juga dengan keluarganya dengan keseluruhan pribadinya. Kehangatan yang terpancar dari keseluruhan gerakan, ucapan, mimik serta perbuatan orang tua merupakan bumbu pokok dalam pelaksanaan pendidikan anak dalam keluarga. Makna kasih sayang orang tua pada anaknya tidak tergantung dari banyaknya hadiah yang diberikan tetapi sejauh mana kasih sayang tersebut dipersepsikan atau dihayati. Yang ingin dicapai dalam fungsi ini adalah menciptakan suasana perasaan sehat dalam keluarga.
e. Fungsi religius
Keluarga wajib memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama. Tujuannya untuk mengetahui kaidah-kaidah agama juga untuk menjadi insan yang beragama sehingga menggugah untuk mengisi dan mengarahkan hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan.
f. Fungsi ekonomis
Fungsi ekonomis keluarga meliputi pencarian nafkah, perencanaan pembelanjaan serta pemanfaatannya. Keadaan ekonomi keluarga berpengaruh pada harapan orang tua akan masa depan dan harapan anak itu sendiri. Keluarga dengan ekonomi rendah menganggap anak sebagai beban. Sedangkan keluarga dengan ekonomi tinggi kemungkinan dapat memenuhi semua kebutuhan akan tetapi dalam pelaksanaanya tersebut belum menjamin pelaksanaan sebagai mana mestinya karena ekonomi keluarga tidak tergantung dari materi yang diberikan.
g. Fungsi rekreasi
Rekreasi dirasakan orang jika ia menghayati suasana yang senang dan damai, jauh dari ketegangan batin, segar, santai, yang memberikan perasaan bebas dari ketegangan dan kesibukan sehari-hari. Makna fungsi rekreasi dalam keluarga diarahkan kepada tergugahnya kemampuan untuk dapat mempersiapkan kehidupan dalam keluarga secara wajar dan sungguh-sungguh sebagaimana digariskan dalam kaidah hidup berkeluarga.

h. Fungsi biologis
Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis anggota keluarga. Kebutuhan akan keterlindungan fisik guna melangsungkan kehidupan seperti perlindungan kesehatan, rasa lapar, haus dan lain-lain. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi itu hendaknya tidak berat sebelah, tidak memisahkan fungsi-fungsi tersebut, tidak dilakukan oleh satu pihak saja.
Read More

Kritis dalam perspektif agama

Kritis dalam perspektif agama bisa dimaknai sebagai amar makruf dan nahi munkar. Artinya, kritis merupakan bentuk lain dari memerintahkan kebajikan dan mencegah kemunkaran. Meminjam istilah Kuntowijoyo, amar makruf dipahami sebagai proses humanisasi (memanusiakan manusia) dan nahi munkar sebagai proses liberasi (pembebasan) dari ketertindasan. Dua proses ini tentunya dalam bingkai keislaman (transedensi) yang penuh ketundukan dan kedamaian. Itulah yang dinamakan oleh Kuntowijoyo sebagai Ilmu Sosial Profetik sebagaimana yang diilhami oleh salah satu ayat al-Qur’an surat Ali Imran 110 yang berbunyi: ”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan (dikeluarkan) untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT”.
Amar makruf bisa berarti mengajak seseorang berdoa, berdzikir, dan shalat, sampai yang semi-sosial seperti menghormati orang tua, gotong royong sesama teman, serta yang bersifat kolektif seperti mendirikan pemerintahan yang bersih dari KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), atau membangun sistem keamanan sosial untuk kesejahteraan rakyat. Amar makruf maknanya bisa disamakan dengan humanisasi. Humanisasi berarti memanusiakan manusia dan menghilangkan ketergantungan dari orang lain. Intinya, seorang pelajar harus melawan segala bentuk dehumanisasi (tidak memanusiakan manusia).
Dehumanisasi terjadi di antaranya karena adanya alat-alat teknologi, baik berupa alat-alat fisik seperti HP, tivi, internet, games, dan alat-alat kecantikan, serta barang-barang elektronik lainnya. Ini bukan berarti kita anti-globalisasi dan gaptek terhadap alat-alat modern. Tetapi sebagai bentuk kritis dan tidak menerima sesuatu secara mentah-mentah. Karena, teknologi sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan manusia. Dia bisa membuat manusia menjadi terasing dari lingkungan sekitarnya. Orang mudah tertipu dengan mesin buatan mereka sendiri, sehingga hilang kesadarannya sebagai manusia yang mampu berpikir mandiri.
Nahi munkar bisa berarti mencegah teman dari mengonsumsi narkoba, melarang berkelahi, memberantas perjudian, sampai membela nasib kaum buruh dan tani, serta mengusir penjajah. Kita harus berani melawan produk-produk Barat yang menindas budaya kita dan berani menentang ketidakadilan adanya kebijakan pembangunan mall-mall bertingkat yang membuat kesenjangan sosial semakin jelas antara si kaya dan si miskin.
Makna nahi munkar bisa disandingkan dengan liberasi yang berarti memerdekakan/membebaskan. Sasaran liberasi adalah sistem pengetahuan, sistem ekonomi, dan sistem politik. Pembebasan dari sistem pengetahuan adalah usaha kita untuk membebaskan masyarakat dari sistem pengetahuan yang materialistis-kapitalistis, dari dominasi struktur tatanan masyarakat, misalnya dari klas dan seks. Inilah yang menyebabkan manusia menjadi licik dan ingin menang sendiri. Kita juga harus melakukan aksi pembebasan dari sistem ekonomi yang selalu menindas rakyat miskin, seperti melawan adanya kenaikan harga BBM dan TDL (Tarif Dasar Listrik).
Pada perspektif yang sangat filosofis, berpikir kritis sama saja dengan berpikir radikal. Radix artinya akar, sehingga berpikir kritis artinya berpikir sampai ke akar suatu permasalahan, mendalam, bahkan melewati batas-batas fisik yang ada (metafisik). Sebagai contoh, ketika kita berpikir kritis tentang sebuah gunung, maka kita tidak hanya berpikir bahwa gunung itu setumpukan tanah dan pepohonan, melainkan ada apa di balik ciptaan gunung yang tinggi dan besar itu. Jadi, kita bisa berpikir beyond atau melampaui. Kritis dalam artian ini menemukan makna terdalam dari sesuatu yang berada dalam suatu persoalan tertentu (Musa Asyarie, 2002).
Nah, lebih jauh kita akan menelusuri makna kritis secara historis dan sedikit rumit. Tapi nggak apa-apa. Karena tulisan ini menginginkan makna kritis yang cukup mendasar dan teoritis. Kunci utama dalam memahami teori kritis adalah kata ‘kritik’. Kritik merupakan program yang dimiliki oleh Madzab Frankfurt untuk merumuskan sebuah teori yang emansipatoris tentang masyarakat modern. Madzhab Frankfurt merupakan aliran sosial dalam teori kritis yang muncul di Jerman (Universitas Frankfurt) pada awal abad ke-20 dengan tiga tokoh utama Teodor Adorno, Horkheimer, dan Herbert Marcus. Tiga tokoh ini sering disebut sebagai generasi awal dari Madzhab Frankfurt yang kemudian diteruskan dengan generasi kedua yaitu Jurgen Habermas.
Madzhab Frankfurt sebenarnya satu aliran yang melakukan kritik terhadap pemikiran Karl Marx dan para penerusnya (Marxian). Walaupun sebenarnya Madzhab Frankfurt itu sendiri tidak bisa dipisahkan sejarahnya dari perkembangan pemikiran Marxis. Karena bagaimana pun Madzhab Frankfurt merupakan perkembangan lebih lanjut dari Marxisme di Barat. Hanya saja, Madzhab Frankfurt selalu melancarkan kritik-kritiknya terhadap Marxis yang menimbulkan kesan bahwa Madzhab Frankfurt anti-Marx, padahal sebenarnya tidak. Kemudian, pada perkembangan selanjutnya Madzhab Frankfurt menuai banyak kritik dari kalangan mahasiswa Jerman karena dianggap tidak mampu mewujudkan inti pesan dari Marx yaitu, membebaskan manusia yang tertindas akibat adanya perbedaan klas borjuis dan klas proletar. Kelemahan mereka memang terletak pada keterbatasn teori yang mereka miliki (Francisco Budi Hardiman, 1993).
Baiklah, kita tidak akan berlama-lama membahas tentang Madzhab Frankfurt, tetapi kita langsung memfokuskan pada arti kritis itu sendiri dalam perkembangannya pada masa-masa pencerahan abad ke-17 sampai abad ke-19 (Renaissance di Prancis dan Aufklarung di Jerman). Menurut Madzhab Frankfurt, ada empat pemikir kritis pada abad pencerahan ini yang bisa dijadikan rujukan untuk memahami makna kritis. Mereka itu adalah Immanuel Kant (1724-1804), GWF. Hegel (1770-1831), Karl Marx (1818-1883), dan Sigmund Freud (1856-1939). Kita akan membahas kritis dalam arti Kantian, Hegelian, Marxian, dan Freudian. Berikut ini adalah ulasannya.
Pertama, kritis dalam arti Kantian adalah melawan dogmatisme (sebuah ajaran yang tidak bisa diganggu gugat) dengan sikap skeptisisme. Dogma biasanya terdapat dalam ajaran agama yang harus diterima kebenarannya tanpa dibantah dan diragukan. Karena setiap agama pasti memiliki dogma. Skeptisisme merupakan sebuah sikap keraguan yang sangat mendalam dalam melihat sebuah kebenaran serta sikap tidak lekas percaya pada sebuah kebenaran tertentu sebelum diuji terlebih dahulu keilmiahannya. Apakah sesuai dengan fakta di lapangan atau tidak. Karena itu, rasio atau akal dituntut sangat berperan dalam menentukan sebuah kebenaran, baik yang berbentuk fisik maupun yang mistik.
Pengertian kritis dalam arti Kantian memang cukup berani. Kita diajak untuk ragu terhadap segala sesuatu. Ibarat ingin membeli buah mangga di pasar. Ketika kita ingin memastikan apakah mangga itu tidak busuk semua, maka ambillah sebuah keranjang lalu pilihlah mangga itu satu per satu dan masukkan ke dalam keranjang secara perlahan-lalan. Dengan demikian kita akan yakin, bahwa mangga tersebut tidak ada yang busuk. Prinsipnya, kritis dalam arti Kantian adalah kegiatan menguji valid atau tidaknya sebuah pengetahuan tanpa ada prasangka/asumsi. Kegiatan ini hanya dilakukan oleh akal (Francisco Budi Hardiman, 1993).
Kedua, kritis dalam arti Hegelian tidak sama dengan Kantian. Justru Hegel melakukan kritik terhadap konsepsi kritis yang dibangun oleh Kant. Menurut Hegel, Kant terlalu mendewa-dewakan akal. Seolah akal sudah sempurna dengan keutuhan akal itu sendiri. Padahal, menurut Hegel, akal tidak bisa dipisahkan dari proses yang cukup panjang dari perjalanan sejarah pembentukan akal itu sendiri. Justru, akal akan semakin sadar dan menemukan kesadaran tertingginya ketika akal bertemu dengan rintangan-rintangan yang cukup panjang.
Artinya, kritis dalam konsep Hegelian merupakan refleksi atau refleksi diri atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan kontradiksi-kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri dari akal dalam sejarah. Dengan kata lain, kritis juga berarti proses menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran. Sederhananya, kritis berarti dialektika. Karena bagi Hegel, kesadaran tertinggi muncul ketika kita telah berdialektika dengan rintangan-rintangan tersebut (Francisco Budi Hardiman, 1993).
Jadi, kritis itu mengisyaratkan adanya dialektika tesis-antitesis-sintesa. Ada sebuah teori, kemudian teori itu dihujat akan kelemahan-kelemahannya karena dianggap tidak bisa menjawab anomali-anomali (kerusakan) yang ada, sehingga melahirkan teori baru. Teori baru itulah yang dinamakan sintesa. Begitu selanjutnya, teori baru tersebut mengalami dialektika lagi dan dihujat karena tidak bisa menjawab permasalahan yang ada, sehingga digantikan oleh teori baru berupa sintesa yang lebih baru.
Ketiga, kritis dalam arti Marxian adalah upaya pembebasan diri atau emansipasi dari penindasan yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu masyarakat (Francisco Budi Hardiman, 1993). Teori kritis ini tidak bisa dipisahkan dari realitas di mana Marx berada, bahwa pada saat itu terjadi penindasan antara kaum pemilik modal alias borjuis (sang majikan) terhadap rakyat jelata yang menjadi budak. Untuk melanjutkan hidup mereka, terpaksa para budak itu bekerja untuk memenuhi ketakanan-tekanan para pemilik pemodal. Dari perbedaan klas inilah, Marx ingin membebaskan ketertidasan kaum proletar dari kaum borjuis dengan melukiskan hubungan-hubungan ekonomi-politik. Marx menganalisis, siapa saja pihak yang diuntungkan dan siapa saja pihak yang dirugikan.
Kritis yang diinginkan Marx adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagaimana yang terdapat dalam butir kelima dari Pancasila, dasar-dasar dari negara Republik Indonesia. Kritis ala Marx berbeda dengan Hegel. Menurut Marx, Hegel terlalu jauh dari realitas hidup dan tidak menyentuh pada hubungan antarmasyarakat (idealisme). Karena, kita hidup selalu mengalami kontradiksi dan pertentangan. Dengan melukiskan adanya klas borjuis dan proletar tersebut (materialisme), kritis yang diinginkan Marx bertujuan pada pembebasan dari ketertindasan. Karena itu, sebenarnya Marx bisa dianggap cukup relegius. Karena tujuan-tujuan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip hidup dalam semua ajaran agama. Hanya saja dia atheis.
Keempat, kritis dalam arti Freudian hampir sama dengan Hegel. Hanya saja, Frued lebih spesifik pada individu manusia, terutama pada perkembangan psikisnya. Kritis dimaknai oleh Freud sebagai refleksi baik dari individu maupun masyakarat atas konflik-konflik psikis yang menghasilkan ketidakbebasan internal sehingga dengan cara refleksi itu individu dan masyakarat tersebut dapat membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan luar yang mengacaukan kesadarannya. Singkatnya, kritis Freudian adalah pembebasan individu dan masyakarat dari yang irrasional (tidak masuk akal) menjadi rasional (masuk akal) dan yang dari ketidaksadaran menjadi kesadaran.
Lagi-lagi, pengertian kritis ala Freud tidak bisa dilepaskan konteks sosio-historis di mana dia berada, bahwa pada saat dia hidup sebagai psikolog, banyak pasien-pasiennya yang mengalami gangguan kejiawaan seperti histeria, fobia, neurosis, dan macam-macam psikopatologis lainnya (Francisco Budi Hardiman, 1993). Subyek pembahasan kritis ala Freud adalah manusia itu sendiri.

Read More

Reading

2.1 The Essence of Reading
There are four skills in English which should be mastered, they are: reading, speaking, listening and writing and it cannot be denied that reading is one of the most important. According to Harmer in The Practice of English Language Testing (1985:153) “Reading is an exercise dominated by the eyes and the brain”. Specifically, Nunan (1989:17) in his book also said that “Reading is a process of decoding written symbols, working from smaller units (individual letters) to larges ones (words, clauses and sentences)”.
Based on explanation above, the writer concludes that reading is a process to convey the message or information. By reading, the reader will know what they read and challenged to response the ideas of the author. In order to make the messages or information that comes from the author can be understood and comprehended easily by the reader.

2.2 Reading Comprehension
It is necessary for the students of Senior High School to master reading comprehension. Cooper (1986:11) stated that Comprehension is a process in which the reader may construct meaning by interacting with the text. In reading comprehension, a reader should have knowledge about understanding the reading passage. The common questions on the passages are primarily about the main ideas, details, and an inference that can be drawn from the passages.
According to Singer (1985) reading comprehension has been defined as an interpretation of written symbols, the apprehending of meaning, the assimilation of ideas presented by the written, and the process of thinking while deciphering symbols. Further, reading comprehension is related closely to the cognitive competence of the readers, because this will produce comprehension. This idea also supported by Parera in Kahayanto (2005:9), he states as follows:
“Memahami adalah memperhatikan naskah tertulis dengan maksud memahami isinya. Proses ini dilakukan dengan mata diam atau membaca dalam hati. Hasil pemahaman disebut pemahaman bacaan. Cara membaca yang demikian disebut cara membaca pemahaman”.

In comprehending a topic, the readers interacts with the text relates to the pre-questioning of the text to prior experiences of construct meaning which can be found in the text. Skimming and scanning are two very useful techniques that will help the reader become a better reader.
1. Skimming
Skimming is a technique used to look for the “gist” of what the author is saying without a lot of detail (Kustaryo, 1988:5). This reading technique is used if one wants to get a general impression of a book, essay, article and determine whether or not to read it more carefully. Moreover, Yorkey (134) defines that there are two purposes of skimming: to locate a specific word, fact, or idea quickly, and to get a rapid general impression of the material. Azies & Alwasilah (1996:114) said “Aktifitas skimming melibatkan proses membaca, sekalipun dengan kecepatan melebihi kecepatan membaca pada umumnya”.
Thus, in skimming the text, a reader needs to practice in order he or she can learn the key words and phrases which can cover all the material he or she is reading. To do the skimming, the reader should go through a passage quickly, jumping over parts of it, in order to get a general idea of what it is about.

2. Scanning
Scanning is quickly reading to find the specific information Brown (2001:308) stated that, scanning is quickly searching for some particular piece or pieces of information in a text.
By scanning, a reader mean glancing rapidly through a text either a text either to search a specific piece of information (e.g. name, date) or to get an initial impression of whether the text is suitable for a given purpose”, Nuttall in Kahayanto (2005:11). When scanning the reader lets his or her eyes wander over the text until he or she is looking for, whether it is a place, a kind of food, a kind of verb, or a specific information. To enable the student to scan effectively, he or she should know what kinds of information he or she needs, also, he or she should have the strong belief where he or she will find such information needed from the text.

2.3 Schema Theory Background and Knowledge in Reading
Schema Theory is the source of some questions like: How do readers construct meaning? How do they decide what to hold on to, and having made that decision, how do they infer a writer’s message? The reader brings information, knowledge, emotion, experience, and culture – that is, schemata (plural) – to the printed word, Brown (2001: 299).
Beside that, this idea also support by Clarke and Silberstein in Brown (2001) capture the definition of schema theory as follows:
“Research has shown that reading is only incidentally visual. More information is contributed by the reader than by the print on the page. That is, readers understand what they read because they are able to take the stimulus beyond its graphic representation and assign it membership to an appropriate group of concepts already stored in their memories…….Skill in reading depends on the efficient interaction between linguistic knowledge and knowledge of the world”.

There are two categories of schemata, as follows:
1. Content Schemata include what we know about people, the world, culture, and the universe
2. Formal Schemata consist of our knowledge about discourse structure.
In line with the explanation above, the writer conclude that the use of pre-questioning is to build readers’ content schemata which are related to the background of knowledge.

2.4 Cognitive Factors in Reading
According to Harris and Sipay (1980:251) there are several cognitive factors in reading such as perception, attention, memory, and cognitive style.
2.4.1 Perception
Perception starts with the stimulation of sense organs such as the eyes and ears, but it is far more than simple sensing. In perceiving, the brain selects, groups, organizes, and sequences the sensory data so that people perceive meaningful experiences that can lead to appropriate responses. Among the important characteristics of perception, several seem to have particular relevance for reading, such as follows:
1. Figure and Ground
Normally, one major unit or group of units is perceived clearly against a background that is more vaguely perceived.
2. Closure
The abilities to get the correct meaning of a sentence in which not all the words are recognized, and to pronounce a word correctly when some letters are blotted out, are examples of closure.
3. Sequence
In reading, all the stimuli are on the page and sequence is imposed by the reader.
4. Learning
Perception becomes meaningful units as they become associated with learned concepts and their verbal labels.
5. Set
One’s immediate mind set provides an anticipation of what is likely to come that is helpful when the anticipation is correct, but leads to errors when the anticipation is incorrect.
6. Discrimination
The abilities to analyze a whole perception into its parts, and to synthesize the parts correctly are basic to success in visual and auditory discrimination of words.
2.4.2 Memory
Psychologists distinguish between iconic memory, the fraction of a second that a sensory impression lasts before it fades out. Short term memory, which lasts a view second and long term memory. A distinction is also made rote memory, in which the material may be without structure (as in a sequence of digits), and memory for meaningful material.

2.4.3 Attention
According to Harris and Sipay (1980:277) attention based on the cognitive is the ability to attend and concentrate is basic to efficiency in perception, learning, and memory.
Related to this study, it means the person can maintain focus on particular stimuli and disregard or suppress other stimulation that reaches him at the same time, thus maintaining a stable figure in the focus of attention, against a non interfering background.
2.4.4 Cognitive Style
Cognitive style refers to the tendency to prefer certain ways of handling cognitive tasks to other ways. The preferred may be a relatively strong aptitude or a fairly consistent behavioral tendency. Some explorations of cognitive style seem relevant to the understanding of reading disabilities.



2.5 Reading as a Process of Predicting
Reading has been considered only as a visual activity, because we do with the eyes. But, in The Book of Study Skills for Students of English, Yorkey (1982:100) stated reading is not only a visual activity. It is more than just simply run your eyes accumulating information as each words, phrase, and sentences is progressively recognized. Reading is also an active process of predicting what is likely to come next. Our brain processes the visual information from our eyes, rapidly forming and revising hypotheses about the form and content of what you are reading.
Thus, in this study the writer conclude that pre-questioning as the strategy to build up and to rise the students’ skill in predicting what will face by them in the whole text.

2.6 Some Factors that Influence Students’ Reading Comprehension Achievement

There are two factors that influence the students’ reading comprehension achievements and they are related one another, they are: internal factor and the external factor.

2.6.1 The Internal Factor
The internal factor means the factor which come from the reader himself (Kahayanto, 2005:13). Or usually known as personal factor, because the factor has existed inside the reader. This factor dealt with self-motivation and interest.

2.6.1.1 Motivation
Motivation plays an important role in comprehending the text. The students will be motivated to read when they fell that they need something from the text. Brown (2001:75) divided the motivation theory into two kinds, they are: intrinsic and extrinsic motivation.
Edward Deci in Brown (2001:76) defined intrinsic motivation, as follow:
“Intrinsically motivated activities are ones from which there is no apparent reward except the activity itself. People seem to engage in the activities for their own sake and not because they lead to an extrinsic reward. It is aimed at bringing about curtaining internally rewarding consequences, namely, feelings of competence and self-determination.”

On the other one, extrinsic motivation defined by him as extrinsically motivated behaviors that carried out in anticipation of a reward from outside and beyond the self. Such as; money, prizes, grades, and even certain of positive feedback.

2.6.1.2 Interest
Interest is being one of the important factors in order to increasing the students’ comprehension achievement in reading. If one has interest to read, it means that he or she will get a good achievement. On the other side, if the reader has no any interest to read, it can influence his or her achievement.
In line with the explanation of motivation and interest above, in this study the writer interested to use pre-questioning to build up the students’ motivation and interest, and also want to see the effect of using pre-questioning in relationship with the students’ reading comprehension achievements. Because, it is impossible for the students to understand the text if he or she has no interest and motivation to read. So, it can be concluded that the good interest and motivation result the good achievement of the students.

2.6.2 The External Factor
The external factor has a close relationship to reading material and teacher of reading. They are related one another.
2.6.2.1 Reading Material
The students’ achievements’ in reading depends on the level of the difficulty of the text. Thus, it can influence students’ achievement if the text given is not at the right level of the difficulty of the readers or the students.

2.6.2.2 Teacher of Reading
The teacher of reading should be careful in choosing the text and giving the tasks because they are related to the students’ reading comprehension achievements.

2.7 Questioning Strategies
The most important key to create an interactive learning is the initiation of interaction from the teacher by using question, Brown (2001:169). Appropriate questioning can fulfill a number of different functions, such as:
1. Teacher questions give students the opportunity to produce language comfortably without having to risk initiating language themselves. It is very scary for the students to have to initiate conversation or topics for discussion.
2. Teacher question can serve to initiate a chain reaction of students interaction among themselves.
3. Teacher questions giving immediate feedback about students’ comprehension.
4. Teacher questions provide students with opportunities to find out what they think. As they are nudged into responding to questions about, say, a reading, they can discover what their own opinions and reactions are. This self-discovery can be especially useful for a pre-reading activity.
Perhaps the simplest way to conceptualize the possibilities is to think of a range of questions, beginning with display questions that attempt to elicit information already known by the teacher and the students. In this study, the writer interested to use pre-questioning in order to make the general frame of the knowledge.

2.8 Pre-questioning
Based on Brown’s (2001) explanation of display questions, schema theory and students’ background knowledge explanation. He also defined pre-questioning implicitly as some questions which are provided before the students read the whole text, in order to build the students’ interest and motivation, also their cognitive factors and pre-questioning is very useful to activate the schemata, thus the students can predict what will be faced by them in the reading text.
2.9 Kinds of Pre-questioning
According to Harmer (1985:153), there are some kinds of pre-questioning, they are: Pre-questioning before reading to confirm expectations, pre-questioning before reading to extract specific information, pre-questioning before reading for general comprehension, and pre-questioning before reading for detail comprehension. The explanations are as following:
- Pre-questioning before reading to confirm expectations
The use of pre-questioning as a tool for placing great emphasis on the lead-in stage (where students are encouraged to become interested in the subject matter of the text), encourages students to predict the content of the text, and gives them an interesting and motivating purpose for reading.
- Pre-questioning before reading to extract specific information
Pre-questioning as a tool to force the students to extract specific information from the text. They are going to answer before reading the text. If they do this it will be possible for them to read in the required way, they should seen the text only to extract the information the questions demand.
- Pre-questioning before reading for general comprehension
In this case pre-questioning used to build up the students’ prior knowledge.
- Pre-questioning before reading for detailed comprehension
This kind of pre-questioning intends to give the students some detailed information that should be found by them in the whole of the text.
Based on the explanation above, in this study the writer only concern two kinds of pre-questioning, they are: Pre-questioning before reading for general comprehension and the pre-questioning before reading to confirm expectations. In order to deal with students’ background knowledge and activating schemata. Related to this study, the writer used pre-questioning with Indonesian version, because the form of pre-questioning is only to deal the students’ background knowledge. Thus, the students can predict easily what will be discussed on the text, after they read and answer the pre-questioning.

2.10 Kind of Questions in Reading Comprehension
According to Loughed and TOEFL Information Bulletin in Djiwandono (2002:97), usually the questions in reading comprehension tests are about:
1. Main idea
2. Supporting details
3. Inferring meaning
4. Passage structure
5. Author’s aim
6. Knowledge about certain vocabulary
7. Defining vocabulary based on the context

In this study, the writer only concerns on main ideas and supporting details, because two kinds of reading comprehension test above are most important specific comprehension skills.
a. Main Ideas
The question about main idea asks the reader to determine the main idea or topic from a reading text, and commonly it is signed by words such as: main point; mainly discussed; main idea; best title; main purpose; mainly concerned; main topic.
Here are some examples of questions to ask about main idea:
- What is the main idea of the passage?
- With which of the following is the passage mainly concerned?
- What is the main part of the passage?
- Which of the following would be the best title?
(Djiwandono, 2002 : 98)
b. Supporting Details
The question about supporting details asks the reader to find detail information that is printed explicitly in the text. It is commonly signed by words such as: according to the author…; according to the passage…; who, what, when, where, why, how, which.
Here are some examples of questions to ask about supporting details:
- Which of the following question does the passage answer?
- According to the passage, which statement is true?
- When did ‘something’ happen?
- Who did ‘something’?
(Djiwandono, 2002:99)

2.11 The Differences between Male and Female in Learning Attitudes and Reading Habit

2.11.1 Learning Attitudes
All the human brain works for the same purpose. But, there is a difference in the way of working between the male’s brain and the female has. It is because there is a difference on the density of cells of nerve or the neuron between the male’s and female’s brain.
Moreover, female speaks clever, reads and occasionally has interference experience on learn than male. This fact is guessed by the scientist relating to female’s ability in using both of her hemispheres, left and right, in reading and doing verbal activity. Meanwhile, male only uses his one of his hemisphere that is usually the left.
Abdul Chaer (2002: 134) said, “the adult women are more energetic in case of verbal because they use their left and right brain jointly”. This statement support the fact that female has better development of linguistics ability compared to male.
The attitudes on reading give influence on the linguistics ability. According to Callaghan in an article of Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan no 37 (2002: 34), there is a little influence on the performance and linguistics ability given by the women’s superiorities linguistics.
2.11.2 Reading Habit
Attitudes toward reading will influence the male and female linguistics ability. For examples male likes talking spontaneously and has courage to do that. Meanwhile, female, though talkative, is not firm in making decision. But, the female could see the cases that male could not see. It is because male has problem in reading and writing has problems in reading and writing. Supported by Maubach and Morgan in article of Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (2002: 472) says, “Men have more problems on reading and writing field.”
Haris in the article of Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (2002: 471), “Men choose the factual information and only look for the definite information that they want than read from start to finish.”
Read More

kalimat baku

Pengertian kalimat baku menurut
a. Kamus Bahasa indonesia porwodarminto yaitu sesuatu yang baik dan be
Nar yang mnjadi dasar ukuran ( Standart ) bagi pemakai bahasa indonesia.
b. Kalimat baku : ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagai
An warga memakainya sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya.
c. kalimat tulis yang di nyatakan dengan ejaan yang berlaku, yang di tandai
dengan diantaranya titik , koma, titik koma, tanda seru dsb.

Ciri – ciri kalimat baku
Menurut ciri umum bahasa indonesia ada 2 yaitu
* Kemantapan dinamis yaitu berupa kaidah atau aturan 2 yang tetap baik menurut situasi pemakai dan pemakainnya serta bahasa menurut strukturnny
* Kecerdasan : proses pencendekiaan dapat menampung aspirasi melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan modern dg menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Ciri khusus Bhs Indonesia
* Gramatikal : Penggunaan fungsi gramatikal ditandai ( subyek, predikat, obyek )
Contoh kepala sekolah pergi ke luar
* Sintaksis : perubahan pola subyek dan predikat ( Inversi ) Mobil itu rusak. Penataan kembali gatra 2 kalimat tanpa merubah makna kalimat yang terkandung.
Dia memotong kue dengan garpu.
* morfologi : membicarakan seluk beluk struktur kata, berdasarkan bntuknya.
* Semantik : arti suatu kata dapat di gambarkan dg memberikan unsur yang membentuk arti kata tersebut.
* Menggukan lafal, intonasi dan tekanan yg sesuai dg sistem bhs indonesia dg tidak menampakan sifat asing dan kedaerahan
* penempatan jeda yg sesuai dg satuan maknanya.

Fungsi bahasa baku yaitu
1. komunikasi resmi
2. wacana teknis ( makalah, tesis lap. Penelitia dsb )
3. Pembicaraan resmi di depan umum ( kongres, proses belajar mengajar, konrfensi dsb )
4. pembicaraan dg orang yang di hormati.
Sedangkan di tinjau dr segi penggunaannya bahasa baku digunakan untuk;
1. administrsi pemerintah
2. lembaga lembaga resmi
3. komunikasi resmi
4. surat mnyurat resmi
5. laporan laporan resmi.
Read More