Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

novel/ cerpen, q ambil dr binti iliya faridah, rungkut, judul?


Bagaimana harus menjelaskan semuanya, semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba saja hadir dan menggerogoti segalanya. Tidak pernah berfikir akhirnya seperti ini, semua yang terjadi  tidak akan pernah terlupakan karena ini semua adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati.
Reysha menitikkan air matanya, entah untuk yang keberapa kalinya.
Dari kejauhan momy dan dadynya sedang memperhatikan tingkah laku putrinya tersebut, mereka merasa sedih dengan apa yang dialami putrinya tapi mereka juga tidak mau melihat putrinya menjadi seperti ini. Mereka merasa putrinya yang dulu ceria kini telah memudar, putri mereka menjadi pendiam dan pemurung.
“Aku tidak tahan melihatnya seperti ini” keluh mom kepada dady. Mom menghembuskan napas panjang dan membuangnya “Kita harus melakukan sesuatu”
“Apa?” tanya dad
“Entahlah...” jawab mom pasrah tapi dilubuk hatinya ia berjanji akan mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan ini. Mom menghembuskan napas lagi dan menutup pintu kamar Reysha lalu pergi meninggalkan tempat ia berdiri diikuti dady.
Reysha menatap langit yang cerah, terlihat bintang dan bulan memancarkan cahaya yang indah. Angin berhembus lembut membelai wajahnya yang basah karena air mata yang tak kunjung redah.  
Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus berakhir dalam keadaan seperti ini? Kenapa harus kamu dan kenapa harus aku? Kenapa semuanya menimpa kita?
Beribu pertanyaan bergejolak dibenak Reysha, ia tidak tahu selanjutnya harus bagaimana, hal ini sangat membuatnya tertekan. Reysha berjalan beralih kearah lemari kecil yang berada tepat disebelah ranjangnya. Reysha berjongkok dan membuka lemari tersebut. Semua barang-barangnya masih tertata rapi didalamnya namun ada satu barang yang menyita perhatiannya. Ia mengambil buku diarynya dan membuka perhalaman buku tersebut.
Reysha tersenyum, merengut dan tertawa kecil membaca tulisan didalam diary itu. Dan tepat pada tulisan terakhir air matanya menetes dan membasahi diary itu.
Aku bingung dengan keadaan ini , bingung dengan sikap Fandi dan bingung dengan status hubunganku dengannya. Aku merasa sia-sia menunggunya tapi hati kecilku selalu berkata aku harus terus menunggunya. Kenapa aku menjadi seperti ini? Kenapa aku menjadi orang yang lemah dalam masalah cinta. Sungguh dada ini sudah terasa sangat pengap dengan ini semua.
Air mata Reysha perlahan tumpah lagi, memang dulu dia sempat meragukan tentang kesetian Fandi, namun sekarang? Apa masih tersisa? Dan apakah masih perlu lagi? Entahlah...
                Reysha membuka lembaran baru dalam bukunya, ia menerawang jauh melewati jendela kamarnya, lalu ia mengambil bulpoin dalam sela-sela lembaran buku tersebut dan tangannya mulai bergerak mengikuti kata hatinya.
Dari sudut mana aku harus berucap
Aku tidak sanggup mengeluarkan suara
Aku hanya diam ketika mereka menyebut namamu

Tak bisakah ini hanya mimpi?
Tak bisakah aku bangun dan menatapmu?
Karena kini aku tlah mengetahui
Bahwa kamu adalah kamu
Bahwa kamu adalah waktu yang terlewat
Seandainya waktu tak berlalu

Maaf... maaf karena aku telah merubah
Karena aku telah membuatmu masuk dan terjebak dalam rasa ini
Perasaan yang ku yakin tak pernah salah
Walau waktu telah menjauhkanmu

Maaf... maaf karena terlalu menginginkanmu
Hingga aku tak sanggup untuk melepasmu
Tapi...
Melihatmu...
Mendengarmu...
Mengenangmu...
Kaulah yang terhebat 

                Tangan Reysha berhenti bergerak, ia membaca apa yang ditulisnya. Melihatmu... mendengarmu... mengenangmu... kaulah yang terhebat. Yah, Fandi memang hebat jika tidak mana mungkin ia menjadi seperti ini.
*****
                5 tahun yang lalu
                Reysha berdiri diambang pagar pembatas dilantai 2 sekolahnya. Dari sana ia dapat melihat siswa-siswi berlarian untuk berteduh menghindari hujan. Reysha menengadahkan tangannya untuk bisa merasakan dinginnya air hujan. Terasa basah, dingin namun menenangkan.
                Surabaya hari ini diguyur hujan cukup lama, sejak pagi buta air hujan ini membasahi tanah surabaya dan sampai pukul 10 menjelang siang pun air hujan ini tetap tidak mau beristirahat. Awan hitam masih nampak ketika mendongak keatas tapi untungnya petir tidak ikut serta dalam hujan kali ini.
                Suasana dingin dan lembab menyeruak ke dalam tubuh Reysha, ia lebih mengeratkan jaketnya agar suasana dingin ini tidak sampai menembus kulitnya.
                “Nggak berniat untuk kekantin?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba hadir dan berdiri disamping Reysha.
                Reysha terkekeh ketika mendengar suara itu. Suara itu tidak asing baginya. Ia mendongak ke atas dan mendapati Dani berdiri disampingnya. “Ah, kamu” gumam Reysha yang terdengar kaget  “Nanti saja”
                “Menurut legenda, jika hujan turun tanpa henti seperti sekarang tandanya  ada bidadari cantik yang sedang berduka” ucap Dani dan tersenyum simpul kearah Reysha.
                “Aku juga pernah mendengar legenda itu” jawab Reysha dan membalas senyuman Dani dengan senyum sopan “Tapi setelah aku beranjak besar, pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul. Kenapa bidadari itu bisa sedih? Apa yang sedang ia sedihkan? Bukankah bidadari selalu tersenyum karena dunianya sangat menyenangkan?”
                Dani menghembuskan napas dan mengeluarkannya perlahan, tangannya menengadah hingga air hujan membasahi tangannya. “Aku tidak pernah berfikir sejauh itu. Yang aku tahu semua makhluk hidup pasti mengalami masa-masa sulit hingga membuatnya bersedih, sekalipun ia berada didunia yang sangat menyenangkan” kata Dani dan menarik tangannya yang telah basah terhuyur air hujan.
                “Bersedih sekali pun dunianya menyenangkan” gumam Reysha pada diri sendiri namun masih terdengar oleh Dani. Reysha kembali larut dalam kedamaian yang dibawa hujan untuknya. Sesekali ia menengadahkan tangannya dan menariknya, lalu tersenyum simpul seakan dunianya berbahagia karena hujan datang walaupun dilangit sana ada bidadari yang sedang bersedih.
                “Rey... I like you” ucap Dani akhirnya setelah keheningan menyelimuti mereka.
                “Hah?!” jawab Reysha tanpa menatap Dani tak mengerti maksud yang diucapkan cowok itu.
                “Mau nggak kamu jadi pacarku?” kata Dani tulus namun berhasil membuat Reysha tercekat dan mematung beberapa detik.
                Apa yang Dani katakan sungguh diluar dugaan Reysha, ia menelan ludah  seketika saat kata-kata itu meluncur dari mulut Dani. Dani, seorang teman yang begitu dekat dengannya berani berkata seperti itu padanya. Memang tidak salah mengungkapkan perasaan kepada seseorang tapi kenapa Dani yang melakukannya dan kenapa dirinya sendiri yang menerima pernyataan itu. Sungguh Reysha tidak suka dalam posisi semacam ini, apa yang harus ia lakukan?.
                “Apa jawabanmu?” kata Dani lagi yang mempertegas bahwa pertanyaan itu harus dijawab oleh Reysha. Dani menatap Reysha dengan penuh harapan, namun Reysha hanya terkesiap dengan bibir tertutup rapat.
                Reysha balas menatap Dani dengan pandangan memohon agar dia tidak mempunyai keharusan untuk menjawab pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang jawabannya mungkin sudah diketahui Dani. Reysha sudah pernah berkata kepada Dani bahwa ia tidak mau menjalin hubungan dengan teman dekatnya, tapi kenapa Dani tidak menghiraukan kata-katanya dulu.
Namun tidak ada respon, tatapan Dani malah mengisyaratkan jika Reysha harus menjawab pertanyaan itu secepatnya.
Reysha menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Terpaksa ia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.
“Kamu serius dengan ucapan kamu?” kata Reysha yang tidak tahu harus memulainya dengan bagaimana.
“Tentu saja” jawab Dani ringan dan memamerkan senyum lebarnya “Jadi apa jawaban kamu?”
“Dan, bisakah kita hanya teman?” ucap Reysha lirih sambil menundukkan kepalanya “Dulu, bukankah aku pernah berkata kalau aku tidak mau menjalin hubungan dengan teman dekatku. Kamu sudah aku anggap sebagai teman, sahabat, malahan saudara aku sendiri” lanjut Reysha dan mulai mengangkat wajahnya hingga bisa melihat reaksi Dani karena ucapannya.
“Jadi, tidak bisakah kita hanya berteman, seperti kemarin dan beberapa waktu yang lalu?”
“Jadi, kamu nolak aku?”
“Tapi kamu maukan jadi teman aku?”
“Selalu” jawabnya dan kembali memamerkan senyumnya yang lebar “Aku akan menjadi temanmu, sahabatmu, dan saudara kamu” ucap Dani dan memamerkan senyumnya yang lebar.
“Thanks”  gumam Reysha dan membalas senyuman Dani.
Mereka terdiam untuk beberapa saat dan menikmati hujan yang turun dari langit. Mereka sangat menyukai hujan, mereka sering bermain, tertawa, dan saling berbagi ketika hujan turun, Reysha masih ingat, ketika mereka masih kecil, Reysha, Dani dan Boni kakak Reysha sering bermain hujan-hujanan sampai tubuh mereka menggigil dan kena omelan mom mereka. Tapi sekarang mereka tidak akan pernah mengulang masa bahagia itu lagi.
“Tadi kamu dicariin kak Rian” ucap Dani memecahkan keheningan.
“Ada apa?”
“Tau! Paling-paling cuman mau ngerayu kamu buat bersedia gabung di osis”
“Masa sih?” ucap Reysha sekenanya. Jujur saja ia paling males bertemu dengan Rian karena setiap bertemu Rian selalu saja cowok itu memaksanya agar ikut gabung di osis padahal Reysha sama sekali tidak berminat gabung di osis.
“Hmm... untung cuman ngerayu buat gabung diosis, awas aja kalo ngerayu buat deketin kamu” gumam Dani nggak jelas sangking lirihnya.
*****
“Reyshhhaaa....”  
Reysha berhenti dan menghadap asal suara yang meneriaki namanya. Ia melihat Rima sedang berlarian kearahnya. “Ada apa?” tanya Reysha sesampainya Rima dihadapannya
“Cuman mau ngasih tau kalo kamu disuruh kak Rian keruang osis”
“Hah? Emangnya kenapa aku harus kesana?”
“Mana aku tau!”
“Jangan bilang kalo dia nyuruh aku kesana buat gabung sama osis?!” sergah Reysha menebak-nebak.
“Kan udah aku bilang, aku nggak tau” jawab Rima meyakinkan bahwa ia tidak tahu kenapa Reysha dipanggil oleh Rian. “Duluan ya, aku mau kekelas” kata Rima dan bergegas pergi meninggalkan Reysha
“Eh.. eh.. tolong temenin aku keruang osis ya?” pinta Rehsha yang berhasil menghentikan Rima
Rima menyipitkan matanya, dan berfikir sejenak. “Pliss...” rengek Reysha untuk merayu Rima dengan memasang tampang melas dan menggenggam tangan Rima penuh pengharapan.
Akhirnya Rima mengangguk dan menggeret Reysha. Reysha merasa bingung kenapa ia yang di geret oleh Rima, bukannya ia yang malah menggeret Rima. Tapi sedetik kemudian Reysha ingat kalau Rima sangat nge-fans sama Rian jadi tidak heran kalau Rima bersedia diajak bertemu dengan orang yang dia puja.
Dalam perjalanan, Reysha berfikir kenapa Rima bisa sampai suka sama kakRian padahal ia dikelilingi orang-orang yang lebih dari kakRian, secara tampang kak Rian kalah saing sama kak Wendra yang jauh lebih cakep. Tentang kegentelan jelas dia kurang gentel, jika dibandingkan sama Panca jelas Panca yang lebih gentel. Dan masalah kebaikan, jelas kak Rian nggak baik mana ada anak yang memaksakan kehendaknya sendiri, contohnya dalam masalah Reysha sama kak Rian. Sudah 5 kali Reysha jadi bulan-bulannya kak Rian, kak Rian terus saja mendesak Reysha agar Reysha mau menjadi anggota osis.
“Rey, jadi gimana Dani nya?” suara Rima membuyarkan lamunan Reysha.
“Maksud kamu?” tanya Reysha tidak mengerti.
“Dani suka sama kamu. Trus, kamu terima nggak dia-nya?”
Reysha menggeleng pelan
“Kenapa?”
“Aku nggak ada feeling sama dia. Dia itu sahabatku dari kecil, nggak etis aja kalo aku pacaran sama dia trus kita ngambek-ngambekan dan akhirnya kita putus, bukannya hanya hubungan pacaran kita aja tapi juga bisa mengancam hubungan persahabatan kita. Dan aku nggak mau kehilangan sahabat kayak dia”
“Oke aku terima argumen kamu, tapi masa sih kamu nggak tertarik sama cowok? Kamu nggak belok kan?”
“Husss.. enak aja. Aku masih normal!”
“Trus kenapa kamu nggak pernah nunjukin tanda-tanda ketertarikan sama lawan jenis? Banyak loh Rey yang coba deketin kamu tapi kamu sia-siain”
“Udah deh Rim, stop bahas ini. Pokoknya suatu hari nanti aku bakalan nemuin some one special, entah disekolah ini atau pun di luar sekolah”
“Kata-katamu sok bijak, bikin aku ngeri aja” ucap Rima polos sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lembut. Namun Reysha hanya tertawa mendengar tanggapan temannya itu dan akhirnya mereka tertawa bersama.
Rima memang tidak akan pernah mengerti apa yang di fikirkan Reysha karena Reysha sering berfikiran yang jauh dari bayangannya. Walaupun Rima dan Reysha baru mengenal satu sama lain baru 3 bulan tapi mereka sudah sangat akrab seperti kedekatan Reysha dengan Dani.
Kaki Rima menjadi kaku setelah ia sadar bahwa ia dan Reysha 3 langkah lagi sudah sampai di depan ruang osis. Wajah Rima berubah menjadi pucat pasi namun pipinya merona entah karena apa. Namun Reysha yang ada disampingnya malah menunjukkan keengganan masuk dan memberenggutkan wajahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Reysha kepada Rima yang tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika tepat di depan pintu ruang osis.
“Mmmm.... nggak. nggak pa-pa” jawab Rima salah tingkah.
“Iya. Tenang aja” terdengar suara dari dalam ruang osis dan tiba-tiba pintu ruang osis terbuka. “Rimmaaa... Reysha..” terdengar suara yang sama namun kali ini ada nada terkejut.
“Kak Rian” gumam Rima lirih hingga tidak terdengar oleh kak Rian yang ada dihadapannya juga Reysha yang ada disebelahnya.
“Kebetulan kalian sudah disini. Ayo ikut aku” ucap Rian dan mendorong pintu agar terbuka lebar dan memundurkan beberapa langkah untuk memberi ruang kepada Reysha juga Rima memasuki ruang osis.
Rian menggiring Reysha dan juga Rima disebuah kursi panjang. Rian mempersilahkan Reysha dan Rima duduk. Ruang osis terlihat tidak begitu luas namun tidak juga sempit, ukurannya sekitar 8X15  meteran. Ada beberapa sekat yang membatasi beberapa meja kerja dan juga seperangkat komputer lengkap. Disana juga terlihat televisi besar, LCD, lemari-lemari kecil yang kemungkinan untuk menyimpan berkas-berkas selayaknya ruangan osis pada umumnya. Reysha nampak kaget ketika melihat ke belakang dan menemukan sebuah pigura besar yang menyimpan foto para anggota osis tahun lalu, tidak perlu harus melototi satu-satu untuk menemukan foto Rian dalam foto itu karena Rian berada di barisan paling depan, dengan berjongkok ia tersenyum lebar.
“Aku tadi hampir saja menjemputmu” ucap Rian kepada Reysha “jika aku tidak menemukanmu didepan pintu tadi” lanjutnya dan tertawa entah apa yang ditertawakannya.
“Jadi, kenapa kakak mencariku?”
“Sama seperti beberapa hari yang lalu, aku atas nama osis ingin kamu menjadi bagian dari kita” jawab Rian seperti yang Reysha duga. Cowok yang ada dihadapannya ternyata cowok yang keras kepala “Jadi dengan sangat memohon, tolong kamu bersedia menerima ajakan ini. Aku tahu kamu tidak berniat untuk bergabung dengan osis tapi aku menjamin kamu kalau kamu bersedia menjadi bagian dari kita. Aku jamin kamu tidak akan menyesal, bukannya Rima juga akan menjadi anggota osis?” Rian menatap Rima dan Reysha juga mengikutinya, namun bukannya senyum seperti Rian, Reysha malah melotot namun yang dipelototin malah cengingisan nggak jelas. Dasa Rima! Batin Reysha
“Jadi kamu punya teman selain itu juga kamu punya pengalaman” tutur Rian.
“Alasan basi!” ucap Reysha dalam hati karena tidak mungkin ia mengutarakannya secara langsung. Reysha hampir saja hafal dengan kata-kata kak Rian karena beberapa hari ini kata-kata itu saja yang terngiang di telinganya hingga membuatnya jengkel.
“Rey...” suara Rian membuyarkan lamunan Reysha.
“Yah?” ucap Reysha lirih
“Kamu bersedia gabungkan” tanya Rian penuh harap
“Maa..” jawab Reysha namun terpotong
“Kalau kamu nggak gabung, aku bingung nyari penggati kamu. Sekarang hari jum’at sedangkan hari senin itu acara pelantikannya” kata Rian dengan nada yang entah mengapa terdengar memelas dan frustasi ditelingah Reysha.
“Iya Rey, aku pasti seneng banget kalo kamu juga jadi anggota osis. Aku jadi nggak sendirian deh. Kamu tahu kan perwakilan dari kelas kita cuman aku?!” tambah Rima. Oke sekarang Rima ikut merayu Reysha agar ikut osis dan setelah Rima siapa lagi yang akan merayunya?
“Kak Rian-nya ada” sayup-sayup terdengar suara cowok yang sedang mencari kak Rian dari kejauhan.
Reysha, Rima, dan Rian menoleh secara bersamaan ke asal suara. Ternyata Dani sang pemilik suara, terlihat ia berhadapan dengan seorang cewek untuk menanyakan pertanyaan tadi. Si cewek terlihat celingukan, sepertinya mencari kak Rian.
“Dan...” teriak Rian sambil melambaikan tangannya ke arah Dani.
“Tuh dia..” terdengar suara cewek itu berkata pada Dani dan mempersilahkan Dani untuk bertemu kak Rian.
Jangan bilang kalo Dani juga ikut-ikutan mendesaknya agar bersedia gabung di osis sama seperti Rima tuduh Reysha dala hati
“Siang kak, aku kesini mau mendaftar menjadi anggota osis” kata Dani kepada kak Rian yang membuat Rian mengerutkan dahinya, Reysha yang seperti orang tolol malah membuka melutnya dan berkata “Hah?!” tanpa suara, dan Rima masih terlihat anggun ia hanya menelan ludah. Dan mereka ber-3 terdiam beberapa saat
Dia penolongku. Sorak Reysha bahagia.
“Aku dengar dari anak-anak calon anggota osis yang baru kurang 1, jadi apa boleh aku yang mengisi-nya?” lanjut Dani yang membuat Rian makin mengerutkan dahinya.
Reysha berdehem keras “Tadi kakak bilang sama aku kalau kakak kesulitan mencari 1 orang lagi untuk anggota osis, dan sekarang ada Dani yang menawarkan diri apa kakak bersedia menerima tawarannya?” ucap Reysha mencoba membela Dani dan mengetuk pintu hati Rian agar bersedia menampung Dani dan membebaskannya.
Rian berdehem keras, dan akan membuka suaranya namun didahului oleh argumen Reysha lagi “Dan aku yakin Dani pasti bisa ngejalanin tugasnya jika dia diberi kepercayaan menjadi anggota osis. Dan selama aku mengenal Dani dia juga mempunyai sikap-sikap yang harus dimiliki oleh anggota osis, he is either, smart, thoughful, caring, dan easy going. Bukankah itu yang selama ini diperlukan untuk menjadi anggota osis?  Dan selama di SD prestasinya juga bagus, yah.. walaupun nggak the best student tapi dia selalu ikut peringkat 5 besar dikelas. Jadi tolong jadiin Dani anggota osis ya kak? Baru sekarang aku lihat Dani sesemangat ini untuk ikut keorganisasian” tutur Reysha kepada Rian
Rian hanya manggut-manggut mendengar argumen Reysha tentang Dani. Rian berfikir sejenak, disatu sisi ia sangat lega karena sudah menemukan 1 calon anggota tapi buruknya jika ia merekrut Dani itu berarti kesempatannya untuk mendekati Reysha dalam keosisan akan musnah. Namun Rian berusaha menjadi seseorang yang egois. Lembaga osis bukan sebagai sarana untuk pedekate.
“Oke, aku terima argumen Reysha. Aku jadi penasaran dengan kemampuan kamu” kata Rian yang langsung membuat Dani mencibir. “oke, kalau begitu sebaiknya kita cepat-cepat mulai sesi wawancaranya.” Rian kepada Dani yang sontan membuat Dani terperangah.
“Wawancara?” gumam Reysha dan menatap Rian tak percaya aneh...
Apa-apan sih nih anak? Wawancara? Reysha nggak pernah ikut wawancara tapi kenapa aku diwajibin wawancara? Mau ngetes? Atau menghalangi? Oke, siapa takut!  Pikir Dani dengan menatap kak Rian tajam.
“Dan, mari ikut aku ke meja ketos karena aku akan mewancaraimu disana, mumpung si ketos nggak lagi sibuk jadi bisa ikut  mewancarai kamu juga” kata Rian lagi dan ikuti oleh anggukan Dani. Mereka pun pergi ke meja ketos yang tidak jauh dari tempat mereka tadi, sedangkan Reysha dan Rima hanya bisa menonton Dani diwawancari oleh kak Rian dan ketua osis dari kejauhan.
Setengah jam berlalu dengan sangat lambat, duduk sekitar 30 menitan di ruang osis sangat membuat Reysha uring-uringan, ia ingin sekali meledak karena saking membosankannya tapi tentu saja tidak ia lakukan, bisa-bisa ia mati diserbu karena nggak ada angin dan nggak ada hujan tiba-tiba dirinya ngamuk diruang osis. sedangkan Rima hanya diam sambil memperhatikan kak Rian dari kejauhan dan sesekali tersenyum entah karena apa.
Tidak lama kemudian Dani selesai sesi wawancara, setelah memastikan Dani sudah diterima menjadi calon anggota osis dan besok senin akan dilantik, Reysha, Rima dan Dani keluar dari ruang osis yang begitu mengerikan bagi Reysha.
“Gimana sesi wawancaranya? Pertanyaannya susah nggak?” tanya Rima setelah 5 langkah meninggalkan ruang osis.
“Nggak. tinggal bohong dan melebih-lebihkan sedikit kayak calon DPR yang mau ikut pilkada aja apa susahnya?!” jawab Dani dengan enteng
“Emang pertanyaannya kayak gimana sih Dan?” tanya Reysha penasaran
“Yah kayak,.. tujuan kamu mengikuti osis itu apa? Moto kamu apa? Trus, entar setelah menjadi anggota osis apa yang akan kamu lakukan untuk mengangkat nama sekolah di masyarakat luas, ya kayak gitulah. Tapi ada pertanyaan yang paling lucu dari Rian” jawab Dani sekenanya namun ketika Dani menyebut nama Rian, Rima langsung menatap Dani lekat-lekat dan menunggu kelanjutan ceritanya “masa dia tanya ‘bagaimana pandangku tentang masalah korup di Indonesia’ aneh kan tuh anak?! Emang dia pikir aku mau jadi DPR? Walikota? atau Presiden apa?!” lanjut Dani
“Wajar kali kak Rian tanya gitu sama kamu, kan anggota osis tidak hanya dituntut pinter dalam keorganisasian tapi juga harus berpengetahuan luas termasuk masalah korup” ucap Rima yang tidak terima karena Dani menghina kak Rian. “Ya udah deh, aku kelas dulu. Males ngomong sama kamu!” lanjut Rima dan mempercepat langkahnya sehingga meninggalkan Reysha dan Dani berdua.
“Oh ya, udah dibilang sama kak Rian kalo ntar ada latihan upacara pelantikan kan? So, awas kalo kamu pulang duluan!” ucap Rima lagi ditengah perjalanannya setelah itu ia kembali  melanjutkan langkah besarnya untuk meninggalkan Reysha dan Dani.
Reysha dan Dani hanya berpandangan tidak mengerti atas perubahan sikap Rima. Tapi sedetik kemudia Reysha bisa menguasai dirinya karena ia baru teringat bahwa Rima menyukai Rian, jadi wajar saja Rima tidak suka ketika Dani menghina Rian.
“Kenapa sih dia?” tanya Dani “Aneh!”
“Biasalah dia lagi kena sindrom Rian is never wrong“
“Apa sih?” tanya Dani yang masih tidak mengerti, namun Reysha hanya tersenyum kecil tanpa memberi tahu maksudnya dan melanjutkan langkahnya.
******
Reysha sedang duduk dibangku depan kelas XII IPA1 yang ada dilantai dasar. Ia memperhatikan siswa-siswi calon pengurus osis yang berlatih untuk acara pelantikan besok senin, diantara mereka ada Rima dan Dani, melihat Rima yang antusias dengan setiap intruksi dari pelatih osis sedangkan Dani berdiri sambil mendengarkan dengan setengah hati membuat perut Reysha geli.
Reysha sengaja menolak tawaran Rian untuk bergabung menjadi pengurus osis karena ia benar-benar tidak berminat dengan hal-hal seperti osis, ia tidak siap untuk menjadi icon sekolah dan menjadi panutan untuk semua warga sekolah dan belum lagi ia harus bersedia jika sewaktu-waktu disuruh menyiapkan tek-tek bengek acara sekolah yang sangat menyita waktu. Dan alasan lainnya adalah Rian, entah mengapa Reysha suka risih dengan semua yang berhubungan dengan cowok itu. Entah apa sebabnya.
30 menit yang lalu Reysha sudah menelpon Dad untuk menjemputnya tapi sampai sekarang masih belum datang juga. Dad sengaja menjemput Reysha setiap hari walaupun sesibuk apapun, ia tidak pernah membiarkan Reysha pulang sendirian atau naik angkutan umum, dad sangat over dalam menjaga Reysha. Walaupun sedikit risih dengan semua perhatian Dad namun Reysha diam saja karena mungkin itu semua wujud kasih sayang Dad kepadanya.
“Masih nunggu jemputan?” tanya Rian yang tau-atau sudah duduk disamping Reysha.
“Eh... iya kak” jawab Reysha dengan nada setengah terkejut. “Kakak sendiri kenapa disini? latihannya kan belum selesai”
“Latihannya diistirahatin dulu, kasian anak-anak udah kecapean” jawab Rian sambil mengedarkan pandangan kearah halaman sekolah dimana anak-anak sedang latihan “Tuh kan, pada bubar” lanjutnya dan beberapa detik selanjutnya Rima yang disusul oleh Dani berlarian kearah Rian dan juga Reysha.
“Kenapa masih disini? Dady kamu mana?” tanya Dani pada Reysha setibanya di hadapan gadis itu.
“Belum dijemput, mungkin dad dalam perjalanan kesini”
                “Udah ditelepon?”
Reysha mengangguk pelan. “Gimana latihannya? Seru?” tanya Reysha kepada Dani dan juga Rima.
“Banget” jawab Rima riang.
“Apanya?!” jawab Dani sewot dan mendenguskan napas secara berlebihan “Yang ada panas, bukan seru!”
“Itu kan menurut kamu kalo menurut aku seru, nggak salah dong!” ucap Rima yang nggak kalah sewotnya dari Dani
“dasar! Makanya buka mata hati biar bisa ngeliat mana yang seru dan mana yang enggak!”
“mata hati?! emang kamu kira lagi ada adegan yang tragis apa?!”
“Udah-udah nggak usah berantem, kayak anak kecil aja!” sela Rian sebelum Dani meladeni ucapan Rima. Rian tersenyum sama “Aku rasa kalo kalian jadian pasti cocok, kalian bakalan jadi pasangan yang heboh” lanjut Rian yang langsut membuat Rima, Dani, dan Reysha saling bertatapan dan menyipitkan mata mereka. Menimbang ucapan Rian yang tidak masuk akal.
Huuueeekkk... Rima tiba-tiba berpura akan muntah. Dani hanya bergumam tidak jelas dan Reysha hanya menahan tawa sambil membalas tatapan Rian.
“tiba-tiba aja aku pengen ke toilet. Duluan ya” ucap Rima dan langsung ngancir begitu saja.
“aku ke kantin dulu, mau beli minum. Kamu mau nitip?” tanya Rian pada Reysha dan ketika melihat gelengan Reysha ia langsung pergi begitu saja.
Terkadang Rima dan Dani begitu solid dan melengkapi, seperti beberapa waktu yang lalu mereka terjebak dalam kelompok biologi si Rima bertugas mencari bahan, Dani bertugas membuat makalah dan ditutup oleh mereka berdua yang secara bergantian presentasi didepan kelas. Tapi tidak kadang juga mereka seperti tikus dan kucing yang selalu berantem, padahal hanya masalah sepele yang seperti tadi. Pada saat pertama kali Reysha bertemu Rima ia yakin pasti ia dan Rima akan bisa akrab namun setelah beberapa waktu berjalan malah Dani yang lebih akrab dengan Rima. Mungkin karena mereka sama-sama menyukai sepak bola. Terlepas dari itu semua Reysha bersyukur karena keduanya bisa menjadi teman dekatnya yang turut mewarnai hari-harinya dan selalu ada pada saat ia sedih dan juga ada pada saat ia bahagia.
Tiba-tiba ponsel Reysha bergetar, ternyata ada telepon dari dad-nya. Setelah ia mengangkat telepon, Reysha lalu berpamitan kepada Rian karena dad-nya sudah ada digerbang depan. Setelah melambai kan tangan kepada Reysha, Rian hanya bisa menatap punggung gadis itu pergi.
Rian tidak tahu kenapa ia tertarik dengan Reysha, memang Reysha cantik dan pintar tapi Reysha tipe cewek tertutup dan susah bergaul dengan orang lain yang itu berarti bukan tipe Rian. Sejak pertemuannya di awal mos beberapa bulan lalu ia merasa tertarik pada Reysha, dan setelah terlibat pembicaraan dengan cewek itu Rian malah semakin tertarik mungkin karena gaya bahasanya yang kalem seperti ibunya. Tapi Rian yakin bukan hanya itu yang membuatnya ia tertarik pada Reysha, mungkin sekarang ia belum menemukan apa itu, tapi suatu saat nanti ia akan menemukannya.
*****
Reysha mengedarkan pandangannya di setiap jalan yang ia lalui, tidak ada hal yang menarik dalam perjalanannya tapi sebisa mungkin Reysha membuat dirinya tertarik dalam segala hal dalam perjalanannya. Inilah Reysha, dia selalu menarik dirinya untuk tertatik pada semua hal yang awalnya biasa-biasa saja. Sejak kecil ia sudah terbiasa dalam kegiatan itu, mungkin aneh tapi bagaimana lagi itu sudah terlanjur melekat pada dirinya.
Kali ini langit sangat cerah, berbeda sekali dengan pagi tadi. Dan sepertinya hati Dady Reysha juga tertular kecerahan langit sore. Beberapa kali Dady bersiul-siul tidak jelas dan sekali-kali Dady juga menarikan jemarinya kekemudi, Reysha senang melihat Dadynya seperti itu dan ini pemandangan kesekian kalinya yang menarik perhatiannya. Bukan mencoba untuk tertarik tapi katena memang ia benar-benar tertarik.
“Dady keliatannya lagi seneng. Tadi habis dapat apa sih? Lotre ya?” ujar Reysha pada akhirnya, ia tidak bisa menahan untuk bertanya karena lama-kelamaan perutnya terasa menggeletik melihat kelakuan Dady-nya.
“Ah sayang, lotre sih nggak bakalan bisa ngebuat Dady seneng kayak gini. Dad seneng kayak gini karena kakak kamu, Boni tadi ngasih kabar ke dady bahwa dia menang juara 1 dalam olimpiade matematikanya” jawab dady dengan nada ceria yang membuat Reysha langsung lumpuh ditempat.
“Oooo...” gumam Reysha layu
“Oooo?” gumam dady yang secara tidak langsung memberi isyarat bahwa ia menginginkan jawaban dari gumaman Reysha yang tidak diharapkannya.
“ooo... maksud aku, I’m happy for you Dad, end... Boni...” ucap Reysha mencoba meralat ucapannya tadi. Reysha bersikap seperti itu bukan karena ia tidak suka tapi ada alasan lain yang menggelayuti hatinya dan membuat efek yang seperti tadi.
Dady tampak menghembuskan napas lega dan kembali menyetir dengan bersiul dan juga menarikan jari-jemarinya.
Reysha tahu Boni kakak yang sempurna, dia ganteng, baik hati, dan smart. Tapi kini penilaian Reysha agak berubah, Reysha menganggap Boni hanya kakak yang egois dan sangat menyebalkan. Reysha tidak tahu kenapa penilainnya terhadap kakak kesayangan itu berubah tapi yang pasti Reysha sangat membenci Boni yang sekarang.
“Dad, jangan kaget ya. Rey nggak jadi ikut osis” ucap Reysha dan langsung membuat dady-nya menoleh kearahnya.
“Why, darling. Ikut osis kan enak, banyak pengalaman, banyak teman”
“Reysha nggak minat sama osis. Rey, juga nggak mau repot-repot ngurusin osis. Ribet”
“kamu nggak boleh gitu dong. Itu cuman ketakutan awal kamu aja. Kalo udah gabung pasti seneng. Liat Boni, dia aktif di osis dan hasilnya seperti sekarang. Dia semakin bersinar”
Apanya?! Bersinar keego-annya? Mungkin itu yang tepat!. Gerutu Reysha dalam hati.
“tetep aja Rey nggak mau kayak kak Boni”
“why?”
Apa perlu aku jelasin. Kalo aku jelasin tentunya banyak argumen dan perdebatan. Dan itu sama sekali nggak bagus. “Pokoknya Rey nggak mau! TITIK”
“Semua tidakan pasti ada alasannya dong”
“Tidak semuanya Dad, sekarang gini deh, dulu sampe sekarang Dad kenapa sangat mencintai mom? Kalo dady menjawab karena mom cantik, berarti kalo mom nggak cantik lagi dady bakalan berhenti mencintai mom. Kalo dady bilang karena mom sudah melahirkan buah hati yang dad sayangi, kalo suatu hari aku dan kak Boni meninggal berarti Dady harus berhenti mencintai mom. Rey yakin nggak sesimpel itu kan? Tidak semua tindakan memerlukan alasan. Dady tau itu!” cerocos Reysha dengan nada penuh kekesalan.
Dady hanya menatap putrinya tak percaya, ia belum memercayai gadis kecilnya kini beranjak remaja. Kini ia mampu mengungkapkan apa yang ia suka dan tidak suka. Dan ia pun sudah mampu berargumen tentang sesuatu yang ia percaya. Dad hanya memhembuskan napas berat, tidak tahu harus senang atau bersedih.
Reysha mencuri-curi pangdang ke dady. Ia tahu kata-katanya keterlaluan, ia hanya ingin lepas dari bayangan Boni. “Dad, I’m sorry. Aku tidak bermaksud seperti itu” ucap Reysha akhirnya. Ia paling tidak tahan melihat dadynya mengeluarkan ekspresi seperti itu.
“yah... I know. I’m sorry too. Dady hanya ingin kamu menjadi putri yang terbaik” ujar dady melunak.
Sepuluh menit berlalu, tidak ada yang saling berbicara mereka sibuk memikirkan sesuatu diotak mereka masing-masing. Reysha tidak lagi melakukan kegiatan anehnya lagi. Ia hanya meremas-remas jari-jemarinya dan diam seribu bahasa.
Reysha merasa kesal, kecewa dan bahagia dalam satu waktu.
Setelah mobil dady berhenti digarasi rumah. Treysha langsung berlari memasuki rumah.
“sayang... kenapa lari-larian?’ tanya mom lembut dan berhasil menghentikan langkahnya. Mom terlihat sedang duduk dan merangkul pundak Boni. Reysha tau kenapa momy-nya melakukannya. Tapi Reysha pura-pura tidak tahu. Itu lebih aman.
“Biasalah mom, dia kan sedang teropsesi jadi kuda pelari” celetuk Boni yang langsung membuat Reysha melotot. 
Reysha menoleh kearah mom “notink mom” gumam Reysha dan kembali berlari menuju kamarnya. Untuk meluapkan kekesalannya. Reysha menutup pintunya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dady “Dad bangga sama kamu” ujurnya dengan nada keras entah disegaja atau tidak dan detik selanjutnya suara Boni menjelajahi otak Reysha “thank you Dad!” dengan nada yang lebih keras. Dasar! . Reysha langsung menarik selimut dibawah kakinya dan membendung seluruh tubuhnya dengan selimut agar tidak mendengar kicauan yang tidak penting. Ia harus tidur dan melupakan semuanya. Bad day.
****
Read More

novel/ cerpen, q ambil dr binti iliya faridah, rungkut, judul?


Bagaimana harus menjelaskan semuanya, semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba saja hadir dan menggerogoti segalanya. Tidak pernah berfikir akhirnya seperti ini, semua yang terjadi  tidak akan pernah terlupakan karena ini semua adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati.
Reysha menitikkan air matanya, entah untuk yang keberapa kalinya.
Dari kejauhan momy dan dadynya sedang memperhatikan tingkah laku putrinya tersebut, mereka merasa sedih dengan apa yang dialami putrinya tapi mereka juga tidak mau melihat putrinya menjadi seperti ini. Mereka merasa putrinya yang dulu ceria kini telah memudar, putri mereka menjadi pendiam dan pemurung.
“Aku tidak tahan melihatnya seperti ini” keluh mom kepada dady. Mom menghembuskan napas panjang dan membuangnya “Kita harus melakukan sesuatu”
“Apa?” tanya dad
“Entahlah...” jawab mom pasrah tapi dilubuk hatinya ia berjanji akan mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan ini. Mom menghembuskan napas lagi dan menutup pintu kamar Reysha lalu pergi meninggalkan tempat ia berdiri diikuti dady.
Reysha menatap langit yang cerah, terlihat bintang dan bulan memancarkan cahaya yang indah. Angin berhembus lembut membelai wajahnya yang basah karena air mata yang tak kunjung redah.  
Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus berakhir dalam keadaan seperti ini? Kenapa harus kamu dan kenapa harus aku? Kenapa semuanya menimpa kita?
Beribu pertanyaan bergejolak dibenak Reysha, ia tidak tahu selanjutnya harus bagaimana, hal ini sangat membuatnya tertekan. Reysha berjalan beralih kearah lemari kecil yang berada tepat disebelah ranjangnya. Reysha berjongkok dan membuka lemari tersebut. Semua barang-barangnya masih tertata rapi didalamnya namun ada satu barang yang menyita perhatiannya. Ia mengambil buku diarynya dan membuka perhalaman buku tersebut.
Reysha tersenyum, merengut dan tertawa kecil membaca tulisan didalam diary itu. Dan tepat pada tulisan terakhir air matanya menetes dan membasahi diary itu.
Aku bingung dengan keadaan ini , bingung dengan sikap Fandi dan bingung dengan status hubunganku dengannya. Aku merasa sia-sia menunggunya tapi hati kecilku selalu berkata aku harus terus menunggunya. Kenapa aku menjadi seperti ini? Kenapa aku menjadi orang yang lemah dalam masalah cinta. Sungguh dada ini sudah terasa sangat pengap dengan ini semua.
Air mata Reysha perlahan tumpah lagi, memang dulu dia sempat meragukan tentang kesetian Fandi, namun sekarang? Apa masih tersisa? Dan apakah masih perlu lagi? Entahlah...
                Reysha membuka lembaran baru dalam bukunya, ia menerawang jauh melewati jendela kamarnya, lalu ia mengambil bulpoin dalam sela-sela lembaran buku tersebut dan tangannya mulai bergerak mengikuti kata hatinya.
Dari sudut mana aku harus berucap
Aku tidak sanggup mengeluarkan suara
Aku hanya diam ketika mereka menyebut namamu

Tak bisakah ini hanya mimpi?
Tak bisakah aku bangun dan menatapmu?
Karena kini aku tlah mengetahui
Bahwa kamu adalah kamu
Bahwa kamu adalah waktu yang terlewat
Seandainya waktu tak berlalu

Maaf... maaf karena aku telah merubah
Karena aku telah membuatmu masuk dan terjebak dalam rasa ini
Perasaan yang ku yakin tak pernah salah
Walau waktu telah menjauhkanmu

Maaf... maaf karena terlalu menginginkanmu
Hingga aku tak sanggup untuk melepasmu
Tapi...
Melihatmu...
Mendengarmu...
Mengenangmu...
Kaulah yang terhebat 

                Tangan Reysha berhenti bergerak, ia membaca apa yang ditulisnya. Melihatmu... mendengarmu... mengenangmu... kaulah yang terhebat. Yah, Fandi memang hebat jika tidak mana mungkin ia menjadi seperti ini.
*****
                5 tahun yang lalu
                Reysha berdiri diambang pagar pembatas dilantai 2 sekolahnya. Dari sana ia dapat melihat siswa-siswi berlarian untuk berteduh menghindari hujan. Reysha menengadahkan tangannya untuk bisa merasakan dinginnya air hujan. Terasa basah, dingin namun menenangkan.
                Surabaya hari ini diguyur hujan cukup lama, sejak pagi buta air hujan ini membasahi tanah surabaya dan sampai pukul 10 menjelang siang pun air hujan ini tetap tidak mau beristirahat. Awan hitam masih nampak ketika mendongak keatas tapi untungnya petir tidak ikut serta dalam hujan kali ini.
                Suasana dingin dan lembab menyeruak ke dalam tubuh Reysha, ia lebih mengeratkan jaketnya agar suasana dingin ini tidak sampai menembus kulitnya.
                “Nggak berniat untuk kekantin?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba hadir dan berdiri disamping Reysha.
                Reysha terkekeh ketika mendengar suara itu. Suara itu tidak asing baginya. Ia mendongak ke atas dan mendapati Dani berdiri disampingnya. “Ah, kamu” gumam Reysha yang terdengar kaget  “Nanti saja”
                “Menurut legenda, jika hujan turun tanpa henti seperti sekarang tandanya  ada bidadari cantik yang sedang berduka” ucap Dani dan tersenyum simpul kearah Reysha.
                “Aku juga pernah mendengar legenda itu” jawab Reysha dan membalas senyuman Dani dengan senyum sopan “Tapi setelah aku beranjak besar, pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul. Kenapa bidadari itu bisa sedih? Apa yang sedang ia sedihkan? Bukankah bidadari selalu tersenyum karena dunianya sangat menyenangkan?”
                Dani menghembuskan napas dan mengeluarkannya perlahan, tangannya menengadah hingga air hujan membasahi tangannya. “Aku tidak pernah berfikir sejauh itu. Yang aku tahu semua makhluk hidup pasti mengalami masa-masa sulit hingga membuatnya bersedih, sekalipun ia berada didunia yang sangat menyenangkan” kata Dani dan menarik tangannya yang telah basah terhuyur air hujan.
                “Bersedih sekali pun dunianya menyenangkan” gumam Reysha pada diri sendiri namun masih terdengar oleh Dani. Reysha kembali larut dalam kedamaian yang dibawa hujan untuknya. Sesekali ia menengadahkan tangannya dan menariknya, lalu tersenyum simpul seakan dunianya berbahagia karena hujan datang walaupun dilangit sana ada bidadari yang sedang bersedih.
                “Rey... I like you” ucap Dani akhirnya setelah keheningan menyelimuti mereka.
                “Hah?!” jawab Reysha tanpa menatap Dani tak mengerti maksud yang diucapkan cowok itu.
                “Mau nggak kamu jadi pacarku?” kata Dani tulus namun berhasil membuat Reysha tercekat dan mematung beberapa detik.
                Apa yang Dani katakan sungguh diluar dugaan Reysha, ia menelan ludah  seketika saat kata-kata itu meluncur dari mulut Dani. Dani, seorang teman yang begitu dekat dengannya berani berkata seperti itu padanya. Memang tidak salah mengungkapkan perasaan kepada seseorang tapi kenapa Dani yang melakukannya dan kenapa dirinya sendiri yang menerima pernyataan itu. Sungguh Reysha tidak suka dalam posisi semacam ini, apa yang harus ia lakukan?.
                “Apa jawabanmu?” kata Dani lagi yang mempertegas bahwa pertanyaan itu harus dijawab oleh Reysha. Dani menatap Reysha dengan penuh harapan, namun Reysha hanya terkesiap dengan bibir tertutup rapat.
                Reysha balas menatap Dani dengan pandangan memohon agar dia tidak mempunyai keharusan untuk menjawab pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang jawabannya mungkin sudah diketahui Dani. Reysha sudah pernah berkata kepada Dani bahwa ia tidak mau menjalin hubungan dengan teman dekatnya, tapi kenapa Dani tidak menghiraukan kata-katanya dulu.
Namun tidak ada respon, tatapan Dani malah mengisyaratkan jika Reysha harus menjawab pertanyaan itu secepatnya.
Reysha menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Terpaksa ia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.
“Kamu serius dengan ucapan kamu?” kata Reysha yang tidak tahu harus memulainya dengan bagaimana.
“Tentu saja” jawab Dani ringan dan memamerkan senyum lebarnya “Jadi apa jawaban kamu?”
“Dan, bisakah kita hanya teman?” ucap Reysha lirih sambil menundukkan kepalanya “Dulu, bukankah aku pernah berkata kalau aku tidak mau menjalin hubungan dengan teman dekatku. Kamu sudah aku anggap sebagai teman, sahabat, malahan saudara aku sendiri” lanjut Reysha dan mulai mengangkat wajahnya hingga bisa melihat reaksi Dani karena ucapannya.
“Jadi, tidak bisakah kita hanya berteman, seperti kemarin dan beberapa waktu yang lalu?”
“Jadi, kamu nolak aku?”
“Tapi kamu maukan jadi teman aku?”
“Selalu” jawabnya dan kembali memamerkan senyumnya yang lebar “Aku akan menjadi temanmu, sahabatmu, dan saudara kamu” ucap Dani dan memamerkan senyumnya yang lebar.
“Thanks”  gumam Reysha dan membalas senyuman Dani.
Mereka terdiam untuk beberapa saat dan menikmati hujan yang turun dari langit. Mereka sangat menyukai hujan, mereka sering bermain, tertawa, dan saling berbagi ketika hujan turun, Reysha masih ingat, ketika mereka masih kecil, Reysha, Dani dan Boni kakak Reysha sering bermain hujan-hujanan sampai tubuh mereka menggigil dan kena omelan mom mereka. Tapi sekarang mereka tidak akan pernah mengulang masa bahagia itu lagi.
“Tadi kamu dicariin kak Rian” ucap Dani memecahkan keheningan.
“Ada apa?”
“Tau! Paling-paling cuman mau ngerayu kamu buat bersedia gabung di osis”
“Masa sih?” ucap Reysha sekenanya. Jujur saja ia paling males bertemu dengan Rian karena setiap bertemu Rian selalu saja cowok itu memaksanya agar ikut gabung di osis padahal Reysha sama sekali tidak berminat gabung di osis.
“Hmm... untung cuman ngerayu buat gabung diosis, awas aja kalo ngerayu buat deketin kamu” gumam Dani nggak jelas sangking lirihnya.
*****
“Reyshhhaaa....”  
Reysha berhenti dan menghadap asal suara yang meneriaki namanya. Ia melihat Rima sedang berlarian kearahnya. “Ada apa?” tanya Reysha sesampainya Rima dihadapannya
“Cuman mau ngasih tau kalo kamu disuruh kak Rian keruang osis”
“Hah? Emangnya kenapa aku harus kesana?”
“Mana aku tau!”
“Jangan bilang kalo dia nyuruh aku kesana buat gabung sama osis?!” sergah Reysha menebak-nebak.
“Kan udah aku bilang, aku nggak tau” jawab Rima meyakinkan bahwa ia tidak tahu kenapa Reysha dipanggil oleh Rian. “Duluan ya, aku mau kekelas” kata Rima dan bergegas pergi meninggalkan Reysha
“Eh.. eh.. tolong temenin aku keruang osis ya?” pinta Rehsha yang berhasil menghentikan Rima
Rima menyipitkan matanya, dan berfikir sejenak. “Pliss...” rengek Reysha untuk merayu Rima dengan memasang tampang melas dan menggenggam tangan Rima penuh pengharapan.
Akhirnya Rima mengangguk dan menggeret Reysha. Reysha merasa bingung kenapa ia yang di geret oleh Rima, bukannya ia yang malah menggeret Rima. Tapi sedetik kemudian Reysha ingat kalau Rima sangat nge-fans sama Rian jadi tidak heran kalau Rima bersedia diajak bertemu dengan orang yang dia puja.
Dalam perjalanan, Reysha berfikir kenapa Rima bisa sampai suka sama kakRian padahal ia dikelilingi orang-orang yang lebih dari kakRian, secara tampang kak Rian kalah saing sama kak Wendra yang jauh lebih cakep. Tentang kegentelan jelas dia kurang gentel, jika dibandingkan sama Panca jelas Panca yang lebih gentel. Dan masalah kebaikan, jelas kak Rian nggak baik mana ada anak yang memaksakan kehendaknya sendiri, contohnya dalam masalah Reysha sama kak Rian. Sudah 5 kali Reysha jadi bulan-bulannya kak Rian, kak Rian terus saja mendesak Reysha agar Reysha mau menjadi anggota osis.
“Rey, jadi gimana Dani nya?” suara Rima membuyarkan lamunan Reysha.
“Maksud kamu?” tanya Reysha tidak mengerti.
“Dani suka sama kamu. Trus, kamu terima nggak dia-nya?”
Reysha menggeleng pelan
“Kenapa?”
“Aku nggak ada feeling sama dia. Dia itu sahabatku dari kecil, nggak etis aja kalo aku pacaran sama dia trus kita ngambek-ngambekan dan akhirnya kita putus, bukannya hanya hubungan pacaran kita aja tapi juga bisa mengancam hubungan persahabatan kita. Dan aku nggak mau kehilangan sahabat kayak dia”
“Oke aku terima argumen kamu, tapi masa sih kamu nggak tertarik sama cowok? Kamu nggak belok kan?”
“Husss.. enak aja. Aku masih normal!”
“Trus kenapa kamu nggak pernah nunjukin tanda-tanda ketertarikan sama lawan jenis? Banyak loh Rey yang coba deketin kamu tapi kamu sia-siain”
“Udah deh Rim, stop bahas ini. Pokoknya suatu hari nanti aku bakalan nemuin some one special, entah disekolah ini atau pun di luar sekolah”
“Kata-katamu sok bijak, bikin aku ngeri aja” ucap Rima polos sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lembut. Namun Reysha hanya tertawa mendengar tanggapan temannya itu dan akhirnya mereka tertawa bersama.
Rima memang tidak akan pernah mengerti apa yang di fikirkan Reysha karena Reysha sering berfikiran yang jauh dari bayangannya. Walaupun Rima dan Reysha baru mengenal satu sama lain baru 3 bulan tapi mereka sudah sangat akrab seperti kedekatan Reysha dengan Dani.
Kaki Rima menjadi kaku setelah ia sadar bahwa ia dan Reysha 3 langkah lagi sudah sampai di depan ruang osis. Wajah Rima berubah menjadi pucat pasi namun pipinya merona entah karena apa. Namun Reysha yang ada disampingnya malah menunjukkan keengganan masuk dan memberenggutkan wajahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Reysha kepada Rima yang tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika tepat di depan pintu ruang osis.
“Mmmm.... nggak. nggak pa-pa” jawab Rima salah tingkah.
“Iya. Tenang aja” terdengar suara dari dalam ruang osis dan tiba-tiba pintu ruang osis terbuka. “Rimmaaa... Reysha..” terdengar suara yang sama namun kali ini ada nada terkejut.
“Kak Rian” gumam Rima lirih hingga tidak terdengar oleh kak Rian yang ada dihadapannya juga Reysha yang ada disebelahnya.
“Kebetulan kalian sudah disini. Ayo ikut aku” ucap Rian dan mendorong pintu agar terbuka lebar dan memundurkan beberapa langkah untuk memberi ruang kepada Reysha juga Rima memasuki ruang osis.
Rian menggiring Reysha dan juga Rima disebuah kursi panjang. Rian mempersilahkan Reysha dan Rima duduk. Ruang osis terlihat tidak begitu luas namun tidak juga sempit, ukurannya sekitar 8X15  meteran. Ada beberapa sekat yang membatasi beberapa meja kerja dan juga seperangkat komputer lengkap. Disana juga terlihat televisi besar, LCD, lemari-lemari kecil yang kemungkinan untuk menyimpan berkas-berkas selayaknya ruangan osis pada umumnya. Reysha nampak kaget ketika melihat ke belakang dan menemukan sebuah pigura besar yang menyimpan foto para anggota osis tahun lalu, tidak perlu harus melototi satu-satu untuk menemukan foto Rian dalam foto itu karena Rian berada di barisan paling depan, dengan berjongkok ia tersenyum lebar.
“Aku tadi hampir saja menjemputmu” ucap Rian kepada Reysha “jika aku tidak menemukanmu didepan pintu tadi” lanjutnya dan tertawa entah apa yang ditertawakannya.
“Jadi, kenapa kakak mencariku?”
“Sama seperti beberapa hari yang lalu, aku atas nama osis ingin kamu menjadi bagian dari kita” jawab Rian seperti yang Reysha duga. Cowok yang ada dihadapannya ternyata cowok yang keras kepala “Jadi dengan sangat memohon, tolong kamu bersedia menerima ajakan ini. Aku tahu kamu tidak berniat untuk bergabung dengan osis tapi aku menjamin kamu kalau kamu bersedia menjadi bagian dari kita. Aku jamin kamu tidak akan menyesal, bukannya Rima juga akan menjadi anggota osis?” Rian menatap Rima dan Reysha juga mengikutinya, namun bukannya senyum seperti Rian, Reysha malah melotot namun yang dipelototin malah cengingisan nggak jelas. Dasa Rima! Batin Reysha
“Jadi kamu punya teman selain itu juga kamu punya pengalaman” tutur Rian.
“Alasan basi!” ucap Reysha dalam hati karena tidak mungkin ia mengutarakannya secara langsung. Reysha hampir saja hafal dengan kata-kata kak Rian karena beberapa hari ini kata-kata itu saja yang terngiang di telinganya hingga membuatnya jengkel.
“Rey...” suara Rian membuyarkan lamunan Reysha.
“Yah?” ucap Reysha lirih
“Kamu bersedia gabungkan” tanya Rian penuh harap
“Maa..” jawab Reysha namun terpotong
“Kalau kamu nggak gabung, aku bingung nyari penggati kamu. Sekarang hari jum’at sedangkan hari senin itu acara pelantikannya” kata Rian dengan nada yang entah mengapa terdengar memelas dan frustasi ditelingah Reysha.
“Iya Rey, aku pasti seneng banget kalo kamu juga jadi anggota osis. Aku jadi nggak sendirian deh. Kamu tahu kan perwakilan dari kelas kita cuman aku?!” tambah Rima. Oke sekarang Rima ikut merayu Reysha agar ikut osis dan setelah Rima siapa lagi yang akan merayunya?
“Kak Rian-nya ada” sayup-sayup terdengar suara cowok yang sedang mencari kak Rian dari kejauhan.
Reysha, Rima, dan Rian menoleh secara bersamaan ke asal suara. Ternyata Dani sang pemilik suara, terlihat ia berhadapan dengan seorang cewek untuk menanyakan pertanyaan tadi. Si cewek terlihat celingukan, sepertinya mencari kak Rian.
“Dan...” teriak Rian sambil melambaikan tangannya ke arah Dani.
“Tuh dia..” terdengar suara cewek itu berkata pada Dani dan mempersilahkan Dani untuk bertemu kak Rian.
Jangan bilang kalo Dani juga ikut-ikutan mendesaknya agar bersedia gabung di osis sama seperti Rima tuduh Reysha dala hati
“Siang kak, aku kesini mau mendaftar menjadi anggota osis” kata Dani kepada kak Rian yang membuat Rian mengerutkan dahinya, Reysha yang seperti orang tolol malah membuka melutnya dan berkata “Hah?!” tanpa suara, dan Rima masih terlihat anggun ia hanya menelan ludah. Dan mereka ber-3 terdiam beberapa saat
Dia penolongku. Sorak Reysha bahagia.
“Aku dengar dari anak-anak calon anggota osis yang baru kurang 1, jadi apa boleh aku yang mengisi-nya?” lanjut Dani yang membuat Rian makin mengerutkan dahinya.
Reysha berdehem keras “Tadi kakak bilang sama aku kalau kakak kesulitan mencari 1 orang lagi untuk anggota osis, dan sekarang ada Dani yang menawarkan diri apa kakak bersedia menerima tawarannya?” ucap Reysha mencoba membela Dani dan mengetuk pintu hati Rian agar bersedia menampung Dani dan membebaskannya.
Rian berdehem keras, dan akan membuka suaranya namun didahului oleh argumen Reysha lagi “Dan aku yakin Dani pasti bisa ngejalanin tugasnya jika dia diberi kepercayaan menjadi anggota osis. Dan selama aku mengenal Dani dia juga mempunyai sikap-sikap yang harus dimiliki oleh anggota osis, he is either, smart, thoughful, caring, dan easy going. Bukankah itu yang selama ini diperlukan untuk menjadi anggota osis?  Dan selama di SD prestasinya juga bagus, yah.. walaupun nggak the best student tapi dia selalu ikut peringkat 5 besar dikelas. Jadi tolong jadiin Dani anggota osis ya kak? Baru sekarang aku lihat Dani sesemangat ini untuk ikut keorganisasian” tutur Reysha kepada Rian
Rian hanya manggut-manggut mendengar argumen Reysha tentang Dani. Rian berfikir sejenak, disatu sisi ia sangat lega karena sudah menemukan 1 calon anggota tapi buruknya jika ia merekrut Dani itu berarti kesempatannya untuk mendekati Reysha dalam keosisan akan musnah. Namun Rian berusaha menjadi seseorang yang egois. Lembaga osis bukan sebagai sarana untuk pedekate.
“Oke, aku terima argumen Reysha. Aku jadi penasaran dengan kemampuan kamu” kata Rian yang langsung membuat Dani mencibir. “oke, kalau begitu sebaiknya kita cepat-cepat mulai sesi wawancaranya.” Rian kepada Dani yang sontan membuat Dani terperangah.
“Wawancara?” gumam Reysha dan menatap Rian tak percaya aneh...
Apa-apan sih nih anak? Wawancara? Reysha nggak pernah ikut wawancara tapi kenapa aku diwajibin wawancara? Mau ngetes? Atau menghalangi? Oke, siapa takut!  Pikir Dani dengan menatap kak Rian tajam.
“Dan, mari ikut aku ke meja ketos karena aku akan mewancaraimu disana, mumpung si ketos nggak lagi sibuk jadi bisa ikut  mewancarai kamu juga” kata Rian lagi dan ikuti oleh anggukan Dani. Mereka pun pergi ke meja ketos yang tidak jauh dari tempat mereka tadi, sedangkan Reysha dan Rima hanya bisa menonton Dani diwawancari oleh kak Rian dan ketua osis dari kejauhan.
Setengah jam berlalu dengan sangat lambat, duduk sekitar 30 menitan di ruang osis sangat membuat Reysha uring-uringan, ia ingin sekali meledak karena saking membosankannya tapi tentu saja tidak ia lakukan, bisa-bisa ia mati diserbu karena nggak ada angin dan nggak ada hujan tiba-tiba dirinya ngamuk diruang osis. sedangkan Rima hanya diam sambil memperhatikan kak Rian dari kejauhan dan sesekali tersenyum entah karena apa.
Tidak lama kemudian Dani selesai sesi wawancara, setelah memastikan Dani sudah diterima menjadi calon anggota osis dan besok senin akan dilantik, Reysha, Rima dan Dani keluar dari ruang osis yang begitu mengerikan bagi Reysha.
“Gimana sesi wawancaranya? Pertanyaannya susah nggak?” tanya Rima setelah 5 langkah meninggalkan ruang osis.
“Nggak. tinggal bohong dan melebih-lebihkan sedikit kayak calon DPR yang mau ikut pilkada aja apa susahnya?!” jawab Dani dengan enteng
“Emang pertanyaannya kayak gimana sih Dan?” tanya Reysha penasaran
“Yah kayak,.. tujuan kamu mengikuti osis itu apa? Moto kamu apa? Trus, entar setelah menjadi anggota osis apa yang akan kamu lakukan untuk mengangkat nama sekolah di masyarakat luas, ya kayak gitulah. Tapi ada pertanyaan yang paling lucu dari Rian” jawab Dani sekenanya namun ketika Dani menyebut nama Rian, Rima langsung menatap Dani lekat-lekat dan menunggu kelanjutan ceritanya “masa dia tanya ‘bagaimana pandangku tentang masalah korup di Indonesia’ aneh kan tuh anak?! Emang dia pikir aku mau jadi DPR? Walikota? atau Presiden apa?!” lanjut Dani
“Wajar kali kak Rian tanya gitu sama kamu, kan anggota osis tidak hanya dituntut pinter dalam keorganisasian tapi juga harus berpengetahuan luas termasuk masalah korup” ucap Rima yang tidak terima karena Dani menghina kak Rian. “Ya udah deh, aku kelas dulu. Males ngomong sama kamu!” lanjut Rima dan mempercepat langkahnya sehingga meninggalkan Reysha dan Dani berdua.
“Oh ya, udah dibilang sama kak Rian kalo ntar ada latihan upacara pelantikan kan? So, awas kalo kamu pulang duluan!” ucap Rima lagi ditengah perjalanannya setelah itu ia kembali  melanjutkan langkah besarnya untuk meninggalkan Reysha dan Dani.
Reysha dan Dani hanya berpandangan tidak mengerti atas perubahan sikap Rima. Tapi sedetik kemudia Reysha bisa menguasai dirinya karena ia baru teringat bahwa Rima menyukai Rian, jadi wajar saja Rima tidak suka ketika Dani menghina Rian.
“Kenapa sih dia?” tanya Dani “Aneh!”
“Biasalah dia lagi kena sindrom Rian is never wrong“
“Apa sih?” tanya Dani yang masih tidak mengerti, namun Reysha hanya tersenyum kecil tanpa memberi tahu maksudnya dan melanjutkan langkahnya.
******
Reysha sedang duduk dibangku depan kelas XII IPA1 yang ada dilantai dasar. Ia memperhatikan siswa-siswi calon pengurus osis yang berlatih untuk acara pelantikan besok senin, diantara mereka ada Rima dan Dani, melihat Rima yang antusias dengan setiap intruksi dari pelatih osis sedangkan Dani berdiri sambil mendengarkan dengan setengah hati membuat perut Reysha geli.
Reysha sengaja menolak tawaran Rian untuk bergabung menjadi pengurus osis karena ia benar-benar tidak berminat dengan hal-hal seperti osis, ia tidak siap untuk menjadi icon sekolah dan menjadi panutan untuk semua warga sekolah dan belum lagi ia harus bersedia jika sewaktu-waktu disuruh menyiapkan tek-tek bengek acara sekolah yang sangat menyita waktu. Dan alasan lainnya adalah Rian, entah mengapa Reysha suka risih dengan semua yang berhubungan dengan cowok itu. Entah apa sebabnya.
30 menit yang lalu Reysha sudah menelpon Dad untuk menjemputnya tapi sampai sekarang masih belum datang juga. Dad sengaja menjemput Reysha setiap hari walaupun sesibuk apapun, ia tidak pernah membiarkan Reysha pulang sendirian atau naik angkutan umum, dad sangat over dalam menjaga Reysha. Walaupun sedikit risih dengan semua perhatian Dad namun Reysha diam saja karena mungkin itu semua wujud kasih sayang Dad kepadanya.
“Masih nunggu jemputan?” tanya Rian yang tau-atau sudah duduk disamping Reysha.
“Eh... iya kak” jawab Reysha dengan nada setengah terkejut. “Kakak sendiri kenapa disini? latihannya kan belum selesai”
“Latihannya diistirahatin dulu, kasian anak-anak udah kecapean” jawab Rian sambil mengedarkan pandangan kearah halaman sekolah dimana anak-anak sedang latihan “Tuh kan, pada bubar” lanjutnya dan beberapa detik selanjutnya Rima yang disusul oleh Dani berlarian kearah Rian dan juga Reysha.
“Kenapa masih disini? Dady kamu mana?” tanya Dani pada Reysha setibanya di hadapan gadis itu.
“Belum dijemput, mungkin dad dalam perjalanan kesini”
                “Udah ditelepon?”
Reysha mengangguk pelan. “Gimana latihannya? Seru?” tanya Reysha kepada Dani dan juga Rima.
“Banget” jawab Rima riang.
“Apanya?!” jawab Dani sewot dan mendenguskan napas secara berlebihan “Yang ada panas, bukan seru!”
“Itu kan menurut kamu kalo menurut aku seru, nggak salah dong!” ucap Rima yang nggak kalah sewotnya dari Dani
“dasar! Makanya buka mata hati biar bisa ngeliat mana yang seru dan mana yang enggak!”
“mata hati?! emang kamu kira lagi ada adegan yang tragis apa?!”
“Udah-udah nggak usah berantem, kayak anak kecil aja!” sela Rian sebelum Dani meladeni ucapan Rima. Rian tersenyum sama “Aku rasa kalo kalian jadian pasti cocok, kalian bakalan jadi pasangan yang heboh” lanjut Rian yang langsut membuat Rima, Dani, dan Reysha saling bertatapan dan menyipitkan mata mereka. Menimbang ucapan Rian yang tidak masuk akal.
Huuueeekkk... Rima tiba-tiba berpura akan muntah. Dani hanya bergumam tidak jelas dan Reysha hanya menahan tawa sambil membalas tatapan Rian.
“tiba-tiba aja aku pengen ke toilet. Duluan ya” ucap Rima dan langsung ngancir begitu saja.
“aku ke kantin dulu, mau beli minum. Kamu mau nitip?” tanya Rian pada Reysha dan ketika melihat gelengan Reysha ia langsung pergi begitu saja.
Terkadang Rima dan Dani begitu solid dan melengkapi, seperti beberapa waktu yang lalu mereka terjebak dalam kelompok biologi si Rima bertugas mencari bahan, Dani bertugas membuat makalah dan ditutup oleh mereka berdua yang secara bergantian presentasi didepan kelas. Tapi tidak kadang juga mereka seperti tikus dan kucing yang selalu berantem, padahal hanya masalah sepele yang seperti tadi. Pada saat pertama kali Reysha bertemu Rima ia yakin pasti ia dan Rima akan bisa akrab namun setelah beberapa waktu berjalan malah Dani yang lebih akrab dengan Rima. Mungkin karena mereka sama-sama menyukai sepak bola. Terlepas dari itu semua Reysha bersyukur karena keduanya bisa menjadi teman dekatnya yang turut mewarnai hari-harinya dan selalu ada pada saat ia sedih dan juga ada pada saat ia bahagia.
Tiba-tiba ponsel Reysha bergetar, ternyata ada telepon dari dad-nya. Setelah ia mengangkat telepon, Reysha lalu berpamitan kepada Rian karena dad-nya sudah ada digerbang depan. Setelah melambai kan tangan kepada Reysha, Rian hanya bisa menatap punggung gadis itu pergi.
Rian tidak tahu kenapa ia tertarik dengan Reysha, memang Reysha cantik dan pintar tapi Reysha tipe cewek tertutup dan susah bergaul dengan orang lain yang itu berarti bukan tipe Rian. Sejak pertemuannya di awal mos beberapa bulan lalu ia merasa tertarik pada Reysha, dan setelah terlibat pembicaraan dengan cewek itu Rian malah semakin tertarik mungkin karena gaya bahasanya yang kalem seperti ibunya. Tapi Rian yakin bukan hanya itu yang membuatnya ia tertarik pada Reysha, mungkin sekarang ia belum menemukan apa itu, tapi suatu saat nanti ia akan menemukannya.
*****
Reysha mengedarkan pandangannya di setiap jalan yang ia lalui, tidak ada hal yang menarik dalam perjalanannya tapi sebisa mungkin Reysha membuat dirinya tertarik dalam segala hal dalam perjalanannya. Inilah Reysha, dia selalu menarik dirinya untuk tertatik pada semua hal yang awalnya biasa-biasa saja. Sejak kecil ia sudah terbiasa dalam kegiatan itu, mungkin aneh tapi bagaimana lagi itu sudah terlanjur melekat pada dirinya.
Kali ini langit sangat cerah, berbeda sekali dengan pagi tadi. Dan sepertinya hati Dady Reysha juga tertular kecerahan langit sore. Beberapa kali Dady bersiul-siul tidak jelas dan sekali-kali Dady juga menarikan jemarinya kekemudi, Reysha senang melihat Dadynya seperti itu dan ini pemandangan kesekian kalinya yang menarik perhatiannya. Bukan mencoba untuk tertarik tapi katena memang ia benar-benar tertarik.
“Dady keliatannya lagi seneng. Tadi habis dapat apa sih? Lotre ya?” ujar Reysha pada akhirnya, ia tidak bisa menahan untuk bertanya karena lama-kelamaan perutnya terasa menggeletik melihat kelakuan Dady-nya.
“Ah sayang, lotre sih nggak bakalan bisa ngebuat Dady seneng kayak gini. Dad seneng kayak gini karena kakak kamu, Boni tadi ngasih kabar ke dady bahwa dia menang juara 1 dalam olimpiade matematikanya” jawab dady dengan nada ceria yang membuat Reysha langsung lumpuh ditempat.
“Oooo...” gumam Reysha layu
“Oooo?” gumam dady yang secara tidak langsung memberi isyarat bahwa ia menginginkan jawaban dari gumaman Reysha yang tidak diharapkannya.
“ooo... maksud aku, I’m happy for you Dad, end... Boni...” ucap Reysha mencoba meralat ucapannya tadi. Reysha bersikap seperti itu bukan karena ia tidak suka tapi ada alasan lain yang menggelayuti hatinya dan membuat efek yang seperti tadi.
Dady tampak menghembuskan napas lega dan kembali menyetir dengan bersiul dan juga menarikan jari-jemarinya.
Reysha tahu Boni kakak yang sempurna, dia ganteng, baik hati, dan smart. Tapi kini penilaian Reysha agak berubah, Reysha menganggap Boni hanya kakak yang egois dan sangat menyebalkan. Reysha tidak tahu kenapa penilainnya terhadap kakak kesayangan itu berubah tapi yang pasti Reysha sangat membenci Boni yang sekarang.
“Dad, jangan kaget ya. Rey nggak jadi ikut osis” ucap Reysha dan langsung membuat dady-nya menoleh kearahnya.
“Why, darling. Ikut osis kan enak, banyak pengalaman, banyak teman”
“Reysha nggak minat sama osis. Rey, juga nggak mau repot-repot ngurusin osis. Ribet”
“kamu nggak boleh gitu dong. Itu cuman ketakutan awal kamu aja. Kalo udah gabung pasti seneng. Liat Boni, dia aktif di osis dan hasilnya seperti sekarang. Dia semakin bersinar”
Apanya?! Bersinar keego-annya? Mungkin itu yang tepat!. Gerutu Reysha dalam hati.
“tetep aja Rey nggak mau kayak kak Boni”
“why?”
Apa perlu aku jelasin. Kalo aku jelasin tentunya banyak argumen dan perdebatan. Dan itu sama sekali nggak bagus. “Pokoknya Rey nggak mau! TITIK”
“Semua tidakan pasti ada alasannya dong”
“Tidak semuanya Dad, sekarang gini deh, dulu sampe sekarang Dad kenapa sangat mencintai mom? Kalo dady menjawab karena mom cantik, berarti kalo mom nggak cantik lagi dady bakalan berhenti mencintai mom. Kalo dady bilang karena mom sudah melahirkan buah hati yang dad sayangi, kalo suatu hari aku dan kak Boni meninggal berarti Dady harus berhenti mencintai mom. Rey yakin nggak sesimpel itu kan? Tidak semua tindakan memerlukan alasan. Dady tau itu!” cerocos Reysha dengan nada penuh kekesalan.
Dady hanya menatap putrinya tak percaya, ia belum memercayai gadis kecilnya kini beranjak remaja. Kini ia mampu mengungkapkan apa yang ia suka dan tidak suka. Dan ia pun sudah mampu berargumen tentang sesuatu yang ia percaya. Dad hanya memhembuskan napas berat, tidak tahu harus senang atau bersedih.
Reysha mencuri-curi pangdang ke dady. Ia tahu kata-katanya keterlaluan, ia hanya ingin lepas dari bayangan Boni. “Dad, I’m sorry. Aku tidak bermaksud seperti itu” ucap Reysha akhirnya. Ia paling tidak tahan melihat dadynya mengeluarkan ekspresi seperti itu.
“yah... I know. I’m sorry too. Dady hanya ingin kamu menjadi putri yang terbaik” ujar dady melunak.
Sepuluh menit berlalu, tidak ada yang saling berbicara mereka sibuk memikirkan sesuatu diotak mereka masing-masing. Reysha tidak lagi melakukan kegiatan anehnya lagi. Ia hanya meremas-remas jari-jemarinya dan diam seribu bahasa.
Reysha merasa kesal, kecewa dan bahagia dalam satu waktu.
Setelah mobil dady berhenti digarasi rumah. Treysha langsung berlari memasuki rumah.
“sayang... kenapa lari-larian?’ tanya mom lembut dan berhasil menghentikan langkahnya. Mom terlihat sedang duduk dan merangkul pundak Boni. Reysha tau kenapa momy-nya melakukannya. Tapi Reysha pura-pura tidak tahu. Itu lebih aman.
“Biasalah mom, dia kan sedang teropsesi jadi kuda pelari” celetuk Boni yang langsung membuat Reysha melotot. 
Reysha menoleh kearah mom “notink mom” gumam Reysha dan kembali berlari menuju kamarnya. Untuk meluapkan kekesalannya. Reysha menutup pintunya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dady “Dad bangga sama kamu” ujurnya dengan nada keras entah disegaja atau tidak dan detik selanjutnya suara Boni menjelajahi otak Reysha “thank you Dad!” dengan nada yang lebih keras. Dasar! . Reysha langsung menarik selimut dibawah kakinya dan membendung seluruh tubuhnya dengan selimut agar tidak mendengar kicauan yang tidak penting. Ia harus tidur dan melupakan semuanya. Bad day.
****
Read More

2.1 Biography of Oscar Wilde

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde was born in 1854. William Wilde, his father, was a doctor, specialist in disease of the eye and ear. Lady Jane Francesca Wilde, his mother, was a poet, journalist and well-known intellectuals in Dublin, Ireland. Although Wilde’s were not of the aristocracy, they were nonetheless prosperous and sent Oscar to the finest schools as he grew up. His mother was a best friend for him, as Oscar seems especially influenced by his mother, a brilliantly humorous storyteller, and he was frequently invited while still a child to participate in their intellectual circle of friends (Encyclopedia Britannica, Vol. 23, page 596).
In 1871, Oscar attended the Portora Royal School at Enniskillen, where Oscar excelled at studying the classics, obtaining top prize his last two years, and also earning a second prize in drawing. In 1871, Oscar was awarded by the Royal School Scholarship to attend Trinity College in Dublin. Again, he did particularly well in his classics courses, placing first in his examinations in 1872 and earning the highest honor the college could give on an undergraduate, a Foundation Scholarship. In 1874, Oscar reached his successes at Trinity with two final achievements. He won the college's Berkeley Gold Medal for Greek and was awarded a Demyship scholarship to Magdalen College in Oxford. (http://www.literature-web.net/wilde, accessed on April 19th 2005)
Oscar's father died on April 19, 1876, leaving the family financially strapped. Henry, William's eldest son, take over the wild’s role. He paid the finance on the family's house and supported them until his sudden death in 1877. Meanwhile, Oscar continued to do well at Oxford. He was awarded the Newdigate prize for his poem, Ravenna, and a First Class in both his "Mods" and "Greats" by his examiners. After graduation, Oscar moved to London to live with his friend Frank Miles, a popular high society portrait painter. In 1881, he published his first collection of poetry. Poems received mixed reviews by critics, but helped to move Oscar's writing career along, and was a well-known enough entity to be satirized by a Gilbert and Sullivan comic opera. He moved to the avant-garde neighborhood of Chelsea in London (Encyclopedia Britannica, Vol. 23, page 596).
In December 1881, Oscar sailed for New York to travel across the United States and carry a series of lectures on aesthetics. The 50-lecture tour was originally scheduled to last four months, but extended to nearly a year, with over 140 lectures given in 260 days. In between lectures he made time to meet with Henry Longfellow, Oliver Wendell Holmes and Walt Whitman. He also arranged for his play, Vera, and then was staged in New York the following year. When he returned from America, Oscar spent three months in Paris writing a blank-verse tragedy that had been commissioned by the actress Mary Anderson. When he sent it to her, however, she turned it down. He then started out on a lecture tour of Britain and Ireland (Encyclopedia Britannica, Vol. 23, page 596).
In 1884, Oscar married a shy and rich Irishwoman, Constance Lloyd. She was a skilled woman who could speak several European languages and had an outspoken, independent mind. After they had married, they moved in to a posh London house. Their marriage was awarded two children, Cyril in 1885 and Vyvyan in 1886. For supporting Oscar’s family, he briefly worked at The Woman's World magazine from 1887-1889, and he wrote a collection of fairy tales and more essays championing the Aesthetic movement. In the 1890s, he published his two works of children’s stories, The happy Prince And Other Tales (1888) and The House of Pomegranates (1892). In 1890, he also published his first and only novel, The Picture of Dorian Gray, a Faustian tale about beauty and youth. In February 1892 he opened his first play, Lady Windermere's Fan. The other plays such as Salome (1892), A Woman of No Importance (1893), An Ideal Husband (1895), and The Importance of Being Earnest (1895) were his works which finally made him well-known as a playwright. His last play, The Importance of Being Earnest, is also considered his greatest and the modern shining example of the comedy of manners (http://www.cmgww.com/historic/wilde/, accessed on April 19th 2005).
However, by now Wilde was infatuated with the younger, beautiful poet Lord Alfred Douglas (known as "Bosie"), and he was not shy about flaunting their sexual relationship. Douglas's father, the Marquess of Queensbury, accused Wilde of sodomy. Wilde, never one to back down from a fight, charged Queensbury with slander. However, Queensbury had several of Wilde's letters to Bosie and other incriminating evidence as well. Alongside the provocative material in Wilde's work, the writer was found guilty of homosexuality in a second trial and sentenced to two years of hard labor (Encyclopedia Britannica, Vol. 23, page 596).
In 1897, while in prison, Wilde wrote De Profundis, an examination of his newfound spirituality. After his release, he moved to France under an assumed name. He wrote The Ballad of Reading Gaol in 1898 and published two letters on the poor conditions of prison; one of the letters helped reform a law to prevent children from imprisonment. His new life in France, however, was lonely, impoverished, and humiliating. Wilde died in 1900 at the age of 46 from Meningitis, in a Paris hotel room. Nevertheless, he retained his epigrammatic wit until his last breath; he is rumored to have said in the drab hotel room, "My wallpaper and I are fighting a duel to the death. One of us has to go." Critical and popular attention to Wilde has experienced a great resurgence; numerous films based on his plays and life have delighted audiences, while his writings remain a wellspring of witty and subtle thought on aestheticism, morality, and society (Encyclopedia Britannica, Vol. 23, page 596).
Read More

PENGLIHATAN_KUCING_YANG_TAJAM_DI_MALAM_HARI


Mata kucing merupakan salah satu bukti kesempurnaan Allah dalam penciptaan. Allah telah menciptakan mata kucing dengan pengaturan dan letak yang sesuai dengan makhluknya. Di salah satu ayat, Allah berfirman tentang kesempurnaan ciptaannya ;
Dia – lah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, Dia memiliki nama – nama yang indah, apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada – Nya. Dan Dialah yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana. ( QS. Al – Hasyr 24 )
Penglihatan malam kucing sangat kuat
Kucing dapat dengan mudah membedakan warna hijau, biru dan merah. Walaupun begitu, kelebihan sebenarnya dari mata kucing adalah agar dapat melihat di malam hari. Kelopak mata kucing terbuka di malam hari, ketika terkena sedikit cahaya, lapisan mata yang disebut iris membuat pupil mata membesar ( hamper 90% mata ) sehingga mereka lebih mudah melihat cahaya. Di saat mendapat cahaya yang lebih terang, system bekerja berlawanan untuk melindungi retina, pupil mengecil dan berubah menjadi garis tipis.
Ada sebuah lapisan yang tidak terdapat pada mata manusia. Lapisan ini berada di belakang retina, berfungsi sebagai penerima cahaya. Ketika cahaya jatuh di lapisan ini langsung di pantulkan kembali, cahaya lewat dua kali melalui retina. Oleh karena itu, kucing dapat melihat dengan mudah di saat cahaya hanya sedikit. Bahkan di saat gelap, di saat mata manusia tidak dapat melihat. Lapisan ini juga lah yang menyebabkan kenapa mata kucing bersinar di malam hari. Lapisan ini disebut Kristal tapetum lucidum yang dapat memantulkan cahaya. Berkat kistal ini, cahaya yang jatuh di belakang mata di pantulkan kembali ke retina. Beberapa cahaya yang di pantulkan kembali ke lensa, sehingga mata bersinar. Berkat struktur ini, jumlah cahaya yang diterima mata meningkat sehingga bisa melihat dalam kegelapan. Oleh Karena itu, kucing bias melihat lebih baik dalam gelap.  Ini bukanlah bentuk dari bio-luminescence, sebab binatang tidak menghasilkan cahanya, melainkan hasil dari pemantulan.
Alasan lain kenapa kucing bisa melihat dalam gelap juga karena adanya sel – sel batang yang lebih banyak di bandingkang sel – sel kerucut di retina mereka. Sebagaimana kita ketahui, sel – sel batang hanya sensitive pada cahaya. Mereka membentuk bayangan hitam atau putih tergantung dari cahaya yang datang dari objek, tetapi mereka sangat sensitive walau hanya dengan sedikit cahaya.
Berkat sel – sel batang ini, kucing dapat berburu dengan mudah di malam hari. Seperti kita lihat, Allah menciptakan struktur mata yang sesuai dengan kondisi dan nutrisi yang mereka butuhkan. Mata kucing memiliki struktur dan karakteristik yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini adalah salah satu contoh dari hasil ciptaan Allah. Hasil ciptaan Allah yang unik ini terbukti dalam salah satu ayat ;
Pencipta langit dan bumi, ketika Dia ingin menciptakan sesuatu, maka Dia hanya berkata “jadilah”, maka jadilah ia. ( QS. Al – Baqara 117 )
Bola mata kucing lebih besar
Selain kemampuan melihat di malam hari, bola mata kucing juga lebih besar di bandingkan yang dimiliki manusia. Jika bidang penglihatan manusia hanya sampai 160 derajat, kucing dapat dengan mudah hingga 187 derajat. Dengan karakteristik ini, mereka dapat dengan mudah melihat ancaman yang ada. Ini adalah contoh karakteistik lain dari hasil ciptaan Allah dengan bentuk yang berbeda. Sebagaimana di katakana di dalam Al – Qur’an, kaakteristik ini adalah pelajaran bagi orang – orang yang beriman ;
Dan sungguh, pada hewan ternak itu terdapat pelajaran bagimu…( QS. An – Nahl 66 )
Struktur mata kucing berbeda dengan manusia
Pada mata kucing, terdapat membran ketiga yang disebut “nictitating  membrane”. Membran ini transparan, dan bergerak dari satu bagian mata ke bagian yang lainnya. Sebagai contoh, kucing dapat mengedipkan mata mereka tanpa harus menutup semuanya. Membran ketiga ini memungkinkan mata kucing terlindungi ketika berburu. Selain itu, benda – benda lain seperti debu tidak mengenai mata mereka, sehingga mata mereka tetap bersih dan lembab; sehingga kucing tidak perlu sering mengedipkan matanya seperti manusia. Jika kucing mengedipkan mata mereka sepanjang waktu seperti manusia agar matanya tetap bersih dan lembab, hal ini akan menimbulkan kesulitan bagi mereka di saat berburu. Tidak mengedipkan mata merupakan salah satu kesempurnaan ciptaan Allah untuk makhluk ini.
Apakah mata kucing sensitive pada gerakan
Kucing tidak dapat melihat dalam jarak dekat dengan baik sebagaimana halnya manusia dan tidak bisa focus pada objek yang dekat dengan mereka. Tetapi Allah telah menciptakan rambut sensoris dengan mekanisme sensoris yang kuat buat kucing. Berkat penciuman dan rambut sensoris, kucing dapat dengan mudah mendeteksi dalam jarak dekat. Walau makhluk indah ini sulit melihat dalam jarak dekat, mereka dapat dengan mudah merasakan dengan jarak dua sampai enam meter. Jarak ini cukup bagi kucing agar dapat berburu.
Karakteristik lain pada mata kucing adalah mereka sensitive pada gerakan, keindahan dan yang sesuai dengan jarak penglihatan mereka. Mata kucing dan otaknya memisahkan setiap gerakan bingkai demi bingkai. Otak kucing bisa merasakan lebih banyak gambar daripada kita. Sebagai contoh, mereka dapat dengan mudah melihat tanda – tanda elektronika pada layar televise di bandingkan manusia. Ini adalah bakat khusus yang di berikan oleh Allah yang Mahakuasa kepada semua kucing. Hal ini dikarenakan  kucing menangkap mangsa mereka berdasarkan objek yang bergerak.
Detil dan ragam yang mengagumkan di ciptakan Allah bagi kucing
Mata kucing di ciptakan dengan kaakteristik luar biasa seperti makhluk lainnya. Ketika struktur dan karakteristik mata di uji secara individual, maka akan di lihat fungsi yang berbeda dan ini merupakan bukti dari beragamnya hasil penciptaan Allah. Variasi ini tidak dapat di katakana sebagai hasil dari mutasi ataupun seleksi alam. Allah telah memberikan mata yang sesuai dengan kebutuhan hidup dan nutrisi makhluknya.
Memiliki pengetahuan tentang system yang menakjubkan ini merupakan kesempatan bagi setiap orang untuk melihat kekuasaan dan pengetahuan Allah yang telah menciptakan makhluknya. Kita harus berterima kasih kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Adapun bagi orang – orang yang yang menolak ayat – Nya, Allah menjulukinya “pendusta”, seperti di dalam ayat ;
Siapakah yang lebih zhalim daripada orang – orang yang telah di peringatkan dengan ayat – ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah di kerjakan oleh kedua tangannya? ( QS. Al – Kahfi 57 )
Kucing di ciptakan dalam bentuk yang ideal sesuai dengan lingkungan mereka, mereka perlu bernafas, makan, berburu dan mempertahankan diri agar tetap hidup. Oleh karena itu, mereka harus mengenal dunia mereka, dan membedakan antara musuh dan mangsa mereka. Dengan demikian, mereka memerlukan penglihatan khusus untuk melihat lingkungan mereka. Bagaimanapun, Allah yang Mahakuasa, Tuhan dari semua dunia, telah memberikan karakteristik yang mengagumkan seperti mata yang memiliki struktur khusus, bentuk dan ketajaman penglihatan untuk kucing. Penciptaan mata yang memiliki kekhususan bagi kucing merupakan pelajaran bagi orang – orang yang beriman sebagaimana di sebutkan di dalam Al – Qur’an ;
Dan disana terdapat pelajaran bagimu…( QS. Al – Mu’miniin 21 )
Karakteristik mata kucing berfungsi sesuai dengan hukum yang di tetapkan Allah. Allah menciptakan mata ini dan setiap detilnya tanpa contoh sama sekali. Hal ini terungkap dalam ayat – ayat bahwa Allah adalah pencipta semuanya ;
Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian lagi berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. ( QS. An – Nuur 45 )

Read More