Showing posts with label masyaraat. Show all posts
Showing posts with label masyaraat. Show all posts

Model 4 level

EVALUASI PELATIHAN
Model 4 level
Dra. Wiwik J. Prihastiwi,MSi


Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald. L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan.
Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.

Keempat level dapat dirinci sebagai berikut :

Level 1: Reaksi
Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah :
1. Instruktur/ pelatih. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang    dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan pelatih dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.
2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.
3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.
4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.
5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.
6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.
9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

b. Level 2: Pembelajaran

Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

c. Level 3: Perilaku

Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

d. Level 4 : Hasil

Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki. .

Level Form








                                                   

Read More

Perilaku Orangutan

Perilaku satwa adalah tindak tanduk yang terlihat dan saling berkaitan baik

secara individu maupun bersama-sama (Tanudimadja, 1978 dalam Kartikasari, 1986).


23




Perilaku satwa dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor dari dalam tubuh (endogenous) dan

faktor dari luar tubuh (exogenous) (Kartikasari, 1986).

Menurut Meijaard dkk., (2001) pembentukan kelompok pada Orangutan terlihat

pada remaja dan pradewasa yang bergerak dalam jarak dekat satu sama lain. Orangutan

dewasa menjaga jarak dengan individu lainnya, kecuali jika seekor jantan dan betina

siap kawin. Umumnya keadaan ini berlangsung selama 2-3 minggu sebelum diakhiri

kopulasi. Masa hamil kurang lebih sembilan bulan dan jarak kelahiran antara anak yang

satu dengan yang lain sekitar 96 bulan (Supriatna dan Hendras, 2000).

Orangutan merupakan satwa arboreal yaitu satwa yang menghabiskan sebagian

besar waktu hidupnya di atas pohon (Anonim, 2007c). Orangutan dapat membuat dua

sampai tiga sarang setiap harinya. Menurut van Schaik dan Idrusman (1996) dalam

Anonim (2007c) klasifikasi posisi sarang adalah sebagai berikut :


Posisi I


: Posisi sarang terletak di dekat batang utama


Posisi II : Sarang berada di pertengahan atau di pinggir percabangan satu pohon

tanpa menggunakan pohon atau percabangan pohon lainnya

Posisi III : Sarang terletak di puncak pohon

Posisi IV: Sarang terletak di antara dua cabang atau lebih, dari tepi pohon

yang berlainan.

MacKinnon (1974) dalam Sariningsih (2003) menerangkan tahapan Orangutan

dalam pembuatan sarang sebagai berikut :

1. Rimming. Dahan dilekukkan secara horizontal untuk membentuk lingkaran sarang

dan ditahan dengan cara melekukkan dahan lain.


24




2. Hanging. Dahan dilekukkan ke arah dalam sarang untuk membentuk mangkuk

sarang.

3. Pillaring. Dahan dilekukkan ke bawah sarang untuk menopang lingkaran sarang dan

memberikan kekuatan ekstra.

4. Loose. Beberapa dahan dipatahkan dari pohon dan diletakkan ke dalam dasar sarang

sebagai alas atau sebagai atap. Dahan-dahan tersebut didapatkan dari beberapa

bagian pohon atau bahkan dari pohon lain yang bisa mencapai ± 15 meter dari pohon

tempat sarang berada.

Umumnya primata berjalan di atas dahan-dahan pohon. Mereka menyeberangi

ruang-ruang kosong di tengah puncak-puncak pepohonan dengan melompat,

menggunakan kaki belakangnya yang kuat dan menggunakan ekornya untuk

mempertahankan keseimbangan selagi mereka melayang di tengah udara (van Schaik,

2006).

Orangutan mempunyai tubuh yang besar, sehingga mereka tidak bisa berjalan

seperti primata pada umumnya untuk melewati dahan-dahan pepohonan. Sebaliknya,

Orangutan bergerak maju dengan menggunakan tangan dan kakinya. Lengan Orangutan

40% lebih panjang dari kakinya. Tangan dan kakinya sangat panjang dengan jari-jari

yang melengkung, yang digunakan untuk memegang dahan dan ranting dengan cara

mengait. Lengan-lengan mereka dapat memeluk batang pohon pada waktu naik-turun

memanjat pohon (van Schaik, 2006).


25




Pergerakan untuk primata lainnya, Fleagle (1978) dalam Kartikasari (1986)


menyebutkan bahwa


pergerakan lutung dibedakan menjadi 4 berdasarkan cara


penggunaan tungkainya yaitu :

1. Quadrupedal yaitu gerakan berjalan dan berlari secara kontinyu, biasanya

bergerak horizontal menggunakan keempat tungkainya.

2. Leaping yaitu gerakan melompat secara terputus-putus dan berlangsung secara

cepat, gerakan ini menggunakan 2 tungkai belakang.

3. Climbing yaitu gerakan secara kontinyu, biasanya berupa gerakan vertikal

menggunakan kombinasi keempat tungkainya. Kedua tangannya digunakan

untuk menarik tubuhnya ke atas, sedangkan kedua kakinya digunakan untuk

mendorong.

4. Arm swinging yaitu gerakan menggantung dan mengayun dari satu pohon ke

pohon lainnya.

Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada

cabang-cabang pohon. Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya tetapi jarang

dilakukan (Anonim, 2007c).

Musim kawin biasanya ditandai dengan perkelahian antar pejantan dalam

memperebutkan betina. Setelah diketahui pemenangnya, keesokan harinya si betina akan

menghampiri pejantan untuk kawin di sarang yang telah dipersiapkannya. Pejantan ini

termasuk tipe yang kurang setia. Kesetiaannya pada pasangan hanya bertahan selama

kawin hingga betina mengandung. Segera setelah itu ia siap mengawini betina lainnya.


26




Bayi Orangutan yang lahir mencapai berat sekitar 1,6 Kg dan akan disusui serta diasuh

induknya hingga umur 3 tahun (Anonim, 2007d).

Menurut Santoso (1993) dalam Hidayat (2001) perilaku mencari kutu

(grooming) sering dilakukan pada saat istirahat. Perilaku ini tidak hanya untuk

membersihkan badan, tetapi juga sarana untuk menjalin hubungan sosial antara individu

dalam satu kelompok, meredakan tegangan, dan bertujuan lain.

Menurut Rijksen (1978) pola aktifitas harian Orangutan Sumatera dibedakan atas

aktifitas pagi hari dan sore hari. Aktifitas pagi hari yaitu aktifitas yang dilakukan dua

sampai tiga jam setelah Orangutan meninggalkan sarang tempat tidurnya. Aktifitas sore

hari yaitu sekitar pukul 3 sore. Aktifitas makan lebih banyak dilakukan di pagi hari.

Sedangkan aktifitas berjalan lebih banyak dilakukan pada sore hari, dan terakhir aktifitas

beristirahat dilakukan pada siang tengah hari.

2.3. Sumber Pakan Orangutan

Menurut Meijaard dkk., (2001) dalam Sariningsih (2003) produksi masal suatu

jenis tumbuhan yang umumnya menghasilkan biji, bunga dan buah akan terjadi sesuai

dengan kondisi musim dan lingkungannya. Pada kondisi ini jenis tumbuhan akan

berbuah pada saat yang bersamaan. Kelimpahan makanan yang bersamaan ini hanya

dapat dinikmati selama musim tertentu saja, dan musim berikutnya bahaya kelaparan

akan dihadapi oleh pemakan buah. Untuk itu, pemakan buah harus terus berpindah.

Makanan pokok Orangutan adalah buah. Di habitat yang berkualitas baik, 57%

(jantan) dan 80% (betina) waktu makannya dihabiskan untuk memakan buah-buahan.

Orangutan juga lebih menyukai pohon-pohon yang berbuah lebat. Sumber pakan lainnya


27




adalah daun, termasuk tunas muda dalam jumlah yang sangat banyak. Rata-rata 25%

waktu makan digunakan untuk memakan daun. Di habitat yang berkualitas baik, selama

musim buah Orangutan menggunakan 11-20% waktu makannya setiap hari untuk

memakan dedaunan. Selain buah-buahan dan dedaunan, sekitar 6% waktu makannya

digunakan untuk menangkap serangga (semut, rayap, belalang, jangkrik, kutu, dll).

Ketika buah menjadi jarang, Orangutan menggunakan sampai 18% dari waktu

makannya untuk memakan lapisan di bawah kulit pohon tertentu terutama pohon Ficus

dan jenis lainnya dari suku Moraceae (Meijaard dkk., 2001).

Menurut van Schaik (2006) buah-buahan yang matang dalam jumlah banyak

merupakan menu utama makanan Orangutan. Buah-buahan merupakan sumber energi

yang baik, akan tetapi bukan merupaka sumber protein. Untuk menambah protein,

primata menambah dedaunan muda dan serangga yang kaya akan protein.

Orangutan yang akan diliarkan kembali adalah satwa peliharaan hasil sitaan yang

akan dikembalikan ke hutan, namun harus menjalani karantina terlebih dahulu sebelum

diperkenalkan kembali ke alam. Pisang merupakan salah satu makanan yang secara

teratur diberikan pada Orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Bahorok. Pisang yang

sudah dikunyah hingga lumat dipertahankan didalam mulut untuk waktu yang lama, dan

kemudian dimuntahkan diatas permukaan yang rata lalu dimakan kembali, sehingga

permukaan itu tampak basah tetapi bersih sekali. Beberapa dari Orangutan itu, bila

setelah menelan bubur pisang akan mengambil kembali kulit pisang yang sebelumnnya


dibuang lalu mengulang proses sebelumnya. Bermain-main dengan makanan


akan


28




menghasilkan cara-cara yang inovatif mengenai pengolahan makanan (van Schaik,

2006).

2.4. Home Range dan Teritorial

Hubungan antara individu baik dalam jenis yang sama (intraspesific) maupun

jenis yang berbeda (interspesific) dapat membentuk suatu pola tingkah laku. Hubungan

ini akan menentukan home range dan teritorial. Home range adalah tempat tinggal suatu

binatang yang tidak dipertahankan oleh binatang tersebut dari masuknya binatang lain.

Apabila daerah tersebut sudah dipertahankan dari masuknya jenis lain maka daerah


tersebut


menjadi


daerah


teritorial


(Suratmo


dalam


Mukhtar,


1982


dalam


Mansyur,2001).

Menurut Alikodra (1980) dalam Damanik (2001), wilayah jelajah merupakan

ukuran area dimana suatu kelompok binatang terorganisasi menggunakan tempat untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehingga pada wilayah jelajah terdapat tempat makan,

minum, tidur, bermain, berkembang biak dan berlindung. Sementara adanya territorial

pada suatu binatang umumnya berkaitan erat dengan kepentingan berkembang biak.

Luas wilayah jelajah bervariasi tergantung pada jenis satwa, jenis aktifitas, penyebaran

makanan, dan kondisi habitat. Besarnya teritori jenis-jenis monyet dipengaruhi oleh

jenis makannya. Jenis monyet dan kera pemakan daun mempunyai teritori lebih kecil

daripada monyet dan kera pemakan buah. Hal ini disebabkan oleh persediaan daun lebih

banyak daripada buah.

Daerah jelajah Orangutan meliputi radius berkisar 3 – 4 Km dari pusat

“permukimannya”. Pada musim penghujan, biasanya mereka masuk ke dalam hutan dan


29




bersarang di kelebatan pohon hutan tropis, namun pada musim kemarau yang sulit air,

mereka pindah ke belukar dekat rawa atau sungai. Pada saat inilah sering mereka

bersinggungan dengan manusia yang seringkali mengancam kelangsungan hidup

mereka. Orangutan umumnya bertahan hidup hingga umur sekitar 30 – 35 tahun apabila

hidup di alam bebas, namun bila dipelihara bisa mencapai umur 50 tahun. Di habitat

aslinya, setelah memasuki umur tua Orangutan akan menyendiri, bergerak lamban di

pohon-pohon yang rendah seiring dengan berkurangnya tenaga, dan memilih lebih

dekat ke sumber air (Anonim, 2007d).

Menurut Ian Singleton dalam Ibrahim (2007), keberadaaan Orangutan dapat

menunjukkan tingkat kerusakan hutan. Orangutan akan ditemukan bila hutan mulai

rusak dan lokasi perambahan berada tidak jauh dari habitatnya. Orangutan juga diakui

memiliki peran penting untuk proses rehabilitasi hutan. Kebiasaan Orangutan membawa

makanan dalam perjalanan hidupnya, menjadikan biji makanannya tersebar hingga jauh

ke dalam hutan.

2.5. Proses Rehabilitasi

Menurut Borner dan Stonehouse (1979) dalam Sariningsih (2003) sebelum

dilepaskan ke alam, Orangutan yang berada dalam Stasiun Rehabilitasi Orangutan

Bahorok akan mengalami beberapa proses rehabilitasi.

Proses tersebut antara lain:

a. Proses karantina

Kegiatan dalam proses rehabilitasi Orangutan ini meliputi pemeriksaan

kesehatan, fisik dan mental. Orangutan dimasukkan dalam satu kandang yang berukuran


30




4m x 5m dengan tinggi 2-4 m dan dihuni sekitar 2-3 ekor. Makanan berupa pisang dan

susu diberikan 2 kali sehari. Orangutan di dalam kandang dilatih untuk memahami

lingkungan sekitarnya atau dilatih mengenal Orangutan yang ada di tempat pemberian

makan. Apabila Orangutan sudah mampu beradaptasi maka Orangutan tersebut sudah

siap untuk masuk ke tahap pembelajaran.

b. Proses Pembelajaran

Pemberian makan dalam proses pembelajaran masih dilakukan walaupun

Orangutan sudah dilepaskan pada suatu habitat alam. Pemberian makan dilakukan diatas

panggung pemberian makan (feeding platform) di kawasan Tempat Pemberian Makan

(TPM) Orangutan.

Pemberian pisang setengah sampai satu sisir sehari dan susu sekitar 2-3 gelas

bertujuan untuk memberikan kejenuhan, sehingga Orangutan tersebut berusaha mencari

makanannya sendiri di hutan alam. Apabila Orangutan tersebut masih kembali ke TPM

maka akan ditangkap untuk diliarkan kembali ke hutan.

c. Proses Peliaran

Orangutan yang sudah dianggap mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan

diliarkan. Proses peliaran dilakukan dengan menangkap Orangutan dan dibawa masuk

jauh ke dalam hutan. Ada tiga cara peliaran yang Orangutan di Bukit lawang, antara

lain: menggunakan helikopter (1977-1980), digendong (1983-1990) serta dimasukkan ke

dalam peti kayu kemudian dipikul (1991-2000) (Sariningsih, 2003).
Read More

stratifikasi Sosial

a. Pengertian stratifikasi Sosial
Stratification berasal dari kata Stratum yaitu bentuk jamak dari strata yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin 1959 mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudan dari stratifikasi sosial adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah di dalam masyarakat. Dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan tangungjawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota masyarakat.
Para ahli sosiologi hukum biasanya mengemukakan suatu hipotesis bahwa semakin kompleks stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat, semakin banyak hukum yang mengaturnya. Stratifikasi sosial yang kompleks yang dimaksud, diartikan sebagai suatu keadaan yang mempunyai tolak ukur yang banyak atau ukuran-ukuran yang digunakan sebagai indikator untuk mendudukan seseorang di dalam posisi sosial tertentu.
Dasar adanya pelapisan masyarakat adalah :
1. Tidak ada keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban
2. Tidak ada keseimbangan kewajiban dan tangungjawab.
3. Tidak ada keseimbangan dalam nilai-nilai sosial dan kurang terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan manusia.
4. Tidak ada keseimbangan dalam kekuatan sosial dan pengaruhnya diantara anggota-anggota masyarakat.
Terjadinya lapisan-lapisan dalam masyarakat menurut Wiliams bahwa proses-proses terjadinya pelapisan dalam masyarakat pada dasarnya dapat di teliti dengan pedoman pada sistem stratifikasi sosial, yang dapat di analisa berdasarkan unsur-unsur :
1. Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif misalnya penghasilan, kekayaan dan wewenang.
2. Sistem pertanggaan yang diciptakan warga-warga masyarakat (prestise atau gengsi dan penghargaan).
3. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah di dapatkan berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik wewenangan atua kekuasaan.
4. Lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisai.
5. Mudahnya dan sukarnya bertukar kedudukan.
6. Solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat, misalnya kesamaan atau ketidaksamaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai-nilai, kesadaran akan kedudukan masing-masing.
Jenis-jenis pelapisan sosial dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat, dan ada pula yang terjadi dengan sengaja untuk mengejar suatu tujuan bersama. Pelapisan yang terjadi dengan sendirinya biasanya disebabkan oleh faktor-faktor kepandaian (ilmu pengetahuan yang dimiliki), senioritas usia, keaslian keanggotaan kerabat/keluarga dengan kepala/pemimpin masyarakat, dan dalam batas-batas tertentu karena faktor harta.
b. Karakteristik Stratifikasi Sosial
Secara rinci, ada tiga aspek yang merupakan karakteristik stratifikasi sosial, yaitu :
1. Perbedaan dalam kemampuan dan kesanggupan. Anggota masyarakat yang menduduki strata yang paling tinggi, tentu memiliki kesanggupan dan kemampuan yang lebih besar di bandingkan anggota masyarakat yang di bawahnya.
2. Perbedaan dalam gaya hidup (life style).
3. Perbedaan dalam hal hak dan akses dalam memanfaatkan sumber daya.
c. Unsur-unsur stratifikasi sosial dalam masyarakat
Dalam teori sosiologi, unsur-unsur sistem pelapisan sosial masyarakat adalah :
1. Kedudukan (status)
Kedudukan (status) adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut, atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi. Status atau kedudukan yang menentukan seseorang dalam masyarakat adalah tempat orang itu digolongkan berdasarkan umur, kelamin, agama, pekerjaan dan sebagainya. Kedudukan ini memberikan pengaruh, kehormatan, kewibawaan, dan juga kewajiban kepadanya.
Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain,
Untuk mengukur seseorang Pitirim Sorokin secara rinci dapat di lihat dari :
a. Jabatan atau pekerjaan
b. Pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan
c. Kekayaan
d. Politis
e. Keturunan, dan
f. Agama
Status pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu yang bersifat obyektif dan subjektif. Jabatan sebagai direktur merupakan posisi status yang bersifat obyektif dengan hak dan kewajiban yang terlepas dari individu. Sementara itu, yang dimaksud status yang bersifat subjektif adalah status yang menunjukkan hasil dari penilaian orang lain tidak selamanya konsisten untuk seseorang.
Menurut Ralph Linton kedudukan di bedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Ascribed Status, kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan seseorang, kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran. Misalnya, kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula, seorang anak dari kasta Brahmana juga akan memperoleh kedudukan yang demikian. Kebanyakan ascribed status dijumpai pada masyarakat dengan sistem pelapisan sosial yang tertutup, seperti sistem pelapisan berdasarkan perbedaan ras. Meskipun demikian bukan berarti dalam masyarakat dengan sistem pelapisan terbuka tidak di temui dengan adanya ascribed status. Kita lihat kedudukan laki-laki dalam suatu keluarga akan berbeda dengan kedudukan istri dan anak-anaknya, karena pada umumnya laki-laki (ayah) akan menjadi kepala keluarga.
b. Achieved Status, yaitu kedudukan yang dicapai atau diperjuangkan oleh seseorang dengan usaha-usaha yang dengan sengaja dilakukan, bukan diperoleh karena kelahiran. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja tergantung dari kemampuan dari masing-masing orang dalam mengejar dan mencapai tujuan-tujuanya. Misalnya setiap orang bisa menjadi Dokter, Guru, Hakim dan sebagainya, asalkan memenuhi persyaratan yang telah di tentukan. Dengan demikian tergantung pada masing-masing orang, apakah sanggup dan mampu memenuhi persyaratan yang telah di tentukan atau tidak.
Read More

Kerajaan Holing

Pada abad ke 7 di Jawa Tengah bagian utara sudah berdiri satu kerajaan,kerajaan itu bernama Holing.Berita Cina berasal dari Dinasti T'ang yang menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing berbatasan dengan Laut Sebelah Selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li (Bali) sebelah Timur dan To-Po-Teng di sebelah Barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-Po (Jawa), sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.
J.L. Moens dalam menentukan letak Kerajaan Holing meninjau dari segi perekonomian, yaitu pelayaran dan perdagangan. Menurutnya, Kerajaan Holing selayaknya terletak di tepi Selat Malaka, yaitu di Semenanjung Malaya. Alasannya, Selat Malaka merupakan selat yang sangat ramai dalam aktifitas pelayaran perdagangan saat itu. Pendapat J.L. Moens itu diperkuat dengan ditemukannya sebuah daerah di Semenajung Malaya yang bernama daerah Keling.
Menurut Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760, pada tahun 664 Masehi kerajaan Holing dipindahkan oleh Ki-Yen ke arah Timur dan berlanjut dengan nama Kerajaan Kanjuruhan

Sumber Sejarah

I-Tsing menyebutkan bahwa seorang temannya bernama Hui-Ning dengan pembantunya bernama Yunki pergi ke Holing tahun 664/665 M untuk mempelajari ajaran agama Budha. Ia juga menterjemahkan kitab suci agama Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Dalam menerjemahkan kitab itu, ia dibantu oleh pendeta agama Budha dari Holing yang bernama Jnanabhadra. Menurut keterangan dari Dinasti Sung, kitab yang diterjemahkan oleh Hui-Ning adalah bagian terakhir kitab Parinirvana yang mengisahkan tentang pembukaan jenazah Sang Budha.

Kehidupan Politik

Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima. Pemerintahannya berlangsung dari sekitar tahun 674 masehi. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana. Kepada setiap pelanggar, selalu diberikan sangsi tegas. Rakyat tunduk dan taat terhadap segala perintah Ratu Sima. Bahkan tidak seorang pun rakyat atau pejabat kerajaan yang berani melanggar segala perintahnya.
Suatu saat seorang saudagar Arab berkeinginan untuk membuktikan ketaatan rakyat Ho-ling terhadap hukum yang diterapkan. Ia meletakkan pundi-pundi uang di jalan di tengah kota. Ternyata tak ada seorangpun menyentuh atau mengambilnya. Hingga suatu hari secara tidak sengaja kaki Putra Mahkota menyentuh pundi-pundi itu. Maka Ratu Sima memerintahkan agar anaknya di potong kakinya sebagai hukuman. Karena hukuman itu dirasa terlalu berat, para penasehat Ratu memohon agar hukuman diperingan, namun Ratu berkeras. Setelah didesak, Ratu Sima memutuskan untuk memperingan hukumannya. Kaki putra mahkota tidak jadi dipotong tetapi hanya jari-jari kakinya saja.

Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur rapi. Hal ini disebabkan karena sistem pemerintahan yang keras dari Ratu Sima. Di samping ini juga sangat adil dan bijaksana dalam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangat menghormati dan mentaati segala keputusan Ratu Sima.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Holing berkembang pesat. Masyarakat Kerajaan Holing telah mengenal hubungan perdagangan. Mereka menjalin hubungan perdagangan pada suatu tempat yang disebut dengan pasar. Pada pasar itu, mereka mengadakan hubungan perdagangan dengan teratur. kegiatan ekonomi masyarakat lainnya diantaranya bercocok tanam,menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading.di Holing ada sumber air asin yang dimanfaatkan untuk membuat garam. Hidup rakyat Holing tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Berkat kondisi itu rakyat Ho-ling sangat memperhatikan pendidikan.Buktinya rakyat Ho-ling sudah mengenal tulisan,selain tulisan masyarakat Ho-ling juga telah mengenal Ilmu perbintangan dan dimanfaat dalam bercocok tanam.

Kehidupan Budaya

Rakyat Ho-ling menganut agama Budha. Hal itu dapat diketahui dari berita Cina yang ditulis I-Tshing, yang menjelaskan bahwa pada tahun 644 masehi Hwi-Ning seorang pendeta budha dari cina datang ke Ho-ling dan menetap selama 3 tahun. Hwi-Ning menterjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana yang berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Dalam usahanya Hwi-Ning dibantu oleh seorang pendeta kerajaan Ho-ling yang bernama Jnanabhadra

Kerajaan Kalingga atau Holing
Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
.......
.....
,,,,
Read More