Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Peristiwa yang akan Terjadi pada Masa Imam al-Mahdi (a) S

MSN.24 DEC.2011.FINAL.BAH
Peristiwa yang akan Terjadi pada Masa Imam al-Mahdi (a)
Sultan al-Awliya
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani
24 Desember 2011     Lefke, Cyprus
(Diterjemahkan dari bahasa Arab (kemudian Inggris))
Armaggedon dan penaklukan Konstantinopel terjadi dalam enam bulan dan pada bulan ketujuh al-Dajjal akan muncul.  Armageddon akan mempunyai dua kelompok.  Konstantinopel akan dibuka dengan takbir.  Sayyidina `Isa (a) akan memerintah selama 40 tahun, kemudian dunia akan dipimpinnya dengan damai selama 40 tahun, tanpa perang atau masalah.  Sebelum itu, selama Armageddon, akan ada kesulitan yang luar biasa. Allahu Akbar! Amaan yaa Rabbii!
“Banu Asfar” (orang-orang berambut pirang), orang Rusia, akan turun ke Dataran Amouq di utara Suriah dengan 80 resimen dan 80 bendera, dan di bawah masing-masing bendera terdapat 12,000 tentara. Yaa Lathif! Itu artinya satu juta tentara ada di Dataran Amouq!  Untuk itulah, Rusia pergi ke sana.  Selain itu, datang pula tentara Muslim, dari utara, dari Istanbul, dan Mahdi (a) akan datang bersama mereka tetapi tidak nampak.  Ketika perang ini selesai, beliau akan bertakbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” dan kemudian beliau akan muncul dan berjalan menuju Istanbul, ke Asitana (Istana Kesultanan Ottoman) dan mengambil panji Rasulullah (s).  Beliau akan muncul di Suriah dan memerintah di sana.  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, al-Akbar!
Semoga Allah menyelamatkan kita dari korupsi/fasad yang terjadi di akhir zaman. Ya Allah!  Dunia ini akan berakhir, selesai, kita telah sampai pada tahapan akhir.  Nabi Isa (a) akan datang ke Suriah.  Allahu Akbar!  Dajjal akan muncul setelah munculnya Mahdi (a), kemudian Nabi Isa (a) akan turun dan membunuh Dajjal.
Allahu Akbar! Yaa Rabbii!  Kami momohon keselamatan dan perlindungan kepada-Mu dari korupsi/fasad/kehancuran di akhir zaman.  Semoga Allah membuat kita berada di bawah panji Kekasih-Nya di dunia dan di akhirat.  Yaa Rabbii!  Jagalah kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang kami cintai agar mereka selamat.
Yaa Kariim! Yaa Allah! Yaa Rahiim! Yaa Allah! Yaa Jaliil! Yaa Allah! Yaa Waduud! Yaa Allah! Allah Allah.  Ampunilah kami dan sembuhkanlah kami dan semua Muslim demi Sultan kami, Sultan bagi manusia dan jin, Sayyidina al-Mahdi (a)!
Fatihah.
Amiin yaa Rabbii, amiin yaa Rabbii. (Sebagaimana disebutkan di dalam hadiits,) Jika korupsi/fasad muncul, maka keselamatan berada di Suriah, di tanah Syam.
Dipublikasikan oleh Google Drive–Laporkan Penyalahgunaan –Dimutakhirkan secara otomatis setiap 5 menit
Read More

real knowledge

Read More

Hindari Syekh ketika Kalbunya sedang Berkontraksi

Hindari Syekh ketika Kalbunya sedang Berkontraksi
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
30 Maret 2013  New Jersey
Shuhbah Zhuhr di Kediaman Pribadi


Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad wa `alaa aalihi Sayyidina Muhammadin wa shahbihi wa sallim.
A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza 'l-masjid.

Apakah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita berada di sini?  Apa manfaatnya berada di sini?  Apakah ada sesuatu yang istimewa yang membuat kita datang ke sini?  Ya, ada sesuatu yang istimewa.  Ke mana pun awliyaullah pergi, tempat itu menjadi sebuah maqaam. Itu artinya, wali itu akan datang setiap 24 jam dalam dimensi spiritual, paling tidak sekali untuk datang dan kemudian pergi.  Dan dalam dimensi spiritual, datang secara spiritual adalah lebih cepat daripada ketika mereka bergerak dengan tubuh fisiknya.

Sebelumnya kita katakan bahwa ada bintang-gemintang yang dapat kalian lihat di kejauhan, dua miliar tahun jauhnya, tetapi cahayanya tetap terlihat.  Bisa saja bintang itu tidak lagi berada di sana, tetapi cahayanya masih ada.  Seberapa cepat cahaya itu bergerak?  Ia bergerak dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik sampai ia tiba di sini, dan bintang itu mungkin saja tidak berada di sana, mungkin ia sudah pergi, tetapi cahayanya tetap sampai, karena cahaya itu harus menempuh sejumlah jarak tertentu, berulah sampai kepada kita dan mungkin ia akan melanjutkan perjalanannya ke tempat yang hanya Allah yang tahu.

Apakah kita bertanya pada diri kita bahwa setiap hari ada 250.000 kelahiran?  Saya telah mengatakannya sebelumnya, dan saya harus mengoreksinya bahwa saya pernah membaca di sebuah artikel yang mengatakan ada 10 juta kelahiran setiap hari tetapi beberapa orang mengeceknya dan mengatakan bahwa itu tidak benar, yang benar adalah 250.000 setiap hari.  Apakah kita memikirkan bahwa setelah empat bulan sepuluh hari atau lebih cepat bagaimana ruh memasuki rahim Ibu?  Ruh itu berasal dari Samudra Ruh, dari Bahr al-Qudra, Samudra Kekuatan, dari Siffat al-Khaliq, Sifat Sang Pencipta!  Segera setelah Allah perintahkan, ruh itu sampai ke rahim ibu.  Jika ada 250.000 kelahiran setiap hari, itu artinya setiap detik ratusan dan ratusan ruh memasuki rahim ibu-ibu mereka.  Apakah mereka membuat suatu kesalahan?  Mungkinkah sebuah ruh pergi ke ibunya X dan ruh X masuk ke ibu yang lain, tetapi jika itu masalahnya maka ruh yang lain harus pergi ke ibu yang lain, apakah mereka melakukan suatu kesalahan?  Tidak, tidak ada kesalahan apapun; mereka datang dan mereka mengetahui rahim mana yang harus mereka tuju.

Dan bagaimana cara mereka masuk ke dalam rahim?  Saya mengangkat contoh itu untuk memperlihatkan kecepatan dan seberapa cepat ruh itu datang; ruh itu datang dari luar alam semesta ini sementara cahaya bintang tadi berasal dari dalam alam semesta ini.  Segala sesuatu yang berasal dari luar alam semesta tidak dapat terukur, sementara sesuatu yang berasal dari dalam alam semesta ini mempunyai ukuran.  Jadi cahaya bintang mempunyai ukuran, tetapi ruh yang masuk ke dalam rahim ibu tidak mempunyai ukuran seberapa cepat atau seberapa jauh jarak yang ditempuhnya karena ruh itu menggunakan kecepatan spiritual yang tidak terbatas, kecepatan yang sangat cepat, segera.

Itulah sebabnya mengapa Nabi (s) pergi dengan Buraaq, menggunakan kecepatan itu untuk pergi dan kembali dengan tubuhnya sementara tempat tidurnya masih hangat.  Beliau (s) tidak hanya pergi dengan ruhnya saja, tetapi juga dengan tubuhnya.  Itu lebih ajaib, beliau (s) pergi dengan tubuhnya dan itu memperlihatkan betapa halusnya beliau (s), sehingga beliau (s) dapat pergi dan kembali dengan kecepatan yang hanya Allah saja yang tahu.  Kita tidak dapat mengukurnya karena itu adalah mustahil, yang kita ketahui adalah bahwa beliau (s) tidak hanya pergi, tetapi beliau (s) juga mengamati segala sesuatu yang dilaluinya dalam berbagai tingkatan alam semesta ini dan kemudian di langit.  Apakah menurut kalian beliau (s) hanya pergi dan tidak melihat apa-apa? Ketika beliau (s) sampai di setiap tingkatan langit, para malaikat dari masing-masing Surga menyambutnya dalam suatu prosesi penyambutan.  Allah mengirimkan para malaikat dalam prosesi itu untuk bertemu dengannya dalam setiap surga.  Seluruh surga dihiasi dengan seketika dan para malaikat berkumpul dalam prosesi penyambutannya, seperti halnya ketika seorang VIP tiba di bandara, semua orang penting dari negara itu akan datang dan mengadakan prosesi penyambutan untuknya.

Siapa yang mengadakan prosesi penyambutan untuk Nabi (s)?  Siapa yang memerintahkannya?  Allah memerintahkan para malaikat untuk mengadakan prosesi penyambutan itu. Lihat, betapa besar t`aziim, takzim dan takriim, penghormatan yang Allah berikan untuk Nabi-Nya (s)!  Kita membaca kisahnya namun kita tidak memikirkannya karena kisah itu tidak memberikan makna sebenarnya, tetapi awliyaullah memberikan makna sebenarnya dan membuat kalian berpikir dan bertanya pada diri sendiri, “Mengapa aku berjalan bagaikan keledai?”  Kalian dan saya, kita semua berjalan bagaikan keledai, mengejar apa-apa yang kita sukai dan menjadi terikat padanya.  Itu artinya hubb ad-dunya (kecintaan pada dunia ini).

Saya tidak mengatakan, “Tinggalkan dunia.” Saya harus mengoreksi apa yang saya katakan dalam khotbah kemarin di depan banyak orang.  Ada banyak representatif dalam tarekat ini yang mengatakan, “Tinggalkan dunia,” tetapi mereka malah memegang erat dunia! Mereka memberikan ceramah dan meletakkannya di dalam website mereka dengan mengatakan, “Tinggalkan dunia.”  Tinggalkan ke mana?  Mengapa bukan ia dulu yang meninggalkannya, setelah itu barulah kita mengikutinya.  Jadilah seorang panutan, tinggalkan dunia dan kita akan mengikuti jejaknya!  Mereka berkata kepada kalian, “Tinggalkan dunia dan kejarlah akhirat,” sementara Allah berfirman, “Ya, tentu saja tinggalkan dunia,” tetapi Sayyidina `Ali (r) berkata, “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok.” Itu artinya seimbang antara keduanya, dunia dan akhirat; jangan tinggalkan dunia dan hanya bekerja untuk akhirat saja.  Jika kita harus ‘meninggalkan dunia,’ maka Allah (swt) tidak akan berfirman,

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbana atinaa fi ’d-dunya hasanatan wa fi ‘l-akhirati hasanatan wa qina `adzaba ‘ n-naar.
Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa Neraka. (Surah al-Baqarah, 2:201)

Allah berfirman untuk membaca doa itu, dan ketika kita menyeimbangkan dunia dan akhirat, maka kita berhak mendapat apa yang Dia firmankan setelahnya, yaitu bagian terakhir dari ayat tesebut, wa qinaa `adzaab an-naar, “Lindungilah kami dari siksa Neraka.” Itu artinya barang siapa yang menyeimbangkan dirinya di dunia dan akhirat, ia akan dijauhkan dari siksa Neraka.  Dan apa yang dimaksud dengan siksa neraka, `adzaab an-naar?  Ada begitu banyak pemahaman, termasuk berbagai kesulitan di dunia dan kesulitan di akhirat, itu artinya kalian akan mendapatkan hukuman Neraka di dunia dan akhirat.

Jadi Nabi (s) akan memasuki prosesi penyambutan dengan Buraaq, Sayyidina Jibril, Sayyidina Israfiil, Sayyidina Mika`iil, Sayyidina Azra`iil, Malak al-Mawt (a), mereka semua membawa Nabi (s) dan pergi bersama para malaikat mengunjungi Surga, dan mengunjungi Masjid al-Aqsha. Dan sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau (s) mengunjungi Madinat al-Munawarrah dahulu, di mana beliau (s) menginjakkan kakinya di tempat di mana beliau (s) akan tinggal di masa mendatang, kemudian beliau (s) melanjutkan perjalanannya ke Masjid al-Aqsha.  Dan itulah sebabnya mengapa Madinah menangis untuk Nabi (s) dan beliau (s) dapat mendengarnya. Beliau (s) tidak seperti kita, setiap batu dan setiap pohon, setiap pohon kurma dan tanah di Madinah menangis untuk Nabi (s) yang telah menginjakkan kakinya yang suci di sana dan kemudian pergi ke Masjid al-Aqsha. Ini masih di alam semesta, tetapi dengan kecepatan apa?  Sekarang, jika kalian terbang dari Madinah ke Masjid al-Aqsha, atau dari Mekah ke Masjid al-Aqsha kalian memerlukan waktu 1,5 jam, tetapi Nabi (s) pergi ke sana lalu naik ke Qaaba Qawsayni aw Adnaa, Maqam Dua Busur Panah atau lebih dekat lagi, dalam waktu kurang dari dua jam dan tempat tidurnya masih hangat.  Beliau (s) pergi dan semua arak-arakan di langit menyambut Sayyidina Muhammad (s), dari satu Surga ke Surga yang lain, hingga Surga ketujuh, dan beliau (s) melanjutkan perjalanannya sendiri ke Qaaba Qawsayni aw Adnaa dan kemudian kembali.

Jadi kita katakan, mengapa kita datang ke sini?  Kalian datang ke sini dan mendapatkan berkah, dan kalian akan dibusanai dengannya dan ketika kalian pulang ke rumah, kalian akan menyebarkan berkah itu di daerah tempat tinggal kalian karena di rumah ini Mawlana pernah menginjakkan kakinya di sini dan beliau tidur di sini dan bertemu orang-orang di sini dan beliau menumbuhkan benih di sini, di rumah ini.  Itulah sebabnya saya senang untuk pergi ke sini, karena rohani Mawlana berada di sini, spiritualitas Mawlana muncul di sini, di rumah ini, dan ini adalah untuk pertama kalinya saya mengatakan hal ini karena orang ini, (seorang murid) dari Mali, membuka subjek tersebut.  Demi negerinya agar selamat, Allah menyelamatkannya dengan mengambil dua dari saudara-saudaranya dalam sebuah kecelakaan yang memaksanya untuk pulang ke sana untuk menyerahkan warisan dari saudara-saudaranya itu kepada anak-anak mereka, dan ia membawa berkah Mawlana di pundaknya, untuk menghentikan penghancuran yang terjadi di Mali!

Para pengikut Naqsybandi, para pengikut Mawlana Syekh Nazim (q) mempunyai keistimewaan dan orang ini mempunyai suatu keistimewaan.  Mawlana sering kali memintanya untuk memimpin zikir bagi orang-orang Afrika di Montreal dan sejak saat itu ia melakukan zikir untuk orang-orang Afrika dan ia membawa tajali dan membawanya ke Mali.  (Dua orang ini) juga melakukan zikir.  Jadi, jika saudaranya tidak meninggal dunia, ia tidak akan pulang ke Mali, tetapi mereka menginginkannya untuk pulang karena ia adalah salah satu orang yang akan menyelamatkan negeri Mali melalui tajali yang mereka sandangkan kepadanya.  Para Awliyaullah melakukan hal-hal yang tidak kita pahami, dan mereka mempunyai keistimewaan-keistimewaan.

Untuk apa kita datang ke sini?  Kita tidak datang ke sini untuk berbisnis.  Mereka mengatakan, “Tinggalkan dunia.”  Apakah datang ke sini berarti bukan di dunia?  Mereka datang dari Kanada.  Mengapa mereka harus datang, apa masalahnya?  Bukan hanya demi seorang syekh?  Dengan teknologi, kalian dapat melihat ratusan syekh dan mendengarkan apa yang mereka katakan.  Tetapi apa manfaatnya?  Ada sesuatu yang tidak kita lihat, kita tidak melihat busana apa yang Allah perintahkan kepada para malaikat-Nya untuk disandangkan kepada orang-orang yang menghadiri majelis semacam itu.  Kalian datang dalam keadaan miskin dan pulang dalam keadaan kaya; kalian menghabiskan uang yang kalian simpan untuk mengikuti majelis ini dan kalian menjadi miskin lagi, lalu kalian kembali lagi dan menjadi kaya lagi dan menjadi bangkrut ketika kalian datang lagi.  Jadi ini adalah sebuah tempat, sebuah mesin, kalian pergi, kalian datang ke sini, kalian menghasilkan uang untuk akhirat kalian.

Apakah uang untuk akhirat itu?  Itu artinya, “Allah menyelamatkan saya, kalian dan setiap orang dari azab!”  Allah memberi pahala pada kalian.  Itu artinya Allah menyelamatkan kalian ketika kalian mengakumulasi pahala-pahala ini, kalian menjadi seperti sebuah bintang yang bersinar di masyarakat kalian, walaupun kalian tidak mengatakan apa-apa, tetapi sosok kalian mengenakan busana itu.  Energi baik itu akan terefleksikan kepada merka dan kalian bagaikan lampu sorot, walaupun kalian sendiri tidak melihatnya.  Namun demikian, mereka tidak ingin kalian melihat diri sendiri dan kemudian menjadi seperti burung merak, tetapi mereka membusanai kalian agar orang-orang menjadi bahagia ketika berada di sekeliling kalian; jadi kalian akan kehilangan energi itu karena kalian tidak membangunnya sampai kalian datang kembali untuk kedua kalinya dan kalian mengisinya (energi tersebut) kembali!  Majelis itu seperti sebuah mobil di mana kalian memberinya bahan bakar, dan ketika kalian memasukan bahan bakar itu, mobil itu dapat bergerak tetapi jika tidak, ia tidak akan bergerak. Majelis seperti itu akan membuat kalian menantikan majelis berikutnya untuk mengisi diri kalian lagi dan mendapatkan kepuasan, kepuasan rohani!

Untuk itulah, pada masa Grandsyekh (q), semoga Allah memberkati ruhnya, dan untuk beberapa awliyaullah dalam Silsilah Emas Naqsybandi, mereka tidak saa’ihiin atau suwaah, mereka tidak bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya, tetapi mereka diam di tempatnya dan orang-orang mendatangi mereka dan belajar darinya serta duduk di sekeliling mereka, tetapi ada juga awliyaullah yang Allah berikan keistimewaan yang berbeda, di mana mereka pergi mengunjungi para pengikutnya karena tidak semua dapat menemuinya, tetapi mereka dapat menjangkau para pengikutnya.  Dan Grandsyekh (q), semoga Allah memberkati ruhnya, setelah khalwat beliau yang terakhir, yang berlangsung selama satu tahun pada tahun 1967, apakah saya perlu mengatakannya?  Mereka akan mendengarnya dari saya tetapi membuatnya seolah-olah mereka mengetahuinya dan itu menjadi kata-kata mereka. Tidak apa-apa, sebarkan dakwah.  Pada tahun 1967 ketika beliau kembali dari Madinatu ‘l-Munawarrah, `ala saakinihaa afdhaal ash-shalaat was-salaam, melakukan khalwat di sana selama satu tahun, pada hari terakhir dalam suatu penglihatan spiritual, beliau diperintahkan untuk tidak mendatangi orang-orang.  Penglihatan itu muncul dan Nabi (s) bersabda, “Yaa waladii!  Kau tidak perlu mendatangi orang-orang, itu bukan lagi untukmu, itu untuk orang-orang yang levelnya di bawahmu.  Kau tinggal di tempatmu.  Sa ursila laka mukhlisi ummatii, aku akan mengirimkan kepada kalian orang yang paling ikhlas di antara umatku.”

Apa yang beliau katakan?  “Aku akan mengirimkan kepada kalian orang yang paling ikhlas di antara umatku,” je vais enverez les plus sinceres de mois communite, je vous enverez les plus sinceres de mon communite, “Aku akan mengirimkan orang yang paling ikhlas di antara umatku.”  Itu adalah sesuatu yang besar, bukan sepele!  “Jangan mendatangi mereka.” SubhaanAllah!  Segera setelah Nabi (s) mengatakan hal itu, Grandsyekh (q) kembali dari Madinatu ‘l-Munawarra.  Jantungnya terasa berat, tidak makan selama satu tahun, dan beliau mengalami gagal jantung.  Beliau mendatangi rumah putrinya di pusat kota Damaskus, sebuah rumah yang sangat bagus, karena ia menikah dengan seseorang dari keluarga yang sangat mapan, yaitu Nazeer ash-Shama.  Putri beliau, yaitu Madiha menikah dengan salah satu keluarga terpandang di Damaskus.   Dan beliau tinggal di sana dan berkata, “Nabi (s) bersabda kepadaku melalui sebuah penglihatan spiritual agar aku tidak mendatangi orang-orang dan Allah akan mengirimkan kepada kalian orang yang paling ikhlas di antara umat ini.”  Beliau mengatakan hal ini kepada kami dan setelah beberapa hari, beliau pulang ke rumahnya.  Sejak saat itu, setiap hari rumahnya penuh, orang-orang berdatangan dan beliau duduk memberi shuhbah, bahkan jika seorang anak kecil datang dan duduk bersamanya, beliau juga akan membuka sebuah shuhbah untuknya, beliau tidak berkata, “Yang ini untukmu dan yang ini untuk orang dewasa,”  Mengapa?  Berpikirlah sejenak.  Beliau memberikan pelajaran bagi anak-anak atau orang dewasa.  Jika sekelompok wanita datang, beliau tidak menerima seorang wanita sendiri, kecuali suaminya juga ada di sana dan beliau sangat ketat dengan Syariah, tetapi beliau selalu membuka sebuah shuhbah.

Saya sering kali bertanya, walaupun kalian tidak berhak untuk bertanya, kadang-kadang Setan datang dan berbisik, “Tanya mengapa.”  Saya tidak bertanya, tetapi beliau mengatakannya sendiri, “Karena aku memerlukan sebab untuk membuka sebuah shuhbah, dan setiap anak atau bahkan bayi di hadapan Allah dianggap sebuah jiwa, seorang manusia yang normal.  Itulah sebabnya ketika seorang anak dilahirkan, segera setelah ia muncul, jika ia menangis dan kemudian meninggal dunia, kalian tidak dapat menguburkannya tanpa melakukan Salat Jenazah untuknya, karena jiwanyalah yang dianggap sebagai manusia.”

Jadi, manusia bagi beliau, anak muda atau dewasa tidak masalah, beliau akan membuka sebuah shuhbah!  Beliau tidak akan membuka shuhbah tanpa sebab, karena jika kalian membuka tanpa suatu sebab, seolah-olah kalian membuat diri kalian lebih baik dari mereka; tetapi segera setelah seseorang duduk bersamanya, beliau akan membuka sebuah shuhbah.  Dan beliau berkata, “Aku memerlukan sebab untuk membuka shuhbah karena Allah memberiku, tentu saja dengan berkah Nabi (s) dan awliyaullah, aku mempunyai keistimewaan di mana segera setelah aku membuka sebuah shuhbah, seluruh jin di seluruh dunia dan seluruh awliyaullah, 124,000 wali di seluruh dunia harus membuka alat pendengarannya, artinya mereka harus membuka telinga mereka untuk mendengar apa yang aku katakan dan mengambil nasihat darinya. Jin di seluruh dunia harus mendengar, dan awliyaullah di seluruh dunia harus menghentikan segala aktivitasnya untuk  mendengar shuhbah.”

Siapa namamu (bertanya kepada seorang anak)?  Apa yang akan diketahui oleh anak itu dari shuhbah, tetapi beliau akan membuka bukan hanya untuk satu jam atau tiga puluh menit, tetapi selama tiga jam!  Dan beliau hanya bicara sedikit bahasa Arab.  Dan jika Grandsyekh (q) memulai bicara, penerjemahnya harus duduk di sana untuk menerjemahkan kepada anak muda itu dan itu adalah sesuatu dari atas Qaaba Qawsayni aw Adnaa, bukan di atasnya, tetapi itu artinya sesuatu yang sangat dalam dari rahasia-rahasia yang telah dilemparkan ke dalam kalbu awliyaullah dari Silsilah Emas, dari apa yang datang ke dalam kalbu Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq (r) dan Sayyidina `Ali dan mereka menggabungkannya pada Imam Ja`far as-Sadiq (r).  Beliau berkata, “Untuk itulah aku membukanya,” beliau ingin membusanai rahasia yang muncul dari kalbunya.  Itu seperti air terjun Niagara Falls, jadi apakah kalian bisa menghentikan alirannya?  Saya pikir mereka tidak bisa.  Kalbu Grandsyekh bukan Niagara Falls, tetapi itu adalah air terjun Surgawi, karena beliau ingin memberikan materi ini keluar, beliau ingin orang-orang mendengarnya, dan untuk mengosongkan kalbunya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.  Seperti halnya cangkir: jika kalian mengisinya dengan air dan tidak meminumnya atau memberikannya kepada orang lain untuk diminum, cangkir itu tetap penuh dan kalian tidak bisa mengisinya lagi.  Kalian ingin mengisinya lagi, jadi kalian harus mengosongkannya dulu.  Jadi beliau mengosongkan kalbunya agar lebih banyak lagi yang datang.

Awliyaullah ketika mereka mengosongkan (kalbunya), mereka ingin bicara dengan seseorang.  Ketika beliau berada dalam khalwat selama lima tahun, beliau masih muda, hanya 18 tahun ketika beliau berkhalwat selama lima tahun.  Beliau diberi tujuh butir zaitun sehari dan sepotong roti.  Dapatkah kalian melakukan hal itu?  Beliau berkata, “Aku masuk begitu gemuk dan ketika keluar sangat kurus.”  Beliau berkata, “Ketika aku keluar, aku memiliki kecenderungan untuk bicara siang dan malam untuk mengosongkan kalbuku dari ilmu ini.”  Syekh beliau, Syekh Syarafuddin (q) mampu mendeteksi hakikat di dalam kalbunya dan beliau mengirimkannya sebuah pesan, “Jika engkau tidak menemukan seseorang untuk bicara, bicaralah dengan turbanmu.”  Setelah khalwat, ada suluuk!  Seseorang yang menyelam sangat dalam di samudra, apa yang mereka lakukan terhadapnya?  Mereka harus membawanya ke dalam karantina karena ia menyelam sangat dalam dan dadanya menjadi mengkerut, sehingga mereka harus memasukannya ke dalam karantina.  Jadi setelah melakukan khalwat yang berat, mereka membawa kalian ke dalam karantina yang disebut `Ilm as-suluuk, mereka membawanya ke sana, sehingga ia dapat memberi semacam ceramah, lalu makan dan bicara, perlahan-lahan seperti seseorang yang beristirahat total di tempat tidur dan mulai menjalani tahap pemulihan, secara perlahan-lahan dari materi yang berat yang masuk ke dalam kalbunya dan tidak bisa ditolerir.  Jadi beliau memberi pelajaran selama lima atau sepuluh jam kepada turbannya.  Sebelum beliau menyelesaikan lima tahun khalwatnya, beliau melakukan suluuk selama empat puluh hari, dan pada akhirnya beliau harus pergi menjumpai syekhnya, beliau begitu rindu, tetapi syekhnya mengirimkan pesan, “Jangan datang padaku, pergilah dan duduk bersama orang itu selama dua bulan di dalam majelisnya dan belajarlah darinya.”  Tidak ada pertanyaan dan tidak ada keraguan sedikit pun, beliau berkata, “Aku mulai melangkah menemui orang itu!” dan orang yang diperintahkan untuk ditemui adalah seseorang yang gila, majnuun.

Selama dua bulan beliau menemani orang gila itu, untuk mengatakan siapa yang memberimu materi ini, siapa yang memberimu materi pencerahan spiritual ini, di mana tidak ada orang yang tahu, dan dapat membuatmu seperti orang gila ini.  Lihatlah awliyaullah bagaimana mereka bekerja... mereka tidak menimangnya seperti kita menimang (murid-murid di sini) untuk membuat mereka senang.  Tidak, mereka keras, dan sekarang lihat, apakah Mawlana Syekh Nazim (q) keras terhadap orang-orang?  Tidak, beliau lemah lembut, tetapi ada representatif yang begitu keras dan membuat saya terkejut; kalian lihat mereka di YouTube, mirip tentara, bagaimana mereka harus berjalan... (berbaris sesuai pangkat) yang tinggi, lebih rendah, dan lebih rendah lagi.  Mereka harus sangat disiplin.  Orang-orang tidak seperti itu lagi, itu dulu.  Sekarang kalian harus lemah lembut karena tajalinya telah berubah.  Grandsyekh (q), semoga Allah memberkati ruhnya, membawa dan beliau tidak pernah membeda-bedakan antara yang muda dengan yang tua, baginya setiap orang adalah sama.

الناس سواسيه كااسنان المشط
n-naasu sawaasiyatan ka-asnaani' l-masyth.
Manusia adalah sama seperti gigi-geligi sebuah sisir.

Orang-orang adalah sama sehingga tidak ada seorang pun yang lebih rendah atau lebih tinggi, beliau memberi setiap orang apa yang mereka sukai.  Kita tidak dapat melakukan hal itu, tidak ada yang dapat melakukannya.  Di mana tarekat sekarang?  Di mana tarekat yang kita kenal sebelumnya?  Sekarang Mawlana Syekh Nazim (q) bukannya menjadikannya lebih rendah, tetapi mengakomodasi orang-orang karena mereka berbeda dengan sebelumnya.  Sebelumnya, mereka kuat dan sanggup menjalankannya.  Kalian tidak dapat melihat hal ini dalam satu keluarga yang sama; kalian melihat beberapa saudara bersifat lemah lembut, sementara yang lain lebih serius, itulah sebabnya di depan ketua, saya tidak bercanda!  Jadi kalian harus sangat berhati-hati.  Kita harus sangat berhati-hati dalam setiap perbuatan kita.  Itulah sebabnya mengapa Abu ‘l-`Abbas al-Mursi (q), salah seorang awliyaullah yang paling terkenal di Maroko berkata,  “Seorang wali harus memiliki dua karakteristik: kadang ia mendapat daaq, tertekan, ia mengalami kontraksi, dan kadang dadanya begitu lapang.  Wayhaq, waspadalah, wahai orang yang bodoh!  Jangan datang ketika syekh sedang berkontraksi, jangan muncul di hadapannya, pergilah ketika ia berkontraksi, ucapkan saja: “Salaam`alaykum.”  Orang yang mengucapkan suatu kata pada saat itu yang membuatnya semakin berkontraksi, halak ar-rajul, orang itu akan menghancurkan dirinya sendiri!  Jangan berada di sekitar syekh ketika ia sedang berkontraksi.

Selain dadanya, apa lagi yang berkontraksi?  Apa yang ada di bawahnya?  Kalbunya, ruhnya, ketika ia sedang berkontraksi, kalian tidak tahu apa lagi yang berkontraksi, kalian tidak tahu dalam keadaan trans seperti apa yang ia alami; mungkin saja ia sedang dalam kedaan trans karena cinta kepada Allah dan cinta pada Nabi (s) dan ia tidak ingin ada yang mengganggunya pada saat itu.  Jika seseorang datang dengan kabar buruk itu membuatnya berkontraksi, jadi jangan mendekatinya, itu seperti mendekati api, jadi pergilah atau ia akan membakar kalian!

Dan kadang-kadang jika dadanya lapang, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu ‘l-`Abbas al-Mursi, ia dapat membawa seluruh dunia ke dalam kalbunya, pada saat itu dekatilah ia.  Dan saya katakan hal ini pada saat ini karena Mawlana sedang berkontraksi akibat orang-orang tertentu di sana.  Beliau menanggunggnya tetapi tidak mengatakan hal itu, tetapi kalbunya berkontraksi.  Dan seringkali, Allah adalah saksi saya, ketika salah satu di antara mereka lewat, beliau mengatakan, “Orang itu adalah Setan,”  dan pada saat itu beliau berkontraksi.  Jadi dalam kasus seperti itu, pergilah, datanglah padanya ketika kalbunya tengah lapang.

Saya sering melihat Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, kadang-kadang beliau berkontraksi akibat banyaknya beban berat yang datang padanya oleh orang-orang yang mengejar dunia, bukannya ornag-orang dunia yang datang untuk salat dan berpuasa, ini bukan dunia, tetapi akhirat.  Yang dimaksud adalah orang-orang yang serakah akan dunia.  Jadi beliau akan berkontraksi dan setelah beliau memberi sebuah shuhbah setelah zikir Jumat, yang dilakukan satu atau dua jam sebelum Maghrib... dan kalian dapat merasakan dari shuhbah itu beban berat datang dan beliau menanggung di pundaknya dan beliau menjadi berkontraksi.  Pada saat itu, Mawlana Syekh Nazim (q), semoga Allah memanjangkan umurnya, akan pergi ke sana dan kami mengikuti di belakang beliau dan beliau sering membuat lelucon, segala macam lelucon.  Beliau pernah mempunyai sebuah buku lelucon yang tebal dan beliau menghafal satu atau dua lelucon setiap hari dan beliau kemudian mendatangi syekh dan menceritakan lelucon itu, dan “Ha ha ha,” semuga kontraksi Grandsyekh akan hilang.  Pada saat itu mudah bagi orang-orang untuk datang dan bertemu dengan beliau--di luar itu sulit sekali!  Tidak ada yang mampu membuatnya tertawa kecuali Mawlana Syekh Nazim (q) dan sekarang Mawlana memerlukan seseorang untuk memberinya suasana semacam itu.  Tetapi sayangnya tidak ada, ya memang ada (beberapa orang yang melakukannya), tetapi terlalu banyak masalah di sana.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati kita dan memberi kita berkah terbaik dari Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya dan menyembuhkan kita semua.

(Doa.)
Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/The_Suhbah_for_the_Mureed_is_Like_the_the_Fuel_for_the_Car-4942.html
© Hak cipta 2013 oleh Sufilive.  Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Transkrip ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta internasional.  Mohon menyebutkan Sufilive ketika membagi transkrip ini. JazakAllahu khayr.

Read More

Apa yang Islam katakan mengenai Pemboman di Boston?

MSH.23 APR 2013.POST.BAH Apa yang Islam katakan mengenai Pemboman di Boston? Mawlana Syekh Hisyam Kabbani 23 April 2013 Lefke, Siprus Shuhbah bakda Zhuhur As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Dastuur, yaa Sayyidii. Hari-hari berlalu, malam-malam berlalu, orang-orang berlalu, binatang berlalu, tumbuhan berlalu. Segala sesuatu bergerak, kita bergerak dan alam semesta bergerak. Mereka bicara tentang energi, energi positif dan energi negatif, dan mereka mencampuradukkannya untuk mengeluarkan beberapa pernyataan yang mendukung ajaran non-Muslim, untuk …. tanpa perasaan bahwa mereka menyakiti Islam, khususnya tasawwuf, karena tasawwuf yang sesungguhnya tunduk pada Syariah, titik. Jika orang mau mendapatkan tasawwuf di sini, jangan datang ke sini untuk tasawwuf, saya mohon maaf untuk mengatakannya. Mungkin saja ada orang lain yang mengatakan, “Datanglah untuk tasawwuf,” tetapi saya katakan, “Jangan datang untuk tasawwuf, datanglah ke sini untuk Syariah.” Bangunlah infrastrukturnya; Syariah adalah infrastruktur dan fondasi bagi Maqaam al-Ihsaan, yaitu kondisi bagi tasawwuf, bagi kesempurnaan (moral). Kalian ingin menjadi--di mana-mana di seluruh dunia--jika kalian ingin menjadi sempurna, maka dasarilah ajaran kalian pada Syariah. Nabi (s) mengajarkan Syariah pada Sahabat (r) selama 23 tahun. Ketika beliau berada di Ghaar al-Hira sendiri, beliau (s) selalu berada dalam kondisi Mi’raj, saya tidak ingin mengatakan bahwa beliau (s) dalam tasawwuf, tetapi beliau berada dalam Mi’raj dan dari Mi’rajnya ini kalian bisa mendapatkan permata-permata tasawwuf dari akhlak dan perilaku beliau (s). انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق Innamaa bu`itstu li utammimu makaarim al-akhlaaq. Aku telah diutus untuk menyempurkan akhlak. (Bazzaar) Bagaimana menyempurnakan akhlak kalian bila kalian saja tidak bergerak di jalur Syariah yang benar? Jika kalian ingin bepergian, kalian masuk ke dalam pesawat dan jika kalian ingin berbicara mengenai tasawwuf itu tidak masalah, tetapi di luar pesawat bergerak dengan hukum fisika dengan perintah Allah, jadi itu artinya pesawat itu adalah Syariah. Kalian tidak bisa mengambil pesawat lalu pergi ke kiri ke kanan, kiri ke kanan, jadi tasawwuf bisa ada ketika kalian berada dalam tujuan yang benar, dalam pergerakan pesawat yang benar. Di dalam pesawat, tunjukkan perilaku baik kalian, dan pertama kalian memerlukan Syariah, Syari`atullah. Itulah sebabnya mengapa Imam Malik (r) berkata, “Tasawwuf tanpa Syariah adalah korup, zindik, tetapi tasawwuf dengan Syariah adalah Haqiqa, hakikat.” Jika kalian menginginkan hakikat, maka ikutilah Syariah. Syariah mengajarkan kepada kalian agar tidak marah, kerjakan salat-salat kalian, tidak berteriak pada orang lain dan menjaga hak-hak orang lain. Tasawwuf tidak membahas tetntang hak-hak manusia, tetapi tasawwuf mencakup bagaimana kalian dapat menyempurnakan diri, bagaimana agar kalian mempunyai adab yang baik, tetapi Syariah-lah yang membuat kalian mempunyai hubungan yang baik dengan setiap orang. Laa tatalal al-huduud, Syariah mengatakan bahwa kalian tidak boleh melanggar batas-batas orang lain. Jika saya merasa kesal dengannya dan kemudian bertengkar satu sama lain dan saya menzaliminya, maka saya adalah orang yang zalim dan ia adalah orang yang dizalimi. Di Hari Kiamat, Allah akan berkata, “Maafkan dia,” dan ia akan berkata, “Tidak (aku tidak mau memaafkan orang yang telah menzalimi aku.).” Itu adalah hadis Nabi (s): وعنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون ما المفلس ؟ . قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . فقال إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي وقد شتم هذا وقذف هذا . وأكل مال هذا . وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار . رواه مسلم Wa `anhu anna rasuulullahi (s) qaala atraduuna maa al-muflis? Qaaluu al-muflis fiinaa man laa dirham lahu wa laa mata`. Faqaala inna ’l-muflis min ummatii man yaatii yawm al-qiyamati bi-shalaatin wa shiyaamin wa zakaatin wa yaatii wa qad syatama hadzaa wa qadzafa hadzaa wa akala maala hadzaa wa safaka dam hadzaa wa dharaba hadzaa fa-yu`tii hadzaa min hasanaatihi wa hadzaa min hasanaatihi fa in fanayta hasanaatahu qabl an yuqdhaa maa `alayhi aakhadza min khathaayaahum fathurihat `alayhi tsumma thuriha fi ’n-naar. Nabi (s) bertanya kepada pada Sahabatnya, “Tahukah kalian siapakah al-muflis (orang yang bangkrut) itu? Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta benda.” Kemudian Nabi (s) bersabda, “Al-muflis di antara umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa amalan salat, puasa dan zakat, namun seiring dengan itu datanglah orang-orang yang menuntutnya, karena ketika di dunia ia mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikannya itu kepada orang-orang (yang pernah disakitinya). Jika ternyata pahala-pahala kebaikannya itu habis sebelum tanggungannya terpenuhi, maka diambillah dosa-dosa mereka dan ditimpakan kepadanya. Kemudian dicampakkanlah ia ke dalam api Neraka.” (Muslim) Nabi (s) bersabda, “Siapakah orang yang bangkrut itu?” Para Sahabat berkata, “Orang yang tidak mempunyai uang.” Nabi (s) bersabda, “Bukan, tetapi orang yang tidak mempunyai `amal.” Para Sahabat berkata, “Walaupun mereka mengerjakan salat dan puasa?” Beliau (s) bersabda, “Bahkan jika ia mengerjakan salat dan puasa, ia tidak mempunyai `amal,” karena di Hari Kiamat, orang yang dizalimi tidak akan memaafkan orang yang telah menzaliminya. Allah akan mengambil `amal baik dari orang yang berbuat zalim dan memberikannya kepada orang yang dizalimi sehingga ia tidak mempunyai `amal yang tersisa, ia tidak mempunyai apa-apa lagi, meskipun ia mungkin masih mempunyai serpihan-serpihan hasanaat tetapi tidak terlalu banyak dan tetap saja Dia mengambilnya. Allah akan berkata, “Maafkan dia.” Orang yang terzalimi akan berkata, “Yaa Rabbii, itu belum cukup,” lalu Allah akan mengambil dosa-dosa orang yang telah dizalimi dan menyerahkannya kepada orang yang berbuat zalim sehingga hukumannya menjadi berlipat ganda! Maka seluruh pahala salat dan puasa kalian akan hilang. Jadi kita harus membangun fondasi yang baik dan sekarang banyak sekali tamparan pada wajah umat Muslim dari perbuatan-perbuatan yang tidak mereka lakukan atau dari menyakiti orang lain. Beberapa orang yang tidak bertanggung jawab telah dicuci otaknya, seperti halnya banyak non-Muslim yang telah dicuci otaknya dan mereka pergi dan membunuh anak-anak di sekolah, bukan hanya Muslim, tetapi juga Kristen. Berapa banyak insiden yang telah terjadi? Non-Muslim membunuh anak-anak di sekolah, jadi mengapa kita harus melecehkan Muslim dan menyalahkan Muslim untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan? Kita harus bersikap adil dalam segala hal, orang yang bertanggung jawab harus bersikap adil, seimbang. Mereka pasti mempunyai timbangan untuk perhiasan, timbangan digital, bukannya melihat orang yang berjanggut atau memakai pakaian sunnah lalu menyebutnya teroris di seluruh dunia, bukan hanya di satu tempat. Secara terbuka kami mengutuk perbuatan dari lima atau enam orang yang jika dibandingkan dengan 1.5 miliar Muslim, itu bukan apa-apa, itu adalah epsilon, seolah-olah mereka (1.5 miliar Muslim yang sah) itu tidak ada, dan Islam disalahkan untuk itu! Tidak bisa begitu. Kita harus adil, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nabi (s) dalam Sahih Muslim. Keadilan adalah berdasakan Syariah dan itu akan memberi kalian penjelasan sebelum kalian menyalahkan orang lain. Kalian menyalahkan orang yang tidak ada hubungannya dengan itu, melecehkan mereka di sekolah-sekolah dan area-area publik, dan kalian harus sangat berhati-hati. فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ Fas’aluu ahli ‘dz-dzikri in kuntum laa ta`lamuun. Maka bertanyalah pada orang-orang yang mempunyai pengetahuan bila kamu tidak mengetahui. (Surat an-Nahl, 16:43) Bertanyalah kepada orang yang tahu, bukan kepada orang yang tidak tahu! Jangan bertanya pada orang yang salah. Merupakan tugas bagi politisi dan orang-orang di pemerintahan untuk bertanya pada orang-orang yang tepat. Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Bertanyalah pada orang yang benar,” karena tidak semua orang tahu. Kalian datang dan bertanya pada beberapa organisasi yang tidak tahu apa-apa atau mereka mungkin mengambil keuntungan dari sesuatu sehingga mereka tidak memberi kalian jawaban yang benar. Jawaban yang benar ada di dalam hadis Nabi (s): "إن أول الناس يقضي يوم القيامة عليه رجل استشهد، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها . قال: فما عملت فيها؟ قال قاتلت فيك حتى استشهدت، قال: كذبت، ولكنك قاتلت لأن يقال: جريء، فقد قيل. ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي فى النار ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه فعرفها. قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن قال: كذبت، ولكنك تعلمت العلم ليقال: عالم، وقرأت القرآن ليقال هو قارىء، فقد قيل، ثم أمر به، فسحب على وجهه، حتى ألقي فى النار، ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله، فاتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: ماتركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك قال كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي فى النار" Orang pertama yang akan diadili di Yaumil Hisab adalah orang yang mati syahid. Ia akan dibawa ke Hadapan Allah dan Allah akan menunjukkan segala nikmat yang telah diberikan kepadanya dan ia mengenalinya. (Allah (swt)) akan bertanya, “Dan apa yang telah kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia akan menjawab, “Aku berperang untuk-Mu hingga aku mati sebagai seorang syahid.” Dia akan berkata, “Kau telah berbohong! Kau berperang agar orang-orang berkata (tentangmu), ‘Ia adalah seorang pemberani,’ dan orang-orang telah mengatakan hal itu seperti yang kau inginkan.” Kemudian Allah akan memerintahkan (malaikat) untuk membawanya melemparkannya ke dalam Neraka! (Kemudian) seorang yang menuntut ilmu (agama) dan telah mengajarkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an. Ia akan dibawa ke Hadapan Allah dan Allah akan menunjukkan segala nikmat yang telah diberikan kepadanya dan ia mengenalilnya. (Allah (swt)) akan bertanya, “Dan apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia akan menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama) dan aku telah mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’an demi Engkau.” Dia akan berkata, “Kau telah berbohong! Kau mempelajari ilmu (agama) agar orang-orang berkata (tentangmu), ‘Ia adalah orang terpelajar,’ dan Kau membaca al-Qur’an agar orang-orang berkata (tentangmu), ‘Ia adalah seorang Qari,’ dan orang-orang telah mengatakan hal itu seperti yang kau inginkan.” Kemudian Allah akan memerintahkan (malaikat) untuk membawanya melemparkannya ke dalam Neraka! (Kemudian) seseorang yang Allah jadikan sebagai hartawan, orang yang telah diberi segala jenis kekayaan akan dibawa dan Allah akan memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya itu dan ia akan mengenalinya. Lalu (Allah) akan berkata, “Dan apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia akan mengatakan, “Tidak ada jalan atau tempat di mana Engkau senang agar uang itu digunakan, kecuali aku telah menginfakkannya semata-mata karena Engkau!” Dia akan berkata, “Kau telah bohong! Kau melakukan perbuatan itu agar orang-orang mengatakan (tentangmu), ‘Ia adalah orang yang dermawan’ dan orang-orang telah mengatakan hal itu seperti yang kau inginkan.” Kemudian Allah akan memerintahkan (malaikat) untuk membawanya melemparkannya ke dalam Neraka!" (Muslim, Tirmidzi, Nasaa'ii) Nabi (s) bersabda, “Pada Hari Kiamat, Allah akan mengadili tiga kelompok orang dan yang pertama adalah para syuhada.” Apa yang kalian ketahui tentang syuhada di sini? Mereka akan masuk Surga, (yang merupakan) keyakinan umum. Hadis ini yang saya sebutkan tadi ada di dalam kitab Ad-Dawaa asy-Syaafii ditulis oleh Ibn Qayyim al-Jawziyya, seorang murid dari Ibn Taymiyya, dari sumber-sumber mereka sendiri. Mereka tidak dapat mengatakan hadis itu tidak benar karena itu telah disahkan oleh mereka, dan disebutkan di dalam Sahih Muslim. Yang pertama yang akan diadili adalah seorang syuhada dan setiap orang berkata ke mana mereka akan pergi? Katakan! (Ke Surga.) Allah memanggil seorang di antara mereka dan Dia menunjukkan kepadanya segala nikmat yang telah diberikan kepadanya dan Dia bertanya, “Apa yang telah kau lakukan untuk-Ku atas segala nikmat yang telah Aku tuliskan untuk-Mu?” Allah bertanya. Dapatkah kalian berbohong? Kalian tidak bisa berbohong! Pemuda ini, seorang remaja atau seorang yang telah dewasa atau seorang pria tua atau wanita tua akan berkata, “Yaa Rabbii! Aku melakukan hal yang baik lillaahi ta’ala, demi Engkau.” Allah akan bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” “Aku berjihad!” Kalian bisa melakukan pekerjaan rumah kalian dan ambil buku Ad-Dawaa asy-Syaafii karangan Ibn Qayyim al-Jawziyya, murid dari Ibn Taymiyya, yang telah dicetak di banyak negara dan kalian dapat menemukan hadis itu. Orang itu akan berkata, “Aku melakukan segalanya untuk-Mu.” Allah (swt) akan berkata, “Apa yang telah kau lakukan?” “Aku membunuh diriku sendiri untuk-Mu, aku meledakkan diriku sendiri untuk-Mu dan aku membunuh banyak orang dalam jihad!” Allah (swt) akan bertanya, “Siapa yang kau bunuh? Apakah kau membunuh orang-orang yang tidak bersalah atau musuhmu?” “Aku tidak tahu siapa yang aku bunuh, aku membunuh banyak orang.” Apakah itu jihad, tidak mengetahui musuhmu? Di zaman Nabi (s), kalian harus mengetahui siapa musuhmu, kalian harus berperang dengan saling berhadapan. Nabi (s) tidak pernah membolehkan orang berperang dari belakang, yang boleh hanyalah saling berhadapan! Orang-orang yang berperang melawan Nabi (s) dan orang-orang yang berperang bersama Nabi (s) mereka saling berhadapan. Mereka tahu satu sama lain dan mereka memakai pakaian yang berbeda agar mereka tahu siapa musuhnya. Busana apa yang kalian--wahai ‘syuhada’ kenakan? Apakah kalian berbusana Italia, atau busana Barat atau pakaian ketat dan kalian berkata, “Aku berperang demi Allah,” atau apakah kalian mengenakan pakaian yang longgar (sederhana) dan berkata, “Kami adalah jihadis dan kami berperang demi Allah (swt).” Tidak, kalian datang dari belakang, dari tempat tersembunyi, dan kalian melakukan aksi kalian lalu melarikan diri. Mengapa kalian melarikan diri? Apakah kalian penakut, seperti kelinci? Jadi mengapa kalian membunuh lalu pergi? (Kalian harus) menghadapi siapa yang kalian bunuh, bukankah begitu? Mengapa kalian melarikan diri? Saya tidak mengerti. Karena kalian berperang untuk Allah, jangan pergi, melarikan diri! Itu artinya perang kalian tidak benar dan apa yang kalian lakukan tidak benar. Itu telah disebutkan oleh Nabi (s). Allah akan bertanya pada kalian, “Apa yang telah kau lakukan untuk-Ku?” Apakah kalian mengatakan kepada-Nya, “Aku meledakkan orang-orang tak bersalah lalu pergi melarikan diri.” Jadi jawaban di dalam hadis tadi adalah, “Yaa Rabbii, aku berperang untuk-Mu” Apa yang akan dikatakan Allah? “ahsaan,” “`amal baik,” atau “jihad yang baik,” masyaa-Allah? Apa yang akan Allah katakan kepadanya? “Kadzdzaab, kau pembohong! Kadzdzaab, kau telah berbohong pada-Ku!” “Yaa Rabbii! Aku tidak berbohong, aku mengatakan yang benar.” Kau bohong! Ini bukanlah perbuatan jihadi, yang artinya “orang yang berjuang di Jalan Allah.” “`Amal (perbuatan) itu adalah untuk egomu.” Allah berkata kepadanya, “Kau melakukannya untuk dirimu sendiri, bukan untuk-Ku, agar orang-orang mengatakan bahwa engkau seorang pemberani, untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa engkau telah melakukannya, agar orang-orang bertepuk tangan untukmu dan orang-orang bicara tentangmu di seluruh dunia, ‘Oh! Orang ini melakukan pekerjaan yang hebat.’ Itu bukan untuk Allah, itu adalah untuk dirimu, agar orang-orang menyebutkan namamu!” Itu persis seperti yang dikatakan oleh Nabi (s), sama persis, tidak diragukan lagi, sebagaimana beliau (s) mengatakannya di dalam sebuah hadis, “Mereka akan mengumumkannya sendiri bahwa mereka melakukannya demi Allah (swt), tetapi mereka melakukannya untuk ego mereka.” Dari mana kedua orang ini pergi, masuk ke dalam keramaian orang yang tidak bersalah di Boston, lalu meledakkan diri mereka sendiri? Perbuatan apa yang mereka lalukan sebelum itu? Mereka masukkan ke dalam Facebook, memuji diri mereka sendiri, agar orang-orang tahu tentang mereka! Jika kalian melakukannya untuk Allah, mengapa kalian memasukkannya ke dalam Facebook, agar orang-orang berkata bahwa kalian hebat, kalian baik? Jadi itu artinya kalian melakukannya untuk ketenaran. Jangan melakukan sesuatu untuk diri kalian sendiri, lakukanlah untuk Allah (swt)! Jadi Allah berkata, “Kau seorang pembohong! Wahai malaikat-Ku, bawa dia dan masukkan ke dalam Neraka.” Para malaikat akan membawanya dan melemparkannya ke mana? Ke Neraka. Ini untuk siapa? Untuk seorang syuhada, di mana setiap orang berpikir bahwa ia akan masuk ke Jannah, tetapi Allah (swt) mengirimkannya ke Neraka (atas perbuatan yang salah tadi), meskipun tidak semua seperti itu. Kita bicara tentang mereka yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah, yang meledakkan dirinya sendiri, bukan musuh melawan musuh, seperti di zaman Nabi (s) dan di zaman setelahnya, bukannya meluncurkan roket pada orang-orang yang tidak tahu roket itu datang, pada orang-orang yang tidak bersalah! Sekarang semua perang di dunia tidak Islami. Di mana-mana di seluruh dunia, sungguh tidak Islami, perang itu hanya untuk “kursi”, mereka berperang satu sama lain untuk duduk di kursi. Jika mereka berperang dan membunuh satu sama lain, kita tahu bahwa mereka membunuh satu sama lain dan kita katakan, “Baiklah, mereka membunuh satu sama lain,” tetapi ketika orang-orang yang tidak bersalah terbunuh karena roket yang kalian luncurkan dan kalian tidak tahu di mana ia mendarat, maka mereka bukan hanya membunuh satu sama lain, tetapi mereka juga membunuh orang-orang yang tidak bersalah! Jadi apa yang akan Allah katakan? “Bawa dia ke Neraka.” Sekarang yang dikatakan syuhada bukanlah syuhada sesungguhnya. Mereka yang menyebut dirinya syuhada bukanlah syuhada, mereka bekerja untuk Setan. Saya katakan ini, dan saya tahu bahwa ini akan tersebar ke mana-mana, tetapi saya mengatakannya, bahwa mereka bekerja untuk Setan, karena mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah, yang tidak ada hubungannya dengan ini. Anak-anak! Mereka menemukan kelompok lain di Kanada sekarang yang mencoba meledakkan stasiun kereta antara Toronto dan Montreal tadi malam. Yang satu bernama “Jassir” dan yang satunya “Syuhaib Saghiir”. Mereka adalah Arab, (mencoba) meledakkan sebuah kereta. Berapa banyak orang yang bisa tewas? Untuk apa? Mereka adalah orang-orang yang tak bersalah, yang tidak memiliki apa-apa, dan mereka pergi untuk bekerja, dan mungkin saja di antaranya ada Muslim, atau Kristen, atau Yahudi! Mengapa kalian ingin membunuhnya? Setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih agamanya: jika kalian Muslim, maka kalian adalah Muslim dan jika ia Kristen, maka ia adalah Kristen. Mengapa kalian turut campur? Ketika Nabi (s) memasuki Madinah, beliau (s) hidup damai dengan Kristen dan Yahudi. Piagam Madinah sangat terkenal. Jadi Islam menentang pseudo-jihadis yang membunuh orang-orang tak bersalah. Nabi (s) tidak pernah melakukan hal seperti itu! Nabi (s) hidup bersama orang-orang. Kesalahpahaman dapat terjadi, tetapi mereka hidup dengan orang-orang. Setiap orang mempunyai kebebasan dengan agamanya, menurut Deklarasi Madinah. Kembalilah ke Deklarasi Madinah, kembalilah ke mana Nabi (s) menyebutkan tetang peperangan. Mereka berperang melawan Nabi (s) dan beliau (s) harus menghadapinya, tetapi Nabi (s) tidak pernah mengizinkan untuk membunuh seseorang. Suatu saat ketika mereka mempunyai tawanan, para Sahabat mendatangi Nabi (s) dan mereka bertanya, “Yaa Rasuulullah! Kami mempunyai tawanan. Apa yang harus kami lakukan terhadap mereka?” Beliau (s) berkata, “Bebaskan mereka, mereka dapat mengajari orang-orang kita untuk membaca dan menulis,” karena orang-orang Yaman mengatahui cara menulis. Dan beliau berkata, “Biarkan mereka mengajari anak-anak kita bagaimana cara membaca dan menulis dan mereka akan dibebaskan.” Lihatlah (betapa pentingnya) pendidikan. Nabi (s) ingin agar orang-orang terpelajar dan ingin agar mereka berintegrasi (bersatu), bukannya bersegregasi (bercerai-berai). Sekarang apa yang mereka lakukan? Mereka membuat Muslim bercerai-berai karena orang-orang ini melakukan pembunuhan dan membuat orang-orang menentang Muslim. Lalu kelompok berikutnya yang akan diadili Allah adalah orang-orang yang melakukan perbuatan baik. Dia memanggil seorang dermawan dan bertanya, “Apa yang telah kau lakukan untuk mendapatkan rida-Ku, apa yang kau lakukan untuk-Ku?” Ia akan menjawab, “Yaa Rabbii! Aku menderma kepada rumah sakit dan sekolah-sekolah dan untuk ini, itu.” Allah berkata, “Apakah kau yakin bahwa kau melakukannya untuk-Ku atau apakah itu agar namamu ditulis di sekolah-sekolah dan rumah sakit? Apakah itu untuk-Ku atau untuk kebaikan dirimu sendiri, agar namamu terangkat dan orang-orang berkata, ‘Oh lihatlah, orang itu memberi derma,’ agar egomu senang? Wahai malaikat-Ku! Ia berbohong, bawa dia ke Neraka!” Jadi itu artinya jangan menjadi orang yang dermawan bila, wa laa tumanin, “Jangan berpikir bahwa kalian melakukan sesuatu untuk Allah karena ini adalah uangnya Allah dan dengan Kemurahan-Nya, Dia memberikannya untukmu, jadi jangan berpikir bahwa kalian telah melakukan sesuatu untuk-Nya! Jangan memberi dengan niat agar namamu ditulis di mana-mana. (Untuk donasimu) mereka menuliskan, “muhsin kabiir, dermawan besar.” Jangan, sembunyikanlah dirimu. Yang ketiga adalah seseorang, dan ini juga berlaku bagi banyak orang, para `ulama, cendikiawan dan akademisi. Allah (swt) akan memanggil mereka dan mereka mempunyai ilmu, dan Dia bertanya, “Apa yang telah kau lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?” Mereka akan menjawab, “Yaa Rabbii, kami menyebarkan Syariah.” Alhamdulillah itu bagus, tetapi kalian melakukannya untuk menunjukkan nama kalian atau untuk Allah? Kalian pembohong, karena kalian melakukannya agar nama kalian terangkat sehingga ia dapat dituliskan di mana-mana, “Ia adalah seorang dokter.” Dokter adalah orang yang mempelajari kedokteran. Mereka menuliskan gelar mereka sebagai “Dr.” dan sekarang orang-orang ingin meletakkannya di depan nama setiap cendikiawan. Mengapa ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah seorang dokter, mengapa? Jadilah orang yang sederhana, katakan, “Aku adalah seorang `abd, seorang hamba, aku bukan apa-apa.” Apakah kalian melihat Mawlana Syekh Nazim (q) memakai gelar “Dr.” di depan namanya, atau “Sulthan al-Awliya”? Tidak pernah! Saya selalu mendengar beliau berkata, “Aku adalah nol.” Kita katakan bahwa beliau adalah Sulthan al-Awliya. Grandsyekh `AbdAllah (q) tidak pernah menyebutkan gelar itu untuk dirinya dan beliau telah wafat, tetapi 10-15 tahun sebelumnya beliau berkata bahwa Mawlana Syekh Nazim (q) adalah Sulthan al-Awliya. Beliau mengekspos Mawlana Syekh Nazim, di mana hal itu adalah benar, tetapi Mawlana Syekh tidak pernah mengatakannya. Beliau tidak pernah mengaku bahwa beliau adalah Sulthan al-Awliya, tetapi pada hakikatnya beliau adalah Sulthan al-Awliya. Mereka tidak merasa pantas untuk mengucapkannya di hadapan Nabi (s), karena mereka malu. Mawlana Syekh Nazim (q) tidak pernah berkata, “Aku adalah seorang dokter,” atau “Aku mempunyai gelar Sarjana di bidang tasawwuf atau Syari`ah.” Beliau selalu berkata, “Aku ingin agar kebatilan berada di bawah kakiku!” Setiap orang dapat berkata, “Aku ingin agar kekufuran berada di bawah kakiku!” tetapi kita menyatakannya dalam bentuk imitasi, sementara beliau mengatakannya secara hakiki! Wahai Muslim! Berhati-hatilah. Jadi Allah berkata kepada para cendikiawan ini, “Kau melakukannya untuk namamu sendiri, bukan untuk-Ku.” Mereka muncul di TV, kalian lihat acara talk shows ini, dan mereka berkata, “Dr. ini dan ini, ketua dari cendikiawan Muslim seluruh dunia.” Siapa? Mengapa? (agar mendapat banyak pujian)? Saya pernah berada di suatu negara di mana kami mengadakan sebuah konferensi dan saya saya mengundang seorang cendikiawan, seorang rektor dari sebuah universitas Islam, untuk datang dan bicara. Saya ingin mengkonfirmasi mengenai keikutsertaannya, jadi dua hari sebelumnya saya meminta seseorang untuk menghubungi sekretarisnya, dan mereka berkata bahwa ia tidak akan datang. Mengapa ia tidak mau datang? Wakil Presiden datang, Juru Bicara Kepresidenan datang, para politisi datang, lalu mengapa ia tidak mau datang, apa yang berubah? Mereka berkata, “Kau tidak menyebutkan gelarnya yang benar.” “Bagaimana kami tidak menuliskan gelar yang benar? Kami tuliskan namanya dan menuliskan gelar ‘Dr.’ di awal dan diikuti dengan ‘PhD. di akhirnya’” Mereka berkata, “Tidak, itu tidak cukup! Kau harus menyebutkan, ‘Dr.,’ ‘Profesor,’ ‘PhD,’ lalu di bagian akhir semua gelar yang ia dapatkan dalam hidupnya (mungkin ada sepuluh gelar), “Kau harus menuliskannya semua, kalau tidak ia tidak akan datang.” Lalu kami kirimkan undangan sekali lagi dengan semua gelar, agar ia datang dan memberi ceramah selama 45 menit atau 30 menit. Nabi (s) duduk di lantai dengan para Sahaabah (r)! Bahkan beliau (s) melihat non-Muslim datang kepadanya dan beliau duduk di lantai, menyambut mereka. Kaisar al-Habasy, Abbysinia, (Ethiopea) mengirimkan hadiah-hadiah berupa seorang dokter, seorang wanita jaariyah untuk membantu-bantu, dan seekor keledai. Beliau menerima keledai dan pembantu wanita itu dan mengirim kembali dokternya dengan berkata, “Kami memerlukan keledainya untuk mengangkut kayu dan membawanya, dan kami memerlukan pembantu wanita untuk memasak bagi tamu-tamu.” Tetapi beliau (s) tidak mengambil dokternya, yang artinya, “Kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah (swt). Ketika kami sakit, kami sakit. Jika kami menemukan obatnya, alhamdulillah dan kami akan mengambilnya. Jika kami tidak menemukannya, kami ucapkan, ‘Yaa Rabbii, Anta ’sy-Syaafii, isyfiinii yaa Allah!’” Apakah Allah tidak akan merespons? Jika Dia ingin memberi kalian syifaa’ maka Dia akan memberikannya. Mawlana Syekh Nazim (q) pergi dan kembali lagi karena doa asy-syifaa’, beliau berdoa untuk syifaa’ dan setiap orang di seluruh dunia berdoa untuk beliau untuk syifaa’, dan Allah menerimanya. Itulah para awliyaullah! Mereka pantas menyandang gelar “Sulthan al-Awliya,” di depan namanya, tetapi para cendikiawan ini yang saya sebutkan, Allah katakan, “Kau pembohong! Kau tidak ingin hadir dalam konferensi untuk bicara tentang Islam, kau adalah kepala dari sebuah universitas Islam di mana kau ingin gelarmu didahulukan, yang artinya kau melakukan hal ini untuk gelarmu, kau tidak melakukannya untuk Allah (swt).” Hari ini ada nasihat yang berbeda, hari ini ada tajalli jalaal, karena sudah terlalu banyak yang terjadi dalam dua hari ini dan kita harus sangat berhati-hati. Allah mengirimkan para cendikiawan yang bekerja agar nama mereka terangkat, dan saya katakan bahwa mereka belum cukup bekerja, hatta yu’ayyidu ’l-Muslimiin, mereka belum melakukan pekerjaan yang cukup dengan para pejabat, untuk memastikan mereka mengirim pesan ke seluruh dunia bahwa kita bekerja untuk menunjukkan bahwa Muslim tidak ada hubungannya dengan terorisme! Kalian harus melakukannya secara resmi, bukan hanya menuliskan ungkapan mengutuk di surat kabar, tidak. Kalian memperoleh uang dari seluruh dunia, organisasi kalian ada di Eropa dan Amerika, di Barat, kalian mendapat uang dari negara-negara Teluk, kalian mendapat jutaan dan jutaan dan jutaan dolar, dan kalian menyimpan uang itu, menyimpan di saku kalian dan kalian belum melakukan pekerjaan yang cukup! Kalian adalah pembohong! Allah (swt) akan membawa kalian ke Neraka jika kalian tetap melakukan ini untuk diri kalian. Jangan membuat Muslim disalahkan! Para pejabat ingin mendengar kata-kata dari kalian semua. Jika kalian tidak memberikannya kepada mereka, maka setiap orang berada dalam masalah. Semoga Allah mengampuni kita! Semoga Allah memberkati kita! Bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah. http://sufilive.com/What_Does_Islam_Say_About_the_Boston_Bombing-4973.html © Hak Cipta 2013 oleh Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Transkrip ini dilindungi oleh Hukum Hak Cipta Internasional. Dimohon untuk menyebutkan Sufilive bila membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr. Dipublikasikan oleh Google Drive–Laporkan Penyalahgunaan –Dimutakhirkan secara otomatis setiap 5 menit
Read More

Syari'at, Thariqat, Haqiqat

Inilah jalan penghidup keyakinan syari'at, thariqat, haqiqat menuju kemuliaan dengarlah yang tersirat dalam gambaran yang tersurat dalam bisikan. Inilah gambaran dari jalan menuju akhirat, yakni melalui syari'at,
thariqat dan haqiqat.
Melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu. Tiga jalan ini secara bersama-sama menjadi sarana bagi orang-orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga jalan ini.
 
Haqiqat tanpa syari'at menjadi batal, dan syari'at tanpa haqiqat menjadi kosong. Dapat dimisalkan di sini, bahwa apabila ada orang memerintahkan sahabatnya mendirikan shalat, maka ia akan menjawab: Mengapa harus shalat? Bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya? Apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang beruntung, tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat.
 
Sebaliknya, apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka, ia akan masuk neraka, walaupun mendirikan shalat.Ini adalah contoh haqiqat tanpa syari'at.
 
Sedangkan syari'at tanpa haqiqat, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga. Ini adalah syari'at yang kosong, walaupun ia yakin. Bagi orang ini ada atau tidak ada syari'at sama saja keadaannya, karena masuk surga itu adalah semata-mata anugerah Allah. Syari'at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan.
 
Thariqat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hokum Allah (syari'at). Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari'at, sebagai tugas menjalankan firman Allah.
Mendalami syari'at sebagai peraturan dan hukum Allah menjadi kewajiban umat Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah mahdlah, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Seperti dalam firman: Iyyâka Na'budu wa Iyyâka Nasta'în yang artinya: "Hanya kepada Engkau (Allah), aku beribadah, dan hanya kepada engkau aku memohon pertolongan." (QS. Al-Fâtihah:4-5).
 
Sedangkan yang dimaksud dengan menjaga haqiqat adalah usaha seorang hamba melepaskan dirinya dari kekuatan nya sendiri dengan kesadaran bahwa semua kemampuan dari perbuatan yang ada padanya, hanya akan terlaksana dengan pertolongan Allah semata.
 
Pada dasarnya kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dengan tidak memikirkan bahwa amal perbuatannya itulah yang akan menyelamatkannya dari siksaan neraka, atau menjadikannya masuk surga. Atau ia beranggapan tanpa amal ia akan masuk neraka, atau beranggapan hanya dengan amal ia akan masuk surga.
 
Sebenarnya ia harus berpikir dan meyakini bahwa semua amalannya hanya semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Seperti firman Allah: "Fa'budillâh Mukhlishan Lahuddîn".
Apabila Allah Ta'ala menganugerahkan pahala atas amal perbuatannya hanyalah merupakan karunia Allah belaka. Demikian juga apabila menyiksanya, maka itu semua merupakan keadilan Allah jua, yang tidak perlu dipertanyakan pertanggungjawabannya.
 
Hasan Basri mengatakan bahwasannya ilmu haqiqat tidak memikirkan adanya pahala atau tidak dari suatu amal perbuatan. Akan tetapi tidak berarti meninggalkan amal perbuatan atau tidak beramal. 
Sayyidina Ali RA,mengatakan: Barangsiapa beranggapan, tanpa adanya perbuatan yang sungguh-sungguh, ia akan masuk surga, maka itu adalah hayalan, sedangkan orang yang beranggapan bahwa dengan amal yang sungguh-sungguh dan
bersusah payah ia akan masuk surga, maka hal itu sangat sia-sia. Orang pertama adalah mutamanni dan orang yang kedua adalah muta' anni.
 
Pernah dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki Yahudi dari Bani Israil, ia telah beribadah selama tujuh puluh tahun. Pada suatu saat ia memohon kepada Allah agar dia ditetapkan berada bersama-sama para malaikat.
Maka Allah SWT, mengutus malaikat untuk menyampaikan kepadanya bahwa dengan ibadahnya yang sekian lama itu, tidak pantas baginya untuk masuk surga. Laki-laki ini mengatakan pula kepada malaikat itu setelah mendengar berita dari Allah SWT. "Kami diciptakan Allah di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah, maka sepantasnyalah kami berkewajiban beribadah (tunduk) kepada-Nya."
 
Tatkala malaikat itu kembali melaporkan apa yang didengarnya dari hamba Allah tersebut, ia berkata: "Ya Allah, Engkau lebih mengetahui apa yang diucapkan oleh laki laki tersebut." Allah SWT pun berfirman. "Jika ia tidak berpaling dan tunduk beribadah kepada-Ku, maka dengan karunia dan kasih sayang-Ku, Aku tidak akan meninggalkannya. Saksikanlah olehmu, sesungguhnya Aku telah mengampuninya".
 
Syari'at
 
Ibarat bahtera itulah syari'at Ibarat samudera itulah thariqat Ibarat mutiara itulah haqiqat.
 
Ungkapan dari syair di atas menjelaskan kedudukan tia jalan menuju akhirat. Syari'at ibarat kapal, yakni sebagai instrumen mencapai tujuan. Thariqat ibarat lautan, yakni sebagai wadah yang mengantar ke tempat tujuan. Haqiqat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak manfaatnya.
 
Untuk memperoleh mutiara haqiqat, manusia harus mengarungi lautan dengan ombak dan gelombang yang dahsyat. Sedangkan untuk mengarungi lautan itu, tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal. Sebagian Ulama menerangkan tiga jalan ke akhirat itu ibarat buah pala atau buah kelapa. Syari'at ibarat kulitnya, thariqat isinya dan haqiqat ibarat minyaknya. Pengertiannya ialah, minyak tidak akan diperoleh tanpa memeras isinya, dan isi tidak akan diperoleh sebelum menguliti kulit atau sabutnya.
 
Agama ditegakkan di atas syari'at, karena syari'at adalah peraturan dan undang-undang yang bersumber kepada wahyu Allah. Perintah dan larangannya jelas dan dijalankan untuk kesejahteraan seluruh manusia.
Menurut Syaikh al-Hayyiny, syari'at dijalankan berdasarkan taklif (beban dan tanggungjawab) yang dipikul kepada orang yang telah mampu memikul beban atau tanggungjawab (mukallaf). Haqiqat adalah apa yang telah diperoleh sebagai ma'rifat.
 
Syari'at dikukuhkan oleh haqiqat dibuktikan oleh syari'at. Adapun syari'at adalah bukti pengabdian manusia yang diwujudkan berupa ibadah, melalui wahyu yang disampaikan kepada para Rasul. Haqiqat itu sendiri merupakan bukti dari penghambaan (ibadah)manusia terhadap Allah SWT, dengan tunduk kepada hokum syari' at tanpa perantaraan apapun.
 
Thariqat
 
Adalah thariqat itu suatu sikap hidup ,Orang yang teguh pada pegangan yang genap, Ia waspada dalam ibadah yang mantap, Bersikap wara' berperilaku dan sikap. Dengan riyadhah itulah jalan yang tetap.
Para Ulama berpendapat thariqat adalah jalan yang ditempuh dan sangat waspada dan berhati-hati ketika beramal ibadah. Seseorang tidak begitu saja melakukan rukhshah (ibadah yang meringankan) dalam menjalankan macam-macam ibadah. Walaupun ada kebolehan melakukan rukhshah, akan tetapi sangat berhati-hati melaksanakan amal ibadah. Diantara sikap hati-hati itu adalah
bersifat wara'.
 
Menurut al-Qusyairy, wara' artinya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang diragukan halal haramnya). Bersikap wara' adalah suatu pilihan bagi ahli thariqat.
 
Imam al-Ghazaly membagi sifat wara' dalam empat tingkatan. Tingkat yang terendah adalah wara'ul 'adl (wara' orang yang adil) yakni meninggalkan suatu perbuatan sesuai dengan ajaran fiqh, seperti makan riba atau perjanjian-perjanjian yang meragukan dan amal yang dianggap bertentangan atau batal.
Tingkat agak ke atas adalah wara'ush shâlihîn (wara'orang-orang saleh). Yakni menjauhkan diri dari semua perkara subhat, seperti makanan yang tidak jelas asal usulnya, atau ragu atas suatu yang ada di tangan atau sedang dikerjakan, atau disimpan.
 
Tingkat yang atasnya lagi, adalah wara'ul muttaqqîn (wara' orang-orang yang takwa). Yakni meninggalkan perbuatan yang sebenarnya dibolehkan (mubah), karena kuatir kalau-kalau membahayakan, atau mengganggu keimanan, seperti bergaul dengan orang-orang yang membahayakan, orang-orang yang suka bermaksiat, memakai pakaian yang serupa dengan orang- orang yang berakhlak jelek, menyimpan barang-barang berbahaya atau diragukan kebaikannya. Contoh, sahabat Umar bin Khattab meninggalkan 9/10 (sembilan per sepuluh) dari hartanya yang halal karena kuatir berasal dari perilaku haram.
 
Tingkat yang tertinggi adalah, wara'ush shiddiqqîn (wara' orang-orang yang jujur). Yakni menghindari sesuatu walaupun tidak ada bahaya sedikitpun, umpamanya hal-hal yang mubah yang terasa syubhat.
Kisah-kisah berikut ini menunjukkan sifat-sifat orang yang wara'.
 
Pada masa Imam Ahmad bin Hambal, hiduplah seorang sufi bernama Bisyir al-Hafy. Ia mempunyai saudara perempuan yang bekerja memintal benang tenun. Biasanya pekerjaan itu dikerjakan di loteng rumahnya. Ia bertanya kepada Imam Ahmad, "Pada suatu malam ketika ia sedang memintal benang, cahaya obor lampu orang Thahiriyah (mungkin tetangga) masuk memancar ke loteng kami.
 
Apakah kami boleh memanfaatkan cahaya lampu obor tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan kami?" Imam Ahmad menjawab "Sungguh dari dalam rumahmu telah ada cahaya orang yang sangat wara', maka janganlah engkau memintal benang dengan memanfaatkan cahaya obor itu".
Abu Hurairah mengatakan: "Pada suatu hari seorang saudaraku datang mengunjungiku. Untuk menyajikan makanan buat menghormatinya, saya belikan lauk seekor ikan panggang. Setelah selesai menyantap makanan itu, saya ingin membersihkan tangannya dari bau ikan baker itu. Dari dinding rumah tetangga, saya mengambil debu bersih untuk membersihkan dan menghilangkan bau amis dari tangannya. Akan tetapi saya belum minta izin tetangga tersebut untuk menghalalkan perbuatan saya itu. Saya menyesali atas perbuatan saya itu empat puluh tahun lamanya".
 
Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki mengontrak sebuah rumah. Ia ingin menghiasi ruangan rumah itu, lalu menuliskan khat-khat riq'i pada salah satu dindingnya. Ia berusaha menghilangkan debu-debu pada dinding rumah kontrakan itu. Karena ia merasa bahwa perbuatan itu baik dan tidak ada salahnya. Ketika ia sedang membersihkan debu-debu pada dinding rumah itu, didengarnya suara, "Hai orang yang menganggap remeh pada debu engkau, akan mengalami perhitungan amal yang sangat lama".
 
Imam Ahmad bin Hanbal pernah menggadaikan sebuah bejana tembaga kepada tukang sayur Makkah. Ketika hendak ditebusnya bejananya itu, si tukang sayur mengeluarkan dua buah bejana lalu ia berkata: "Ambillah salah satu, mana yang jadi milikmu". Imam Ahmad berkata, "Saya sendiri ragu, mana dari dua bejana itu yang menjadi milikku. Untuk itu ambil olehmu bejana dan uang tebusannya. Saya rela semua untukmu". Tukang sayur itu serta merta menunjukkan, mana bejana milik Imam Ahmad, lalu berkata: "Inilah milikmu". Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya aku hanya menguji kejujuranmu! Sudah, saya tidak akan membawanya lagi," sambil berjalan meninggalkan tukang sayur itu.
 
Diriwayatkan bahwasannya Ibnu al-Mubarak pulang pergi dari Marwan ke Syam untuk mengembalikan setangkai pena, yang belum sempat dikembalikan kepada pemiliknya.
Hasan al-Bashry pernah menanyakan kepada seorang putera sahabat Ali bin Abi Thalib, ketika itu sedang bersandar di Ka'bah sambil memberi pelajaran. Hasan al-Bashry bertanya: "Apakah yang membuat agama menjadi kuat?" Dijawabnya: "yang menguatkan agama adalah sifat wara'". "Apa yang merusak agama?" "yang merusak agama adalah tamak". Jawaban itu mengagumkan Hasan al-Basry, lalu ia berkata "Dengan sifat wara' yang ikhlas lebih baik dari seribu kali shalat dan puasa".
 
Itulah beberapa kisah yang menghiasi akhlak para sufy masa lampau. Sifat yang mengagumkan yang melekat dalam hidup mereka. Demikian juga sifat mulia para sahabat tabi'in dan tabi'it-tabi'in. Kata wa-azimatun, menurut lughat, artinya cita-cita yang kuat. Maksudnya penuh kesungguhan dan sabar menghadapi bermacam-macam masalah hidup, akan tetapi kuat menghadapinya dan
mampu mengendalikan hawa nafsu.
 
Demikian juga melatih diri dengan riyadlah yang dapat memperkuat ibadah dan melakukan ketaatan. Umpamanya riyadlah mengendalikan keinginan yang mubah, seperti puasa makan, minum, tidur, menahan lapar seperti puasa, sunnat, atau meninggalkan hal-hal yang kurang berguna bagi kemantapan dan konsentrasi jiwa kaum sufi.
Nabi SAW bersabda: "Cukuplah kiranya bagi manusia beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila ingin lebih dari itu, hendaklah ia membagi perutnya; sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk bernafas".
 
Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda: "Bukankah manusia itu tertelungkup dalam neraka, tidak lain karena buah omongan lisannya. Sedangkan usia manusia itu adalah modal pokok perdagangannya. Apabila disia-siakan dengan makhluk perbuatan yang tidak berguna, maka sungguh ia telah merusaknya dengan kesia-siaan".
Oleh karena itu mengamalkan ilmu thariqat sama dengan menghindari segala macam perbuatan mubah, seperti telah dicontohkan di atas. Itulah jalan suci akan mengantarkan manusia kepada ketaatan dan kebahagiaan.
 
Haqiqat
 
Haqiqat adalah akhir perjalanan mencapai tujuan ,Menyaksikan cahaya nan gemerlapan, Dari ma'rifatullah yang penuh harapan. Untuk menempuh jalan menuju akhirat haqiqat adalah tonggak terakhir. Dalam haqiqat itulah manusia yang mencari dapat menemukan ma'rifatullâh. Ia menemukan hakikat yang tajalli dari kebesaran Allah Penguasa langit dan bumi. Menurut Imam al-Ghazaly, tajalli adalah rahasia Allah berupa cahaya yang mampu membuka seluruh rahasia dan ilmu.
 
Tajalli akan membuka rahasia yang tidak dapat dipandang oleh mata kepala. Mata hati manusia menjadi terang, sehingga dapat memandang dengan jelas semua yang tertutup rapat dari penglihatan lahiriah manusia.
Al-Qusyairi membedakan antara syari'at dan haqiqat sebagai berikut: Haqiqat adalah penyaksian manusia tentang rahasia-rahasia ketuhanan dengan mata hatinya.
Syari'at adalah kepastian hukum dalam ubudiyah, sebagai kewajiban hamba kepada Al-Khaliq.
 
Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT . Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa, perumpamaan syari'at adalah ibarat kapal, thariqat ibarat lautan, dan haqiqat ibarat mutiara. Seperti pada bunyi syair, "Barangsiapa yang ingin mendapatkan mutiara di dalam lautan, maka ia harus mengarungi lautan dengan menumpang kapal (ilmu syari'at), kemudian ia harus pula menyelam untuk mendapatkan perbendaharaan yang berada di kedalaman laut, yakni bernama mutiara (ilmu haqiqat)".
 
Para penuntut ilmu tasawuf tidak akan mencapai kehidupan yang hakiki, kecuali telah menempuh tingkatan hidup ruhani yang tiga tersebut. Menuju kesempurnaan hidup ruhani dan jasmani yang hakiki menuju hidup akhirat yang sempurna, tiga jalan itu hendaklah ditempuh bersama-sama dan bertahap. Apabila tahap-tahap itu tidak ditempuh maka penuntut tasawuf atau mereka yang berminat mencari hidup ruhani yang tentram, tidak akan mendapatkan mutiara yang sangat mahal harganya itu.
 
Wajib Bersyari'at
 
Thariqat dan haqiqat bergantung kepada syari'at. Dua tahapan itu tidak akan berhasil ditempuh oleh para penuntut, kecuali melalui syari'at. Dasar pokok ilmu syari'at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebab ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah serta ibadah muamalah tercantum dengan jelas dalam ilmu syari'at.
 
Siapa pun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari'at, walaupun ia ulama sufi yang besar dan piawai, atau wali sekalipun. Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari'at untuk mencapai thariqat sangat tersesat dan menyesatkan. Karena syari'at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat. Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibannya walaupun seseorang telah mencapai tingkat wali.
 
Bahkan ibadah syari'atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa. Umpamanya mutu ibadah seorang waliyullah melebihi mutu ibadah orang-orang awam. Sebagaimana Rasulullah SAW, ketika mendirikan shalat dengan penuh kekhusyuan dan begitu lama berdiri, ruku'dan sujudnya, sehingga dua kakinya menjadi membengkak, karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.
Ketika Nabi SAW ditanya berkaitan dengan ibadahnya yang begitu hebat dan sungguh-sungguh, beliau menjawab: "Mengapa saya tidak menjadi hamba yang bersyukur?" Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah dan semua anugerah-Nya.
 
Maka para shufiyah atau waliyullah sekalipun tetap berkewajiban melaksanakan ibadah syari'at yang ditaklifkan kepada setiap muslimin dan muslimat. Oleh karena itu wajib bagi penuntut kehidupan akhirat dan para penuntut ilmu-ilmu Islam secara intensif mempelajari ilmu syari'at. Sebab semua ilmu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat, bergantung erat kepada ilmu syari'at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan (ruhaniyah) tetap bergantung erat dengan syari'at. Tanpa syari'at semua ilmu dan keyakinan ruhaniyah tidak ada artinya.
 
Hati para shufiyah akan cemerlang sinarnya dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, hanya akan diperoleh dengan ilmu syari'at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahannya sudah tercantum dari teladan Nabi SAW, semuanya tercantum dalam ilmu syari'at.
 
Ilmu tasawuf, adalah bahagian dari akhlak mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanah-nya Nabi Muhammad SAW. Cahaya yang bersinar dari kehidupan Nabi SAW adalah pokok dasar bagi pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut ilmu tasawuf.
Menurut tuntunan Nabi SAW, hati adalah ukuran pertama penuntut ilmu tasawuf. Dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlak mahmudah dan mencegah akhlak mazmumah, seperti yang diajarkan dalam sunnah Nabi SAW, sebagian dari ilmu syari'at.
 
Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh thariqat yang berdasarkan syari'at.
Ma'rifatullah Para ulama tasawuf dan kaum shufiyah menempuh beberapa cara untuk mecapai tingkat tertinggi dalam shufiyah, atau ma'rifatullah. Untuk mencapai ma'rifatullah ini setiap penuntut shufiyah menempuh jalan yang tidak sama. Ma'rifatullah adalah tingkat telah mencapai thariqat al-haqiqah. Akan tetapi tidak berarti thariqat menuju ma'rifatullah itu harus secara khusyusiah, lalu menempatkan diri hanya dalam ibadah batiniyah belaka. Akan tetapi untuk mencapai tingkat thariqat ma'rifatullah itu, para penuntut dapat juga mencapai melalui berguru langsung dengan para syaikh yang mursyid.
 
Para syaikh yang mursyid, biasanya suka memberi pelajaran dan pendidikan kepada masyarakat untuk memberi petunjuk kaifiyat ibadah dan tauhid Uluhiyah yang bersih dan uswah hasanah Nabi SAW.
 
Imam al-Ghazaly berkata: "Barangsiapa berilmu dan beramal serta mengajarkan ilmunya, maka ia termasuk orang yang mendapat predikat orang mulla di kerajaan langit. Ia telah berma'rifat kepada Allah. Ia adalah ibarat matahari yang menyinari dirinya sendiri, atau laksana minyak misik yang harum yang menyebarkan keharuman disekitarnya, sedangkan ia sendiri berada dalam keharuman".
 
Ketika seorang guru (da'i) sedang asyik mengajarkan ia berada dalam suasana yang agung dan suci. Oleh karena itu seorang da'i atau guru yang sedang mengajar Al Islam, hendaklah selalu menjaga kesucian dan adab-adabnya. Ada pula yang menempuh jalan zikrullah dengan mewiridkan zikir-zikir yang ma'tsur atau amalan yang bernilai ibadah, seperti membaca Al-Qur'an, bertahmid, tasbih dan tahlil. Cara ini dijalankan oleh penuntut ilmu mutajarridah (konsentrasi diri untuk semata-mata beribadah), termasuk jalan yang ditempuh oleh orang-orang saleh.
 
Cara lain lagi yang ditempuh ialah dengan menghidmatkan diri kepada ulama Fiqh, atau ulama tasawuf atau ulama Islam umumnya. Cara berguru, belajar dan mengajar seperti ini sangat penting dan lebih utama dari shalat sunnat. Karena perbuatan atau amal seperti itu termasuk maslahah mursalah (kepentingan umum), karena juga bernilai ibadah.
Sayyid Abdul Qadir Jailany RA, berkata: "Saya tidak akan mencapai ma'rifatullah dengan hanya qiyamullail, atau berpuasa sepanjang hari. Akan tetapi sampainya saya kepada ma'rifatullah, adalah juga dengan amalan maslahah mursalah, seperti bermurah hati dan menyantuni semua orang, tasamuh dan tawadlu'.
 
Ada juga yang beribadah untuk membantu dan menggembirakan orang lain. Termasuk berusaha mencari nafkah, seperti mencari kayu bakar di hutan, lalu dijual dan hasilnya disedekahkan bagi kepentingan umum. Cara-cara seperti ini merupakan ibadah, selain banyak manfaatnya, juga akan mencapai ma'rifatullah karena akan memperoleh do'anya masyarakat umum dan kaum dhu'afa".
 
wassalam, arief hamdani
 
1.Tasawuf adalah spesifikasi dari ajaran islam dalam bidang irfan, seperti bidang-bidang lain yg terspesialisasi seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, balaghah, nahwu sharaf dll. Menafikkan cabang-cabang ini berarti menafikan "keagungan" ajaran islam. Mengapa islam dapat diterima oleh semua "kasta" dalam masyarakat manusia, karena kebenaran dan keagungan islam bukanlah monopoli ahli dalil.
 
2. Menggeneralisir dan menjustifikasi masalah besar (Tasawuf), dg mengajukan kasus kecil (penyimpangan dalam praktek tasawuf), adalah cara berfikir yg tidak adil.
 
3. Berikut saya suguhkan DIALOG AHLI HADIST dan AHLI IRFAN, yg keduanya diakui dalam bidangnya oleh dunia islam, Syaikh Ibnu Taymiyah dan Ibnu Athaillah Al Sakandary:
 
http://www.at-tauhid.com/athaillah.html
Saduran  
Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari (w. 709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H)
 
 
 
 
DIALOG AHLI HADIST DAN AHLI IRFAN
 
Bismillahi ar rahmani ar rahiim
 
Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih maliki, adalah penulsi karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Ma¡Çrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.
 
Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lata¡Çif: sebagai "cendekiawan ilmu lahiriyah".1 Halaman berikut ini merupakan terjemahan Inggris pertama atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.
 
Naskah Dialog
Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik.2 Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar. Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf: Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerkan "Salafi": Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).
 
Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah
Syaikh Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.
 
Ibn Athaillah: "Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?"
 
Ibn Taymiyah: "Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku"
 
Ibn Athaillah: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaik Ibn Taymiyah?
 
Ibn Taymiyah: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?
 
Ibn Athaillah: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.
 
Ibn Taymiyah: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al qur’an Juga disebutkan::"Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai nabi) ke tempat yang terpuji (q.s. Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali wafat, rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: "Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun".
 
Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; rasulullah sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.
 
Ibn Athaillah: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih! Maksud dari saran rasulullah kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda:
Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri? Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah?
Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan:"Makanan ini memuaskan seleraku". Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?
Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al quran yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawasul atau mengambil perantara, atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.
Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina¡É
 
Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini. Lalu Ibn Athaillah melanjutkan:¡ÉSaya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya "prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan" yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih. Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam.
Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam). Ketika syaikh al islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah atas pendapatnya sebelumnya & menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.
Sedangkan mengenai pernyataan al Sadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. "Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?"
 
Ibn Taymiyah: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda:"Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya". Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenagan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus?. Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.
 
Ibn Athaillah: Sekarang, apakah Imam Ali meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepda muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan?
 
Ibn Tayniyah: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.
 
Ibn Athaillah: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang msayarakat di jalan. Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut.
Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?
Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakahanda tidak memahami hal ini?
 
Ibn Taymiyah: "Tapi bagaimana pendirian mereka di hdapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kauk miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum "papa".
 
Ibn Athaillah: "Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar.
Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?
 
Ibn Taymiyah: "tapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar."
 
Ibn Athaillah:"Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf.
Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini , ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.
Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah.
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual. Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasulNYA. Inilah posisi mulia yang menybabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu. Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan.
Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis;
sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.
 
Ibn Taymiyah: "Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda.
Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka. Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir".
 
Ibn Athaillah: "Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hokum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorang Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin). Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama sama apa-apa yang tersembunyi. Agara
anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah. Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan.
Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik r.a. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat:"Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang."
Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba. Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Al Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa ihya ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja. Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:"(Yaitu) orang-orang yang
khusyuk dalam sholatnya"; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: "(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya". Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: "Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya".
Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk.
Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah. Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang
baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi). Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai "ahli fiqih basa-basi wanita". Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:"Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkab bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah
dari lubuk hati." "Adakah pernyataan yang seindah ini?"
 
Ibn Taymiyah:"Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan."
 
*Diterjemahkan oleh Leinovar dari On Tasawuf Ibn Atha'illah
Al-Sakandari: The Debate with Ibn Taymiyah, dalam Syaikh M. Hisyam Kabbani's The repudiation of "Salafi" Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.
 
Foot Note:
1. Ibn Atha'illah, Lata'if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada bagian Lata'if al-minan wa al akhlaq, karya Sya'rani (Kairo, 1357) 2:17-18.
2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al Zirikly, al A'lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina (1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki, Tabaqat al Shafi'iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi'I, Mi'rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya'rani, Al Tabaqat al Kubra (1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami' karamat al awliya (1381/1962) 2:25.
3. dst masih banyak lagi foot note yg tidak ditulis ulang di sini……..maaf


Read More