Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Membaca Buku untuk Mempelajari Syari`ah dan

MSH.25 FEB 2012.POST.BAH
Membaca Buku untuk Mempelajari Syari`ah dan
Adab terhadap Syekh, bagian ke-1
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
25 Februari 2012     Burton, Michigan
Shuhbah setelah `Isya di Masjid As-Siddiq

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.
Buku adalah cara untuk belajar; tanpa buku kita tidak tahu apa-apa.  Kalian mungkin bertanya, mengapa engkau mengubah posisi, ketika sebelumnya kita biasa mengatakan ‘ilmu datang melalui kalbu’ dan kini kita mengatakan bahwa kita memerlukan buku?” Karena, dan saya bicara kepada umat Muslim secara umum, banyak Muslim yang tidak membaca.  Ada empat kelompok: Muslim yang tidak membaca, Muslim yang membaca, Muslim yang berbasis di tarekat yang terhormat dan mulia (Aliran Sufi) dan membaca, dan sebagian orang di tarekat yang mengatakan mereka tidak perlu membaca.

Tidak semua orang sama; sebagian orang belajar dengan membaca dan bagi sebagian Allah (swt) ingin mengungkapkan melalui kalbu mereka, sehingga mereka tidak perlu membaca.  Secara umum, mereka yang tidak perlu membaca adalah awliya dan orang-orang biasa seperti kita memerlukan buku.  Kalian mungkin mengatakan, “Aku mengikuti aliran Sufi yang mengajarkan tentang Ihsan.”  Ketika Sayyidina Jibril (a) bertanya kepada Nabi (s), “Apa itu Ihsan?” beliau memberi penjelasan tentang Keadaan dari Kesempurnaan, tetapi bahkan ketika kalian mencapai Ihsan, kalian masih memerlukan buku, bukan? Tidak ada yang bisa hidup tanpa buku: seorang dokter tidak bisa menjadi dokter jika dia tidak membaca buku dan seorang Muslim tidak bisa menjadi Muslim jika dia tidak membaca buku. Karenanya, buku itu penting, terutama bagi mereka yang mengatakan, “Kami mendapat inspirasi ketika kami bicara.”  Jika itu kasusnya, maka bagaimana dengan Buku yang Allah (swt) turunkan kepada Nabi (s)?
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Alif. Laam. Miim. Dzalika ‘l-kitaabu laa rayba fiihi hudan li ’l-muttaqiin.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alif. Laam. Miim. Inilah al-Kitab; di dalamnya terdapat petunjuk yang tidak disangsikan kebenarannya bagi orang-orang yang bertakwa. (Surat al-Baqarah, 2:1-2)
Dalam ayat itu Allah (swt) menyebut al-Qur’an sebagai al-Kitab, atau “Buku”, jadi bagaimana kalian berani mengatakan bahwa kalian tidak memerlukan buku!  Lalu mereka duduk dan mulai pamer dengan bicara.  Allah (swt) menurunkan satu-satunya dan Kitab yang sesungguhnya, yakni Al-Qur’an, kepada Nabi (s).  Ini tidak berlaku bagi seluruh umat Muslim, tapi sebagian.  Saya terutama mengacu pada kelompok kita, mengatakan kepada Ahl at-Tasawwuf, orang-orang tasawuf, bahwa buku itu penting agar kalian dapat belajar.  Saya bicara kepada mereka yang menyebut diri mereka pengikut Mawlana Syekh.  Jika Mawlana tidak memerlukan buku, mengapa rumahnya penuh buku?  Beliau tidak saja memiliki buku-buku berbahasa Arab, tetapi juga berbahasa Inggris, Jerman dan Spanyol.  Kuliahnya telah diterjemahkan ke ratusan bahasa.  Jika buku tidak penting, mengapa ajaran-ajaran ini harus diterjemahkan?  Jika buku tidak penting, mengapa rak buku dan lemarinya penuh buku-buku tua dan manuskrip, serta ratusan catatan dari semua shuhbah Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) yang ditulis tangan oleh Mawlana.  Kalian bisa menemukan ratusan buku ajaran Grandsyekh (q) yang akan dibaca  Mawlana Syekh dari waktu ke waktu.
Jadi jangan mengatakan, “Mengapa kita harus punya buku?” Mengapa kita memerlukan buku?  Ini adalah buku; menurut kalian mengapa kita memerlukannya?
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ
Allaahu nazzala ahsana ‘l-hadiitsi kitaaban mutasyaabihan matsaaniya taqsya`irru minhu juluudu ’Lladziina yakhsyawna rabbahum.
Allah telah menurunkan (dari waktu ke waktu) pesan paling indah dalam bentuk kitab yang sama tinggi nilainya, (namun) mengulang (ajarannya dalam berbagai aspek), membuat gemetar hati orang-orang yang takut kepada Tuhannya.   (Surat az-Zumar, 39:23)
Allaahu nazzala ahsana ‘l-hadiitsi kitaaban, “Allah telah menurunkan kepada manusia hadiits, perkataan terbaik, di dalam kitaaban, sebuah buku,”  taqsya`irru minhu juluudu ’Lladziina yakhshawna rabbahum, “di mana ketika mereka membacanya, mereka merasa gemetar,” yang artinya mereka yang menghafal atau bisa menjelaskan Kitab Suci Al-Quran. Jadi kita harus mengatakan bahwa kita memerlukan buku! Buku ini adalah At-Tibyaan fii Adab Hamalat al-Qur’an, Untuk Menjelaskan Klarifikasi dan Penghargaan atas Mereka yang Membawa al-Quran, oleh Imam an-Nawawi asy-Syafi`i, penulis Riyaad ash-Shaalihiin, Taman Orang-Oang yang Saleh.  Saya membawanya ke sini terutama untuk menunjukkan disiplin/adab antara murid dan guru, dan bukan hanya di dalam tarekat.
Dua hari yang lalu kita dengar di internet (dan kita akan melihat videonya segera, insya Allah), Mawlana mengatakan dalam instruksinya, “Kita mengikuti Syari`ah.”  Kita mengikuti Syari`ah, yang menyatakan bahwa kalian harus mengikuti arti apa pun yang Allah (swt) perintahkan kepada Nabi (s) untuk diberikan kepada umat.  Inilah Syari`ah!
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
Wa maa ataakumu ’r-rasuulu fakhudzuuhu wa maa nahaakum `anhu fantahuu.
Tinggalkan apa yang dilarang Nabi (s) dan terimalah apa yang diperintahkan.   (Surat al-Hasyr, 59:7)
Apa pun yang diberikan Nabi (s) terimalah, dan apa pun yang dilarangnya, tinggalkan. Karena itu, kita harus mengikuti apa yang beliau perintahkan. Ini artinya tidak saja orang-orang tarekat harus menghargai antara murid dan guru, tetapi juga guru-guru ilmu zahir, yakni pengetahuan fisik.  Ada zahir, pengetahuan fisik yang bisa kalian bagi dengan semua orang, pengetahuan umum, dan juga ada batin, pengetahuan tersembunyi, realitas atau interpretasi ayat-ayat suci al-Quran, yang tidak dapat kalian ungkapkan kecuali ke beberapa orang. Kedua pengetahuan tersebut memerintahkan kalian untuk memiliki disiplin antara murid dan guru.
Saya membawa ilmu ini karena banyak orang berpikir bahwa hanya orang-orang tarekat yang menghargai syuyukh mereka, tetapi dalam kenyataannya ini tidak benar karena baik orang-orang tarekat maupun non-tarekat harus menghargai ajaran syuyukh mereka.  Ini benar dari kedua sisi, dari ilmu zahir, pengetahuan normal dan dalam tarekat.  Kalian harus menghargai Syekh Sufi sebagai guru, wa min al-adaab bayn al-muriidi wasy-syaykh, berkenaan dengan adab antara murid dan syekh. Saya akan menjelaskan apa yang Imam an-Nawawi (r) jelaskan dalam bukunya At-Tibyaan fii Adab Hamalat al-Qur’an, untuk mengajarkan kalian adab yang baik ketika berada di hadapan syekh.  Itu untuk zahir dan bukan untuk awliyaullah, karena kalian harus jauh lebih hati-hati dalam setiap gerakan yang kalian lakukan di hadapan mereka.
Bahkan jika seorang guru bukan wali, ketika dia mengatakan sesuatu artinya kalian harus mengikutinya. Kalian tidak bisa mengatakan kepada guru itu di dalam kelas, “Yang engkau katakan salah,” atau kalian akan mendapat nilai buruk. Apa pun yang yang dia katakan, kalian harus menerimanya atau gagal di kelas itu; kalian tidak bisa mengatakan, “Tidak.”  Dia menjelaskan pelajarannya dan hari berikutnya kalian mendapat tes dan kalian harus menjelaskan apa yang yang dia katakan, kalau tidak kalian mendapat nilai ‘F’. Tetapi karena awliyaullah berhati besar, mereka berusaha untuk menutupi kesalahan para pengikutnya.  Namun, jika seseorang melewati batas pada titik tertentu, syekh itu mengatakan, “Sudah cukup!  Aku tidak mau orang semacam itu hadir di area ini.  Pergi!”  Mereka harus menuruti perintah itu dan pergi.
Jadi apa yang Imam Nawawi (r), yang berasal dari aliran Syafi'i, katakan?  Salah satu murid Imam as-Syafi’i, ar-Rabi, mengatakan, “Rahimahullah, masytardtu an asyrab al-maa wa wa asy-Syafi`ii yandzuru ilaya, aku tidak berani minum air di depan Imam Syafi’i ketika dia sedang memandangku karena aku menghargainya.”  Dia bahkan tidak minum air, dan di sini mereka duduk bersama Mawlana Syekh, wali dan Sultan al-Awliya dan mereka mungkin tidak berwudu!  Orang-orang minum, bicara dan bersosialisasi sementara syekhnya duduk dan mendengarkan.  Berapa banyak beban yang datang padanya, sementara ar-Rabi mengatakan, “Aku tidak berani minum air di depannya.”  Bagaimana kalian bisa membandingkan situasinya jika tidak mempunyai buku untuk belajar?  Jika kalian tidak tahu bagaimana generasi sebelumnya bersikap kepada syuyukh mereka, bagaimana kalian akan belajar cara bersikap kepada syekh kalian?  Karena itu buku penting bagi kita dan kita harus membaca dan belajar apa yang telah mereka lakukan sebelum kita, jadi kita bisa mengikutinya.
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibbuuna 'Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w 'Allaahu Ghafuuru 'r-Rahiim.
Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kamu (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah aku! Allah akan mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-`Imraan, 3:31)
Mereka mengikuti Rasulullah (s) dan masyaikh.  Berapa banyak orang yang duduk di depan syekh seakan-akan mereka keluarganya?  Anggota keluarga syekh punya hak untuk melakukan apa pun di depan ayah mereka karena hal itu normal dan bisa diterima, tetapi ini tidak benar bagi murid biasa, yang diharuskan duduk dengan adab di hadapan syekhnya.  Lebih jauh lagi, kalian harus memiliki disiplin dan tidak meninggikan suara kalian, baik pria ataupun wanita.  Jika kita tidak menjaga prinsip-prinsip ini dan masalah-masalah kecil, bagaimana kita bisa mengatasi masalah-masalah besar?
Itu diriwayatkan oleh Penghulu Kaum Beriman, “Sayyidina Ali (r ), dan saya sudah sering mendengarnya dari Grandsyekh, semoga Allah merahmatinya.  Zawiya Grandsyekh kira-kira sebesar ini dan di sisi-sisinya terdapat bantalan-bantalan seperti ini tempat orang-orang duduk, tanpa percampuran antara pria dan wanita.  Tidak ada wanita yang hadir karena mereka punya bagian sendiri; Syaria`ah mengatakan wanita dan pria harus terpisah.  Wanita berkumpul setiap hari Senin, dan pria setiap hari Jumat.  Untuk para wanita beliau memerintahkan Hajah Anne (q), istri Mawlana Syekh Nazim (q), ibu Hajah Naziha, untuk membaca zikir di rumahnya.  Bahkan Mawlana Syekh tidak diizinkan berada di rumah selama zikir; jika ada di rumah, beliau harus tetap berada di lantai atas, di area pribadinya selama tiga jam, duduk sampai para wanita selesai zikir, makan dan pergi, dan setelah itu barulah beliau diizinkan untuk turun.

Di mana Syari`ah sekarang ini?  Prinsip-prinsip ini adalah masalah-masalah kecil dan Mawlana membawa begitu banyak kesulitan dari mereka yang tidak mengerti hidupnya bersama Mawlana Syekh `AbdAllah (q).  Mereka pikir mereka sangat dekat dengan syekh!  Mereka tidak menjaga Syari`ah, dan Mawlana memberi instruksi pada hari Jumat, dua hari lalu, untuk memastikan orang-orang memahami bahwa mereka harus mengikuti Syari`ah sepenuhnya.

Saya mendengar dan menyaksikan Grandsyekh, semoga Allah memberkahinya, sering mengatakan dalam shuhbah-nya, “Ketika seseorang datang, jangan melihat ke sana karena dalam tarekat itu bertentangan dengan Syari`ah.”  Kalian harus fokus hanya kepada Syekh, bukan kepada siapa yang datang dan siapa yang pergi; itu bukan urusan kita.  Namun, sekarang tidak apa-apa karena kita sedang belajar.  Dia mengatakan bahkan jika tidak ada shuhbah dan orang-orang hanya duduk, minum teh bersama syekh, jika syekh mengatakan sesuatu mereka mendengarkan dengan penuh penghargaan dan mereka tidak berhak melihat siapa pun yang datang karena fokus mereka adalah kepada syekh.
Jika seseorang masuk, dia mengucapkan “Assalamu’alaikum,” dalam hati agar tidak mengganggu majelis, lalu jika memungkinkan (jika ada jalan untuk dilewati) dia datang langsung kepada syekh untuk mencium tangannya, meskipun jika tidak melakukannya tidak apa-apa, dan dia mengucapkan “Assalamu’alaikum,” hanya kepada syekh, lalu dia mencari tempat duduk yang kosong dan duduk.  Dia tidak datang dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum,” kepada semua orang, hal itu mengganggu seluruh majelis!  Sering terjadi bahwa orang-orang datang ketika syekh sedang duduk dan mereka bersalaman dengan semua orang, mengucapkan, “Apa kabar?  Sudah lama tidak bertemu!”  Syekh melihat siapa yang menjaga adab dan siapa yang tidak.  Awliyaullah memiliki skala surgawi sendiri yang pernah saya lihat dan dengar.

Juga, Grandsyekh (q) mengatakan, “Ketika aku memberi shuhbah, jangan turunkan tingkatnya.  Bahkan jika kalian menggaruk kepala kalian, kekuatan shuhbah itu turun tujuh tingkatan.”  Setan selalu datang ke dalam shuhbah untuk membuat sedikit rasa di sini dan di sana, mengganggu kalian sehingga  kalian menggaruk dan bergerak.  Kalian banyak melihat hal itu ketika orang sedang salat, meski saya tidak ingin menyebut siapa yang melakukannya!  Terlalu sering kalian melihat mereka menggaruk, bergerak, dan menyisir janggut mereka!  Kalian lihat itu? (Mawlana menyentuh janggutnya dan merapikan pakaiannya.)  Mereka terlalu banyak bergerak, dan tiga harakat (gerakan) akan membatalkan salat.

Apa yang dikatakan oleh Sayyidina Ali ( r)?  Min haqq al-`alim `alayk, “dari hak para alim terhadapmu,” an tusalimma `an an-naasi `amaatan wa tukhusahu duuna hum bi-t-tahiyyah, “kalian seharusnya mengatakan, ‘Assalamu’alaikum,’ kepada semua orang secara kolektif, tapi kalian memberi penghormatan khusus dan salam kepada guru atau ulama; kalian datang ke hadapannya dan memberi salam kepadanya saja, tidak kepada semua orang.” Imam an-Nawawi (r ) dalam bukunya menyebutkan bahwa hal itu didapat dari Sayyidina Ali (r ).  Jadi kita memerlukan buku atau tidak?  Ya! Buku ini menjelaskan cara berhubungan dengan guru kita.  Ketika kalian duduk di depan Syekh, artinya kalian menghadapnya, seperti orang yang duduk paling jauh di belakang sana.  Jika syekh menghadap ke arah sini, artinya bahwa di mana pun kalian menemukan tempat duduk, duduklah dan menghadapnya; jangan berikan punggung kalian kepadanya dan jangan duduk menyamping.  Terlalu banyak orang duduk menyamping dan merentangkan kaki mereka yang bau ke depan wajah orang-orang!  Itu semua tidak menghormati orang.
Jangan menunjuk atau melambaikan tangan pada siapa pun jika ada syekh.  Kadang-kadang kalian memerlukan sesuatu dari seseorang dan kalian melambai kepadanya, tetapi itu tidak diizinkan.  Berapa sering kita melakukan itu?  Setiap saat!  Jadi apakah kita mempunyai disiplin?  Kita berusaha, tetapi belum (mempunyai disiplin).
Jangan mengedip kepada seseorang sebagai ucapan salam dalam majelis syekh.
Laa taqulu fulaan qaala khilaafan li qawlik.  Jika guru mengatakan sesuatu, jangan katakan kepadanya, karena hanya ulama yang bisa mengajarkan ulama lain, “Ulama ini mengatakan sesuatu yang berbeda dari yang engkau katakan.”  Itu adalah penghinaan.
wa laa taghtaab fii haadratihi abadan, “Dalam kehadirannya, jangan menggunjingkan orang lain.”  Berapa banyak orang datang kepada syekh dan mengatakan, “Orang ini mengatakan ini, dan yang itu mengatakan itu.”
Ketika kalian berada dalam perkumpulan semacam itu, jangan bicara kepada teman kalian tentang suatu masalah atau mendiskusikan sesuatu yang kalian butuhkan.  Diamlah.
Jangan memegangi jubah syekh ketika dia berdiri agar kalian bisa menciumnya untuk mendapat berkah.  Jangan lakukan itu, tetapi hormati dan jagalah jarak kalian.  Jika kalian melakukannya, rasa hormat semakin rendah.  Jaga penghormatan kalian dengan penuh adab.  Siapa yang melakukan itu sekarang?
Wa laa tu`rad `anhu, dan jangan berpikir kalian sudah duduk terlalu lama dalam shuhbah-nya, bahwa itu sudah cukup; semakin lama kalian duduk, semakin baik.
Jadi inilah nasihat Sayyidina Ali (r) kepada para Sahabat (r), untuk mengajarkan mereka.  Insya Allah kita akan lanjutkan lain kali.  Kita bacakan ini untuk menunjukkan betapa pentingnya menjalankan perintah syekh untuk menjaga Syari`ah.

Salah satu poin Syari`ah yang diinstruksikan Mawlana untuk dijaga adalah untuk menghormati prinsip apa yang kita sebut mahram.  Ketika seorang wanita ingin pergi haji, mereka menyuruhnya, “Bawa seorang mahram: ayah kalian, paman kalian, saudara laki-laki, atau saudara ipar laki-laki.”  Orang-orang tersebut adalah mahram kalian, yang artinya seseorang yang tidak bisa kalian nikahi. Berkenaan dengan wilayah pribadi keluarga syekh, jangan melewatinya jika kalian bukan berasal dari keluarga asli karena itu bertentangan dengan Syari`ah.  Itu disebut haram, artinya haram untuk memasuki tempat tinggal syekh di mana kalian dapat menjumpai istrinya, anak perempuannya, anak laki-laki dan istri mereka, serta seluruh keluarganya karena itu melampaui batas.  Hati-hati jangan melampaui batas!  Jangan bergabung dengan keluarganya karena kalian bukan keluarga!  Apa yang Allah (swt) katakan tentang ini dalam al-Qur’an?
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا
Yaa ayyuha ’Lladziina aamanuu laa tadkhuloo buyuut an-nabiyyi illa an yu’dzana lakum ilaa tha`amin ghayra nazhiriina inaahu wa laakin idzaa du`iitum fadkhuluu fa’idzaa tha`imtum fantashiruu wa laa mustaanisiina li-hadiitsin inna dzaalikum kaana yu’dzi ‘n-nabiyya fa-yastahiyy minkum wa Allahu laa yastahiy min al-haqqi wa idzaa sa’altumuuhunna mata`an fas’alzuuhunna min waraai hijaabin dzalikum ath-haru li-quluubikum wa quluubihinna wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallahi wa laa an tankihuu azwaajahu min ba`dihi abadan inna dzalikum kaana `indallahi `azhiiman.
Hai orang-orang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah Nabi, kecuali jika kamu telah diizinkan (dijamu) untuk makan, jangan datang (terlalu awal) hingga harus menunggu masakan siap. Tapi apabila kamu diundang, masuklah (pada waktu yang sesuai), dan ketika sudah selesai makan, hendaklah kamu pergi, tanpa berlama-lama untuk berbincang-bincang, karena hal itu akan mengganggu Nabi, dan dia malu untuk memintamu pergi. Tapi Allah tidak malu mengajarkan apa yang benar. Dan jika Anda meminta sesuatu kepada istri-istri Nabi, hendaklah kamu meminta dari belakang tirai; Ini akan memperdalam kebersihan hatimu dan hati mereka. Dilarang bagimu untuk menyakiti hati Rasulullah dan dilarang pula menikahi istri-istrinya sesudah Nabi wafat. Sesungguhnya, perbuatan yang demikian besar sekali dosanya di sisi Allah! (Surat al-Ahzab, 33:53)
Sudah jelas: “Hai orang-orang beriman!  Jangan memasuki rumah-rumah Nabi kecuali diizinkan.”

Jangan pergi dan masuk sendiri, seperti sebagian orang, yang mengatakan, “Oh! Tidak apa-apa bercampur karena sekarang abad ke-21, tidak masalah.” Apa yang Allah katakan? “Hai orang-orang beriman!  Jangan memasuki rumah-rumah Nabi sampai kamu diberi izin.” Jika kalian diberi izin tidak apa-apa; artinya Nabi memberi izin dan itu Syari`ah.  Jadi itu artinya, “Kalian tidak diizinkan memasuki rumahku sampai aku mengizinkan.”

Orang-orang sekarang terus datang, terutama di rumah syekh, karena mereka pikir itu tidak apa-apa, tetapi itu tidak boleh.  Mungkin putrinya, atau cucu perempuannya, istrinya, saudarinya, bibinya atau neneknya sedang berbusana kurang pantas, jadi bagaimana kalian bisa masuk ke dalam?  Bukan begitu?  Bagaimana kalian bisa masuk tanpa diberi izin?  Kalian melihat orang-orang datang dan pergi tanpa diberi izin, jadi Mawlana mengatakan, “Aku mengambil banyak dan memikul banyak beban dari kalian. Hentikan!”

Apa yang Allah (swt) katakan dalam Al-Qur’an?  “Datanglah ketika diberi izin dan ketika kamu datang untuk jamuan, datanglah pada saat hidangan telah siap.”  Memangnya siapa kalian untuk bersosialisasi? Bukan karena kalian tidak terhormat, tetapi Islam adalah Islam.  Allah (swt) lalu mengatakan, "Dan jangan datang terlalu awal hingga harus menunggu hidangan disiapkan, tetapi ketika diundang, masuklah."  Sekarang ini setan mengatakan, "Bawa pembangkit selera, untuk memperpanjang waktu sosialisasimu."  Jika kalian perlu bersosialisasi, pergi dan lakukan dengan orang yang ingin kalian dekati, bukan di rumah syekh!  “Tetapi ketika kamu diundang, masuklah, dan ketika sudah selesai makan, pergilah tanpa berbincang-bincang…” Jadi makan lalu pergi, jangan duduk dan bersosialisasi.

Sekarang ini mereka duduk dan mengobrol. Sekarang ini semua mengobrol di Internet, “Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku,” menyanyikan lagu-lagu dan saya tidak tahu apa lagi.  Dalam Al-Qur’an dikatakan, “Perilaku seperti itu menggangu Nabi (s) dan beliau malu untuk menyuruhmu pergi, tetapi Allah tidak malu mengatakan kebenaran.  Dan ketika kamu meminta sesuatu dari istri-istrinya, mintalah dari belakang tirai.”  Ini artinya kalian harus meminta dari balik tirai, tidak berhadapan.  Nabi (s) dan Allah (swt) tidak menyukai hal itu, jadi Islam tidak mengizinkan itu kecuali kalian diberi izin; maka itu dibolehkan dan kita tidak dapat ikut campur, tetapi jika izin itu tidak diberikan, jaga batasan kalian karena, “hal itu akan memperdalam kebersihan hati kalian dan hati mereka, dan tidak dibenarkan bagi kalian untuk mengganggu Rasulullah (s), atau menikahi janda-jandanya sesudah Nabi (s) wafat.  Sesungguhnya hal semacam itu besar sekali dosanya di sisi Allah."

Itulah disiplin, dan ayat Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kita bahwa kita kurang disiplin dan kita perlu banyak belajar dari buku-buku Syari`ah, setidaknya untuk mengetahui disiplin.  Dulu saya sering mengatakan mereka tidak memberi bay’at kepada siapa pun sampai mereka mempelajari Syari`ah. Grandsyekh (q) tidak memberi bay’at kepada siapa pun, kecuali dua orang, tetapi sekarang hal itu seperti menjual lobak. “Bay’at, bay’at!”  Lebih baik memberi mereka lobak atau bit!

Sekarang ini, apa itu bay’at? “Letakkan tanganmu di tongkat dan berbay’at.” Apakah itu bay’at?  Begitu sederhana, tetapi Mawlana memberinya secara luas di masa yang penuh kebodohan dan ketidakpedulian ini untuk menyebarkan rahmat dan berkah.  Dalam setiap waktu, bay’at memiliki prinsip dan artinya sendiri, tetapi kita harus tahu bahwa kita perlu belajar.  Ketika kalian sakit, mengapa kalian pergi ke dokter?  Dia orang biasa seperti kalian dan saya, tetapi dia membaca buku-buku dari sini sampai ke atap untuk menjadi dokter dengan belajar!  Kalian ingin menjadi syekh atau guru tetapi kalian tidak tahu apa pun dari Syari’ah, jadi didiklah diri kalian sendiri dan belajar.

Sebuah ayat dalam Kitab Suci al-Qur’an mengatakan, “Iqra! Bacalah!”

 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim. Iqraa bismi rabbik alladzii khalaq.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. (Surat al-`Alaq, 96:1)
Allah (swt) mengatakan kepada Nabi (s), “Bacalah!” tetapi kita berkata, “Jangan membaca.” Siapa pun yang tidak membuka buku yang memberi penjelasan dari Syari`ah tidak berhak untuk masuk tarekat!
Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.
http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=4155
© Copyright 2012 Sufilive. This transcript is protected by international copyright law.
Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.
Dipublikasikan oleh Google Drive–Laporkan Penyalahgunaan –Dimutakhirkan secara otomatis setiap 5 menit
Read More

Hutang Bangsa Pada Pesantren

Hutang Bangsa Pada Pesantren
Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi

Pada periode awal pembangunan negara ini telah terjadi perdebatan sengit antara Dr.Sutomo dengan S.T.Alisyahbana tentang arah pembangunan negara Republik Indonesia. Bagi yang pertama negara ini hanya dapat dibangun berdasarkan khazanah budaya bangsa ini, sedang bagi yang kedua negara ini dapat maju hanya dengan meniru sepenuhnya budaya Barat. Yang pertama membanggakan pendidikan pesantren yang kedua mengagungkan pendidikan sekuler ala Barat, dengan argumentasi masing-masing. Meskipun argumentasi Dr.Sutomo cukup kuat dan rasional, namun pemikiran S.T.Alisyahbana sejatinya mewakili arus pemikiran para pengambil kebijakan kependidikan saat itu. Yang menarik di sini bukan argumentasi mereka masing-masing, tapi implikasi bahwa usaha meletakkan pendidikan pesantren sebagai rival pendidikan sekuler Barat memang telah lama wujud.

Memang pondok atau pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu berhadapan secara vis a vis dengan pendidikan sekuler yang dibawa oleh penjajah. Bukan hanya itu, keberadaannya sejak awal telah menunjukkan anti-penjajah dan mendukung kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tak pelak lagi ia kemudian sangat dicurigai penjajah. Anehnya setelah negara Indonesia merdeka, pesantren juga dicurigai anti pemerintah dan menjadi sarang “komando jihad”. Kini pesantren kembali dicurigai sebagai sarang teroris. Apa sebenarnya substansi pendidikan Pesantren? dan bagaimanakah ia memainkan peranannya dalam lintasan sejarah bangsa ini?

Substansi Pesantren
Hakikatnya pendidikan pesantren tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren. Hal ini dapat dibuktikan di antaranya dari metode pembelajaran di pesantren. Metode sam’ (audit, menyimak), metode syarh (penjelasan ulama) dengan secara halaqah, metode tahfiz (hafalan) dll, yang terdapat terdapat di pesantren berasal dari tradisi intelektual Islam.

Hanya saja istilah yang digunakan untuk sistim ini tidak sepenuhnya merujuk kepada kata bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, atau thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa sanskrit (san= orang baik; tra= suka menolong). Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatera pesantren di sebut rangkang atau meunasah atau surau. Ini menunjukkan pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal. Di Malaysia dan Thailand lembaga ini dikenal dengan nama pondok, merujuk kepada bahasa Arab funduk yang berarti hotel atau penginapan yang maksudnya asrama. Jadi meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

Keberadaan kiai atau ulama sebagai tokoh otoritatif, peserta didik, asrama dan sarana pendidikan, pendidikan agama Islam dan masjid sebagai pusat kegiatan kependidikan adalah unsur-unsur penting pendidikan pesantren yang sejatinya adalah juga unsur pendidikan Islam. Keempat unsur yang melingkupi santri ini dapat dianggap sebagai catur-pusat pendidikan. Ini lebih lengkap dibanding tri-pusat pendidikan (sekolah, masyarakat, keluarga), yang terdapat pada sistem sekolah pada pendidikan umum.

Karakter pendidikan pesantren adalah menyeluruh. Artinya seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan. Di dalam sistem sekolah pusat-pusat pendidikannya terpisah-pisah dan hampir tidak saling berhubungan. Di dalam kelas atau di masjid para santri diajar ilmu pengetahuan kognitif, dan di luar itu ia memperoleh bimbingan serta menyaksikan suri tauladan dari kiai atau gurunya serta kawan-kawannya. Jadi kehidupan di dalam pondok sudah merupakan pelajaran penting bagi santri seperti yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Doktrin tentang keimanan dalam teks, dilengkapi dengan pelajaran etika, ilmu, kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain diluar kelas. Pengertian kurikulum bagi pendidikan pesantren tidak terbatas pada pelajaran atau kitab-kitab yang dipakai, tapi keseluruhan kegiatan di dalam asrama atau pondok.

Dengan demikian tujuan pendidikan pesantren seperti halnya tujuan kehidupan manusia didunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Dengan catur-pusat pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Santri tidak hanya disipakan untuk mengejar kehidupan dunia tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat. Tidak hanya untuk menjadi manusia berguna bagi masyarakatnya, tapi untuk menjadi manusia seutuhnya yang taat kepada Tuhannya. Pengolahan potensi diri ini didukung oleh bangunan spiritual, sistem nilai dan jiwa kedisiplinan yang kuat yang dapat klasifikasikan sedikitnya menjadi lima, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan.

Peran pesantren
Seperti disinggung di atas wujud pesantren hampir bersamaan dengan datangnya umat Islam dinegeri ini. Karenanya peran pesantren dalam membangun negeri ini sebernarnya sama dengan peran Islam itu sendiri. Peran Islam dalam membangunkan dunia Melayu sudah terbukti secara historis. Dalam teori Prof. Naquib al-Attas tentang Islamisasi masyarakat Melayu, Islam datang dengan membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian merubah pandangan hidup bangsa Melayu-Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. (lihat al-Attas, Preliminary Statement on A general theory of the Malay-indonesian archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1969).

Menurut Snouck Hurgronje, agama Hindu tidak mempunyai peran dalam pembinaan spiritual masyarakat awam yang kebanyakan dari kasta rendah. Di Sumatera, yang pernah dikenal sebagai pusat berkumpulnya para pemikir Hindu, misalnya, pandangan hidup Hindu hampir tidak berpengaruh terhadap masyarakat waktu itu. Oleh karena itu pada masa kekuasaan kerajaan Hindu banyak anggota masyarakat yang tertarik pada pandangan hidup Islam.

Namun, pandangan hidup Islam tidak serta merta dipahami masyarakat dengan hanya membaca syahadat. Ia memerlukan proses transformasi konsep-konsep ke dalam pikiran masyarakat; dan pemahaman suatu konsep hanya effektif dilakukan melalui proses belajar mengajar. Pesantren dalam hal ini berperan aktif dalam transformasi konsep-konsep penting dalam Islam ke tengah-tengah masyarakat waktu itu. Peran Islam dalam merubah pandangan hidup yang statis kepada yang dinamis, rasional dan teratur inilah yang disebut dengan proses Islamisasi, kebalikan dari “akulturalisasi” (penyesuaian agama dengan kultur setempat).

Jadi Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui pendidikan pesantren dalam bentuk pandangan hidup, dan bukan sebagai gerakan politik seperti yang diasumsikan Prof. Sartono Kartodirdjo. Terbukti raja-raja di Jawa dan luar Jawa masuk Islam tanpa proses peperangan. Sebagai pandangan hidup Islam membawa konsep baru tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang manusia, tentang hidup, waktu, dunia dan akherat, bermasyarakat, keadilan, harta dan lain-lain.

Dengan pandangan hidup Islam masyarakat lalu mengembangkan semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah. Pemberontakan petani di Banten tahun 1888, atau perang masyarakat Aceh melawan Belanda tahun 1873, misalnya, tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren. Jadi Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, tapi sebagai suatu pandangan hidup yang memberi warna baru terhadap gerakan politik.

Peran pandangan hidup Islam terhadap bangkitnya bangsa Melayu dapat dilihat dari fenomena tersebarnya kultur Islam dan tersebarnya penggunaan bahasa Melayu sebagai alat untuk mengekspresikan karya sastra dan berbagai diskursus pemikiran kegamaan dan filsafat. Dengan merasuknya pandangan hidup Islam kedalam kultur Melayu, maka bahasa Melayu menjadi sangat kaya dengan kosa kata dan terminologi Islam. Ini juga sekaligus merupakan jembatan menuju lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca.

Selain itu dengan gerakan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Peran para kiai dalam melawan penjajah tidak perlu dipertanyakan lagi. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

Bahkan besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH.Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Kahar Muzakkir, (untuk menyebut beberapa nama) adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Di tengah masyarakat mereka adalah guru bangsa, tempat merujuk segala persoalan di masyarakat. Di tengah percaturan politik menjelang kemerdekaan Republik Indonesia peran mereka tidak diragukan lagi.

Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Di balik itu dalam pikiran mereka adalah kosep jihad melawan kezaliman, konsep ukhuwwah untuk membela sesama saudara seagama dan konsep kebebasan yang menolak segala bentuk penindasan. Itu semua tidak lepas dari pengaruh pandangan hidup Islam.

Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Moh. Rasyidi, alumni pondok Jamsaren adalah Menteri Agama RI pertama, Mohammad Natsir alumni pesantren Persis, menjadi Perdana Menteri, KH.Wahid Hasyim, alumni pondok Tebuireng, KH.Kahar Muzakkir dan lain-lain menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan; KH.Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi alumni Jamsaren menjadi anggota Dewan Perancang Nasional; KH. Idham Khalid menjadi wakil Perdana Menteri dan ketua MPRS. Singkatnya, di awal-awal kemerdekaan RI para kiai dan alumni pesantren berpatisipasi hampir di setiap lini perjuangan bangsa. Perlu dicatat bahwa jabatan-jabatan itu bukan diraih untuk tujuan politik sesaat, tapi untuk sarana membela dan memperjuangkan agama, negara dan bangsa.

Di era Orde Baru di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik ummat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain. Akibatnya pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah di pesantren tidak pernah terjadi “tawuran”; dan karena jiwa kemandirian di pesantren tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha.

Ketika terjadi upaya convergensi ilmu pengetahuan agama dan umum di pesantren, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama. Kini peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 70-an dan 80-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktifitas masjid kampus dan lain-lain tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

Kini di zaman reformasi telah muncul sejumlah nama tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pesantren, baik langsung maupun tidak langsung. Amien Rais, ketua MPR, Abdurrahman Wahid, pendiri PKB, Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS, Hasyim Muzadi, Ketua PB NU, Nurcholis Madjid, Rektor Paramadina, adalah beberapa nama tokoh yang tidak lepas dari dunia pesantren. Hal ini tidak saja menunjukkan kualitas pendidikan pesantren dalam mencetak pemimpin dan tokoh-tokoh bangsa tapi membuktikan besarnya kepedulian santri terhadap problematika bangsa ini.

Jika kini beberapa gelintir alumni pesantren dituduh terlibat dalam berbagai aksi yang dianggap ‘terror’, maka sangat absurd jika kemudian peran dan potensi pesantren dalam membangun bangsa ini, baik di masa lalu maupu di masa depan, dinafikan. Semestinya kini tidak perlu lagi mempertanyakan apa peran dan fungsi pesantren dalam membangun negara ini, yang justru perlu dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun pesantren dan apa yang belum. Hasil kalkulasi inilah hutang bangsa ini pada pesantren. Wallahu a’lam.

Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST)
Read More

ESTETIS MATEMATIS ASMA’UL HUSNA

ESTETIS MATEMATIS ASMA’UL HUSNA
Kajian yang terkesan unik ini adalah upaya gagap belaka dari seorang insan biasa yang diperoleh dari berdzikir dan bertaffakur  dengan tingkat pengetahuan, pemahaman apalagi penghayatan Qur’ani sangat terbatas dengan  berbekal sebuah Qur’an dan terjemahannya yang diterbitkan oleh PT. Sari Agung  berupaya optimal  mengemas dalam bentuk kajian spiritual sederhana mengenai Indahnya esoteris pujian-pujian kepada Yang Maha Dicintai dengan 99 Nama Nya yang mampu membuat hati manusia tergerak untuk menjadi Insan Kaffa/Kamil selamat Dunia dan Akherat (Khaafa maqaama rabbih) dengan mencoba berusaha (ikhtiar) sejauh mungkin mengikuti jalan Allah SWT . Maklum penulis hanya lulusan Pesantren (red “Pesan-pesan Ngetren). Tentu dengan merujuk pada Iqra’ (bacalah) terhadap akhlak, perilaku manusia terhadap semesta alam (makrokosmos dan mikrokosmos) sebagai wujud kekhalifahan  serta mensyukuri segala Ni’mat Nya yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Nya sesuai apa yang diperbuat yaitu untuk menghadirkan sifat-sifat Allah dalam rangka “Rahmatan Lil  Alamin”.
Pertanyaan insan lugu yang mencoba-coba mengkritisi nama-nama Allah akan muncul secara gagap(tiba2 dan spontanitas) dengan pertanyaan berurutan sbb :
1.     Kenapa nama Allah harus 99 (mengapa tidak pas 100)
2.     Bagaimana mengotak-atik angka 99 (maaf bukan berarti otak-atik-matuk ataupun bermaksud melegitimit mistisifikasi angka untuk keperluan perjudian) dengan cara menambah , mengurangkan, mengkalikan, membagi, mengkuadratkan dan mengakarkan.
3.     Akan muncul angka berapa saja dari hasil perhitungan matematis dan bagaimana menyikapi dari dimensi  Qolbu dalam arti menterjemahkan sebagai energi perilaku manusia sehari-hari dalam ber Hablumninnas dengan manusia lain maupun Alam makrokosmos dan mikrokosmos.
4.     mengapa Itu semua terjadi…….. waIaa haula walla quwwata illa billaahil aliyyil azhiim.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya sebagai berikut : “sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran:41. “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengreraskan suara, di waktu Pagi dan Petang, janganlah kamu termasuk orang yang lalai”(QS. Al- A’raf:205). “Orang2 yang beriman itu hatinya menjadi tenteram karena ingat kepada Allah. Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram QS. Al-A’raf:28)
Keindahan-keindahan matematis yang penuh misteri sebagai upaya perbaikan (hijrahnya) akhlaq sebagaimana fitrah manusia (maklum manusia itu dhoif) agar selalu mencerminkan rabbnya sebagaimana dhawuh kanjeng Rasulullah : “Ibadahlah kamu seolah-olah melihat Allah walaupun engkau tidak melihat Nya dengan mata kepala, sesungguhnya Allah melihat engkau”, hal ini dimaksudkan agar Qolbu lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah SWT  serta mengenal Allah dengan segala Sifatnya  yang kemudian dapat dikaji  :
1)     Dengan menjumlah (99 + 99) didapatkan nilai sebesar 198 yang kemudian masing-masing angka dijumlahkan lagi akan mendapatkan nilai 18, dari masing-masing angka kita jumlahkan lagi akan mandapatkan nilai “9”(sembilan)
2)     Angka 99 apabila dijumlahkan (9 + 9) akan mendapatkan nilai 18, dari masing-masing angka apabila dijumlahkan akan mendapatkan nilai “9”sembilan).
3)     Dengan mengkuadratkan (99)² akan didapatkan nilai sebesar 9801, kemudian apabila masing-masing angka dijumlahkan  akan mendapatkan nilai  18, kemudian angka tersebut apabila dijumlahkan akan mendapatkan nilai “9”(sembilan).
4)     Angka 99 apabila dikalikan (9 x 9) akan didapatkan nilai 81, yang bilamana diantara bilangan tersebut dijumlahkan akan mendapatkan nilai “9”(sembilan).
5)     Angka 99 apabila dikurangkan (9 – 9) akan didapatkan nilai “0” (nol).
6)     Angka  99 apabila dibagi (9 : 9) akan didapatkan nilai  “1” (satu).
7)      Angka 99 apabila diakarkan (√99) akan diperoleh  nilai sebesar 9,9 yang apabila dijumlahkan lagi akan mendapat nilai sebesar 19,8. Dari nilai 19,8 apabila dijumlah lagi akan mendapat nilai sebesar 18. dari nilai sebesar 18 apabila dijumlah lagi akan merndapatkan nilai sebesar  “ 9”(sembilan).
8)     Angka 9 apabila  di kalikan berapa saja, kemudian nilai hasilnya kita jumlahkan terus akan tetap mendapatkan perasan nilai akhir “9” (sembilan).
Dari hasil perhitungan logika matematis diatas dapat dipetik hakekat dengan suatu kontemplasi (perenungan) bahwa akan ada 3 (tiga) jenis keindahan angka yaitu Angka :  
Ø  Angka  9” (sembilan).
Ø  Angka “0” (nol)
Ø  Angka  “1” (satu).
Dimensi universal dari nilai (angka) : sembilan, nol dan satu  apabila direnungi akan terkandung makna yang penuh “misteri keindahan” sebagai pegangan hidup dengan kupasan sebagai berikut :
NILAI “NOL”.
Dalam hitungan matematis nol adalah bilangan  terkecil yang bila dicermati dari Dimensi Universal bahwasannya  sebelum manusia lahir ditiupkanlah nafs Allah SWT pada ruh manusia dengan cerminan sifat Ya Rahman dan Ya Rahiim (sifat dasar manusia) yang kemudian  dilahirkan oleh ibu kita dalam wujud bayi dalam kondisi fitrah (terbebas dari semua dosa) dengan diistilahkan selembar kain putih ataupun kertas putih; yang  dapat diisikan apa saja  tergantung pada sipenulis atau pembatik (Allah SWT dan orang tua kita) yang memberikan hidayah (oleh Allah SWT) dan pewarisan nilai agama (Orang Tua kita) pada diri manusia. Dari sinilah sebenarnya hari raya Idul Fitri dapat dimaknai dengan terlahirnya kembali bathin suci manusia setelah sebulan penuh melebur dosa dengan berpuasa untuk memperoleh ridhlo Allah (Habluminallahu) dengan puncak ritual berupa sebuah penyelesaian masalah-masalah antar manusia dengan saling bermaafan dan bersilaturahim (Habluminnanas) dimana dalam Al Qur’an berbunyi : “Dan keselamatan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan” (Q.S Maryam :33).  Kemudian dalam perjalanan hidup selanjutnya segala akhlak perbuatannya akan ditentukan oleh dirinya sendiri, bukankan kalau berprofesi sebagai pencuri akan dikejar polisi seperti pada Al Qur”an berbunyi  “Dan apa saja yang terjadi atas dirimu adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri “(Al - Furqa : 5). Demikian juga pada Surat lain juga berbunyi  “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baikuntuk dirimu, jika berbuat jahat kerugianlah untuk dirimu sendiri” (Al - Isra’ : 7). Dan dalam kondisi kefitrahannya dalam diri manusia  sebenarnya tercermin pada bathinnya (fu’ad) yaitu dilanjut dengan

NILAI “SATU”

Yang berarti GOD SPOT bahwa  Ke Esaan Allah SWT itu ada dihati manusia (manunggaling kawula Gusti) “tetapi manusia bukan Allah” hanya mencerminkan 99 (sembilan puluh sembilan) sifat Allah SWT, mengingat manusia itu adalah wakil Allah di Dunia, tetapi tidak berhak memiliki segala sesuatu kecuali hanya Amanah dengan suatu keharusan untuk mencerminkan sifat arrahman (sense of responsibility) dan Arrahim ( sense of belonging) tetap harus menjaganya sampai jatuhnya waktu pertanggungjawaban. Hal ini seperti ditulis dalan al Qur’an: “ Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama (Islam), fitrah (agama) Allah yang telah Dia ciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS- Ar Ruum : 30). Menghadapkan diri bukan saja diri (Zhahir) tetapi juga jiwamu(bathin). Siapa yang mengenal Allah akan mengenal dirinya , sesungguhnya Allah ada pada dirimu lebih dekat dari urat leher manusia. Semua manusia ditiupkan ruh yang sama dan semua manusia mempunyai sifat Arrahman dan Arrahim. Dari sinilah awal perjuang hidup manusia dalam mempertahankan akhlaknya akhlak perbuatan  dengan cerminan Asma Allah kepada sesama manusia dan Alam semesta (makrokosmos dan mikrokosmos) sepanjang garis hidupnya sampai pada kondisi (dilanjut dengan….NILAI SEMBILAN).

NILAI SEMBILAN  

Nilai bilangan matematis yang tertinggi adalah angka sembilan diartikan sebagai Pengorbanan (Adha) yang diaktualisasikan secara ritual oleh umat islam dengan penyembelihan hewan Qurban, dimana hakekat secara ukhrawi adalah pengorbanan seorang Bapak Ibrahim yang harus mengikhlaskan anaknya yang semata wayang si Ismail  untuk di Qurbankan demi  Amr Allah SWT; bathin Ibrahim benar2 diuji ke “papaannya” (tak memiliki lagi sesuatu yang dicintai dari segi materi) karena hakekatnya kepemilikan kebendaan (duniawi) semuanya serba relative ini bukanlah milik manusia tetapi milik Allah dan dunia ini sebuah panggung sandiwara. Sebuah akhir perjalanan manusia menuju suatu nilai akhir keabadian  untuk mempertanggungjawabkan segala perjuangan panjang akhlak perbuatannya nya selama hidup seperti tercantum dalam Al-Qur’an  “ Maka janganlah kamu meminta kepada-Ku, apa-apa yang kamu tidak mengerti (jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin tanpa ikhtiar; Ijtihad)  (Al – Hud : 46). Dengan atribut Amanah kekhalifahannya manusia dituntut untuk mencerminkan sifat-sifat awal tanpa reservoir untuk Rahmatan Lil Alamin (makna Imanensi).
“Barang siapa  mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat dengan Tuhannya” (Al - Kahfi:10). Bukankah amal sholeh dan beribadat merupakan suatu bentuk pengorbanan yang ikhlas dari seorang hamba Allah (makhluk) kepada Sang Kholik  yang Maha di cintainya demi memperoleh ridhonya untuk menjadi insan Kaffa dan included didalamnya berkorban untuk alam (makrokosmos dan mikrokosmos) serta sesamanya demi Rahmatan Lil Alamin. Sebuah pengoorbanan yang tiada sia-sia tanpa memikir imbalan dari Allah SWT. Semua manusia dalam peran pentas panggung sandiwara Dunia pada “Lakon Rahmatan Lil Alamin” akan dipertanggungjawabkan secara moril di hadapan Allah SWT. Beban pengorbanan yang diberikan oleh Allah pada manusia abad ini tidak seberat yang diterima oleh Ibrahim yang harus mengorbankan buah hatinya yang semata wayang serta pengorbanan Kanjeng Nabi Muhammat SAW sebelum Beliau wafat bahwasannya beliau tidak mengikhlaskan dirinya masuk Surga apabila semua ummatnya belum masuk surga (sebelum beliau wafat beliau mengatakan “umatku-umatku”) .
Angka sembilan secara universil dapat dimaknai sebagai upaya optimal berkorban dengan memparipurnakan bentuk napsu duniawi  yang masuk melalui 9 (sembilan) lubang yang melekat pada tubuh manusia (2 Telinga, 2 mata, 2 hidung, 1 mulut, 1 kemaluan dan 1anus) untuk di Thawafkan (ditaubatkan) dengan cerminan kebesaran-kebesaran Asma Allah  pada Qolbu manusia yang fitrah; sehingga kerinduan untuk mendekati Sang kekasih dapat terobati..

Berikut bagaimana  Bpk. Muh. Zuhri (Pak Muh) menuangkan pengalaman Spritualnya mengenai pemahaman Asmaul Husna dan Ismulahil ‘azhom
Pada saat itulah kita perlu mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan bila kita katakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain Ridla Allah, dan tak mengenal putus asa di dalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup umat manusia.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respon mereka yang brilian terhadap informasi nabawi tentang nama-nama Tuhan. Pemandu mereka (Rasulullah SAW) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh rabbul 'alamin untuk mencipta, memelihara dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama yang tak diajarkan kepada mereka, yang harus ditemukannya sendiri lewat pengabdiannya sepanjang hidup. Itulah Sebutir Mata Tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah ismulllahil a'zhom atau nama Tuhan yang keseratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, akan ditunaikanhajatnya.

Bila di dalam mencari nama Allah Yang Keseratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah obyek di luar diri kita, melainkan subyek pencari itu sendiri.
KEUTUHAN EKSISTENSIAL(menurut Pak Muh)
Dengan aset 99 nama Allah Para Sufi mengembara dalam pengabdiannya untuk menggenapkan bilangan yang nyaris sempurna itu. Bila mereka berhasil mendapatkannya dalam wujud sifat kesadarannya sendiri, maka berubahlah sifatnya menjadi kudus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Saat itu mereka berada dalam maqam sayidina Isa AS. Manakala mereka mendapatkannya dalam wujud zatnya sendiri, maka muncullah dari dalam dirinya keyakinan yang bulat, energik, kreatif dan pantang menyerah. Tentu saja berwujud hasil cipta yang berdaya mampu mengubah struktur dunianya. Itulah maqam tertinggi yang ditemukan oleh sayidina Muhammad SAW. yang meruang danmewaktu.

Transformasi eksistensial dari individu kecil mencapai individu besar, dilukiskan oleh Muhammad Iqbal dengan tepat dan indah di dalam karyanya Asrari Khudi: "Kejadianku arca belum selesai, cinta memahat daku dan aku menjadi manusia." Untuk mencapai kondisi kekhalifahan yang memadai di dalam memandu umat mencapai masyarakat global, kita tidak membutuhkan new image of man. Karena secara fitri umat manusia telah berada di sana (Lihat QS. Al- Baqarah, ayat 30), dan dalam kadar tertentu mereka telah terlatih merealisasi fungsi tersebut ke dalam lingkungan kecil kehidupannya. Misalnya perlindungan orang tua terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sikap ramah dan manis terhadap yang lebih muda, upaya pengembangan kualitas hidup mereka dan pengorbanan yang ikhlas dari sang asyik kepada sang ma'syuk dan lain sebagainya merupakan aset fundamental yang diajarkan Allah lewat lingkungkehidupannya.

Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak dini telah disemaikan oleh rabbul 'alamin di dalam diri kita itu bisa tumbuh optimal dan mensemesta? Jawabannya adalah bagaimana kita bisa menemukan sebutir tasbih yang lepas dari untaiannya, yang tak lain menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga layak untuk menggenapinya. Untuk itu kita tak perlu mengimport atau pun mengadopsi metodologi dari mana pun, apalagi dari zaman yang telah usang. Jalan sufi selalu kontekstual dan dituntut relevan dengan zamannya.


SEBUAH GAMBARAN  MANAJEMEN PROSES (Illustrasi Alur fIkir spiritual)
Manajemen proses dalam rangka mencermati manajemen Qolbu proses rotasi ( perputaran) kesadaran bathiniah dari Angka 0 (nol) ke angka 9 (sembilan)  kearah kiri (berlawanan arah jarum jam) sebagaimana alam semesta ciptaaan Allah SWT mengelilingi matahari ataupun molekul mengelilingi inti atom (ilmu alam itu Sunattulah) ataupun secara ukhrowi perputaran rombongan tamu Allah mengelilingi Ka’bah.  Dari peputaran yang dimulai dari angka nol menuju angka sembilan akan dihasilkan sebuah gaya Sentifugal dan gaya sentripetal dengan pusat moment (inti /poros) gaya adalah bathin kita.  Perputaran tesebut menghasilkan jumlah putaran thawaf bathin sejumlah 11 (sebelas) kali yang berarti sebuah keseimbangan (angka satu dengan angka 1)dan bila dijumlah akan menjadi 2 (dua) yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan berpasang2an (siang-malam, laki2-perempuan, hak-bathil, baik-buruk dsb). Hasil perputaran itulah menghasilkan sebuah energi/gaya sentrifugal dan sentripetal yang direfleksikan secara bathin dengan “mencerminkan sifat Allah dalam diri manusia untuk  ber habluminanas”. Sifat Allah itulah yang harus dipertanggung jawabkan manusia ketika mencapai  kondisi sembilan dengan segala keiklhasan sebagai “Amr Allah” maupun sebagai “Khalifah Allah” (contoh duniawi kalau seseorang menghargai orang lain maka dia akan dihargai pula=aksi-reaksi). Perputaran (thawaf bathin) cerminan sifat Allah pada fitrah manusia sangat dibutuhkan Qolbu manusia untuk menjaga  agar kondisi  “Iman, taqwa, dan syukur”nya  tidak jatuh tersedot kebawah oleh “Gaya Gravitasi” (agar manusia tidak merugi) seperti tertulis dalam QS- Al Asyhry. Kemenangan dapat diperoleh dengan “kesabaran “dan “Kebenaran” bathin manusia.
Saudara-saudara kita yang kebetulan jatuh pada titik gravitasi tidaklah perlu divonis seolah-olah diri kita ini merasa paling Islami, tetapi malah dibutuhkan keikhlasan kita mendo’akan agar mereka segera tercerahkan untuk menggapai  kembali gaya  sentrifugalnya Asma Allah.
Indahnya dalam ber  “Iman-Islam” ria (Iman=Aman dan Islam=Selamat)  dimana pada saat akhir sholat, bathin kita mulai diajari  dengan oleh telunjuk  kita sendiri untuk menunjuk Asma Allah (tangan kanan kita telah melafalkan Asma “ALLAH”) dan Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad SAW serta untuk menyampaikan salam keselamatan dan do’a demi kebaikan bagi semua saudara kita sesama muslim dengan ucapan Assalamu’alaikum kesisi kanan dan kiri masing-masing sebanyak 1 (satu) kali

“ Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.  Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbihlahl apa yang ada dilangit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al – Hasyir : 23 – 24).

“Allah itu mempunyai 99 Nama. Barangsiapa menghafalnya, ia masuk sorga. Sesungguhnya Allah itu maha ganjil (tidak genap)   (ABU HURAIRAH R.A).
“Allah itu mempunyai 99 Nama. Barangsiapa menghafalnya, ia masuk sorga. Sesungguhnya Allah itu maha ganjil (tidak genap)   (ABU HURAIRAH R.A).

Nama-nama Allah tersebut tidaklah cukup hanya dihafal secara lisan, tetapi internalisasi  pada  mata hati untuk dituangkan (implementasi) dalam perilaku kehidupan berbagi : “Kasih” dan “Sayang” terhadap  sesamanya, sehingga dunia ini menjadi Tenteram dan Damai sebagaimana ayat berikut : “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan diperpanjang umurnya hemdaklah menyambung tali persaudaraan” (HR. BUKHARI MUSLIM).
SEBUAH RINGKASAN KAJIAN  AKHIR
Nama-nama Allah apabila dihitung mulai  nomor 1 (satu) = Allah; Bila dicermati pada setiap posisi satu putaran penuh dengan jumlah putaran sebanyak 11 (sebelas) kali, maka pada titik yang sama pada posisi Nama Allah Nomor 1 (satu)  akan jatuh tepat untuk diduduki kembali oleh Nama Allah yang ke (nomor) : 9, 18, 27, 36, 45, 54, 63, 72, 81, 90, yang diakhiri dengan nomor 99 (sembilan Puluh Sembilan).
Bilamana di lisankan akan berurut seperti ini :

Ya Allah – Ya Azziiz – Ya Razzaq – Ya Samii”u – Ya Syakuur – Ya mujiibu – Ya Qawiyyu - Ya Hayyu – YaMuakhkhiru – Ya Muntaqimu – Ya Ya Maani’u – Ya shabuuru.

Yang Arti pujian untuk Nya menurut pemahaman sederhana yaitu :
“ Ya Allah  Yang Maha Gagah Perkasa-Memberi Rizki kepada makhlukNya-Yang Maha Mendengar Segala Pujian dan Ibadah kepada Nya-kemudian Mengabulkan, -Allah Yang Maha Kuat  dan-Maha Hidup (Kekal) Yang Mengakhiri dan- Memberi Balasan (adzab/siksa)/Menuntut Bela atas akhlaq perbuatan dan Maha Mempertahankan/menolak sesuatu yang dzolim dengan Maha Sabar Mu ya Allah cerminkanlah sifat Sabar Mu dalam Qolbu HambaMu agar Hambamu memperoleh kemenangan”.

Dan Bila diambil titik tengahnya (Quartil) l Nama-nama Allah akan jatuh pada nomor 9 (Ya Azziz), nomor 54 (Ya Qawiyyu) dan nomor 99 (Ya Shabuuru) yang berarti “Yang Gagah Perkasa – Yang Maha Kuat – Yang Maha Sabar”

HAKEKAT :
Manusia ini dhoif kemana lagi memohon dan berlindung kecuali hanya pada Allah SWT semata, sepanjang masih mampir ngombe hidup duniawi yang penuh keindahan relative (perubahan) manusia berjuang dan  mohon diberikan petunjuk dalam mempertahankan Iman/akhlaq yang yang baik dengan keridhloan Allah serta memohon agar diberi rasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT  berikan dengan penuh kesabaran untuk meraih tropi kemenangan” (Amar Ma’ruf Nahi Munkar-Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”).
Manusia mempunyai kewajiban secara ikhlas mengimplementasikan Hak Huqul ‘Ibad wal ‘ubudiyah (hak2 kehambaan dan ubudiyah) untuk berakhlaq dengan cerminan akhlaq Allah dalam melaksanakan habluminanas yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Orang tenteram adalah yang mampu menilai kondisi dengan bahasa tenteram yang terpancar lewat rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT yang dapat diperoleh dengan dzikir batin untuk selalu ingat Allah SWT (QS. Al-Muzammil). Karena dengan berdzikir berarti menghadirkan Asma Allah, kebesaran Allah, keagungan Allah dalam diri dan jiwa dimana manusia berada; Sehingga tidak ada nafas yang terhisap dan dihembuskan kecuali lafadz Allah(ingat asal muasal kejadian manusia ketika ditiupan Nafs Allah pada ruhnya). Kita coba untuk renungi apakah semua pujian kepada Nya didasarkan karena Takut Allah SWT, berdagang dengan Allah SWT atau kita benar-benar mencintai Kekasih Sejati kita; semua itu adalah demokratisasi Qolbu setiap muslim yang akan mempertanggungjawabkan sesuai dengan motivasi Qolbunya.
Adakalanya kita merasa congkak dengan atribut  Islaman yang melekat pada diri kita yang nota bene  diperoleh dari pewarisan orang tua kita, namun disisi lain kita lupa mengimplementasikan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari pada semua penghuni semesta alam (perusakan hutan, bikin polusi, saling bunuh,memfitnah dsb). Dalam bathin kita jarang terlintas bahwasannya banyak golongan non muslim yang akhlahnya islami. Hal ini dapat dipakai sebagai gambaran untuk lebih mengintrospeksi Qolbu dalam upaya peningkatan (hijrahnya) qualitas akhlak kita agar lebih Istiqomah sesuai dengan ajaran Qur’an dan kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kita berdo’a mengharap ridhlo Allah semoga semua saudara muslim yang masih  mempunyai tanggung jawab duniawi dijadikan orang mukmin yang “Gagah Perkasa Kuat dan Sabar” didunia untuk mencapai kejayaan “Islam” dengan kewajiban menghadirkan kesejahteraan, ketenteraman dan kedamaian seluruh umat manusia (muslim maupun non muslim); Kita do’akan juga semua sanak-kadang muslim yang telah menempati alam kelanggengan diberikan ampunan Allah dan Syafa’at kanjeng Nabi Muhammad …..Amiiin.
{Digurat oleh Madyo Prihastono/orang yang disuruh membaca indahnya keprihatinan hidup, saat Ramadhan 1424 H untuk menghormati Saudara2 muslim yang telah berkorban untuk menjadi Amr Allah dengan memahami indahnya magna menahan Lapar, haus dan Napsu dan penuh kesabaran semata-mata hanya mencari keridhloan AllahSWT untuk kemudian menyongsong datangnya hari kemenangan atas kondisi kefitrahan bathin umat muslim pada tanggal1 Syawal 1424H}……Salam dari PESANTREN (PESAN-PESAN ngeTREN).

Read More

Siapa Meniru Suatu Kaum, Dia Termasuk Kelompok Mereka

Siapa Meniru Suatu Kaum, Dia Termasuk Kelompok Mereka
Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
The Approaching to Armageddon


Seperti yang disebutkan sebelumnya, mengikuti cara berpakaian Nabi saw. atau meneladaninya dalam hal apa pun menjadikan seseorang termasuk ke dalam kelompok beliau dan merupakan sumber rahmat, terutama pada masa sekarang ini. Nabi saw. bersabda: "Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok mereka. Salah satu anjuran hadis tersebut adalah untuk tidak mengikuti cara-cara yang tak-islami. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: "Janganlah berpakaian seperti orang-orang yang tidak beriman.

Abû Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Hari Kiamat tidak akan datang hingga umatku mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Nabi ditanya, “Ya Rasulullah, bahkan juga akan mengikuti kebiasaan orang-orang Persia dan Romawi?” Beliau menjawab,“Siapa lagi kalau bukan mereka?” Di sini Nabi saw. menunjukkan bahwa orang-orang Islam
akan meniru kebiasaan orang-orang kafir. Bangsa Romawi berarti negara-negara Barat, sementara bangsa Persia berarti negara-negara Timur. Artinya, orang-orang Islam pada akhir zaman akan mengadopsi kebudayaan dan peradaban nonmuslim, baik dari Timur maupun dari Barat.

Orang-orang Islam dewasa ini meniru semua yang berasal dari orang-orang nonmuslim, entah pakaian, gaya hidup, hiburan, nilai budaya, ataupun ideologi. Mereka menjadikannya sebagai prioritas tertinggi dan tujuan akhir, sambil mengabaikan cara-cara yang diajarkan oleh Alquran dan sunah. Seperti yang dapat dilihat di stasiun-stasiun TV kabel, kebanyakan penyiar ataupun pembawa acara talk show kentara berpenampilan tak-islami yang bisa membangkitkan berahi: meniru gaya orang-orang kafir, menggunakan hiasan wajah yang berlebihan dan mengenakan pakaian yang terbuka. Mereka mengadopsi setiap gaya dan perilaku yang memancing nafsu rendahan, mengabaikan sunah, dan mengikuti budaya orang-orang nonmuslim, yang menjauhkan orang-orang Islam dari Nabi mereka.

Pada satu sisi, hadis, “Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok mereka,” merupakan peringatan terhadap orang-orang Islam agar tidak mengikuti perilaku nonmuslim, dan bersikap waspada agar tidak terjerumus mengikuti mereka. Fenomena ini merupakan salah satu tanda akhir zaman. Dan untuk menekankan bahwa itu pasti terjadi, Imam al-Bukhârî menamai salah satu bab kitabnya dengan ungkapan hadis tersebut.

Nabi saw. bersabda:"Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasan orang-orang terdahulu. Artinya, umat Islam akan menjalankan kebiasaan orang-orang nonmuslim 20 atau 30 tahun yang lalu dan mulai menyetujui mereka. Orang-orang Islam dewasa ini, setelah menyaksikan gaya hidup orang-orang nonmuslim yang menggoda, tanpa pikir panjang segera meniru mereka. Masyarakat dari semua bangsa, termasuk masyarakat muslim, kini sudah mengikuti gaya dan jalan hidup masyarakat modern, baik dalam gaya-tak-sopan dalam berpakaian, potongan rambut, musik (rap cabul dan heavy metal), maupun seringnya ke bar, tempat disko, klub malam, teater, dan bioskop film porno. Tak ada agama yang memperkenankan hal-hal itu, termasuk Islam. Kendati demikian, orang-orang Islam dan pemeluk agama lain tetap saja mengikuti gaya hidup yang tak diterima oleh agama tersebut.

Tsawbân meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: "Hari Kiamat tidak akan datang hingga suku-suku dalam umatku mengikuti orang-orang musyrik dalam segala hal. “Suku-suku” (qabâ’il) dalam hadis tersebut menunjukkan sejumlah besar orang, yang pada masa modern ini sebanding dengan sebuah bangsa atau negara. Di antara tanda akhir zaman adalah bahwa orang-orang Islam akan mengikuti orang-orang kafir dalam semua aspek kehidupan. Apa pun yang mereka perlihatkan atau ucapkan, orang-orang Islam akan mengikutinya karena menyangka bahwa mereka mengikuti peradaban terbaik yang pernah ditawarkan, dan mengabaikan petunjuk Islam.

Peradaban sebuah bangsa diukur dari standar etika dan kemuliaan akhlaknya. Bangsa yang baik ialah bangsa yang menjaga kemuliaan perilaku dan moral. Dan ketika semua ini lenyap, penyimpangan merajalela, maka rusaklah masyarakat. Abû Mâlik al-Anshârî meriwayat kan bahwa Nabi saw. bersabda:"Akan muncul dari kalangan umatku, orang-orang yang menghalalkan perzinaan, sutra, minuman memabukkan, dan musik asusila.

Nabi saw. menggambarkan kondisi kebanyakan masyarakat Islam dewasa ini, yang mempertontonkan perilaku tak bermoral dengan melakukan perbuatan yang terlarang. Yang disebutkan pertama adalah orang-orang di kalangan umat Islam yang membolehkan perzinaan dan pelacuran. Contohnya adalah fenomena sejumlah gerakan orang-orang Islam yang mengklaim bahwa mereka berada dalam kondisi perang dengan orang-orang nonmuslim. Dengan menggunakan landasan keliru tersebut, mereka memutarbalikkan hukum Islam agar sesuai dengan kemauan mereka, dengan menyatakan bahwa mereka diperbolehkan berhubungan seksual dengan nonmuslim.

Di samping itu ada juga pemimpin-pemimpin Islam dan sebuah negara muslim yang membenarkan pernikahan kontrak atau temporer (mut‘ah). Belakangan ini, di sebuah majalah berbahasa Arab terdapat sebuah fatwa seorang mufti dari suatu negara muslim besar yang menyatakan bahwa nikah kontrak dibenarkan oleh syariat. Kecenderungan menghalalkan hubungan yang diharamkan adalah bukti dari pernyataan Nabi saw. bahwa mereka akan menghalalkan perzinaan. Laki-laki
dan perempuan bebas berbaur dan melakukan hubungan di luar nikah kini menjadi standar norma yang diterima oleh lapisan tertentu dalam masyarakat Islam. Menonton film yang memperlihatkan orang-orang telanjang juga sudah menjadi pemandangan umum. Pelacuran terjadi di berbagai tempat di negara Islam. Semua ini merupakan contoh bagaimana orang-orang Islam menganggap perzinaan sebagai hal yang wajar dan alami.

Hadis tersebut juga menyinggung tentang laki-laki yang memakai sutra, yang dalam ajaran Islam hanya diperkenankan untuk perempuan. Laki-laki muslim di berbagai negara kini sudah mengenakan pakaian sutra tanpa segan-segan, seolah itu tidaklah dilarang. Banyak orang Islam juga telah mengonsumsi minuman memabukkan, seperti alkohol atau narkoba. Dalam hadis lain, Nabi saw. menyebutkan ghinâ al-fâhisy—lagu cabul. Musik yang membangkitkan syahwat sudah menjadi
fenomena umum, bahkan di negeri Muslim sekalipun. Di tempat-tempat disko dan klub malam yang modern, kita menyaksikan sejumlah besar orang Islam mengenakan pakaian sutra, menikmati musik porno, dan mengonsumsi alkohol serta obat-obatan terlarang. Laki-laki dan
perempuan yang sedang mabuk itu mengenakan pakaian yang menggoda dan berbaur dengan bebas, sehingga mudah mengundang perzinaan. Tanpa pikir panjang, orang-orang Islam hanyut dalam gaya hidup semacam itu dan mengabaikan aturan-aturan agama.

Mereka bahkan mencoba mengubah pemahaman agama untuk mencari pembenaran terhadap nafsu murahan mereka. Penyimpangan-penyimpangan semacam itu bisa dilihat hatta di tempat-tempat pertemuan dan konferensi keagamaan. Perilaku di kalangan umat Islam ini merupakan kejadian yang telah diramalkan oleh Nabi saw. empat belas abad yang lalu, dan merupakan salah satu tanda paling nyata yang menunjukkan bahwa akhir zaman sudah di depan mata.


Wa min Allah at Tawfiq
Read More